BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bab 11
Sepulang dari pertemuannya dengan Arkatama, langkah Kemuning terasa lebih cepat dari biasanya. Bukan karena dia tidak lelah, tetapi karena ada satu hal yang terus menghantui pikirannya, yaitu sertifikat tanah peternakan itu. Dia harus memastikan benda itu masih ada dan aman karena itu adalah aset pemberian kedua orang tuanya.
Begitu sampai di kamar, Kemuning langsung menutup pintu. Dia tidak menguncinya, hanya mendorong pelan agar tidak menimbulkan suara. Napas wanita itu masih sedikit tersengal ketika berdiri di depan meja rias.
Baik Kemuning ataupun Aditya, tahu di mana dokumen-dokumen penting mereka di simpan. Di dalam sebuah brankas yang tersembunyi di bawah meja rias.
Dengan gerakan hati-hati, Kemuning menarik brankas kecil itu keluar. Bunyi gesekan halus terdengar, membuat jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Dia sempat menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada yang mendengar.
"Syukurlah, sertifikatnya masih ada!" Kemuning merasa lega. Dia memeluknya erat seakan takut ada yang ambil.
Melihat ada buku nikah dan kartu keluarga, Kemuning pun mengambilnya. Tekad dia untuk bercerai dengan Aditya sudah bulat. Rumah tangganya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin lebih tepatnya, bercerai demi keselamatan dan kebaikan dirinya.
Kemuning memasukan semua barang penting itu ke dalam tas lusuh miliknya yang sering dibawa ke pasar, agar tidak ada yang mencurigainya.
"Eh, lupa! Tabungan juga harus aku amankan." Kemuning menepuk keningnya pelan. Dia hampir lupa hal penting itu.
Kemuning melihat saldo di dalam buku tabungan bersama itu. Nominalnya hampir satu miliar. Semua ini uang yang didapat dari keuntungan usaha peternakan potong ayam hampir selama lima tahun.
Selama ini Kemuning sengaja hidup sederhana, karena punya rencana untuk melakukan program bayi tabung demi mendapatkan keturunan. Menurut temannya, uang yang dibutuhkan lebih dari satu miliar untuk segala keperluan selama mengikuti programnya.
"Aku tidak tahu sisa saldo di bank sekarang tinggal berapa lagi," gumam Kemuning dengan perasaan hancur ketika melihat tabungan itu sudah lama tidak diisi.
"Akan aku pastikan mereka membayar kembali uang yang sudah diambil itu." Seketika rasa amarah menyusup dalam hati Kemuning.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, Aditya pulang malam hari. Dia juga selalu langsung pergi mandi tanpa makan malam.
Kali ini Kemuning tidak menyuruh atau mengingatkan suaminya untuk makan. Dia masa bodoh, karena yakin pria itu sudah makan di luar bersama selingkuhannya.
Setelah membereskan dapur, Kemuning langsung masuk kamar. Tubuhnya merasa lelah, tetapi pikirannya justru terasa semakin berat. Wanita itu berbaring di sisi tempat tidur, menarik selimut hingga ke dada, lalu memejamkan mata. Dia hanya pura-pura tidur karena merasa curiga Aditya akan melakukan sesuatu. Napasnya diatur perlahan, naik turun dengan ritme yang sengaja dibuat tenang. Dari luar, tampak seperti benar-benar tertidur, namun sebenarnya kesadaran dia tetap terjaga.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka sedikit, diikuti langkah kaki Aditya yang masuk dengan hati-hati. Pria itu memerhatikan Kemuning. Dia memastikan istrinya sudah tidur. Lalu, dia pun beranjak ke luar kamar.
Begitu pintu di tutup, Kemuning membuka matanya. Dia pun bangun. Lalu, mengendap-ngendap memeriksa keadaan di luar. Ruang tamu dalam keadaan sunyi.
"Dia pergi ke mana?" batin Kemuning mencari keberadaan Aditya. Dia melangkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Ada apa? Kenapa kamu bangunkan ibu?" Bu Ratih terlihat kesal karena baru saja tidur, sudah dibangunkan kembali.
Langkah Kemuning terhenti ketika melewati kamar ibu mertuanya. Dia pun mendekat. Pintu kamar itu terbuka sedikit sehingga suara dari dalam jelas terdengar.
"Ada yang mau aku bicarakan, Bu. Ini penting!" balas Aditya.
Mendengar itu, Kemuning segera menyalakan ponselnya. Diam-diam dia merekam kejadian di dalam kamar itu lewat cela pintu.
"Apa itu?" tanya Bu Ratih penasaran.
"Aku mau menceraikan Kemuning," jawab Aditya.
Kemuning yang berada di balik dinding dekat pintu seketika terbelalak. Napasnya tercekat dan tubuhnya kaku di tempat, seperti kehilangan kendali. Bahkan untuk bernapas pun terasa sulit. Padahal dia sudah menduga hal itu sebelumnya. Namun, tetap saja mendengarnya langsung dari mulut Aditya sendiri terasa jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah dia bayangkan.
"Apa?!" pekik Bu Ratih.
"Stttt ...! Jangan keras-keras, Bu! Nanti Kemuning bangun." Aditya meletakan jari telunjuk di bibirnya.
Bu Ratna langsung menutup mulutnya sambil mengangguk. Dia berharap sang menantu masih tertidur.
"Ibu setuju. Dia itu mandul, enggak bisa memberi kamu keturunan. Jadi, lebih baik kamu ceraikan," kata Bu Ratih senang.
Aditya tersenyum lebar. Dia yakin ibunya akan mendukung apapun yang dilakukan olehnya.
"Terus kapan kamu akan menceraikan Kemuning?" tanya Bu Ratih, "Ibu rasa lebih cepat itu lebih baik."
"Sabar dulu, Bu ...," jawab Aditya. "Aku sedang merencanakan sesuatu."
"Apa itu?" tanya wanita paruh baya itu penasaran. Dia pun mendekatkan kepalanya ke arah Aditya.
"Aku mau balikkan nama sertifikat tanah peternakan menjadi milikku. Lalu, memindahkan uang tabungan di bank ke rekening baru," jawab Aditya pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Kemuning.
Rahang Kemuning mengeras, matanya memerah, jelas sekali sedang menahan rasa marah. Jika saja dia tidak mengumpulkan bukti, mungkin dia sudah masuk ke dalam dan memukul suaminya biar sadar dan tahu diri.
"Wah, pinter juga kamu!" puji Bu Ratih menepuk-nepuk pundak Aditya. Betapa bahagianya dia. "Dengan begitu semuanya akan menjadi milik kamu."
"Benar, Bu!" Aditya tertawa kecil.
"Selama ini kamu sendiri yang capek mengurus peternakan, jadi pantas itu menjadi milikmu."
Kemuning mengepalkan sebelah tangannya menahan amarah. Karena perjanjian awal, memang peternakan itu akan diurus oleh Aditya dan Kemuning mengurus rumah dan ibu mertuanya. Bahkan, wanita itu dilarang ikut jika suaminya ke luar kota mencari anak-anak ayam untuk dikembangbiakkan karena permintaan pasar semakin banyak.
"Ada lagi yang mau aku bicarakan sama Ibu," ucap Aditya dengan ekspresi serius.
"Ada apa lagi? Cepat cerita sama Ibu!"
"Aku mau menikahi ... Lavanya."
"Apa?!" Suara Bu Ratih lebih tinggi dari tadi.
Tubuh Kemuning gemetar saking marahnya. Sampai ponsel yang ada di tangan kanannya diremat kuat.
Merasa sudah cukup mengumpulkan bukti kejahatan Aditya, Kemuning memutuskan mengakhiri pengintaian itu. Dia pun segera kembali masuk ke kamar.
"Sekarang kamu bisa bersenang-senang, Mas. Tapi, tidak akan lama lagi, kamu dan selingkuhan mu itu akan mendapatkan balasannya.
Sementara itu, Aditya masih berbicara dengan Bu Ratih di kamar. Mereka tidak sadar pembicaraan tadi direkam oleh Kemuning.
"Orang tua Lavanya sudah memberikan restu, Bu. Mereka ingin aku segera menikahi Lavanya," ucap Aditya tersenyum lebar.
"Lavanya ... wanita subur, kan?" tanya Bu Ratih dengan mata memicing.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus