Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : DI BALIK TEMBOK ISTANA
Setelah dua jam pemeriksaan kesehatan itu, para peserta yang dinyatakan lulus dipersilakan untuk memasuki ruangan tertutup untuk pemeriksaan fisik. Dari 99 peserta kini tinggal 70 peserta yang maju ke tahap selanjutnya. Artinya sebanyak 30 peserta menyembunyikan penyakit mereka, diantaranya ada yang memang mengaku sendiri hingga dipaksa mengaku setelah diperiksa oleh para tabib.
Kini sisa 70 peserta masuk bergiliran ke dalam aula tertutup, setiap lima orang akan diperiksa secara bergantian. Pemeriksaan fisik ini terdiri dari tinggi badan, ukuran lengan dan paha, bentuk payudara, lebar lingkar dada dan apakah kondisi kulit seluruhnya dari ujung kepala sampai kaki bersih dan mulus tidak ada luka sedikitpun. Setiap seleksi ini sangat ketat, bahkan jika calon putri mahkota dipilih langsung oleh putra mahkota pun tetap harus melewati pemeriksaan seperti ini.
Ye Ning dan yang lainnya juga sudah selesai diperiksa dan hasilnya adalah kelima orang itu berhasil lolos dan maju ke tahap selanjutnya. Ming Zi dan Jiu Lin tampak senang akan hasil ini, sedangkan Lu Wan hanya tersenyum malu-malu kucing, dan Qing He yang seperti sudah tahu bahwa dia akan lolos. Hanya Ye Ning yang berjalan lesu menuju halaman Timur, ia menendang semua batu kerikil yang menghalangi jalannya.
Lu Wan yang menyadari itu menyamai langkah mereka dan berbisik "Ning-Ning apakah kau tidak senang?"
Ye Ning mengangguk sebagai jawaban dan berkata
"Seharusnya aku tidak memakai salep ajaib dari Zhilan" menghela nafas dan melanjutkan
"kau tahu? Semua luka lecetku saat aku jatuh waktu itu tidak ada bekas sama sekali!" aku protes, menjadi kesal pada Zhilan.
Mendengar itu Lu Wan terkikik kecil dan berkata "Itu karena Zhilan perhatian padamu. Ia tidak ingin dirimu sedih karena luka akan membekas di kulitmu"
Ye Ning menatap Lu Wan dengan tatapan tidak percaya dan memegangi dadanya seolah merasa dikhianati "Wan-wan, aku tidak menyangka bahwa kau sekarang membela pria itu"
Meskipun di hari pertama mereka datang sudah mengalami kejadian yang cukup mengejutkan namun tidak mengurungkan niat mereka untuk terus maju ketahap selanjutnya. Semua peserta memiliki ambisi untuk menjadi istri pewaris kediaman Junwang.
Selain prestise, hidup tenang memiliki banyak pelayan dan dapat membawa kemakmuran bagi keluarga juga menjadi pertimbangan. Mungkin yang memiliki niat murni untuk menjadi Shizi Fei karena Shizinya adalah Li Wen hanyalah Lu Wan.
Sedangkan Ye Ning yang sebenarnya enggan tetap terpaksa mengikuti tahap seleksi sampai ia dinyatakan tidak lolos dalam penilaian.
Malam ini para gadis beristirahat di kamarnya sejak awal malam, karena besok dan seterusnya mereka masih harus mengikuti seleksi yang cukup panjang. Jika semua peserta tidur dengan tenang, berbeda dengan Putri Mahkota Sunling.
Malam ini meskipun sudah larut malam, lilin di kamarnya masih menyala. Semua pelayan kecuali Wang Momo berlutut di hadapannya sambil menangis memohon ampun. Kamar Sun Ling terlihat sangat berantakan, barang keramik pecah dimana-mana dan kertas tulis beserta kuas berserakan di lantai.
"Aku sudah memperingatkan untuk menempatkan barangku seperti sebelumnya dan jangan pernah menyentuh mejaku. Tapi kalian tidak bisa untuk memperingati pelayan baru seperti dia" Sun Ling memarahi mereka dan menunjuk ke arah gadis pelayan yang saat ini berlutut dengan kedua tangannya berdarah tertusuk pecahan keramik.
Sun Ling paling anti jika ada pelayan yang menyentuh area meja dan ranjangnya, tetapi karena ada pelayan baru masuk dengan santainya menyentuh dan membersihkan area itu. Sun Ling hari ini sangat marah, entah karena memang masalah ini atau ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
" Patahkan jari-jarinya " perintah Sun Ling kepada Wang Momo.
" Tidakk... Tidakk... Ampuni saya Yang Mulia... Tolong ampuni saya " pelayan kecil itu berteriak histeris minta tolong namun tidak ada yang berani menolongnya. Wang Momo sudah kembali membawa alat pematah jari, ia memerintahkan dua kasim muda untuk memegangi tubuh pelayan itu agar tidak berontak. Wang Momo memasukkan jari pelayan itu ke dalam alat, dan ketika ingin menariknya
BRAKKK!!!
Pintu kamar di dobrak oleh Li Yan dalam sekejap semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.
Hentikan! Ucap Li Yan, mendengar satu kata darinya sudah cukup untuk membuat semua orang berlutut ketakutan. Wu An secara pribadi menendang kedua kasim yang berada di samping gadis pelayan itu dan melindunginya. Li Yan memandang Sun Ling dengan tatapan kebencian. Sun Ling tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan melihat Putra Mahkota sekarang.
Kedatangan Li Yan yang mendadak membuat lehernya menegang, dan bibirnya kaku. Li Yan berjalan mendekatinya dan berbisik "Harusnya kau tetap bersikap seperti dewi suci dan menjaga tempramenmu itu seperti sebelumnya wahai putri mahkota"
Setelah mengatakan itu, Li Yan berbalik pergi dan memerintahkan Wu An untuk membawa gadis pelayan itu kembali ke kediamannya. Sun Ling langsung berdiri dan mengejar Li Yan, namun Li Yan tidak lagi menatapnya bahkan mempedulikannya.
"YANG MULIA!" Teriak Sun Ling di koridor istana sambil mengejar Li Yan hingga ia terjatuh, Li Yan tetap tidak pernah menoleh ke arahnya.
Sun Ling langsung menangis kencang seperti ia yang paling tersakiti dalam hal ini. Wang Momo yang khawatir membujuk Sun Ling untuk berdiri dan kembali ke ruangan samping selagi kamarnya di bersihkan.
Sun Ling pun duduk di atas dipan luohan kesayangannya, sambil mengelap air mata dengan sapu tangan lalu ia meminum teh yang telah dituangkan oleh Wang Momo ke dalam cawan favoritnya.
Wang Momo berkata "Putri harus tenang, saat ini Putra Mahkota masih marah. Jangan bertindak gegabah agar tidak menimbulkan kecurigaan"
Sun Ling menatap api yang berderak di dalam tungku kecil, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Selang berapa menit ia mengatakan bahwa besok dirinya harus menemui Ibu Suri.
Kejadian malam itu telah menyebar ke seluruh penjuru istana pada keesokan harinya. Tak terkecuali para peserta seleksi yang berada di halaman harem juga mendengarnya. Bukan hanya itu, berita yang paling menggemparkan dari semuanya adalah tentang Putra Mahkota.
Pria yang selama tiga tahun menikah tidak pernah mengambil selir dan dikenal sangat mencintai istrinya itu, secara tiba-tiba mengambil pelayan dari istana Putri Mahkota dan menjadikannya selir peringkat kelima hanya dalam semalam.
Oleh sebab itu, Ibukota Kekaisaran menjadi heboh. Semuanya mulai berasumsi, apalagi Putra Mahkota bukan mengambil selir dari luar melainkan dari istana Putri Mahkota itu sendiri.
Selaras dengan berita itu, kabar datang dari Istana putri mahkota yang mengumumkan bahwa beliau jatuh sakit dan akan beristirahat dan tidak keluar istana selama waktu yang tidak ditentukan untuk memulihkan diri. Mendengar ini, Kaisar sangat marah dan menghukum putra mahkota untuk menyalin kitab suci sebanyak 100 lembar dan berlutut di kuil leluhur.
Ye Ning yang juga mendengar berita ini hanya mengangkat bahu dan tidak terlalu memikirkannya. Ia tetap kekeh berpendapat bahwa sarannya kepada Li Yan untuk memeriksakan diri ke tabib sangatlah tepat.