Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden, memaksa Queen untuk membuka matanya perlahan.
Rasa pegal yang asing di sekujur tubuhnya langsung menyentakkan kesadarannya. Ia menoleh ke samping, namun hanya menemukan bantal yang masih menyisakan lekukan dan aroma maskulin sandalwood yang pekat.
Nial sudah tidak ada di sana.
Queen bangkit perlahan, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Pikirannya seketika berputar mundur ke kejadian semalam.
Bayangan saat ia menjinjit untuk mencium Nial dengan nekat, hingga memori tentang gairah panas yang meledak di atas ranjang ini, menghujam benaknya tanpa ampun.
"Ya Tuhan ... apa yang sudah kulakukan?" gumam Queen pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, merutuki kenekatannya sendiri yang kini terasa sangat memalukan.
Matanya kemudian menangkap siluet tegap di balik pintu kaca balkon yang tertutup. Nial berdiri di sana, membelakangi kamar, tampak sedang berbicara serius melalui telepon genggamnya.
Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam, memamerkan punggung atletis yang semalam menjadi tempat kuku Queen berlabuh.
Panik melanda. Sebelum Nial berbalik, Queen segera menyambar jubah mandi sutra di pinggir ranjang dan berlari kecil—sambil sedikit meringis menahan nyeri di area bawahnya—masuk ke dalam kamar mandi.
Klik.
Ia mengunci pintu, menyandarkan punggungnya di sana sambil terengah. Namun, baru saja ia hendak menghidupkan keran air, sebuah ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Queen?" Suara bariton Nial terdengar tenang, namun cukup untuk membuat jantung Queen nyaris melompat keluar.
"I-iya! Sebentar!" seru Queen gugup.
"Keluar sebentar. Ada yang harus kuberikan," titah Nial.
Dengan sisa-sisa keberanian, Queen membuka pintu sedikit. Nial berdiri di sana, wajahnya sedingin es seperti biasa, namun matanya menatap Queen dengan intensitas yang berbeda. Ia menyerahkan sebuah kantong putih kecil ke tangan Queen.
"Pakai ini di ... area yang terasa nyeri," ucap Nial datar. "Semalam adalah yang pertama bagimu. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman sepanjang hari karena lecet."
Queen membeku. Malu. Rasanya ia ingin menghilang saat itu juga. "T-terima kasih,"
Beberapa saat kemudian, setelah mandi dan berpakaian dengan kaku, Queen melangkah keluar dan menemukan Nial sudah duduk di sofa kamar.
Queen pun ikut bergabung. Ia duduk dengan posisi yang agak kaku, tangannya saling bertaut di atas pangkuan.
Sementara Nial, tenang seperti biasa.
Di depannya, sebuah koper hitam kini terbuka.
Queen sempat mengira itu hanya koper biasa.
Sampai ia melihat isinya.
Uang.
Bukan sekadar banyak, tapi luar biasa banyak. Tersusun rapi dalam ikatan-ikatan tebal yang bahkan membuat napasnya tercekat.
“Ini…” suara Queen nyaris hilang.
“Ambil,” potong Nial tanpa basa-basi. “Kau bisa gunakan uang ini untuk mengganti barang yang kau ‘pecahkan’ itu.”
Queen terpaku menatap tumpukan uang itu, lalu beralih menatap Nial. Rasa bersalah karena kebohongannya semalam menghantamnya.
"Tidak, Nial. Aku tidak bisa menerima uang ini."
Alis Nial terangkat tinggi. "Kenapa? Bukankah kau butuh ini?"
"Aku tidak ingin berhutang padamu dengan cara seperti ini," Queen menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Sebagai gantinya ... biarkan aku bekerja di sini. Aku akan melakukan apa saja di rumahmu. Aku akan membayar hutangku dengan tenagaku sendiri, bukan dengan pemberian cuma-cuma."
Nial meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia menyandarkan punggung, menatap Queen dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara geli dan rasa penasaran yang dalam.
"Bekerja di sini?" Nial mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan yang seksi. Ia bangkit, melangkah mendekat hingga ia kembali menjulang di depan Queen.
"Kau sadar apa yang kau tawarkan, Queen? Rumah ini tidak butuh asisten rumah tangga tambahan. Tapi..." Nial mengulurkan tangan, jemarinya mengusap dagu Queen, memaksa wanita itu menatap matanya. "Jika kau memang ingin bekerja untuk membayar hutangmu, maka kau harus siap dengan jam kerja yang tidak menentu. Dan tanggung jawab utamamu bukan mengurus rumah ini, tapi mengurus ... kebutuhanku. Apa kau sanggup?"
•••
Suasana kamar masih dipenuhi ketegangan halus yang belum benar-benar hilang saat—ketukan pintu terdengar.
Tok.
Tok.
“Masuk,” ucap Nial tanpa menoleh.
Pintu terbuka.
Rayden masuk dengan langkah tenang seperti biasa, namun, ia terhenti sejenak saat matanya menangkap sosok Queen yang duduk di sudut sofa.
Rayden berdeham, sebuah senyum penuh arti tersungging di bibirnya. Sekarang ia paham sepenuhnya kenapa bosnya mendadak hilang kontak dan tidak bisa dihubungi sepanjang malam.
"Selamat pagi, Nona Queen. Senang melihat Anda disini." sapa Rayden dengan nada sopan namun mengandung sedikit godaan terselubung.
"P–pagi." Wajah Queen memerah.
Rayden segera meletakkan semua papperbag yang dibawanya ke atas meja. "Semua pesanan Anda, Tuan. Dari pakaian dalam hingga koleksi couture terbaru."
Nial hanya mengangguk singkat, memberikan isyarat agar Rayden segera keluar.
Setelah pintu tertutup, Nial mengambil papperbag tersebut dan menyodorkannya pada Queen.
"Coba ini semua. Pakai mana yang menurutmu cocok ditubuhmu." perintah Nial mutlak.
Queen tak membantah, ia membawa tas-tas itu ke dalam kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Namun, saat ia membuka salah satu kotak beludru yang berisi pakaian dalam berbahan renda premium, jantungnya nyaris berhenti. Ia membolak-balik label ukuran di sana.
"Bagaimana mungkin..." bisik Queen dengan wajah memerah sempurna.
Ukurannya sangat pas. Bahkan detail ukuran lingkar dadanya pun tidak meleset sedikit pun.
Bayangan tangan Nial yang menjelajahi tubuhnya semalam kembali terlintas, membuat Queen ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam wastafel.
Bisa-bisanya pria itu mengukur tubuhnya dengan presisi hanya lewat sentuhan semalam!
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Queen melangkah keluar mengenakan setelan blazer berwarna sand-beige yang dipadukan dengan celana palazo senada.
Nial, yang sedang berdiri di dekat jendela, berbalik. Matanya menyipit, memindai penampilan Queen dari ujung kaki hingga kepala. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat namun penuh kepuasan—muncul di bibirnya.
Queen tidak hanya memilih pakaian yang rapi, tapi ia memilih kombinasi yang paling modis dan berkelas di antara tumpukan baju tadi. Selera wanita ini memang tidak pernah mengecewakannya sejak pertama kali mereka bertemu di kantornya tempo hari.
"Tidak buruk," gumam Nial tenang.
Queen merapikan ujung blazer-nya dengan canggung. "Nial, kurasa ini terlalu berlebihan. Jika aku bekerja di rumahmu sebagai asisten, baju ini terlalu mewah. Aku tidak akan bisa bergerak cepat dan bebas."
Nial berjalan mendekat, memasukkan tangan ke saku celananya dengan gaya santai yang mematikan. "Siapa bilang kau akan bekerja di rumah ini, Queen?"
Queen mengerutkan kening. "Lalu?"
"Kau akan ikut denganku ke kantor. Mulai hari ini, kau adalah sekretaris pribadiku di Percy Group,"
"Apa?!" Queen membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. "Sekretaris? Tapi aku tidak punya pengalaman! Dan aku ..."
"Kau bisa belajar." Potong Nial, cepat. Ia mendekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Queen. "Lagipula, aku lebih suka mengawasimu dalam jarak pandangku selama dua puluh empat jam. Jadi, ambil tasmu. Kita berangkat sekarang."
Queen membeku. Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa.
Satu jam kemudian...
Gedung pencakar langit Percy Group menjulang angkuh di hadapan mereka, memantulkan cahaya matahari pada dinding kacanya yang berkilau.
Queen mencengkeram tali tasnya dengan tangan yang gemetar hebat. Kakinya terasa berat untuk melangkah keluar dari mobil.
Maksud hatinya menawarkan diri bekerja di rumah Nial adalah untuk bersembunyi jauh dari jangkauan mata tajam orang tuanya dan pencarian Tuan Armand. Namun sekarang, ia justru diseret ke jantung bisnis terbesar di kota Los Angeles, tempat di mana semua mata tertuju.
(Ya Tuhan, jika ada satu orang saja dari keluarga Arresta yang lewat, tamat riwayatku) batin Queen panik.
Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga tidak ada satu pun benang merah yang menghubungkan Nial dengan keluarganya yang ambisius itu.
Di dalam lift privat yang bergerak naik, Queen mencoba memecah keheningan yang menyesakkan. Ia menoleh perlahan ke arah Nial yang sedang sibuk memeriksa tabletnya.
"Nial..." panggilnya dengan suara kecil yang hati-hati.
"Hmm?" Nial menyahut tanpa mengalihkan pandangan.
"Apakah kau ... maksudku, sebagai seorang pebisnis, kau pasti tahu banyak perusahaan. Apa kau tahu tentang ... Arresta Group?"
Nial menghentikan gerakan jemarinya di atas layar. Ia menoleh perlahan, menatap Queen dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Arresta? Tentu saja. Perusahaan properti yang sedang agresif ekspansi belakangan ini."
Jantung Queen berdegup kencang. "Lalu ... apakah kau pernah bekerja sama dengan mereka?"
Nial mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar meremehkan. "Tidak. Aku sudah beberapa kali menolak proposal mereka. Cara kerja mereka terlalu kotor untuk standarku. Mereka sering memaksakan kehendak dan tidak punya integritas dalam menjaga kualitas konstruksi."
Mendengar itu, Queen mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Bahunya yang tadinya tegang seketika merileks.
Setidaknya, Nial tidak menyukai keluarganya. Itu adalah kabar paling baik yang ia dengar sepanjang pagi ini. Namun, kelegaan itu hanya bertahan selama tiga detik.
Nial mematikan tabletnya, lalu memasukkan tangan ke saku celana sambil menatap angka lantai lift yang terus bergerak naik. "Tapi sepertinya hari ini aku harus sedikit menurunkan egoku."
Queen menegang kembali. "M-maksudmu?"
"Hari ini, tepat jam sepuluh pagi, delegasi dari Arresta Group dan calon investor mereka akan datang ke kantorku," ucap Nial santai, namun setiap katanya terdengar seperti petir di telinga Queen. "Kami dijadwalkan untuk menandatangani kontrak konsorsium pembangunan resort mewah di pesisir California. Nilainya mencapai ratusan juta dolar."
Queen langsung berbalik menghadap Nial dengan gerakan cepat, napasnya sedikit memburu. "Tadi kau bilang tidak menyukai cara kerja mereka. Kau bilang mereka kotor, tidak punya integritas. Lalu sekarang kau mau bekerja sama dengan mereka? Itu ... itu tidak masuk akal."
Nial menatap Queen tanpa tergesa, sorot matanya tetap tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diprotes. Ia tidak langsung menjawab. Hanya memperhatikan wajah gadis itu yang mulai memerah, panik.
"Kau masih melihat dunia dengan cara yang terlalu hitam dan putih."
Queen mengernyit, jelas tidak suka dengan perkataan itu. "Aku hanya melihatnya secara logis."
"Logis?" Nial mengulang pelan, lalu tersenyum tipis—bukan senyum hangat, melainkan sesuatu yang lebih dingin. "Dalam dunia bisnis, logika bukan tentang suka atau tidak suka."
Ia melangkah sedikit lebih dekat, membuat jarak di antara mereka menyempit. "Aku tidak menyukai mereka, benar. Cara mereka bekerja bertentangan dengan standarku. Tapi itu tidak berarti aku akan menutup semua peluang hanya karena idealisme."
Ia menatap lurus ke mata Queen, seolah memastikan setiap kata yang ia ucapkan benar-benar masuk. "Aku seorang pebisnis. Tugasku bukan memilih siapa yang aku sukai, tapi memilih apa yang paling menguntungkan."
Queen terdiam, namun napasnya masih terdengar berat.
Nial melanjutkan, nada suaranya tetap stabil, nyaris tanpa emosi. "Aku menolak kerja sama yang merugikan. Aku menghindari yang bisa merusak reputasiku. Tapi jika ada peluang besar yang bisa dikendalikan, yang bisa aku arahkan sesuai standar Percy Group..." Ia sedikit memiringkan kepala. "Kenapa harus aku buang?"
"Jadi kau pikir kau bisa ‘mengendalikan’ mereka?" Queen menyela, masih tidak sepenuhnya menerima.
"Jika aku tidak bisa, aku tidak akan duduk di posisi ini sekarang." Jawaban itu datang cepat, pasti dan tanpa ragu.
Lift berdenting pelan, menandakan mereka hampir sampai.
Nial menghela napas ringan, lalu memasukkan kembali satu tangannya ke saku celana. "Dunia ini tidak berjalan berdasarkan idealisme, Queen. Ini tentang negosiasi, kendali, dan siapa yang punya posisi lebih kuat. Kau perlu mengingat hal itu."
Pintu lift akhirnya terbuka perlahan. Namun sebelum melangkah keluar, Nial berhenti sejenak. Ia melirik Queen dari sudut matanya, sorotnya kali ini sedikit lebih tajam.
"Dan untuk proyek ini," lanjutnya pelan, "aku memastikan Percy Group yang memegang kendali."
Queen tidak langsung bergerak. Dadanya naik turun, pikirannya berisik.
"Tadi kau bilang ... jam sepuluh pagi?" Tanya Queen, sambil mengekori langkah Nial.
"Ya," Nial melirik jam tangannya yang mewah. "Sekitar lima belas menit lagi. Dan sebagai sekretaris baruku, tugas pertamamu adalah menyiapkan ruang rapat, menyambut mereka, dan mencatat setiap poin kesepakatan."
"Nial, aku..." Queen menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Aku merasa kurang enak badan. Bisakah aku menunggu di ruanganmu saja?"
Nial berhenti melangkah, lalu berbalik dan menatap Queen dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. Ia mendekat, merapikan kerah blazer Queen yang sedikit miring dengan gerakan yang sangat posesif.
"Tadi kau bilang akan melakukan apa saja untuk membayar hutangmu, kan? Jangan mengecewakanku di hari pertama, Little Queen," bisik Nial rendah tepat di telinganya. "Ayo, mereka mungkin sudah menunggu."
Queen merasa dunianya runtuh. Ia tidak hanya akan bertemu orang - orang dari keluarganya, tapi ia akan berdiri tepat di depan mereka sebagai sekretaris pria yang paling mereka incar untuk dijadikan rekan bisnis. Ini bukan lagi sekadar pelarian, ini adalah bunuh diri di depan publik.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰