NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Benang Merah

Wanita itu mengusap perlahan wajah Aurora di dalam foto. Jemarinya bergetar halus.

"Maafkan Ibu... Aurora." Suaranya nyaris tak terdengar. "Akhirnya... Ibu menemukanmu."

Setetes air mata jatuh membasahi permukaan foto itu.

Sudah lebih dari dua puluh tahun ia hidup dalam pelarian. Selama itu pula ia hanya bisa melihat putrinya dari kejauhan melalui informasi yang dikumpulkan diam-diam.

Kini, setelah mengetahui Aurora berada di bawah perlindungan keluarga Moretti, perasaannya justru semakin gelisah. Seorang pria bertubuh tegap yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kafe perlahan menghampirinya.

"Nyonya."

Wanita itu segera menghapus air matanya. "Bagaimana hasilnya?"

Pria itu menundukkan kepala. "Orang-orang Moretti sudah mulai bergerak."

Wanita itu memejamkan mata sejenak. "Secepat itu..."

"Don Adrian sendirinya yang memimpin penyelidikan."

Mendengar nama itu, wanita tersebut menggenggam foto Aurora sedikit lebih erat. "Aku sudah menduganya."

Pria itu kembali berkata pelan, "kalau kita terus berada di sini, besar kemungkinan mereka akan menemukan jejak kita."

Wanita itu terdiam cukup lama. Akhirnya ia memasukkan kembali foto Aurora ke dalam amplop. "Aku belum bisa pergi."

"Kenapa Nyonya?"

Tatapan wanita itu berubah sendu. "Aku harus memastikan putriku benar-benar aman."

Sementara itu...

Di Mansion Moretti, Leonardo masih berdiri di depan jendela ruang keluarga. Tatapannya mengarah ke halaman depan yang kini dipenuhi aktivitas para petugas keamanan.

Mobil patroli mulai berkeliling area mansion. Beberapa kamera pengawas tambahan dipasang di titik-titik tertentu.

Carlo berjalan mendekat. "Don Besar."

"Hm?"

"Seluruh prosedur keamanan tingkat satu telah diaktifkan."

Leonardo mengangguk pelan. "Bagaimana dengan Aurora?"

"Nona Isabel mengantar beliau ke kamarnya untuk beristirahat."

"Bagus."

Leonardo kembali menatap keluar jendela, dalam hati ia mulai bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang sedang dicari orang-orang itu? Dan mengapa semua petunjuk selalu mengarah kepada Aurora?

Di lantai tiga...

Aurora memasuki kamarnya sambil mengembuskan napas panjang. Hari itu terasa begitu melelahkan, baru sehari berada di mansion, ia sudah melihat begitu banyak hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Isabel menuangkan segelas air hangat lalu menyerahkannya. "Minumlah dulu."

Aurora menerimanya. "Terima kasih."

Ia duduk di sofa dekat jendela sambil memandangi taman belakang mansion. "Kak Isabel..."

"Ya?"

"Apakah setiap hari di sini selalu seperti ini?"

Isabel tersenyum tipis. "Kadang lebih tenang."

"Kadang?"

"Kadang jauh lebih sibuk."

Aurora tertawa kecil. "Aku mulai mengerti kenapa semua orang di sini selalu terlihat serius."

Isabel duduk di kursi seberangnya. "Kau takut?"

Aurora berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Tidak juga."

"Bukannya takut?"

"Aku hanya... bingung."

"Bingung?"

Aurora menatap kedua tangannya. "Sejak kecil aku tidak pernah mengenal siapa orang tuaku. Aku hanya tahu dibesarkan oleh Ibu Maria. Setelah beliau meninggal, hidupku benar-benar hancur"

Aurora mengangkat wajahnya. "Tapi sekarang... semuanya berubah."

Isabel memperhatikan gadis itu beberapa saat. Kemudian berkata dengan suara lembut. "Kalau suatu hari nanti kau mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Apa kau sudah siap menerimanya?"

Aurora terdiam, pertanyaan itu membuatnya kehilangan kata-kata. Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis.

"Aku tidak tahu."

"Tapi..." Ia mengepalkan tangan pelan. "Aku ingin mengetahui kebenarannya."

Isabel mengangguk pelan. "Kalau begitu, jangan pernah menyerah."

Aurora membalas senyumnya. "Tidak akan."

Di saat yang sama...

Markas utama keluarga Moretti. Adrian berdiri seorang diri di ruang kerjanya. Di atas meja terbentang puluhan foto, peta, dan dokumen hasil penyelidikan.

Tatapannya berhenti pada satu foto lama. Foto Maria Laurent bersama anak-anak Panti Asuhan Kasih Bunda. Perlahan ia mengambil sebuah kaca pembesar. Bukan wajah Aurora yang ia perhatikan. Melainkan latar belakang foto tersebut.

Di sudut paling belakang, hampir tertutup pepohonan, tampak siluet seorang pria mengenakan jas hitam sedang berbicara dengan wanita bermantel krem.

Adrian memperbesar gambar itu. Meski buram, ia masih bisa melihat sebuah cincin berlogo elang hitam di tangan pria tersebut.

Mata Adrian langsung menyipit. "Johan."

Pintu ruang kerja segera terbuka.

"Ya, Don."

Adrian menyerahkan foto itu. "Perbesar bagian ini."

Johan memperhatikannya dengan saksama. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah drastis.

"Ini..."

"Kau mengenal lambang itu?"

Johan mengangguk perlahan. "Kalau saya tidak salah..."

"Itu lambang organisasi Black Eagle."

Ruangan mendadak hening.

Adrian menatap Johan tanpa berkedip. "Organisasi itu seharusnya sudah musnah lima belas tahun yang lalu."

"Itulah sebabnya saya terkejut, Don."

Adrian kembali memandang foto tua tersebut. Kalau Black Eagle benar-benar masih ada, berarti rahasia kelahiran Aurora bukan hanya berkaitan dengan masa lalu Maria Laurent.

Melainkan juga berhubungan dengan organisasi bayangan yang selama ini dianggap telah lenyap dari dunia. Dan jika dugaan itu benar, maka Aurora Bellini baru saja menjadi target dari musuh yang jauh lebih berbahaya daripada keluarga Dragovic.

Di markas utama keluarga Moretti...

Suasana ruang kerja Adrian berubah semakin sunyi. Johan masih memandangi foto lama itu dengan dahi berkerut.

"Don..."

"Hm?"

"Kalau benar Black Eagle masih ada..." Johan berhenti sejenak. "Berarti ada seseorang yang sengaja menyembunyikan keberadaan mereka selama bertahun-tahun."

Adrian meletakkan foto itu di atas meja. "Bukan hanya menyembunyikan. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali bergerak."

Johan mengepalkan tangannya. "Kalau begitu... nona Aurora benar-benar dalam bahaya."

Adrian tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap seluruh kompleks markas Moretti.

"Kirim perintah."

"Siap, Don."

"Mulai malam ini, dua tim terbaik ditempatkan di Mansion Moretti."

"Baik."

"Satu tim berjaga di luar."

"Ya."

"Satu tim lagi menyamar sebagai staf keamanan dalam mansion."

Johan mengangguk.

"Kalau ada orang asing mendekati Aurora..." Adrian memotong ucapannya sendiri. "Tangkap hidup-hidup."

"Dimengerti."

Belum sempat Johan melangkah keluar, ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya.

"Halo."

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah tegang.

"Apa?"

Adrian langsung menoleh. "Ada apa?"

Johan menurunkan ponselnya perlahan. "Don..."

"Katakan."

"Tim kita menemukan seseorang."

"Siapa?"

"Pria yang dulu bekerja di Panti Asuhan Kasih Bunda."

Tatapan Adrian langsung berubah tajam. "Dia masih hidup?"

"Ya."

"Di mana dia?"

"Sebuah panti jompo kecil di pinggiran Kota Bern."

Adrian langsung mengambil jas hitamnya. "Siapkan mobil."

"Don ingin berangkat sekarang?"

"Semakin lama kita menunggu..." Ia mengenakan jasnya dengan tenang. "Semakin besar kemungkinan orang itu dibungkam."

"Baik, Don."

Sementara itu...

Di Mansion Moretti, Aurora masih berada di kamarnya. Ia berdiri di balkon sambil menikmati angin sore yang bertiup pelan. Tatapannya mengarah ke taman yang mulai diterangi lampu-lampu hias.

"Indah sekali..."

Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.

Tok... tok...

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Isabel masuk sambil membawa sebuah kotak kayu kecil. "Aku mengganggu?"

Aurora tersenyum. "Tidak."

Isabel meletakkan kotak itu di atas meja. "Apa ini?"

"Don Besar yang memintaku mengantarkannya."

Aurora membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah buku bersampul kulit berwarna cokelat tua. Di bagian depannya tertulis dengan tinta emas. Riwayat Keluarga Moretti.

Aurora berkedip. "Buku sejarah?"

Isabel mengangguk. "Don Besar berkata, kalau kau ingin mengenal keluarga ini, mulailah dari masa lalunya."

Aurora membuka halaman pertama. Di sana terdapat foto hitam putih seorang pria tua bersama seorang laki-laki yang mulai beranjak dewasa berusia sekitar lima belas tahun.

Aurora memperhatikan wajah laki-laki itu. "Ini..."

"Itu Don Adrian."

Aurora membelalakkan mata. "Serius?" Ia hampir tidak percaya, wajah Adrian terlihat jauh lebih kurus. Tatapannya tetap dingin, bahkan di usia yang masih sangat muda. Aurora tersenyum kecil. "Dia ternyata memang sudah galak sejak kecil."

Isabel menahan tawa. "Mungkin begitu."

Aurora membalik halaman berikutnya. Beberapa foto memperlihatkan perkembangan perusahaan Moretti. Kemudian... tangannya berhenti pada satu halaman.

Di sana terdapat foto sebuah panti asuhan.

Aurora mengernyit. "Tunggu..."

Ia mendekatkan wajahnya. "Panti Asuhan Kasih Bunda?"

Isabel ikut melihat. "Benar."

Aurora membaca tulisan kecil di bawah foto. Panti Asuhan Kasih Bunda dibangun kembali berkat bantuan Yayasan Moretti Foundation, tujuh tahun yang lalu.

Aurora menatap Isabel dengan mata membesar. "Jadi... Panti tempat aku dibesarkan... mendapat bantuan dari keluarga Moretti."

Aurora benar-benar terdiam. Selama ini ia mengira kehidupannya dan keluarga Moretti tidak pernah memiliki hubungan apa pun. Namun kenyataannya... benang merah itu ternyata sudah terjalin sejak ia masih sangat kecil.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!