Squel dari novel; "Terpaksa menerima perjodohan"
Menjadi seorang pewaris keluarga kaya raya membuat Kenzo dan Tiara harus lebih berkompetensi. Keadaan menuntut mereka untuk belajar di luar negeri, berkuliah di universitas bergengsi demi mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Kenzo yang merupakan mantan brandal sekolah telah mengusik bagian dari member geng campus; Black Swan yang terkenal sangar. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan rahasia di balik geng mereka. Keadaan yang terasa mengancam membuat Kenzo memilih menyembunyikan hubungannya dengan Tiara, demi keselamatan sang istri.
Siapa sangka, saat Kenzo berusaha bergabung dalam geng campus tersebut. Dia mengetahui kalau Dominic Herbert; sang ketua black swan si senior nomor satu di kampus ternyata pacar dari sepupunya Renzela.
Mampukah Kenzo bergabung dalam geng campus itu demi menjaga Tiara dari bullying mahasiswa lain?
Dan rahasia apa sebenarnya yang selalu Dominic tutupi?
Ikuti cerita selengkapnya!☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Renzela menghilang.
Bruk..... Tubuh Kenzo terdorong, Alfred dan ketiga rekannya langsung menariknya membuat tubuhnya terhuyung kembali duduk di kursi kantin, cengkraman keras tangan Alfred bahkan langsung mendarat di kerah baju lelaki itu.
"Bangsat Lo ya, kenapa tiba-tiba menyerang Dominic?" Mata Alfred sampai membulat sempurna, cengkraman tangannya bahkan semakin ia pererat.
Kenzo sampai menghela nafas, dia benar-benar lepas kendali, dia begitu kesal sampai refleks memukul bajingan itu tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi, "Sorry, gue kelepasan," dia hanya bisa mencari alasan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Alfred, "Gue sudah minta maaf kan," sentaknya kesal, kenapa tangan Alfred masih mencekamnya dengan begitu erat, padahal permintaan maafnya sangat lah mahal sampai tidak setiap orang bisa menerima ucapan itu.
"Kau pikir cukup dengan minta maaf," Dominic yang menimpali, pukulan itu terasa begitu perih membuatnya semakin kesal, "Jangan mentang-mentang gue menerima lo di anggota Gue lo bisa bertingkah seenaknya." cecar nya lagi.
Kenzo sesaat terdiam, berpikir keras bagaimana caranya bisa keluar dari situasi ini tanpa dia curiga mereka, "Gue hanya kasihan saja, walau gue gak tahu jelas apa sebenarnya urusan Lo, kalau terang-terangan ingin mencelakai putri dari target Lo yang bernama Bernard itu bukannya itu gegabah, jika ada saksi mata bukannya kau sendiri yang susah," dia berusaha mencari alasan, entah itu akan di mengerti Dominic atau tidak, yang jelas dia harus menghilangkan kecurigaan mereka.
Dominic yang mendengar itu malah terbahak, "Haha... Jangan so, tanpa kau beritahu pun aku lebih tahu tentang itu." Entah harus kesal atau kasihan, tingkah Kenzo yang tiba-tiba menyerangnya memang membuatnya marah tapi mendengar penjelasannya dia mendadak kasihan, "Karena kau sudah menjadi bagian dari kita, kau ku ampuni." walaupun begitu Dia langsung beranjak dari duduknya lekas menghampiri Kenzo, dan langsung menunduk mencekam rahang junior itu dan mengangkat wajahnya.
"Dan kau harus tahu, orang-orang ku sekelas pembunuhan proposal, mereka lebih tahu bagaimana cara kerja. Jadi jangan mengkhawatirkan hal yang tak berarti," cecar nya dengan menyeringai, jika tadi dia mencekam rahang Kenzo kini tangannya bergerak mengelus kepala junior itu, tingkah Kenzo malah terlihat kekanak-kanakan di matanya.
"Argh." Kenzo benar-benar dibuat terdiam, dia benar-benar tidak bisa gegabah karena lelaki ini lebih kejam dari dugaannya, "Jika kau begitu mudah melukai orang, kenapa tidak langsung pada target saja si Bernard itu, buang-buang waktu saja kan kalau harus mencelakai gadis yang tidak tahu apa bahkan tidak bersalah."
Dominic yang awalnya ingin duduk kini kembali menoleh, "Karena tujuan ku bukan membunuh Bernard, melainkan mengambil semua kekayaannya dan membuat lelaki itu hidup menderita, apapun caranya." tuturnya dengan menyeringai. Dia sedikit curiga, kenapa junior ini begitu mempedulikan hal ini, padahal baru bergabung dengan mereka tapi seperti sudah tahu banyak tentang masalah nya. "Jangan terlalu banyak menguak informasi karena resiko nya kau akan cepat mati, jadi kau harus berhati-hati!" decak nya sambil berlaju pergi, sepertinya dia harus memastikan kembali siapa sebenarnya lelaki ini.
...***...
Keadaan di kantor Oskar company.
"Apa kalian tidak bisa bekerja hah?" Bernard terus marah-marah, entah kesekian kalinya dia mendengarkan keluhan para karyawan dengan keributan yang terjadi dengan begitu tiba-tiba seperti ini, bukannya membereskan masalah, mereka hanya berdiam diri tanpa bertingkah, "Benar-benar bodoh, percuma saja aku mempekerjakan kalian." cecar nya lagi.
Sekretaris Bernard hanya bisa mengeluk menundukkan kepalanya, bukan mereka tidak bisa bekerja, rumor ini begitu tiba-tiba sampai dia tidak bisa menghalau nya bahkan mau membereskannya pun tidak bisa karena yang mereka minta adalah uang investasi beserta kompensasi. "Maaf, Tuan. Sudah tidak ada dana lagi, keuangan kita sudah tidak stabil." lirihnya memberi tahu.
"Maaf?" Bernard semakin kesal, mudah sekali sekretaris nya itu mengucapkan kata yang tidak berguna, "Hubungi Ryder Company, kita membutuhkan suntikan dana dari perusahaan itu sekarang juga." titahnya mulai menemukan jalan.
"Tuan yakin?" Sekretaris itu sedikit ragu, mereka juga sudah mengajukan bantuan ke sana tapi ada persyaratan khusus dari pihak mereka, terlebih Oskar company membutuhkan dana yang besar, pasti Ryder Company tidak akan memberikan dana itu begitu saja.
"Kenapa tidak yakin, Ryder Company sendiri yang menawarkan bantuan dana itu."
"Iya Tuan itu benar tapi ada persyaratan baru yang mereka ajukan."
Bernard sampai terkejut, kenapa tidak sesuai dengan pembicaraan di awal, bukannya mereka akan menggelontorkan dana dengan sukarela. "Persyaratan apa?"
"Iya, Tuan. Mereka akan memberikan dana sebanyak yang kita minta tapi dengan syarat mereka meminta hasil lima puluh persen dari jumlah operasional perusahaan, jika kita tidak bisa membagi hasilnya, mereka berhak mengakuisisi pabrik kita di bagian barat." Sang sekretaris langsung menjelaskan, dia sendiri saja sampai terkejut saat mendengar itu, "Menurut saya, kita tidak usah meminta bantuan Ryder Company dan menerima suntikan dana itu, Tuan." ucapnya lagi memberi saran.
"Aisst." Bernard sampai terduduk frustasi, harus bagaimana sekarang, dia tidak bisa membiarkan kekacauan ini terus berlarut, terlebih tidak mau kalau rumor itu menyebar ke mitra-mitra nya yang lain, "Tidak ada jalan lain, hubungi pihak Ryder Company sekarang!"
"Tapi Tuan." Sekretaris itu sampai kaget, bukannya keputusan atasannya itu sangat gegabah.
"Kenapa, jika saja kalian punya jalan keluar aku tidak akan mengambil keputusan itu." Bernard langsung menatap sang sekertaris, setelahnya langsung menatap setiap karyawan yang sedang meeting di ruangannya, jangan menyalahkan keputusannya, karena mereka sendiri tidak punya tindakan untuk membereskan semuanya.
"Kita bisa meminta bantuan Tuan muda Kenzo tuan." Salah satu dari para karyawan yang ada di dalam ruangan langsung bersuara, dia adalah bawahan Kenan yang bertugas mengawasi Bernard, dan sepertinya kini dia harus mengambil tindakan, "Tuan muda Kenzo pasti bisa menemukan jalan terbaik untuk membereskan masalah ini." tuturnya lagi memberi saran.
Bukannya mendengarkan Bernard malah geram, itu lebih tidak akan menguntungkan kalau meminta bantuan bocah itu, "Tidak perlu, lakukan saja apa yang aku perintahkan." tanpa pikir panjang dia langsung menolak tawaran itu.
Karyawan itu tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa langsung menghubungi Nona mudanya dan memberi tahu situasi sekarang, dia hendak keluar ruangan tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar sesuatu saat Tuan Bernard mengangkat sebuah panggilan.
"Apa Pak, Renzela tidak masuk sekolah?" Bernard sampai terkejut, telepon dari pihak sekolah malah memperkeruh keadaannya, "Mana mungkin Pak, tadi pagi saya sendiri yang mengantarkan putri saya ke sekolah," ucapnya lagi masih tidak percaya, Renzela tidak mungkin bolos sekolah tanpa alasan.
Ingin terus menyangkal tapi pihak sekolah tidak mungkin berbohong, "Baik Pak, terima kasih atas konfirmasi nya,"
"Renzela kau ke mana?" Bernard langsung menghubungi Renzela, tapi percuma putrinya itu tidak merespon panggilan nya.
bodoh y
nggak enak tau kak digantung 🥹🥹🥹🥲