"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut kehilangan
Dua puluh menit kemudian...
Sebuah mobil SUV hitam memasuki area parkir bawah tanah sebuah kondominium mewah di distrik utara kota.
Tempat itu tampak lengang. Tak ada penghuni yang berlalu-lalang. Hanya suara mesin mobil yang menggema di antara pilar-pilar beton. Mobil berhenti tepat di depan sebuah lift privat.
BRAK!
Erick turun lebih dulu. Tatapannya menyapu setiap sudut parkiran.
"Dua orang di pintu masuk. Dua orang di lift. Dua orang berjaga di ruang kendali."
"Iya, Tuan Erick."
Mereka segera menempati posisi masing-masing. Tak lama kemudian, pintu belakang mobil dibuka. Dokter membantu Jose turun dengan hati-hati. Wajah Jose tampak pucat akibat kehilangan banyak darah.
"Tuan, sebaiknya Anda dibawa ke rumah sakit," ucap dokter.
Jose menggeleng.
"Itu tidak mungkin."
"Tapi luka Anda..."
"Aku baik-baik saja."
Erick hanya menghela napas. Ia tahu... Tak ada seorang pun yang mampu mengubah keputusan Jose.
Di sisi lain, Eva turun dari mobil dengan perlahan.
Tatapannya langsung tertuju kepada Jose.
Melihat pria itu memaksakan diri berjalan membuat hatinya kembali terasa sesak.
Namun ia memilih diam.
Hubungan mereka masih dipenuhi luka yang belum sembuh.
"Silakan, Nyonya," ujar Erick sopan.
Mereka memasuki lift privat.
KLIK...
Erick menempelkan kartu akses. Kemudian sidik jarinya.
BIP!
Pintu lift terbuka. Di dalam lift tak ada tombol lantai sama sekali. Erick kembali menempelkan sidik jarinya pada panel kecil yang tersembunyi.
Layar digital menyala.
PENTHOUSE
Lift bergerak naik. Suasana di dalamnya sunyi. Tak seorang pun berbicara. Jose sesekali melirik ke arah Eva.
Namun setiap kali pandangan mereka hampir bertemu, Eva segera mengalihkan wajahnya ke arah lain.
DING...
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka. Hamparan ruang tamu yang luas langsung menyambut mereka.
Seluruh dinding didominasi kaca tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Interiornya sederhana namun elegan.
Tak banyak perabot. Hanya sofa berwarna abu-abu, meja kayu panjang, rak buku, dan perapian modern.
"Selamat datang, Nyonya," ucap Erick.
"Mulai malam ini... tempat ini akan menjadi kediaman sementara Anda."
Eva melangkah perlahan memasuki ruangan. Ia memandang sekeliling.
"Sepi..."
"Memang sengaja dibuat seperti itu," jawab Erick.
"Tidak ada penghuni lain selain petugas keamanan yang berjaga di lantai bawah." tambahnya.
Dokter tersenyum.
"Tempat ini jauh lebih aman dibanding rumah sakit."
Eva mengangguk pelan. Ia berjalan mendekati jendela besar. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di bawah sana.
Entah mengapa...
Pemandangan itu justru membuatnya merasa semakin sendiri.
Di belakangnya...
Jose hendak melangkah mendekat. Namun baru beberapa langkah...
BRUK!
Tubuhnya limbung.
"Tuan!"
Erick segera menahan tubuh Jose sebelum jatuh.
Dokter langsung menghampiri.
"Anda kehilangan terlalu banyak darah! Saya sudah memperingatkan agar Anda tidak memaksakan diri."
Jose tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin memastikan Eva sampai dengan selamat."
Eva yang mendengar kalimat itu perlahan menoleh. Tatapannya jatuh pada wajah Jose yang semakin pucat. Beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia melangkah mendekat.
"Dokter, cepat lakukan sesuatu! Lakukan apapun yang bisa menghentikan darahnya mengalir."
Dokter panik
"Kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan sisa pelurunya."
"Lakukan. Cepat!"
Dokter langsung memberi instruksi kepada dua perawat yang telah bersiaga.
"Siapkan ruang tindakan sekarang juga! Peralatan bedah! Infus baru! Siapkan darah cadangan!"
"Tapi, Dok... Tidak ada persedian darah."
Dokter langsung menoleh. Wajahnya berubah tegang.
"Apa maksudmu tidak ada?"
Perawat itu menundukkan kepala.
"Persediaan darah di sini belum sempat dikirim, Dok. Karena tempat ini bukan rumah sakit, kami hanya membawa perlengkapan operasi darurat."
Ruangan mendadak hening. Jose yang mulai kehilangan kesadaran masih berusaha membuka matanya.
"Operasi saja..." gumamnya pelan.
Dokter menggeleng tegas.
"Tidak bisa! Anda sudah kehilangan terlalu banyak darah. Jika peluru dikeluarkan tanpa cadangan darah, risikonya sangat besar."
Erick mengepalkan kedua tangannya.
"Saya akan mencari darah sekarang juga."
Dokter segera menghentikannya.
"Tidak semudah itu. Kita harus memastikan golongan darahnya cocok."
Erick menoleh.
"Golongan darah Tuan Jose O rhesus positif, bukan?"
Dokter mengangguk.
"Benar. Tapi tetap harus diperiksa kecocokannya."
Eva yang sejak tadi berdiri membeku tiba-tiba melangkah maju.
"Kalau... darahku?"
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
"Apa?"
Eva menarik napas dalam.
"Periksa darahku."
Dokter tampak ragu.
"Nyonya, kondisi Anda juga baru pulih."
"Tidak apa-apa."
"Tapi..."
"Periksa saja!"
Suara Eva terdengar tegas. Dokter akhirnya mengangguk.
"Baik. Cepat bawa alat pemeriksaan."
Beberapa menit kemudian...
Perawat mengambil sampel darah Eva dan Jose.
Suasana terasa begitu menegangkan. Tak seorang pun berbicara. Yang terdengar hanyalah bunyi monitor jantung Jose yang semakin melemah.
BIP... BIP... BIP...
Dokter menunggu hasil pemeriksaan dengan wajah serius.
Beberapa saat kemudian...
Perawat berlari menghampiri sambil membawa hasil uji.
"Dok!"
Dokter segera mengambil lembar hasil itu. Matanya membacanya dengan cepat.
Lalu... Ekspresinya berubah lega.
"Cocok."
Erick mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah..."
Dokter menatap Eva.
"Nyonya, Anda bersedia mendonorkan darah?"
Eva melirik Jose yang kini hampir tidak sadarkan diri. Wajah pria itu pucat. Napasnya semakin lemah.
Beberapa detik ia terdiam. Lalu perlahan mengangguk.
"Iya. Aku akan mendonorkan darahku."
Jose yang masih setengah sadar mendengar jawaban itu. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng pelan.
"Jangan..."
Suaranya hampir tak terdengar.
"Aku... tidak pantas..."
Air mata kembali menggenang di mata Eva. Ia menatap Jose dengan sorot mata yang dipenuhi luka.
"Aku melakukan ini bukan karena aku sudah memaafkan mu."
Suasana kembali sunyi. Eva melanjutkan dengan suara bergetar.
"Aku melakukan ini... karena aku tidak ingin ada lagi nyawa yang hilang di hadapanku."
Jose memejamkan mata. Air mata mengalir dari sudut matanya.
"Terima kasih..." bisiknya lirih.
Dokter segera memberi instruksi.
"Siapkan transfusi sekarang! Begitu darah mulai mengalir, kita langsung masuk ruang operasi."
"Iya, Dok!"
Para perawat bergerak cepat menyiapkan seluruh peralatan. Sementara Erick berdiri di depan jendela besar penthouse, menggenggam ponselnya erat.
"Tuan... Anda harus bertahan. Karena perang yang sebenarnya... baru saja dimulai." gumamnya lirih.
***
Di tempat lain di sebuah atap gedung...
Seorang wanita yang sangat mirip dengan Luna berdiri menghadap langit sambil mengisap rokok di tangannya.
"Kau benar. Jose melindungi gadis itu."
Pria bertopeng itu tersenyum.
"Kenapa kau tak mengejar?"
Wanita itu menoleh.
"Belum saatnya. Aku hanya memberi peringatan."
Pria bertopeng berjalan mendekati wanita itu.
"Sudah pasti Jose akan menyerang ke wilayahku."
Wanita itu tersenyum miring.
"Kau takut?"
Pria itu menggeleng lalu mengambil sisa rokok dari tangan wanita itu.
"Takut?" ucapnya.
"Sudah lama aku menunggu momen ini. Sudah lama sekali aku tidak melihat ketakutan di wajahnya."
Wanita itu tersenyum, ia juga mengingat bagaimana Jose berlari seperti orang gila untuk menyelamatkan wanita yang bernama Eva.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu