Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
Matahari siang menyengat tanpa ampun di atas ubun-ubun, membakar atap-atap seng pasar induk. Bumi terus melangkah bolak-balik dari bak truk menuju lapak pedagang. Setiap kali keranjang sawi seberat puluhan kilogram mendarat di pundaknya, rasa linu yang teramat sangat menjalar dari tulang kering hingga ke punggungnya. Keringat dingin bercucuran deras, membasahi kaos oblongnya yang sudah dekil. Efek obat penurun panas dari Alya tadi pagi perlahan mulai habis, membuat kepalanya kembali berdenyut-denyut seperti dipukul palu.
"Bum! Lu masih kuat gak? Muka lu makin pucat itu, Tong!" teriak Kang Bendot dari atas bak truk, menatap cemas ke arah Bumi yang jalannya sudah agak goyah.
Bumi menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu menengadah sambil tersenyum dipaksakan. "Masih kuat, Kang! Tanggung, tinggal dua truk lagi kan? Siniin aja keranjangnya, selow!"
"Gila lu ya, bener-bener keras kepala. Tapi awas lu ya, kalau ngerasa udah mau pingsan langsung ngomong!" sahut Kang Bendot menggeleng-gelengkan kepala.
"Aman, Kang. Tenaga saya masih banyak," jawab Bumi bohong. Nyatanya, pandangannya sudah beberapa kali agak berkunang-kunang, namun bayangan dompetnya yang kosong melompong semalam memaksa kakinya untuk tetap berdiri tegak. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di tubuhnya, yang penting sore ini ia harus memegang uang untuk bertahan hidup.
Aktivitas bongkar muat blok barat baru benar-benar selesai saat langit sore mulai berubah jingga. Bumi duduk bersandar di tiang beton dekat pos, napasnya terengah-engah dan dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit di perutnya akibat tendangan Garong kemarin terasa makin melilit.
Kepala blok berjalan mendekat bersama Kang Bendot, membawa seikat uang upah harian.
"Nih, Bumi. Upah kerja keras lu hari ini. Gua tambahin dikit bonus karena kerja lu paling rajin dari pagi gak pakai istirahat," kata kepala blok sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas baru ke tangan Bumi.
Bumi menerima uang itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Pak. Ini membantu banget buat saya."
"Sama-sama, Bum. Cepat pulang terus obatin itu muka lu," pesan kepala blok sebelum berjalan pergi.
Setelah kepala blok menjauh, Kang Bendot duduk di samping Bumi dan menepuk pundaknya dengan sangat pelan, seolah takut menyakiti tubuh Bumi yang penuh memar. "Bum, jujur ya, gua bener-bener terharu sekaligus kagum banget sama keteguhan lu. Baru kali ini gua lihat ada anak muda sekeras lu. Habis digebukin preman sampai habis-habisan, demam tinggi, tapi masih bisa kerja rodi kayak gini dari pagi sampai sore tanpa ngeluh."
Bumi tersenyum tipis, memasukkan uang upahnya ke dalam kantong celana dengan sangat hati-hati. "Hidup harus terus berlanjut, Kang. Kalau saya malas-malasan, yang ada saya makin susah di kota orang. Modal saya cuma badan sama tekad ini doang."
"Iya, gua paham. Tapi sekarang tugas lu udah selesai buat hari ini. Buruan lu balik ke kosan, mandi air hangat, terus tidur. Jangan keluyuran lagi," kata Kang Bendot mengingatkan.
"Siap, Kang. Kalau begitu saya pamit pulang duluan ya, Kang. Badan saya emang udah minta haknya banget ini," ucap Bumi sambil mencoba berdiri dengan bertumpu pada tiang beton.
"Iya, hati-hati di jalan, Bum. Sampai ketemu besok pagi," sahut Kang Bendot menatap kepergian Bumi dengan pandangan penuh rasa hormat.
Bumi berjalan pelan meninggalkan area pasar induk yang mulai berganti shift malam. Langkah kakinya terseret-seret, memeluk tas karung goninya dengan sisa tenaga yang ada. Jalannya sengaja memutar, melewati lorong sepi di samping gudang tua tempat kejadian mengerikan kemarin sore.
Namun, baru saja berjalan beberapa puluh meter di lorong semen basah itu, tubuh Bumi mendadak menolak untuk diajak kompromi lagi. Rasa sakit yang sejak pagi ia tahan dengan segenap kekuatannya kini mendadak tumpah berbarengan. Kepalanya berputar hebat, pandangannya menggelap secara drastis, dan dadanya terasa sangat sesak seolah kehabisan oksigen.
"Aduh... kok... kok lemes banget ya..." bisik Bumi, suaranya nyaris tak terdengar.
Jalan Bumi makin limbung ke kanan dan ke kiri. Kakinya yang cedera tidak mampu lagi menopang berat badannya. Bruk! Bumi ambruk, jatuh tersungkur di atas lantai semen tepat di depan sebuah kios kelontong tua yang sudah tutup dan digembok dari luar.
Bumi mencoba menggerakkan lengannya untuk kembali bangun, namun tubuhnya rasanya sudah hancur lebur seperti diremuk. Jangankan untuk berdiri, bahkan untuk membalikkan posisi badannya saja ia sudah tidak mampu lagi. Bumi terbaring telungkup di lantai semen yang dingin, napasnya tersengal-sengal pendek.
"Gak boleh pingsan... gua gak boleh pingsan di sini... nanti uangnya hilang lagi..." gumam Bumi dalam hati dengan sangat frustrasi.
Tangan kanannya bergerak masuk ke dalam saku celana, menggenggam erat-erat lembaran uang upah harian yang baru saja diterimanya dari kepala blok tadi. Ia memaksakan matanya agar tetap terbuka dengan sisa kesadarannya yang terus menipis, ketakutan kalau gerombolan Garong bakal kembali datang dan merampas hasil keringatnya lagi.
Di saat kondisi Bumi sedang kritis dan berada di ambang ketidaksadaran di lorong sepi itu, mendadak terdengar suara langkah kaki yang lambat, mendekat ke arah tempatnya terkapar. Tap... tap... tap...
Bumi mencoba menggeser pandangan matanya yang kabur ke arah depan. Dari remang-remang bayangan lorong, muncul seorang kakek misterius. Kakek itu berambut putih panjang yang diikat rapi, jenggotnya juga memutih, dan ia mengenakan pakaian kain hitam polos sederhana seperti baju pendekar kuno. Wajah kakek itu tampak sangat tenang namun memancarkan aura yang sangat berwibawa.
Kakek misterius itu berhenti tepat di depan tubuh Bumi, lalu berjongkok perlahan. Matanya menatap lebam di wajah Bumi dan posisi tangan Bumi yang menggenggam uang di sakunya.
"Anak muda yang malang... tubuhmu sudah melewati batas kemampuannya, tapi jiwamu menolak untuk menyerah," ucap kakek itu dengan suara yang berat, dalam, namun terasa sangat menyejukkan di telinga Bumi.
Bumi mencoba bersuara, namun hanya erangan kecil yang keluar dari tenggorokannya. "K-kek... s-saya..."
"Jangan banyak bicara dulu, Le. Kesadaranmu sudah hampir habis," kata kakek misterius itu menenangkan. Dari balik lengan baju hitamnya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari bahan tanah liat penyimpan ramuan tradisional. Kakek itu membuka sumbat botolnya, lalu mendekatkannya ke bibir Bumi. "Minum ini. Ini ramuan herbal yang bisa menyembuhkan luka dalam dan mengembalikan tenagamu yang terkuras."
Kesadaran Bumi saat itu sudah sangat menipis, pandangannya makin gelap dan tenaganya benar-benar nol. Ia sama sekali tidak bisa menolak atau menjauhkan kepalanya ketika tangan kiri kakek itu dengan lembut menopang dagunya, lalu perlahan memasukkan cairan ramuan berwarna cokelat pekat dari botol tersebut ke dalam mulut Bumi.
Glek... glek...
Cairan ramuan itu mengalir masuk ke tenggorokan Bumi. Rasanya sangat pahit bercampur hangat yang langsung menjalar ke seluruh dadanya begitu tertelan.
Namun, sesaat setelah Bumi berhasil meminum habis seluruh ramuan misterius tersebut, rasa hangat di dadanya mendadak berubah menjadi gelombang kantuk yang sangat berat dan luar biasa dahsyat, memaksa seluruh sistem tubuhnya untuk langsung mati mendadak. Bumi tidak mampu lagi menahan kelopak matanya. Detik itu juga, pandangan Bumi benar-benar gelap total, tangannya melemas, dan ia langsung pingsan tidak sadarkan diri, membiarkan obat misterius itu bekerja di dalam tubuhnya yang hancur lebur.