NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sekitar jam dua pagi, hujan deras di luar mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari sisa kaso ke atas puing-batu bata. Di dalam tenda oranye, emaknya Joni sudah meringkuk berselimutkan sarung motif kotak-kotak, tertidur lelap dengan dengkuran yang luar biasa mantap.

KROOOOKKK... KHUUUUU... KROOOOKKK...

Suara dengkurannya begitu bergemuruh hingga terpal tenda ikut bergetar, bahkan sisa reruntuhan semen di pojok kamar sampai menjatuhkan debu-debu kecil.

Joni yang masih duduk bersila sambil merapikan kartu remi ke dalam kotaknya menarik napas panjang. Dia sudah terbiasa dengan "efek pasif" dengkuran emaknya yang punya damage getaran spasial itu.

Saat Joni hendak merebahkan badannya di atas tikar, sebuah tangan kekar menepuk pundaknya pelan. Joni menoleh dan melihat Paman Remon—yang wajahnya sudah bersih dari jepitan jemuran—memberikan isyarat dengan dagunya ke arah luar tenda.

"Jon, ikut gue bentar ke teras," bisik Paman Remon, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan serius, jauh dari kesan paman sableng yang tadi kembung karena nenggak Coca-Cola.

Joni mengangguk pelan. Keduanya melangkah keluar dari tenda, melewati ruang tamu yang melompong, lalu duduk di kursi bambu yang ada di teras depan rumah. Angin malam yang dingin berembus, membawa aroma tanah basah pasca-hujan.

Joni menatap pamannya dari samping. Sejak kecil, bagi Joni, Paman Remon adalah sosok pengganti ayah. Joni lahir tanpa pernah merasakan pelukan seorang bapak. Di rumah ini, hanya ada foto usang seorang pria gagah berseragam militer Sacred Gate dengan emblem emas di dadanya yang dipajang di dinding ruang tamu (yang untungnya tidak ikut hancur malam ini).

Bapaknya Joni, almarhum Panglima Jaka, adalah salah satu perwira tinggi terkuat yang pernah dimiliki Akademi Sacred Gate puluhan tahun lalu.

"Gimana lengan lo? Masih pegal habis pake Tokkan Punch?" tanya Paman Remon membuka obrolan, matanya menatap langit malam yang mulai cerah.

"Dikit, Om. Tapi udah mendingan berkat ramuan ama buff healing dari temen separtai tadi siang," jawab Joni jujur.

Paman Remon tersenyum tipis, sorot matanya tampak menerawang jauh ke masa lalu. "Melihat lo melesat tadi sore... gue mendadak ingat bapak lo, Jon. Waktu bencana Kebocoran Dimensi Besar puluhan tahun lalu, bapak lo stands di garis paling depan. Waktu itu gue masih jadi asistennya di faksi pertahanan luar."

Joni terdiam, mendengarkan dengan khidmat. Kisah tentang malam jahanam itu selalu berhasil membuat bulu kuduknya meremang.

"Malam itu, gerbang utama robek total karena ulah Iblis Nomor 1 dari dimensi dalam. Monster-monster level bencana tumpah ruah ke bumi," kenang Paman Remon, tangannya mengepal erat di atas lutut. "Gue ama bapak lo mati-matian nahan gelombang itu biar gerbangnya bisa dirajut kembali sama divisi penyelaras. Tapi si Raja Iblis itu terlalu kuat. Bapak lo terpaksa ngaktifin skill terlarang Brawler Power buat mukul mundur iblis itu balik ke dimensinya."

Remon menghela napas berat. "Iblisnya emang berhasil dipukul mundur, dan gerbangnya rapat lagi. Tapi... bapak lo luka terlalu parah. Energinya terkuras habis sampai ke akar-akarnya. Dia gugur dalam tugas sebagai pahlawan, Jon."

Joni menunduk, menatap telapak tangannya yang terbungkus Iron Gauntlet. Dia selalu tahu bapaknya adalah orang hebat, tapi mendengar detailnya langsung dari orang yang ada di sana selalu memberikan rasa sesak sekaligus bangga yang luar biasa di dadanya.

"Setelah bapak lo gak ada, gue yang naik pangkat jadi Pengawas Dimensi bareng panglima tinggi lainnya," lanjut Paman Remon, memutar-mutar segelas air putih yang dipegangnya. "Tiap hari kerjaan kami ya gitu... keliling nyari titik-titik dimensi yang tipis buat ditambal biar gak bocor lagi."

Paman Remon mendadak menghentikan kalimatnya, lalu menoleh lurus ke arah mata Joni. Ekspresi wajahnya berubah sangat tajam.

"Tapi belakangan ini, ada yang aneh, Jon. Kebocoran dimensi yang terjadi di beberapa titik luar kampus belakangan ini... kami curiga itu bukan karena ulah monster dari dalam."

Joni mengernyitkan alisnya. "Maksud Om? Ada yang sengaja ngebuka dari luar?"

"Dugaan kami begitu," bisik Remon lirih. "Ada faksi-faksi tertentu—kami belum tahu dari jurusan mana atau organisasi luar mana—yang secara sengaja menyobek ruang dimensi di beberapa titik rawan. Mereka kayak sengaja pengen memicu kekacauan, atau mungkin... mereka lagi nyari sesuatu yang tertinggal dari pertempuran besar bapak lo dulu."

Suasana teras mendadak terasa mencekam. Joni bisa merasakan ada badai besar yang sedang mengintai di balik kedamaian Kampus Sacred Gate.

Melihat keponakannya mulai tegang, Paman Remon tiba-tiba tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Joni dengan kasar. "Hahaha! Udah, gak usah dipikirin amat mukanya sampai kusut begitu! Itu urusan orang-orang tua kayak gue ama instruktur lo si Johan."

Paman Remon berdiri, meregangkan badannya yang kekar. "Lo gak usah khawatir soal politik dimensi atau faksi-faksi busuk itu sekarang. Tugas lo cuma satu: Fokus naikin level lo secepatnya. Kuasai skill Brawler Defense lo sampai ke tingkat maksimal. Karena suatu saat nanti... bumi ini bakal butuh tameng sekuat bapak lo buat nahan badai yang sebenernya."

Joni menatap pamannya, lalu perlahan senyum ketetapan hati kembali muncul di wajahnya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Siap, Om. Joni kagak bakal bikin malu nama Bapak."

"Bagus. Ya udah, buruan masuk tenda sana, tidur. Dengerin tuh, emak lo denger-denger udah masuk ke mode Ultimate Snore, kalau lo gak cepet merem, kuping lo bisa budek besok pagi," kelakar Paman Remon sambil berjalan masuk duluan.

Joni terkekeh kecil, mengikuti langkah pamannya masuk ke dalam tenda oranye di tengah reruntuhan rumah mereka. Di tengah malam yang sunyi itu, tekad Joni makin bulat: Level 17 hanyalah awal. Dia harus jadi lebih kuat, bukan cuma buat duel lawan ninja senior, tapi demi menjaga warisan darah panglima yang mengalir di dalam tubuhnya.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!