Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 18
SEDIKIT TENTANG RENCANA
Asap rokok mengepul di udara, tatkala Valen menghela nafas panjang usai menghisap rokok. Matanya menyipit menatap lurus sembari tersenyum tipis hampir tak terlihat.
“Kau terlalu lambat, Silas.... Biarkan aku memancing amarahmu agar kau mau melawanku dengan cepat.” gumam Valen meludah ke kiri, lalu berbalik menatap anak buahnya termasuk, Ronan yang menatap tegas.
“Siapa yang paling berharga bagi Silas Al Wolfe menurutmu?” tanya Valen menatap tajam ke Ronan.
Pria bertato di pelipisnya itu menatap tegas dan yakin. “Dua anak kecil yang dia rawat, Tuan.”
“Why? Kenapa kau berpikir mereka berharga?”
Ronan terdiam seolah tengah mencari jawaban yang masuk akal. Karena di sana juga ada Myra yang merupakan istri Silas.
“Itu hanya alibi saya. Jika dia memilih tidak menghabisi mereka disaat pria itu membunuh ayah kedua anak itu, maka mungkin ada alasan lainnya.” jelas pria dengan tanktop hitam itu masih menatap tegas ke bosnya.
Mendengar itu, Valen menyeringai kecil menepuk pelan leher Ronan dengan penuh bangga seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya. Itu masuk akal.” kata Valen kembali berbalik membelakangi mereka sembari menghisap rokoknya. “Kalau begitu... Kita ambil salah satu diantara mereka. Aku ingin singa itu terpancing keluar dari kandangnya.”
Ronan menatap ke Valen dengan tatapan tak percaya. Namun dia kembali tegap. “Saya mengerti, Tuan.”
Anak buahnya melangkah pergi melaksanakan perintahnya. Sementara dia masih berdiri menatap penuh keseruan meski berada di ujung tebing dengan pemandangan yang indah.
...***...
Sementara di kediaman Bianco. Markie duduk diam dan merenung di dekat jendela sembari menatap tajam ke luar jendela, memperhatikan Amber berbincang dengan Oona di halaman mansion.
“Memikirkan hal yang benar tidak akan ada habisnya.”
Wanita itu menoleh ke arah Fernando yang berjalan tanpa menggunakan tongkat, seolah-olah dia sudah menghafal semua jalan di Mansion meski kedua matanya buta.
“Aku tidak memikirkan kebenaran apapun. Hanya ingin tahu bagaimana Silas akan membentuk Elion dan Elina untuk melawan kita.”
“Kau berpikir terlalu jauh, Markie.” Fernando duduk di sofa singel. Arah pandangnya mengarah ke Markie yang masih duduk di jendela kamar. “Rencana besar yang kalian bentuk sangat bagus.”
Wanita itu berkerut alis mendengar ucapan barusan.
“Aku tahu apa yang kalian rencanakan. Dan aku tahu alasanmu memilih menetap di Bianco daripada Wolfe...”
“... Bagaimana pun, Cassian masih cucu ku.”
Mata silver itu menatap ke Fernando dengan penuh amarah sekaligus kesedihan yang menumpuk.
Kedua tangan Markie mengepal kuat saat dia berdiri dan melangkah maju sembari meraih sebuah sisir dari meja secara perlahan. Sisir dengan ujung yang lancip warna hitam.
“Jika kau sudah tahu siapa bajingan nya, kenapa kau tidak memerintahkan anak buah untuk menghabisi nya, Tuan Fernando?”
Markie berdiri tak jauh dari pria tua yang masih duduk.
“Karena Silas menyembunyikan bajingan itu.”
Kedua tangan Markie terhenti saat hendak menusukkan sisir itu. Ia berkerut alis penuh tanya.
“Kenapa kau berhenti? Lanjutkan, tidak akan ada yang menghentikan mu untuk menghabisi ku sekarang.”
Wanita itu tertegun hingga meletakkan kembali sisir itu saat dia berpaling kesal ke arah lain. Lalu ia menoleh ke Fernando. “Siapa yang Silas sembunyikan? Kau ingin membohongi ku? Aku melihat para bajingan berkumpul di Bianco. Menantu mu, Amber dan kedua anaknya juga terlibat.”
Pria tua itu terdiam sesekali meneguk beer nya dengan tenang.
“Mereka hanya tamak kekuasaan. Kau tidak akan tahu kebenarannya jika amarah menguasai mu, Markie.”
Wanita itu tersenyum miris. Tangannya masih terkepal kuat dan bibirnya gemetar hingga dia melangkah keluar dari kamar itu. Sementara Fernando masih duduk diam menatap lurus tanpa bertindak apapun.
Langkah Markie begitu cepat melewati pintu luar menuju ke lorong kamar mansion, namun sebelum benar-benar ke sana. Langkahnya terhenti—
“Kau terlalu buru-buru sekali, Markie. Dan selalu seperti itu.” kata Amber yang baru saja masuk usai dari halaman.
Sementara Oona sudah pergi entah kemana?
Dengan berani Markie menghadapinya tanpa senyuman licik seperti Amber.
“Bukan urusan mu.”
Senyuman Amber hilang. Tatapannya menjadi lebih tajam lalu menyeringai licik. “Seseorang akan bersikap kurang ajar saat tidak mendapatkan apa yang dia mau.”
“Dan kau salah satunya.”
Tak lagi membalas. Markie langsung pergi, sedangkan Amber menatap tak percaya hingga mengumpat pelan. “Aku harus membujuk si tua buta itu agar menyingkirkan wanita sialan dari sini.”
.
.
.
Usai menata rambutnya dengan rapi dan mengenakan dress selutut warna putih simpel. Myra hanya menatap sinis dan malas, karena sejak mandi hingga selesai— Silas tetap di sana, memantaunya.
“Aku sudah selesai.” ucap Myra sinis sembari berjalan melewatinya.
Namun pria itu langsung menarik tangan kiri Myra. “Jangan melupakannya. Kau akan membutuhkan ini.” kata Silas sembari memasangkan cincin pernikahan mereka.
Myra hanya menatap diam, lalu beralih ke Silas yang juga menatapnya.
“Aku tidak membutuhkan cincin ini. Lupakan saja masa lalu, Mr. Don.” sindir wanita itu dengan suara penuh penekanan.
Tak membalasnya. Silas hanya menatap kepergian istrinya dari kamar itu. Dan kini, rasanya sangat melelahkan berurusan dengan seorang wanita daripada pekerjaan.
“Fuck.”
Di luar kamar. Myra masih berjalan santai menyusuri setiap ruang dan lorong mansion. Langkahnya membawanya sampai di tengah ruangan yang nampak ada beberapa pelayan berdiri bak penjaga.
“Duduk saja jika tidak ada pekerjaan. Berdiri akan membuat kaki kalian sakit.” kata Myra sengaja memancing amarah Silas.
Sementara para pelayan tadi saling memandang dengan wajah takut sembari menggeleng. ”Kami sudah terbiasa, Nyonya.”
“Dia bahkan bisa menghabisi kalian kapan saja— ”
“Itu sudah menjadi pekerjaan mereka, Nyonya Myra.”
Myra menoleh ketika mendengar suara wanita tua. Dan benar saja—Penelope berdiri di sampingnya dengan senyuman ramah namun penuh ketegasan.
Wanita itu menatap Penelope, lalu kembali ke arah pelayan di sana.
“Tidak ada jam istirahat?” tanya Myra.
“Tentu saja ada. Anda jangan khawatir.”
Myra berbalik arah menghadap ke Penelope sembari menelitinya. “Kau punya keluarga?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu kau pasti juga sama seperti pekerja di sini yang dihabisi oleh Silas Al Wolfe dan mengiris hati keluarganya dengan kesedihan seperti itu.”
Penelope hanya tersenyum kecil. ”Iya, saya tahu.”
Kedua alis Myra berkerut.
“Suamiku juga kehilangan nyawanya di sini. Di tangan nyonya Lynda Wolfe. Dan saya juga merasakan kesedihan itu.”
Mendengar itu Myra terkejut hingga tatapan kesalnya tadi menjadi lembut. ”Aku turut berdukacita.”
Penelope mengangguk kecil, namun dia masih terlihat tegar.
“Kau bisa pergi. Kalian bisa pergi dari sini, mencari pekerjaan lain.” kata Myra.
“Sangat mudah mengatakannya. Tapi jika kami keluar dari sini sebelum konflik selesai. Maka nyawa kami juga akan dipertaruhkan.” ujar Penelope.
“Oleh siapa? Silas?” Myra mengernyit penuh tanya.
Kepala pelayan itu menggeleng. “Bukan. Tapi para musuh.”
Kini Myra terdiam dan mulai penasaran dengan konflik yang dimaksud. Ia menatap ke Penelope yang masih berdiri menatapnya seolah menunggu.
Hendak membuka suara.
“Saya tidak tahu soal konflik itu, Nyonya. Maaf.”
Myra kembali mengatupkan bibirnya.
Para pelayan menunduk hormat. Melihat itu, Myra langsung berbalik dan melihat Silas berjalan ke arahnya dengan mengenakan mantel panjang warna hitam senada seperti kemeja hitamnya.
“Kau mau pergi?” tanya Myra sedikit iseng saja.
“Yeah. Why?”
“Kemana?”
“Menemui seorang wanita.”
Jawaban santai itu membuat Myra berkerut alis hingga menoleh ke Penelope yang tersenyum kecil sembari mengangkat kedua bahunya.