IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Maria datang dan langsung memeluk Aksa dengan posesif, bahkan dia berusaha untuk mencium bibir Aksa. Beberapa kali dia menjinjitkan kakinya, lalu dia menarik tengkuk leher Aksa.
Namun Aksa sebisa mungkin menahan tubuh Maria, di sana masih ada pak Herman yang melihatnya. Mau disimpan di mana muka aksa, pikirnya.
Lagi pula, kalaupun di sana tidak ada pak Herman, Aksa tidak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena rasa yang ada di dalam hatinya adalah rasa yang tulus, bukan hanya untuk sekedar mengambil keuntungan saja.
"Pak, bapak sama ibu kemana?" tanya Aksa yang mempertanyakan kedua orang tua Maria.
Maria dirasa sangat keterlaluan, wanita itu terus saja berusaha untuk mencium bibir Aksa. Namun, dengan cepat Aksa mendorong wajah cantik kekasihnya.
"Keluar kota Den," jawab Pak Herman.
Aksa bisa memaklumi kenapa ini bisa terjadi, karena ternyata kekasihnya itu tidak berada di dalam pengawasan kedua orang tuanya.
"Pantas saja dia berani bertingkah," ucap Aksa lirih tapi masih bisa di dengar oleh pak Herman.
Pak Herman merasa kasihan kepada Aksa, karena Maria terlihat seperti wanita yang tidak memiliki harga diri.
"Kasihan sekali Den Aksa memiliki kekasih seperti Non Maria," ujar Pak Herman yang hanya mampu dikatakan di dalam hati saja.
"Kamu tuh, Yang. Kenapa begini sih?"
Mulut Aksa boleh saja berkata seperti itu, tetapi pria itu tetap saja terlihat begitu perhatian kepada Maria.
Aksa langsung menggendong Maria, dia langsung membawanya ke kamar Maria. Saat tiba di kamar Maria, Aksa langsung merebahkan tubuh Maria di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh kekasihnya.
"Tidurlah, Sayang," ujar Aksa.
Maria bukannya tidur, tapi malah menarik tubuh Aksa sampai terguling ke atas kasur. Dengan cepat Maria langsung naik ke atas tubuh Aksa, dia menggoyangkan badannya di atas tubuh Aksa.
Walaupun Maria masih dalam keadaan berbusana, tapi tetap saja hal yang Maria lakukan telah membangunkan kelelakiannya. Karena Aksa adalah pria normal.
"Jangan seperti ini, Sayang. Sadarlah,'' ujar Aksa.
Aksa dengan sekuat tenaga mengangkat tubuh Maria, dia mengambil syal yang ada di atas nakas . Aksa lalu mengikat tangan dan kaki Maria dengan syal tersebut, hingga akhirnya kini Maria sedikit sulit untuk bergerak.
Maria berusaha untuk memberontak, tetapi Aksa tidak melepaskan wanita itu. Kalau Aksa melepaskan Maria, maka hal itu akan berbahaya.
"Maaf, Sayang. Aku melakukan ini karena aku sayang sama kamu. Aku tidak ingin merampas kesucian kamu, apalagi di saat kamu sedang dalam keadaan seperti ini."
Aksa mengusap rambut Maria dengan penuh kasih, walaupun Maria bersikap seperti itu, tetapi tetap saja Aksa mengasihi wanita itu.
"Lepasin, Sayang. Lepasin aku. Aku mau, aku mau itu. Aku mau kamu, ayo sayang cepat!!"
Maria berteriak-teriak seperti orang gila, Aksa sampai merasa tidak mengenali wanita yang ada di dekatnya itu. Karena selama ini Maria tidak pernah bersikap seperti itu.
Aksa tak memedulikan Maria, melihat Maria yang bertingkah seperti itu membuat Aksa sedikit kesal. Dia juga merasa kewalahan.
"Sebenarnya setan apa yang merasuki kamu, Sayang?" tanya Aksa lirih.
"Yang, ayo. Aku mau, aku mau." Maria terus saja meracau tidak jelas
Walaupun tangan wanita itu sudah terikat, tetapi tetap saja Maria berusaha untuk memberontak. Dia menggoyangkan pinggulnya seperti kucing minta kawin.
"Ya ampun, Sayang. Apa yang kamu lakukan?"
Maria terus saja bertingkah aneh, Aksa benar-benar kesal sekali. Jika saja tak cinta, Aksa pasti sudah menampar wajah wanita itu.
"Yang, ayo." Maria memonyongkan bibirnya.
Aksa yang sudah tidak tahan Akhirnya berlari keluar dan menyuruh pak Herman untuk membeli obat anti mabuk, pak Herman dengan cepat berlari karena memang letak apotek tak jauh dari rumah Maria .
"Semoga pak Herman tak lama," ujar Aksa.
Setelah mengatakan hal itu, Aksa segera ke dapur meminta seorang asisten rumah tangga untuk membuatkan teh jahe untuk Maria, setelah jadi Aksa langsung kembali ke kamar Maria.
Saat Aksa kembali, Maria sedang berteriak dan memaki. Entah siapa yang dia maki, Aksa hanya bisa mendengarkannya saja.
"Dasar lelaki brengsek! Setelah elu ngambil kesucian gue, setelah elu puas nidurin gue dan elu malah pergi ninggalin gue!"
Secangkir teh yang Aksa bawa langsung jatuh, karena Aksa sangat kaget dengan apa yang dia dengar. Dengan perlahan Aksa menghampiri Maria, dia ingin mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Maria.
Dia takut kalau tadi Aksa sudah salah dengar, dia harus memastikan apakah apa yang tadi dia dengar benar atau tidak.
Aksa memberanikan diri untuk duduk di samping Maria, Maria menatapnya dengan mata yang memicing. Aksa hanya dia sambil memperhatikan apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
"Elu mau ngapain dateng lagi? Mau nyari kepuasan lagi? Mau nidurin gue lagi? Atau elu mau ngancurin hidup gue, hah? Jawab sialan!" Sungut Maria penuh emosi.
Mendengar akan hal itu, Aksa semakin yakin jika saat ini Maria sedang membicarakan pria yang sudah meninggalkan dirinya. Pria yang menjadi kekasih pertama, cinta pertama yang sulit wanita itu lupakan walaupun sudah menyakiti Maria.
"Setiap hari gue nungguin elu, gue hampir gila karena di rahim gue sudah tumbuh benih yang elu tanam. Tapi dengan teganya elu malah nggak pernah nemuin gue lagi, elu tahu? Anak Elo udah gue gugurin," ucap Maria seraya tertawa penuh emosi.
"A--apa? Kamu, kamu mengugurkan kandungan kamu? Kamu pernah hamil? Kamu---"
"Diem brengsek! Jangan banyak omong!" teriak Maria lagi.
Tubuh Aksa langsung jatuh ke lantai, rasanya dia begitu lemas mendengar ocehan Maria. Wanita yang selama ini dia sayang, dia cinta dan dia perjuangkan ternyata bukan hanya sudah tak perawan, tapi dia juga sudah membunuh calon anaknya dengan pria yang sudah menidurinya.
Rasa kecewa melingkupi semua ruang di hatinya, Aksa begitu sedih. Dia bahkan tak malu untuk menangis, menangisi hidupnya yang seakan sangat membingungkan baginya.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" tanya Aksa sambil memandang wajah Maria dengan sedih.
Kini Aksa begitu bingung, apa dia harus memutuskankan Maria? Ataukah dia harus menerima wanita yang telah menyerahkan kesuciannya dan bahkan sudah tega membunuh calon anaknya?
Aksa menyugar rambutnya dengan kasar, dia sungguh sangat kecewa setelah mengetahui semuanya. Walaupun dia sempat kecewa saat melihat Maria yang mabuk, tetapi dia juga merasa beruntung karena dari mulut wanita itu malah terungkap kebenarannya seperti apa.
"Akan seperti apa hubunganku dengan Maria ke depannya?" tanya Aksa bingung.
Tak lama pak Herman pun datang dengan obat dan segelas air putih di tangannya. Saat masuk pak Herman terlihat kaget karena melihat keadaan Aksa yang begitu kacau.
Apalagi saat melihat Maria dalam keadaan terikat, pak Herman sempat menyangka jika wanita itu pasti berulah. Makanya Aksa mengikat wanita itu agar tidak meresahkan.
"Eh buset! Neng Maria bikin masalah ap tuh?" tanya Pak Herman yang hanya mampu dikatakan di dalam hati saja.
Menyadari kedatangan pak Herman, Aksa langsung bangun. Dia mempersilahkan pak Herman untuk mendekat ke arah Maria, dia juga meminta bantuan pak Herman untuk memberikan obat anti mabuk pada Maria.
"Tolong ya, Pak. Saya tidak sanggup," ujar Aksa.
"Ya, akan saya lakukan Den." Pak Herman mengangguk patuh.
Setelah Maria menelan obatnya, dia langsung tertidur dengan pulas. Aksa segera melepaskan ikatannya, dia merapikan letak tidur Maria dan menyelimutinya.
"Pak, saya mau pulang. Tolong jaga Maria, tolong di cek terus kondisinya."
Aksa nampak berpesan kepada pak Herman, pak Herman pun mengangguk patuh. Karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan.
Aksa tersenyum, sejenak dia memandang wajah wanita yang masih menjadi kekasihnya itu. Dia kecup keningnya sebentar, lalu dia pulang dengan motor sport kesayangannya.
"Ya Tuhan! Aku harus apa?" tanya Aksa dengan raut wajah bingung. Namun, walaupun dalam keadaan bingung, Aksa tetap fokus dalam melajukan motornya.
Sampai di rumah Aksa langsung masuk ke kamarnya, dia langsung merebahkan tubuh lelahnya, dia tak menyangka jika malam ini dia akan mendapati kenyataan pahit dalam hidupnya.
"Ya Tuhan! Malam ini engkau telah memberiku sebuah kejutan besar. Ini sangat menyakitkan, kenapa harus seperti ini?" tanya Aksa dengan gundah.
Saat Aksa sedang asik dengan lamunannya, saat dia sedang asik merenungi nasibnya, tiba tiba dari luar ada yang mengetuk pintu. padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Siapa yang datang malam malam begini, pikir Aksa. Aksa dengan perlahan bangun, dengan langkah malas Aksa membuka pintu kamarnya.
"Bu," panggil Aksa saat melihat wajah ibunya.
Nur tersenyum mendengar sapaan dari putranya, dia memperhatikan sejenak raut wajah putranya. Tentunya dia langsung bisa menebak kalau putranya itu saat ini sedang kalut dan juga gelisah.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nur.
Walaupun dia sudah tahu jawabannya, tetapi tetap saja dia bertanya. Tanpa berkata, Aksa langsung memeluk ibunya dengan erat. Nur mengelus lembut punggung putranya, dia tahu kalau saat ini perasaan anaknya tidak sedang baik baik saja.
"Ibu nggak di suruh masuk nih?" tanya Nur.
Aksa melepaskan pelukannya, mata pria itu sudah terlihat berkaca-kaca. Terlihat begitu dalam kesedihan yang dirasakan oleh pria itu.
"Maaf, Bu," ucap Aksa.
Aksa menuntun tangan ibunya agar masuk ke dalam kamarnya, kini mereka pun telah duduk berdua di tepian ranjang.
Aksa memeluk Nur dan menenggelamkan kepalanya di pundak ibunya, Nur hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari putranya. Aksa sudah tak tahan rasa nya untuk menahan kesedihannya, dia menangis dalam pelukan Ibunya.
"Jangan menangis, kalau ada apa-apa cerita sama ibu," ucap Nur.
"Aku sedang bingung, Bu. Aku nggak tahu harus gimana lagi sekarang," ujar Aksa dengan suaranya yang terdengar putus asa.
"Apa kamu sudah mengetahui semuanya tentang Maria?" tanya Nur. Karena hanya hal itu yang sepertinya akan membuat putranya terluka seperti itu
Aksa langsung menganggukkan kepalanya, karena memang dia sudah mengetahui semuanya tentang Maria.
"Itu artinya Tuhan masih sayang sama kamu, Tuhan memberikan pilihan di saat kamu belum menikah dengan Maria. Bukankah itu sangat bagus? Coba kalau kamu tahunya saat sudah menikah, pasti kamu akan sangat sulit untuk melepaskan Maria." Nur nampak menjelaskan.
Aksa menganggukkan kepalanya, dia kembali memeluk Ibunya. Untuk saat ini yang dia butuhkan hanyalah pelukan Ibunya, rasanya begitu menenangkan pikirannya.
"Hem! Mungkin ini adalah jalan terbaik dari Tuhan," ujar Aksa yang mulai mampu mencerna apa yang sudah dia alami malam ini.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he