Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kurs Nilai Nyawa
"Gulo! Ini orang baru," teriak seorang preman pasar yang giginya busuk kehitaman, melempar Arka ke depan kaki seorang pria raksasa yang sedang mengunyah bongkahan daging alot—daging yang tampak seperti serat otot monster kelas rendah.
Pria itu, Gulo, adalah penguasa area pembuangan di Sektor Utara. Dia tidak peduli siapa Arka. Dia tidak peduli pada masa lalu Arka. Tatapannya dingin, memindai tubuh Arka yang kurus kering dan tangannya yang gemetar hebat akibat trauma saraf—efek samping dari Neural Feedback. Gulo menunjuk ke arah barisan drum logam berkarat yang bocor di kejauhan dengan dagunya yang penuh bekas luka.
"Angkut ke zona pembuangan," suara Gulo berat dan serak, seolah ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya. "Satu drum, satu jatah makan. Sepuluh drum, satu paket antibiotik kedaluwarsa. Kalau kau pingsan atau mati di tengah jalan, mayatmu jadi pupuk di sana. Paham?"
Arka tidak menjawab. Dia tidak bertanya tentang upah, rute, atau prosedur keamanan. Pikirannya adalah lubang hampa. Setiap kali ia mencoba bertanya "mengapa" atau "bagaimana," Ghost Code di otaknya mengirimkan sengatan listrik yang memuakkan, membuat asam lambungnya naik ke kerongkongan.
Dia berjalan menuju drum pertama.
Beratnya luar biasa. Saat jemarinya mencengkeram logam yang panas dan berkarat itu, cairan kimia di dalamnya merembes keluar, menetes ke punggung tangannya. Sssst. Kulitnya langsung melepuh, memutih di antara bercak kemerahan yang perih. Arka tidak berteriak. Ia hanya mengertakkan gigi hingga gusi-gusinya terasa sakit, membiarkan rasa sakit fisik itu menenggelamkan gema statis di otaknya.
Angkat. Langkah. Taruh.
Arka mematikan pikirannya. Dia berhenti mencoba menjadi logistik jenius yang efisien. Dia berhenti mencari sudut tuas yang tepat atau titik berat drum. Dia hanya menjadi robot organik yang bergerak karena perintah otot yang terpaksa.
Satu drum selesai.
Lalu drum kedua. Cairan beracun yang menguap dari retakan drum masuk ke paru-parunya. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan pisau cukur.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul secara refleks: Jika aku menggunakan tuas dari potongan besi itu, aku bisa mengungkit drum ini dengan tekanan hidrolik yang lebih kecil...
BZZZZT!
Dunia di depan mata Arka berputar. Ia tersungkur ke depan, drum logam itu jatuh berdebum dan nyaris menghantam pergelangan kakinya. Arka meraung dalam hati. Setiap kali logika strategisnya muncul untuk "menolong," otaknya menghukumnya dengan penderitaan.
"Bangun, Sampah!" Gulo menendang tulang punggung Arka dengan sepatu bot berlapis besi. BUGH!
Arka bangkit. Dia tidak memikirkan tuas. Dia tidak memikirkan fisika. Dia hanya memeluk drum itu dengan dadanya yang terluka, membiarkan logam tajam itu mengiris kulitnya, dan menyeretnya dengan sisa-sisa tenaga di kakinya yang mati rasa.
Berdarah. Bau busuk. Lapar.
Dia mengulangi proses itu sepuluh kali. Sepuluh kali perjalanan bolak-balik dari tempat pembuangan. Kulit telapak tangannya terkelupas, punggungnya berdarah karena gesekan kasar, dan dia hampir tidak bisa merasakan kakinya lagi.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam di balik awan beracun Sektor 4, Arka berdiri di depan meja Gulo.
"Sepuluh," bisik Arka. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti diamplas.
Gulo melemparkan dua potong roti kering yang sudah berjamur dan sebuah bungkus plastik transparan berisi tablet putih yang warnanya sudah menguning.
"Itu obatnya. Jangan mati di sini, baumu mengganggu selera makanku."
Arka mengambilnya. Tangannya yang gemetar menyentuh bungkus plastik itu seolah itu adalah bongkahan emas murni.
Dia tidak langsung memakannya. Dia tidak membawanya ke pasar gelap untuk dijual. Dia menyimpannya rapat-rapat di balik jaketnya yang penuh noda minyak. Dia berjalan tertatih-tatih kembali ke arah selokan, tempat Bram dan Hasan menunggu.
Jaraknya hanya satu kilometer, tapi baginya, itu terasa seperti satu mil. Setiap langkah adalah perjuangan melawan kegelapan yang mulai merayap di pinggiran penglihatannya.
Saat sampai di persembunyian mereka, Hasan terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah hitam yang kental. Bram menatap Arka dengan tatapan ngeri—melihat sosok yang dulunya tegap kini tampak seperti mayat hidup.
"Bos... apa yang terjadi padamu?"
Arka menjatuhkan paket plastik itu ke lantai beton yang lembap. "Obat," ucapnya pendek, lalu ia ambruk ke lantai, membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya sebelum ia sempat merasakan lapar yang membakar perutnya sendiri.
Hari ini, Arka tidak meretas sistem. Dia tidak mengalahkan perusahaan raksasa. Dia hanya berhasil menukar sepuluh drum racun dengan satu bungkus obat. Dan bagi Arka, itu adalah kemenangan terbesar yang pernah dia raih dalam hidupnya.
***
**[AUTHOR NOTE]**Arka benar-benar telah sampai di titik terendah. Dia kehilangan identitas, kehilangan kecerdasannya, dan kini harus menggadaikan sisa kesehatan tubuhnya demi obat kedaluwarsa.
Apakah obat itu benar-benar akan menyelamatkan Hasan, atau justru menjadi bom waktu bagi kondisi mereka? Dan dengan "bakat" Arka yang mulai disadari oleh Gulo, apakah dia bisa tetap bersembunyi sebagai kuli rendahan, atau dia akan ditarik ke dalam permainan yang lebih berbahaya di area limbah?
Tulis teori kalian di kolom komentar! Saya akan baca semua pendapat kalian.
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼