"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Mas Leon
Pagi pagi sekali, Alina telah sampai di rumah itu. Sebuah bangunan tiga lantai yang dulu pernah menorehkan luka menganga di hatinya karena sebuah restu yang tak ia dapatkan dari pemiliknya.
Hinaan dan makian empat tahun lalu itu masih saja berputar di kepalanya. Menggema, mencabik-cabik sisa harga dirinya yang mungkin saja tak akan bisa ia pertahankan setelah ini.
"Cari siapa, mba?" Seorang petugas keamanan menghadang langkahnya. Wajahnya tampak garang dengan badan kekar berotot layaknya preman.
"Nyonya Airish ada, Pak?" Suaranya rendah, begitu kontras dengan suara menggelegar yang baru saja menyapanya.
"Ada keperluan apa?"
"Katakan saja pada nyonya Airish jika Alina ingin bertemu."
"Coba saya lapor ke dalam dulu. Mba tunggu dulu disini."
Alina memilih duduk di sudut taman saat merasakan badannya sedikit terhuyung. Kepalanya terasa pusing—mungkin karena semalam ia kesulitan untuk meraih sang mimpi.
Tak lama kemudian, petugas keamanan itu kembali menghampirinya.
"Maaf mba, nyonya lagi sibuk." Serunya, singkat.
Dan Alina tau, itu hanyalah alasan belaka.
Ia tau jika perempuan itu enggan bertemu dengannya. Dan ia juga sadar jika keberadaannya sama sekali tak pernah diharapkan. Sebaliknya, ia layaknya hama. Yang harus di basmi agar tanaman itu bisa tumbuh dan berkembang.
"Pak, saya ada urusan penting dengan nyonya Airish. Saya mohon, Sebentar saja." Seru Alina memohon. Ia harus segera menemui perempuan itu, atau nyawa putrinya tidak akan bisa diselamatkan.
"Kamu pulang saja. Nanti saya yang kena marah." Usir laki-laki itu, tak ingin mencari masalah.
"Tapi pak-"
"Kamu tuli apa gimana sih?!" Sentakan itu seketika membuat Alina terhenyak. "Sudah dibilang kalau nyonya tidak bisa di ganggu, masih saja maksa!!!" Omelnya dengan nada ringgi penuh gurat kemarahan.
Alina meremas jemarinya yang gemetar.
Manik matanya tak henti menatap pada rumah megah itu dengan perasaan penuh harap.
Bertemu dengan perempuan itu adalah satu-satunya cara yang mungkin bisa menyelamatkan sang putri dari jurang kematian.
Menunda pertemuan itu sama dengan membiarkan kematian semakin mendekat pada sang putri yang kini tengah di ujung nyawa.
"Pak, tolong... Kasih saya kesempatan sebentar saja. Saya mohon... ." Pintanya, lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali ia menurunkan harga dirinya dan memohon seperti ini demi sang putri. Rasanya tak terhitung lagi.
"Kamu ini emang tuli, ya..." Makinya, geram melihat Alina yang keras kepala.
Hingga sebuah mobil mewah kini perlahan mendekat dari teras rumah, memaksa petugas keamanan itu berbalik dan membukakan pagar.
Alina meremas jemarinya.
Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, bukan?
Dalam situasi terhimpit itu, Alina membulatkan tekad. Begitu mobil melintas dan pagar perlahan mulai menutup rapat, Alina menerobos masuk dengan nekat. Membuat ketiga petugas keamanan itu memekik serentak.
Aksi kejar-kejaran itu pun tak dapat terhindarkan.
Dengan napas tersengal, Alina memacu langkahnya sekuat tenaga, berusaha keras menghindar dari kejaran secuity yang kini murka dibelakangnya.
"Brakkk... ."
Pintu itu ia buka dengan paksa. Menciptakan bising yang memekakkan telinga. Memaksa perempuan berusia setengah abad itu seketika menghentikan langkahnya.
Wajah anggun yang tadinya tenang itu seketika tertegun, sebelum akhirnya berubah nyalang dengan amarah yang membuncah dada.
"Apa kamu sudah gila?!"
"Ma, tolongin Al... ."
Belum sempat Alina menyelesaikan kalimatnya. Dua orang security langsunh meringkus tubuhnya dari belakang. Mengunci kedua tangannya hingga membut Alina sulit untuk bergerak.
Dalam keputusasaan itu, Alina meronta. "Lepas... Tolong lepaskan..." Namun sayang, rintihan itu bahkan tak berarti apa-apa. Terbukti saat dua security itu tak sedikitpun melonggarkan cengkeramannya dari kedua lengannya yang mungkin kini sudah membiru.
"Ma. Al mohon, dengarkan Alina sebentar saja."
Perempuan itu menyilangkan tangan di depan dada. Manik matanya menatap dingin pada Alina yang kini sudah tak berdaya. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Urusan kita sudah selesai empat tahun yang lalu, Alina." Peringat nyonya Airish, tak ingin berurusan lagi dengan perempuan yang ia anggap sebagai benalu di keluarganya.
"Tidak. Urusan kita belum selesai, Ma."
"Lebih baik kau kembali."
Perempuan itu hendak berlalu, tapi seruan Alina kembali menahan langkahnya.
"Tolong selamatkan putri Alina, Ma..." pinta Alina, terisak.
Rasa putus asa itu kembali merundungnya. Alina lelah. Ia benar-benar lelah untuk menjelaskan segalanya jika pada akhirnya tidak ada satu orang pun yang memercayainya.
"Lalu apa urusannya denganku, hmmm... itu adalah putrimu, jadi urus sendiri putrimu. Jika kamu bahkan tidak bisa melindunginya, maka itu menunjukkan jika kamu bukanlah ibu yang baik untuknya."
Isak itu semakin deras jatuh membasahi pipinya.
Hatinya mencelos.
Benar, ia memang bukan ibu yang baik. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, ia tak dapat memenuhi keinginan putrinya.
"Tapi dia putri mas Leon, ma."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Siapa yang udah nungguin, hehe
Up tipis tipis ya
Insyaallah nanti up lagi deh
Hehehe
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar