NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kelas Lyra dan Pemilihan Ketua Kelas

Tap.. tap.. tap....

Langkah kaki Rian terdengar mantap di koridor, tetapi di sebelahnya, Lyra bisa merasakan jantungnya sendiri berdegup dua kali lebih cepat.

Deg.. deg.. deg....deg....

Menatap papan nama perak bertuliskan "X-3" di atas pintu, Lyra menarik napas dalam-dalam.

Baginya, kelas reguler ini adalah wilayah baru yang asing, penuh dengan wajah-wajah yang belum ia kenal.

Begitu mereka melintasi ambang pintu, aroma ruang kelas yang khas—campuran kayu meja baru dan pembersih lantai—menyambut mereka.

Lyra mengedarkan pandangan.

Deretan bangku di barisan depan hingga tengah masih melompong, sementara beberapa murid yang datang lebih awal sudah berkumpul di pojok belakang, berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah pintu.

Lyra merasa hawa canggung mulai merayap. Ia menoleh ke arah Rian yang tampak jauh lebih tenang, seolah deretan bangku kosong itu adalah kanvas kosong yang siap mereka warnai.

"Mau duduk di mana, Lyra?" tanya Rian memecah lamunan giringan kecemasan di kepala Lyra.

Suaranya yang tenang bertindak seperti jangkar yang menahan Lyra agar tidak panik.

"Bagian tengah saja, dekat jendela," jawab Lyra, memilih tempat yang tidak terlalu mencolok di depan namun tidak terlalu terisolasi di belakang.

Tap.. tap....

Ia melangkah menuju baris ketiga dari depan, tepat di sisi kiri ruangan yang menghadap ke arah lapangan sekolah.

Saat Lyra menarik kursi kayu dan meletakkan tas ranselnya, seorang siswi berambut dikuncir kuda yang duduk di baris sebelah menoleh.

Tatapannya penuh selidik, membuat Lyra sempat menahan napas.

Namun, mengingat komitmen yang mereka berempat buat sebelum masuk sekolah, Lyra memaksa dirinya untuk tersenyum ramah duluan.

"Hai, aku Lyra," ujarnya, mengulurkan tangan meski sedikit gemetar.

Siswi itu sempat tertegun sebelum wajahnya melembut dan membalas uluran tangan Lyra.

"Hai, aku Dina. Salam kenal, ya. Kalian berdua dari SMP yang sama?" tanyanya sambil melirik Rian yang baru saja duduk di sebelah Lyra.

"Tidak, kami berdua beda SMP, kami baru kenal dan ketemu saat MPLS," Rian yang menjawab sambil tersenyum ramah, membantu mencairkan suasana.

Percakapan kecil itu menjadi pembuka jalan yang melegakan bagi Lyra.

Rasa asing yang tadinya menghimpit perlahan memudar seiring mengalir digantikan obrolan ringan tentang rute angkot menuju sekolah.

kriiiiiiingg..............

Tepat pukul tujuh pagi, bel berbunyi nyaring. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi saat pintu kelas terbuka kembali.

Clek... (Suara gagang pintu bergerak pelan, pintu kelas terbuka)

Seorang wanita paruh baya berwajah tegas namun memiliki gurat senyum yang hangat melangkah masuk.

Beliau mengenakan seragam batik rapi dan membawa seikat dokumen penataan kelas.

"Selamat pagi semuanya. Silakan duduk di tempat masing-masing," sapanya dengan suara bariton yang berwibawa namun menenangkan.

"Saya Ibu Ratna, guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas kalian di X-3 selama satu tahun ke depan."

Ibu Ratna meletakkan tasnya dan berdiri di depan meja guru, memandangi satu per satu muridnya.

"Hari pertama ini tidak akan langsung kita isi dengan materi pelajaran berat. Kita akan mulai dengan saling mengenal. Ibu ingin kalian maju satu per satu, sebutkan nama, asal sekolah, dan satu hal unik tentang diri kalian yang membuat orang lain akan mudah mengingat kalian."

Mendengar instruksi itu, Lyra merasakan perutnya kembali mulas. Ia selalu gugup jika harus berbicara di depan umum.

Ia melirik Rian yang justru tampak berpikir keras, kemungkinan mencari "hal unik" apa yang harus ia katakan nanti.

"Jangan khawatir, jalani saja," bisik Rian lirih seolah bisa membaca pikiran Lyra.

Satu per satu murid maju berdasarkan urutan tempat duduk. Ada yang maju dengan percaya diri tinggi hingga memancing tawa seisi kelas, ada pula yang berbicara sangat pelan karena malu.

Hingga akhirnya, giliran baris ketiga tiba. Ibu Ratna mengangguk ke arah Lyra.

Lyra berdiri, merapikan rok seragamnya yang tidak kusut, lalu melangkah ke depan kelas.

Di bawah tatapan puluhan pasang mata, ia sempat terpaku selama dua detik.

Namun, pandangannya tidak sengaja menangkap anggukan penyemangat dari Rian di bangku tengah.

Lyra menarik napas, menegakkan bahu, dan mulai berbicara.

"Selamat pagi semuanya. Nama saya Lyra Cahyani Putri, biasa dipanggil Lyra. Saya lulusan dari SMP Negeri 1. Hal unik tentang saya... saya bisa menghafal rasi bintang di langit malam, jadi kalau kalian tersesat saat berkemah nanti, kalian bisa mengandalkan saya."

Gerrr.

Tawa ringan dan tepuk tangan apresiatif terdengar dari teman-teman barunya. Ibu Ratna tersenyum lebar.

"Bagus sekali, Lyra. Penunjuk arah yang membaca bintang. Silakan kembali duduk."

Tap-tap...

Lyra berjalan kembali ke bangkunya dengan perasaan luar biasa lega. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibanding saat pertama kali memasuki ruang kelas ini.

Kini giliran Rian yang maju dengan tenang, siap memperkenalkan dirinya. Sambil memperhatikan sahabatnya itu berbicara di depan kelas, Lyra tersenyum sendiri.

Ia tahu perjalanan di kelas X-3 ini masih panjang dan penuh tantangan, tetapi ketakutan awalnya telah runtuh. Lyra siap menghadapi dinamika baru ini dengan kepala tegak.

___________________

Setelah sesi perkenalan yang hangat selesai, suasana di kelas X-3 mendadak berubah menjadi lebih tegang.

Tak.. tak.. tak...

Ibu Ratna mengetukkan pulpennya ke meja, menarik perhatian seluruh murid yang mulai asyik mengobrol sendiri.

"Baik, karena kita sudah saling mengenal, sekarang kita masuk ke agenda paling krusial untuk hari pertama ini," ujar Ibu Ratna sambil menuliskan sebuah frasa besar di papan tulis: PEMILIHAN KETUA KELAS X-3.

"Ibu tidak mau menunjuk langsung. Ibu ingin kalian belajar berdemokrasi. Silakan ajukan nama yang menurut kalian berkompeten, atau kalian boleh mencalonkan diri sendiri," lanjut beliau sambil melirik ke seisi ruangan.

Lyra yang duduk di bangkunya langsung merosot sedikit, berharap tidak ada yang memperhatikan keberadaannya.

Namun, dinamika kelas baru ini ternyata bergerak lebih cepat dari perkiraannya. Seorang cowok berbadan tegap di barisan belakang yang tadi memperkenalkan diri bernama Doni, langsung mengacungkan tangan dengan penuh percaya diri.

"Bu! Saya usul Rian!" seru Doni lantang.

"Tadi pas perkenalan, dia bilang dia mantan ketua OSIS di SMP-nya. Pasti punya pengalaman!"

Mendengar namanya disebut, Rian tampak terkejut. Ia menoleh ke arah Doni, lalu menatap Lyra dengan pandangan serba salah.

Seisi kelas langsung riuh, menggumamkan persetujuan. Di kelas baru di mana belum banyak orang saling mengenal, rekam jejak sebagai ketua OSIS adalah magnet reputasi yang kuat.

Ibu Ratna tersenyum dan langsung menuliskan nama Rian di papan tulis sebagai kandidat pertama.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Di sudut kelas yang lain, seorang siswi berambut pendek dengan tatapan tajam bernama tasya, mengacungkan tangan dengan ekspresi tidak setuju.

"Bu, saya keberatan kalau langsung milih Rian cuma karena masa lalunya," potong Tasya, suaranya terdengar ketus dan memotong keriuhan kelas.

"Kita ini di SMA sekarang, tantangannya beda. Lagipula, kita belum tahu bagaimana visi dia untuk kelas ini. Saya pribadi ingin mencalonkan diri saya sendiri, karena saya punya program kerja yang jelas untuk membawa X-3 jadi kelas terbersih dan paling disiplin."

Suasana kelas mendadak hening. Ketegangan langsung terasa di udara.

Beberapa murid yang tadinya mendukung Rian mulai berbisik-bisik, merasa omongan Tasya ada benarnya, sementara yang lain merasa cara bicara Tasya terlalu agresif untuk hari pertama sekolah.

Lyra bisa merasakan situasi ini mulai menyudutkan sahabatnya. Ia menoleh ke samping dan melihat Rian menarik napas dalam-dalam.

Rian sebenarnya tidak gila jabatan, tapi dituduh tidak punya visi secara tidak langsung oleh orang yang baru dikenal tentu memicu harga dirinya.

"Bagaimana, Rian? Apakah kamu bersedia menerima pencalonan ini dan bersaing dengan Tasya?" tanya Ibu Ratna, memberikan panggung.

Sebelum Rian sempat berdiri, Tasya kembali bersuara, "Kalau Rian emang siap, mending kita adu argumen sekarang juga di depan kelas, Bu. Biar adil dan kelihatan siapa yang cuma modal nama besar dari SMP."

Tantangan terbuka dari Tasya membuat suasana kelas semakin memanas.

Lyra tahu Rian adalah orang yang diplomatis, tapi dikonfrontasi secara agresif seperti ini di depan publik bisa membuat siapa saja tertekan.

Di dalam hatinya, Lyra merasa tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya dipojokkan.

Mengingat komitmen mereka untuk saling mendukung, Lyra mengumpulkan keberaniannya. Ia mengacungkan tangan, memecah keheningan yang mencekam itu.

"Maaf Bu, dan maaf juga untuk Tasya," ujar Lyra dengan suara yang diusahakannya tetap tenang dan stabil, meskipun tangannya kembali gemetar di bawah meja.

Seisi kelas, termasuk Rian dan Tasya, kini berbalik menatapnya.

"Saya rasa ini bukan soal adu argumen atau siapa yang paling hebat," lanjut Lyra sambil menatap Tasya dengan sopan.

"Rian dicalonkan oleh Doni, bukan mengajukan diri untuk pamer. Tapi kalau Tasya ingin mendengar visi, saya rasa itu hak semua warga kelas. Bagaimana kalau kita beri waktu dua menit untuk masing-masing kandidat menyampaikan apa yang ingin mereka lakukan untuk X-3, tanpa harus saling menjatuhkan? Ini pemilihan ketua kelas, bukan debat politik."

Kata-kata Lyra yang taktis dan menyejukkan langsung mendapat anggukan setuju dari beberapa murid di barisan depan.

Ibu Ratna tampak tersenyum bangga melihat bagaimana Lyra berusaha menengahi konflik dengan kepala dingin.

"Usul yang sangat bagus dari Lyra," potong Ibu Ratna sebelum Tasya sempat membalas.

"Demokrasi itu mendengarkan, bukan menyerang. Rian, Tasya, silakan maju ke depan. Kalian masing-masing punya waktu dua menit untuk menyampaikan gagasan kalian."

Rian berdiri dari kursinya.

Sebelum melangkah ke depan, ia sempat menepuk bahu Lyra pelan sambil berbisik, "Makasih, Lyra. Tepat banget waktu kamu bersuara." Lyra mengangguk, melepaskan napas lega yang sempat tertahan.

Konflik pertama di kelas X-3 berhasil diredam berkat keberaniannya bersuara. Kini, ia duduk tegak, siap menyaksikan bagaimana Rian akan menjawab tantangan Tasya di depan mimbar kelas.

Bersambung ~~~

Hayy gess!! semoga suka ceritanya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share ceritanya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

see you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!