Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27
Masih di kediaman keluarga Wijaya.
Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 04.30 WIB. Suasana rumah masih begitu tenang. Udara dini hari terasa sejuk, sementara lantunan azan Subuh dari masjid yang tidak begitu jauh terdengar mengalun lembut, memecah keheningan.
Bu Sulastri yang sejak tadi sudah bersiap dengan mukena putih sederhana yang dikenakannya, melangkah perlahan menuju kamar Angela. Langkahnya dibuat seringan mungkin agar tidak membangunkan penghuni rumah lainnya.
Setibanya di depan kamar putrinya, ia mengangkat tangan lalu mengetuk pintu dengan pelan.
"Nduk... bangun, Nak. Sudah Subuh." Tak ada jawaban. Bu Sulastri kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras, tetapi tetap berhati-hati.
"Angela... bangun, Sayang."
Beberapa saat kemudian terdengar suara kenop pintu yang diputar. Namun, yang muncul bukanlah Angela, melainkan Raymond yang keluar dari kamar di sebelahnya.
Pria itu sudah tampak rapi. Ia mengenakan baju koko berwarna putih, dipadukan dengan sarung motif sederhana dan peci hitam. Wajahnya terlihat segar, seolah memang sudah lama terbangun. Melihat Raymond, Bu Sulastri langsung tersenyum canggung.
"Eh, Nak Raymond... maaf ya. Ibu jadi bikin kamu keganggu." Raymond menggeleng pelan sambil tersenyum sopan.
"Nggak apa-apa, Bu. Saya memang sudah bangun dari tadi." Sikapnya yang ramah membuat Bu Sulastri sedikit lega.
"Angela belum bangun, ya, Bu?" tanya Raymond.
"Iya. Padahal biasanya dia paling gampang bangun kalau sudah waktu Subuh. Makanya Ibu heran." Bu Sulastri kembali mengetuk pintu kamar Angela.
"Nduk... bangun dulu." Tak lama kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Angela muncul dengan mata yang masih sembab karena mengantuk. Rambut panjangnya berantakan, beberapa helai bahkan menutupi wajahnya. Gadis itu menguap lebar sambil mengucek kedua matanya.
"Huaaah... Bu, Angela nggak salat dulu, ya. Angela baru aja datang bulan." Ucapannya keluar begitu saja tanpa berpikir panjang.
Baru setelah selesai berbicara, pandangannya beralih ke samping dan bertemu dengan tatapan Raymond yang berdiri tidak jauh dari ibunya.
Mata Angela langsung membelalak. Refleks, ia buru-buru merapikan rambutnya dengan kedua tangan. Wajahnya seketika memerah karena malu.
"Eh Raymond... ternyata ada di sini." Raymond hanya tersenyum tipis, berusaha menjaga agar Angela tidak semakin salah tingkah. Sementara itu, perhatian Bu Sulastri sepenuhnya tertuju pada putrinya.
"Duh, Nduk. Kamu nggak apa-apa, kan? Perutmu masih sering sakit seperti biasanya nggak?" Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran. Ia tahu setiap kali datang bulan, Angela hampir selalu menahan nyeri yang cukup hebat hingga wajahnya pucat. Angela mengembuskan napas pelan sambil mengangguk.
"Iya, Bu. Badan Angela sampai lemas nahan sakitnya. Dari semalam perut rasanya melilit terus." Mendengar penjelasan itu, Raymond yang sejak tadi diam perlahan mengernyitkan dahi. Tatapannya jatuh pada wajah Angela yang memang terlihat lebih pucat dibanding biasanya.
Tanpa sadar, ada rasa khawatir yang menyelinap di dalam hatinya. Namun, seperti biasa, ia memilih menyembunyikan perasaan itu di balik wajah tenangnya.
"Ya sudah," ucap Bu Sulastri lembut sambil mengusap lengan putrinya penuh kasih sayang. "Kamu istirahat dulu saja. Habis Ibu sholat Subuh, nanti Ibu bikinin air jahe hangat. Semoga bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya." Angela mengangguk pelan. Meski wajahnya masih pucat, ia tetap berusaha tersenyum agar ibunya tidak semakin khawatir.
"Iya, Bu."
Bu Sulastri pun melangkah meninggalkan lorong kamar untuk menunaikan salat Subuh. Suasana kembali hening. Hanya tersisa Angela yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya dan Raymond yang belum beranjak dari tempatnya.
Sesaat, Raymond menatap Angela tanpa berkata apa-apa. Tatapannya yang biasanya dingin kini tampak sedikit berbeda, seolah sedang memikirkan sesuatu. Ia kemudian melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah.
"Lo sering kayak gini?" tanyanya datar. Angela mengernyit bingung.
"Maksudnya?" Raymond memasukkan kedua tangannya ke saku celana sarung yang dikenakannya. Sorot matanya tetap tertuju pada Angela.
"Setiap datang bulan... perut lo memang selalu sakit?" Angela terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Iya. Dari dulu memang begini. Kadang cuma nyeri biasa, tapi sering juga sampai susah berdiri. Kalau lagi parah, badan rasanya lemas semua." Ucapan itu membuat Raymond terdiam. Rahangnya mengeras samar, sementara alisnya sedikit berkerut. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik badan lalu berjalan menyusuri lorong menuju tangga. Angela hanya bisa memandang punggung pria itu yang perlahan menjauh.
"Kok malah pergi?" gumamnya pelan. Ia menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah. "Dasar aneh." Dengan wajah yang masih dipenuhi tanda tanya, Angela kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu perlahan.
Raymond menuruni anak tangga dengan langkah cepat, tetapi tetap tenang. Wajahnya masih datar seperti biasa. Tak seorang pun yang melihatnya akan menyangka bahwa pikirannya kini dipenuhi bayangan wajah Angela yang tampak pucat menahan nyeri.
Sesampainya di lantai bawah, aroma kopi yang baru diseduh mulai tercium dari arah dapur. Beberapa asisten rumah tangga sudah bersiap memulai aktivitas pagi. Salah seorang pelayan yang melihat Raymond langsung menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Tuan Muda." Raymond mengangguk singkat.
"Bi Rini sudah bangun?"
"Sudah, Tuan Muda. Beliau sedang di dapur."
Tanpa membuang waktu, Raymond langsung menuju dapur. Di sana, Bi Min sedang menuangkan teh hangat ke dalam teko ketika menyadari kedatangan sang tuan muda.
"Lho, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?"
Raymond berdiri di depan meja dapur sambil menyandarkan kedua tangannya.
"Bi Rini," panggilnya.
"Iya, Tuan Muda."
"Kalau perempuan lagi datang bulan dan perutnya sakit, biasanya dikasih apa?"
Pertanyaan itu membuat tangan Bi Rini yang sedang memegang teko terhenti. Matanya membulat beberapa detik, lalu senyum tipis perlahan terbit di wajahnya.
"Tuan Muda bertanya soal itu?"
"Iya."
"Untuk siapa?" tanyanya hati-hati, meski ia sebenarnya sudah bisa menebak jawabannya.
Raymond mengembuskan napas pendek.
"Angela." Mendengar nama itu, senyum Bi Rini semakin lebar.
"Pantas saja," gumamnya pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Raymond. Raymond mengangkat sebelah alis.
"Pantas apa?"
"Nggak ada, Tuan Muda."
Bi Rini buru-buru menggeleng sambil menahan senyum. Sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Wijaya, baru kali ini ia melihat Raymond menanyakan hal-hal seperti itu.
"Biasanya perempuan yang sedang datang bulan lebih enak minum air jahe hangat atau teh hangat. Kalau perutnya dikompres dengan air hangat juga bisa membantu mengurangi nyeri. Jangan lupa makanan yang hangat-hangat, jangan yang dingin." Raymond mengangguk pelan, mengingat setiap kata yang diucapkan Bi Min.
"Kalau obat?"
"Ada juga obat pereda nyeri, Tuan. Tapi kalau masih bisa ditahan, lebih baik dicoba yang alami dulu." Raymond kembali mengangguk.
"Ajarkan saya bikin air jahe." Bi Rini sampai berkedip beberapa kali, memastikan pendengarannya tidak salah.
"T-Tuan Muda... mau membuatnya sendiri?"
"Iya."
"Tapi biar saya saja."
"Nggak usah. Ajarkan saya." Nada bicara Raymond tetap datar, tetapi tegas. Bi Min tahu percuma membantah. Beberapa pelayan yang berada di dapur saling melirik sambil menahan senyum. Pemandangan seperti ini benar-benar langka. Tuan muda mereka yang terkenal dingin, cuek, dan hampir tidak pernah masuk dapur, kini justru meminta diajari membuat air jahe hanya karena seorang gadis sedang menahan sakit.
Tanpa banyak bicara lagi, Bi Rini mengambil beberapa ruas jahe segar.
"Kalau begitu, pertama jahe ini dikupas dulu, Tuan Muda." Raymond menerima pisau kecil itu. Meski gerakannya terlihat agak kaku karena belum terbiasa, ia tetap mengikuti setiap instruksi dengan serius.
Di sudut dapur, para pelayan saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka berbisik pelan, "Kalau sampai Nyonya Diana lihat ini, beliau pasti senangnya bukan main." Pelayan lainnya terkekeh kecil.
"Sepertinya Tuan Muda benar-benar mulai berubah gara-gara Nona Angela."
Sementara itu, Raymond sama sekali tidak memedulikan bisik-bisik di sekitarnya. Fokusnya hanya satu—membuat segelas air jahe hangat yang, entah kenapa, ia berharap bisa sedikit meringankan rasa sakit Angela.
Beberapa menit kemudian, aroma jahe yang hangat mulai memenuhi dapur. Uap tipis mengepul dari dalam panci kecil, bercampur dengan harum gula aren yang perlahan mencair. Meski baru pertama kali melakukannya, Raymond mengikuti setiap arahan Bi Min dengan teliti.
"Sudah cukup, Tuan Muda," ujar Bi Min sambil mengangguk puas. "Kalau direbus terlalu lama, rasa jahenya malah jadi terlalu tajam."
Raymond mematikan api kompor, lalu menuangkan air jahe hangat itu ke dalam sebuah cangkir keramik berwarna putih.
"Untuk pertama kali, hasilnya bagus." Bi Rini tersenyum tipis. Raymond hanya mengangguk singkat. Ia mengambil nampan kecil, meletakkan cangkir tersebut di atasnya, lalu berbalik meninggalkan dapur.
Semua pelayan yang melihatnya hanya bisa saling berpandangan.
"Astaga... benar-benar dibawain sendiri," bisik salah seorang pelayan.
"Kalau Nyonya Diana tahu, beliau pasti langsung mengabarkan ke Tuan Edward," sahut pelayan lainnya sambil terkekeh pelan.
---
Di lantai atas, Angela kembali berbaring di tempat tidur. Ia memeluk guling sambil meringkuk ke samping. Rasa nyeri di perutnya datang bergelombang, membuat dahinya dipenuhi butiran keringat halus.
"Haduh... nyut-nyutan banget," gumamnya lirih. Angela memijat pelan perutnya yang terasa sangat sakit.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Masuk aja, Bu." Angela membuka mata.
Namun, saat pintu perlahan terbuka, yang masuk bukan Bu Sulastri, melainkan Raymond. Pria itu berjalan masuk dengan langkah tenang sambil membawa sebuah nampan kecil.
Angela langsung mengerjapkan mata beberapa kali.
"Raymond?" Tanpa banyak bicara, Raymond meletakkan nampan itu di atas meja samping tempat tidur.
"Minum." Angela mengalihkan pandangannya ke cangkir yang masih mengeluarkan uap hangat.
"Ini...?"
"Air jahe." Angela tampak sedikit terkejut.
"Raymond, kamu yang nyuruh Bi Rini buat?"
Raymond terdiam sejenak.
"Bukan."
"Lalu?"
"Saya yang buat." Hening. Angela menatap Raymond cukup lama, seolah memastikan pria itu tidak sedang bercanda.
"Hah?"
"Gue yang bikin." Nada bicaranya tetap datar, tetapi kali ini justru membuat pengakuannya terdengar lebih tulus. Angela perlahan duduk sambil memegang perutnya.
"Serius?"
"Iya."
"Raymond, Lo bisa masak?"
"Bukan masak."
"Lalu?"
"Cuma bikin air jahe." Angela spontan tertawa kecil, meski tawa itu segera terhenti karena perutnya kembali terasa nyeri.
"Pelan-pelan," ucap Raymond refleks.
Angela menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Baru kali ini ia melihat sisi Raymond yang begitu berbeda. Di balik wajah dinginnya, ternyata pria itu mampu menunjukkan perhatian dengan cara yang sederhana.
"Terima kasih." Raymond menggeser cangkir itu sedikit lebih dekat.
"Masih panas. Tiup dulu." Angela mengangguk pelan. Ia meniup permukaan air jahe itu beberapa kali sebelum menyesapnya sedikit demi sedikit.
Rasa hangat langsung mengalir di tenggorokannya, lalu perlahan menjalar ke seluruh tubuh.
"Enak," gumamnya lirih. Raymond yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur akhirnya mengembuskan napas pelan. Tanpa disadari, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur ketika melihat Angela benar-benar meminum air jahe yang dibuatnya.
"Apa rasanya terlalu pedas?" tanyanya.
Angela menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Nggak. Pas. Malah enak." Sudut bibir Raymond nyaris terangkat membentuk senyum kecil. Sangat tipis, nyaris tak terlihat.
Namun, bagi Angela, perubahan sekecil itu sudah cukup membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia sama sekali tidak menyangka, pria yang selama ini dikenal dingin, tegas, dan sulit ditebak itu rela bangun pagi, masuk ke dapur, lalu membuatkan segelas air jahe hanya untuk dirinya.
Di saat suasana di dalam kamar Angela dipenuhi keheningan yang canggung, di lorong lantai dua justru terjadi pemandangan yang sama sekali berbeda.
Pintu kamar Raina perlahan terbuka.
Gadis itu keluar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Ia sudah mengenakan mukena berwarna krem, tetapi rambut bagian depannya masih mencuat ke sana kemari.
"Ngantuk banget..." gumamnya sambil menguap lebar. Hampir bersamaan, pintu kamar di seberangnya ikut terbuka.
Richard muncul dengan peci yang masih dipasang miring dan sarung yang hampir melorot karena dipakai asal-asalan.
"Ra, ayo. Nanti telat jamaah," katanya sembari mengikat kembali sarungnya.
"Iya-iya."
Keduanya berjalan berdampingan menuju musala keluarga yang berada di ujung lorong.
Namun, ketika melewati kamar Angela, langkah mereka berhenti bersamaan. Raina berkedip beberapa kali, Richard ikut memicingkan mata.
Pintu kamar Angela terbuka sedikit. Dari celah itu, mereka melihat Raymond sedang berdiri di dalam kamar, sementara Angela duduk di atas tempat tidur sambil memegang secangkir minuman hangat.
Raina spontan menarik lengan Richard.
"Itu?" Richard mengangguk pelan.
"Itu...Kak Raymond, kan?"
"Iya." Mereka saling berpandangan.
Lalu, secara kompak mereka mundur selangkah. Raut wajah mereka yang awalnya masih ngantuk, mendadak segar.
Kemudian maju lagi.
Mundur lagi.
"Kita nggak salah lihat, kan?" bisik Raina. Richard menggeleng pelan.
"Nggak."
"Berarti...Kak Raymond...lagi di kamar kak Angela?"
"Iya." Raina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar.
"Ya Allah..." Richard mengusap dagunya bak seorang detektif.
"Kasus ini menarik." Raina langsung menyikut pinggang adiknya.
"Detektif apanya! Yang bikin aku syok itu Kak Raymond bisa-bisanya masuk ke kamar cewek pagi-pagi!" Richard mengangguk serius.
"Lebih aneh lagi..."
"Apa?"
"Dia nggak marah." Raina kembali mengintip dari celah pintu.
"Eh... tunggu."
"Ada apa?"
"Angela lagi minum sesuatu." Richard ikut menjulurkan leher.
"Itu kayaknya air jahe."
"Kak Raymond bawain?"
"Nggak tahu."
"Tapi... masa iya?" Richard mengusap dagunya lagi.
"Hmm... berdasarkan analisis ilmiahku..."
"Analisis apaan?"
"Kalau Kak Raymond rela bangun pagi, terus masuk kamar Angela sambil bawa minuman hangat..." Ia berhenti sejenak, membuat Raina ikut menunggu dengan penasaran. "...berarti dunia sudah mau kiamat."
"Richard!" Raina refleks menjitak kepala adiknya.
"Aduh!"
"Mulutmu itu, lho!" Richard mengusap kepalanya sambil cemberut.
"Kan selama ini Kak Raymond paling anti sama cewek."
"Iya sih..."
"Nah, sekarang malah masuk kamar cewek."
Raina kembali melirik ke dalam kamar.
"Eh... jangan-jangan..." Richard ikut mencondongkan badan.
"Jangan-jangan apa?"
"Kak Raymond suka sama kak Angela."
Mata Richard langsung membulat.
"Wah..." Belum sempat mereka melanjutkan teori-teori liar, tiba-tiba terdengar suara berdeham dari belakang.
"Ehem."
Keduanya sontak menegang.
Dengan gerakan kaku, mereka menoleh bersamaan.
Bu Sulastri berdiri di belakang mereka sambil membawa sajadah, menatap dua bersaudara itu dengan wajah bingung.
"Kalian ngapain berdiri di depan kamar Angela? Raina dan Richard saling pandang.
Lalu, secara kompak mereka menjawab dengan senyum canggung.
"Nggak ngapa-ngapain, Tante! Anggap aja... kami lagi patroli pagi," celetuk Richard polos.
Raina langsung menepuk dahinya.
"Ya ampun, Richard!"
Bu Sulastri tak kuasa menahan tawa melihat tingkah dua bersaudara itu. Sementara dari dalam kamar, Raymond yang mendengar keributan di luar perlahan menoleh ke arah pintu. Tatapannya yang datar membuat Raina dan Richard langsung berdiri tegak bak prajurit yang ketahuan menguping.
"Selamat pagi, Kak..." ucap mereka serempak, lalu buru-buru kabur menuju mushola keluarga sebelum Raymond sempat mengatakan sepatah kata pun.
Melihat kedua adiknya berlari tunggang-langgang, Angela tak kuasa menahan tawanya.
"Kayaknya... sekarang mereka salah paham sama kita." Raymond hanya mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil.
"Memang dua bocah itu... terlalu banyak nonton drama."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y