"Mama sudah bilang jangan sampai kakak mu terluka, tapi mengapa ketika pulang kakak mu masih terluka? apa kamu tidak mendengar ucapan mama ha?" teriak Tiara memarahi anak bungsunya karena membiarkan sang kakak Allea Akifa Gavaputri atau yang akrap di panggil Lea terjatuh dan menyebabkan lututnya lecet.
Alia Shakeela Zanitha hanya terdiam menggigit bibirnya mencoba menahan rasa sakit yang menerpa kulitnya sebisa mungkin. Gadis yang berusia 10 tahun itu bahkan tidak berani mengeluarkan suara sekecil apapun atau Tiara akan tambah murka dan memarahinya.
Sepenggal kenangan buruk yang terus terulang dalam mimpinya, membuat Alia selalu di hantui rasa ketakutan yang berlebih walau Tiara sudah meninggal sekalipun.
Kehidupan yang Alia alami terasa sangat sulit di tambah dengan kondisi sang kakak Alea yang mengidap autis.
Mampukah Alia bangkit dan keluar dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya? adakah secercah harapan yang bisa membuatnya keluar dari rasa putus asa yang menyelimutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
"Kakak mu ada di apartment kakak ku saat ini.." ucap Fabian kemudian dengan nada yang tidak enak kepada Alia.
Alia yang mendengar Fabian mengatakan hal tersebut tentu saja langsung panik dan meminta Fabian untuk segera mengantarnya ke apartment Ardan. Hanya saja Fabian yang terlanjur sepakat dengan saran dari Ardan barusan di telpon, lantas sebisa mungkin membujuk Alia agar membiarkan Allea menjernihkan pikirannya terlebih dahulu, baru kemudian menjemputnya untuk kembali pulang.
Membujuk Alia bukanlah perkara yang mudah, butuh beberapa jam bagi Fabian untuk membujuk serta meyakinkan Alia agar menjemput Allea besok setelah kondisi Allea lebih stabil.
Alia mengusap rambutnya dengan kasar, Alia benar benar tidak bisa lagi menunggu hingga besok untuk menjemput kakaknya itu, tapi perkataan Fabian dan juga rekaman kamera pengawas yang tadi ia tonton, menyadarkan Alia bahwa ia tidak boleh egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Alia terdengar menghembuskan nafasnya berkali kali, hingga kemudian ia mengambil sebuah keputusan.
"Baiklah, tapi kamu harus janji bahwa besok kita harus berangkat pagi pagi." ucap Alia pada akhirnya mau tidak mau.
"Setuju" ucap Fabian dengan senyum yang mengembang cerah di wajahnya karena Alia mau menerima opsinya kali ini..
***
Malam harinya di apartment Ardan.
Setelah keduanya menyelesaikan makan malam mereka, baik Ardan dan juga Allea memutuskan untuk langsung pergi tidur. Cuaca malam itu begitu sangat tidak mendukung, hujan lebat disertai petir yang menyambar terus terusan terdengar memekakkan telinga.
Ardan yang sudah tertidur pulas lantas terbangun dari tidurnya karena mendadak menjadi kegerahan, Ardan lantas menatap ke arah sekeliling dan baru menyadari bahwa saat ini telah terjadi pemadaman pada listrik apartment milik Ardan. Ardan yang sudah tidak tahan lagi karena hawa di ruangannya begitu panas, lantas mulai melepaskan kaos yang ia kenakan dan juga celana panjang miliknya. Ardan hanya menyisakan celana pendek kolor yang ia biarkan melekat di tubuhnya agar tidak terlalu polos.
"Apakah Allea baik baik saja dengan kondisi listrik yang mati seperti ini?" ucapnya bertanya tanya.
Di liriknya jam weker yang terletak di atas nakas dan kini sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Sudahlah mungkin dia sudah tertidur." ucap Ardan kemudian merebahkan dirinya kembali di ranjang empuk miliknya lalu melanjutkan kembali tidurnya.
Beberapa jam kemudian
Tanpa Ardan sadari, Allea yang ketakutan akan suara petir yang terus bersahut sahutan terdengar di telinganya, lantas berjalan dengan perlahan masuk ke dalam kamar dan langsung menyusup begitu saja ke dalam selimut di tengah gelapnya ruangan kamar milik Ardan. Size
Allea meringkuk mencari kehangatan dan juga perlindungan dari suara petir yang menakutkan bagi dirinya. Bukan karena gatal atau apa, hanya saja ini sudah menjadi kebiasaan lama Allea ketika tinggal berdua dengan Alia.
Ketika hujan datang disertai petir yang menyambar nyambar Allea selalu saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Alia untuk mencari perlindungan serta kehangatan dengan cara memeluk Allea dengan erat. Hanya saja mungkin Allea yang baru bangun dari tidur mungkin sedikit lupa jika ia saat ini tengah berada di apartment Ardan bukan di rumah, mengingat suasana malam itu sangatlah gelap karena pemadaman.
***
Sementara itu di Resto
Alia yang tadi terbangun karena suara petir, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah pantry untuk membuat secangkir coklat panas agar menenangkan pikirannya yang tak tenang karena memikirkan Allea sedari tadi.
Bayangan Allea yang selalu masuk ke dalam kamarnya terus menghantui pikirannya yang sedari tadi tenggelam dalam perasaan ke khawatiran.
Membuat Alia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan terus gelisah.
"Kamu belum tidur?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Alia yang tengah melamun sedari tadi.
"Kamu ada di sini? ku pikir kamu sudah pulang tadi." ucap Alia dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Fabian.
Mendapat pertanyaan tersebut Fabian lantas melangkah mendekat ke arah Alia kemudian menuang segelas air putih di gelas kosong.
"Aku tidak pernah pulang dan selalu di sini, mana tega aku membiarkan kamu sendirian di sini." ucap Fabian setelah meneguk segelas air miliknya.
"Jangan bilang kamu mencurigai ku akan melakukan sesuatu di Resto mu bukan?" ucap Alia menerka nerka.
"Jangan berpikir berlebihan, jika aku memang menaruh curiga padamu aku tidak akan membiarkan mu masuk dan tidur di dalam ruangan ku bukan?" ucap Fabian dengan santainya menanggapi tuduhan dari Alia barusan.
Mendengar jawaban santai dari Fabian barusan membuat Alia lantas tersenyum, ya seperti biasa Fabian selalu saja bisa tenang dalam menghadapi sesuatu termasuk tuduhan yang mungkin akan melukai hati seseorang jika Alia mengatakannya pada orang lain.
"Maaf" ucap Alia kemudian.
"It's ok" ucap Fabian sambil tersenyum dengan manis ke arahnya kemudian kembali meminum air putih di gelas miliknya.
Pada akhirnya keduanya lantas melanjutkan obrolan ringan mereka hingga pagi menjelang. Keduanya benar benar larut dan saling bertukar pendapat satu sama lain. Terlihat jelas dari obrolan mereka bahwa keduanya saling tertarik satu sama lainnya. Hanya saja, mungkinkah perasaan tertarik yang Fabian rasakan saat ini hanyalah sebuah perasaan yang timbul dari rasa bersalahnya? tidak ada yang benar benar tahu isi hati keduanya selain hanya mereka berdua yang mengetahuinya.
Bersambung
emang kamu tau gmn hubungan shila dan fabian.. kamu baru kenal... kamu gk da hubungan apa2 dgn fabian.. kok bisa langsung ngatain ulat gatel.. klo dulu mereka deket n punya hubungan gmn.. malah bisa d bilang kamu yg iri dan dengki ama shila... klo merasa org baru dan shila yg udah lbh lama.. y hrsnya sebatas ngerasa gk nyaman aja.. krn hrs inget alia yg org baru dan jg bkn siapa2 utk fabian..🤔. tp yg namanya dah d kuasai cemburu y gitu... hilang kesadaran dirinya.. cm bisa ngejelekin n nyalahin org yg gk d suka.. kebanyakan manusia sekarang y begini😌🤭
menikah cm utk 2bln terus bakal d cerai klo gk hamil🙄🙄
mencoba berpikir.. apa ini dr sudut pandang seorg anak yg masih muda... krn dulu masa masih bocah selalu berpikir orgtua jahat.. ortu gk adil.. lebih sayang saudara yg lain dr pd diri sendiri... merasa lebih banyak kena marah.. merasa lebih banyak dpt beban.. jd berasa gk d sayang.... tp dan tapi..... berjalannya waktu... mengerti dan paham.. ternyata itu bkn krn ortu gk sayang.. klo dulu menganggap setiap hal yg ortu lakukan utk kita adalah sebuah tekanan ke kita.. tp setelah kedewasaan hadir tau maksud dan tujuan dr setiap yg ortu ucapkan dan lakukan.. klo pas dulu mah boro2 ngerti.. soalnya udah ke tanam dlm pikiran ortu gk sayang.. ortu lebih sayang ke yg lain.. ortu gak adil.. jd apa pun yg ortu lakuakan dan omong y salah.. dan d anggap sbg siksaan..itulah pemikiran anak2.. klo sudah datang kedewasaan itu baru bisa membuka pikiran dan memahami maksud semuanya...
misal bocah yg minta eskrim tp gk d kasih n d omongin tegas klo gk boleh makan es krim nanti sakit.. bocah kebanyakan bakal langsung berpikir ibunya jahat n gak sayang ke dia.. atw saat si kakak d kasih uang saku lebih banyak dr dia.. atw si kakak udah d kasih fasilitas yg lebih dr si adik.. nanti mikirnya ortu gk adil pilih kasih.. lebih sayang ke kakak.. ini hal yg biasa d pikiran para bocah😅🤭
gmn anak bisa jd bijak dan mengayomi sedang figur ortunya aja gk mencontohkan pd anak2 semua hal itu🙄🙄
ini yg menjadi ortu sebenernya siapa 🙄
klo aku jd ardan.. anak cowok.. udah ada kata dr papanya tuh " klo gk mau mengembalikan..." artinya papanya berharap ardan melepas jabatannya.. yo wes lepasin aja.. mandiri usaha sendiri.. kerja apa pun meski gk tinggi jabatan.. meski cm pekerja biasa yg penting gk tertekan.. gk d remehkan... lebih d hargai..