Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembekuan Hak Suara
Khatyr melirik Aulia dengan senyum hangat yang sarat akan makna persetujuan tersembunyi, sebelum kembali menatap pamannya.
"Paman Haryo, tolong tahan kepanikan di lantai bawah dan pastikan tidak ada direktur yang merilis pernyataan apa pun ke media. Biarkan Aulia dan aku yang menyelesaikan perangkap regulasi ini untuk Aji Naim."
"Baik. Aku serahkan urusan ini sepenuhnya pada kalian berdua," ujar Pak Haryo mantap sebelum bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan dengan kepercayaan diri yang telah pulih sepenuhnya.
Tepat pukul sebelas siang, ketika Aulia sedang sibuk mencetak dokumen pelaporan resmi untuk dikirimkan ke kantor OJK, pintu lift eksekutif kembali berdenting.
Seorang pria asing berusia sekitar akhir lima puluh tahun melangkah keluar dari lift. Pria itu bertubuh jangkung, mengenakan setelan jas abu-abu khas desainer Italia yang sangat mewah, dengan rambut putih perak yang disisir rapi ke belakang.
Di belakangnya, berdiri empat orang pengacara lokal papan atas dengan tas jinjing kulit yang tebal.
Pria itu adalah Aji Naim. Sang musuh lama telah menginjakkan kakinya secara langsung di lantai 42 KALUMPERRI CORP.
Aji Naim melangkah masuk ke dalam area kubikel depan tanpa permisi, menatap Aulia Putri yang berdiri di balik meja kerjanya dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Jadi, ini adalah asisten baru yang sedang menjadi pembicaraan hangat di kalangan sosialita Jakarta?" sapa Aji Naim dengan aksen Inggris-Eropa yang sangat kaku dan dingin.
"Sangat muda. Terlalu muda untuk berada di posisi yang memegang begitu banyak rahasia."
Aulia tidak gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata abu-abu Aji Naim yang dingin dengan senyum profesional yang tak tergoyahkan.
"Selamat siang, Tuan Naim. Selamat datang di Kalumperri Corp. Jika Anda datang untuk melakukan kunjungan kehormatan, mohon maaf karena jadwal Pak Khatyr hari ini sudah sangat penuh."
Aji Naim tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat kering dan penuh kepalsuan.
"Kunjungan kehormatan? Tidak, Nona Manajer Risiko. Aku datang ke sini sebagai pemilik sah dari dua belas persen saham perusahaan ini. Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, aku memiliki hak untuk bertemu dengan CEO kalian kapan saja aku mau."
Sebelum Aulia sempat membalas, pintu ganda kayu jati di belakangnya terbuka lebar.
Khatyr Ali Fatih berdiri di ambang pintu. Aura kemalasannya telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh sosok pimpinan tertinggi konglomerasi yang sangat dominan, dingin, dan mengintimidasi. Ia menatap Aji Naim dari atas ke bawah dengan pandangan elang yang sangat tajam.
"Lantai empat puluh dua ini tidak menerima tamu yang masuk tanpa melompati protokol keamanan, Aji Naim," ujar Khatyr, nada suaranya terdengar begitu berat dan berwibawa, menggema di seluruh koridor lantai eksekutif.
Aji Naim membalikkan tubuhnya, menatap putra dari musuh bebuyutannya itu dengan seulas senyum sinis yang sarat akan kebencian masa lalu.
"Ah, Khatyr... putra kecil dari Arthur Fatih," gumam Aji Naim dengan nada mengejek, melangkah mendekat hingga jarak di antara kedua pria itu hanya tersisa dua meter.
"Kamu tumbuh menjadi pria yang sangat mirip dengan ayahmu. Tapi sayangnya, kamu mewarisi perusahaan yang sudah terlalu rapuh. Dua belas persen saham yang kupegang adalah awal dari akhir kekuasaan keluarga Fatih di gedung ini."
Khatyr tidak terpancing emosi. Ia justru melangkah maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka, memancarkan tekanan mental yang membuat para pengacara di belakang Aji Naim secara tidak sadar mundur setengah langkah.
"Dua belas persen saham yang kamu beli dengan dana pinjaman dari Zurich,?" bisik Khatyr dengan senyum tipis yang penuh kelicikan jenius.
"Apakah kamu benar-benar berpikir aku tidak akan mendeteksi pergerakan perusahaan cangkangmu di Cayman Islands dalam waktu tiga puluh menit?"
Mendengar kata "Cayman Islands" dan "dana pinjaman Zurich", senyum sinis di wajah Aji Naim seketika membeku. Sepasang matanya melebar karena terkejut yang luar biasa.
"Kamu... bagaimana bisa kamu tahu—"
"Aku tahu segalanya tentang pergerakan finansialmu sejak kamu melangkah keluar dari bursa Swiss kemarin malam, Aji Naim," potong Khatyr tajam, matanya berkilat penuh kemenangan yang berbahaya.
"Dan saat ini, ketika kita sedang berbicara di sini, draf laporan mengenai indikasi manipulasi pasar semu dan struktur pencucian uang milik Valkyrie Capital... sudah berada di atas meja ketua komite kepatuhan OJK dan Bursa Efek Indonesia berkat analisis luar biasa dari sekretarisku, Aulia Putri."
Aulia melangkah maju ke samping Khatyr, mengangkat tabletnya yang menampilkan notifikasi resmi yang baru saja masuk.
"Surat perintah pembekuan sementara hak suara khusus untuk saham atas nama Valkyrie Capital dan lima perusahaan afiliasinya... baru saja diterbitkan secara resmi oleh bursa dua menit yang lalu, Tuan Naim. Dua belas persen saham Anda... resmi menjadi aset mati hingga investigasi selesai."
Aji Naim merasakan seluruh darah di wajahnya menyusut drastis. Tubuhnya gemetar menahan amarah yang luar biasa hebat saat menyadari bahwa rencana balas dendam yang ia susun dengan sangat matang selama sepuluh tahun... telah hancur berantakan hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam di tangan sang CEO pemalas dan sekretaris galaknya.
"Kalian..." geram Aji Naim dengan suara bergetar menahan murka, menunjuk Khatyr dan Aulia dengan jarinya yang gemetar.
"Pertempuran ini belum selesai, Khatyr! Aku akan menggunakan seluruh jaringan internasional Valkyrie untuk menghancurkan jalur pasokan digital Kalumperri di Asia Tenggara!"
"Silakan coba, Aji Naim," jawab Khatyr dingin, membalikkan tubuhnya dengan gaya kasual yang sangat menawan.
"Tapi sebelum kamu melakukannya, pastikan kamu memiliki cukup uang untuk membayar denda gagal bayar bunga pinjaman ke Bank Zurich minggu depan. Aulia, tolong panggil petugas keamanan untuk mengantarkan mantan investor kita ini keluar dari gedung."
"Baik, Pak Khatyr," jawab Aulia dengan senyum manis penuh kemenangan yang paling menawan.
Dengan kekalahan mutlak yang sangat memalukan, Aji Naim dan rombongan pengacaranya terpaksa berbalik dan melangkah masuk ke dalam lift dengan wajah merah padam, meninggalkan lantai eksekutif dengan kegagalan total.
Begitu pintu lift tertutup rapat, ketegangan yang mencekam di lantai 42 seketika mencair.
Khatyr langsung mengembuskan napas panjang, merosotkan bahunya, lalu berjalan menuju kubikel Aulia dengan gaya malasnya yang khas. Ia menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan berkas kosong di meja Aulia dengan keluhan manja yang sangat akrab di telinga.
"Auliaaaa..." rengek Khatyr pelan, menutupi wajah tampannya dengan kedua tangannya. "Berdiri tegak dan memasang wajah menyeramkan di depan Aji Naim tadi benar-benar menghabiskan seluruh sisa energi hidupku untuk minggu ini. Otakku terasa seperti terbakar."
Aulia Putri tidak bisa menahan tawa renyahnya yang merdu melihat transformasi kilat bosnya dari seorang "Alpha" pemimpin yang dominan kembali menjadi "domba pemalas" yang menggemaskan. Ia menggelengkan kepalanya penuh kasih sayang, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rambut cokelat Khatyr yang sedikit berantakan.
"Anda melakukan tugas Anda dengan sangat luar biasa hari ini, Khatyr," ujar Aulia dengan nada suara yang sangat lembut dan hangat.
"Terima kasih telah menjadi tameng yang kuat untuk perusahaan ini... dan untuk saya."
Khatyr menurunkan tangannya sedikit, menatap wajah cantik Aulia dari balik sela-sela jarinya dengan sepasang mata gelap yang dipenuhi oleh cinta dan kebahagiaan yang murni.
"Aku akan selalu menjadi tamengmu, Partner," bisik Khatyr tulus, meraih jemari tangan Aulia di atas meja dan menggenggamnya dengan hangat.
"Tapi sekarang... sebagai imbalannya, tolong buatkan aku dua gelas susu cokelat dingin, matikan seluruh telepon interkom, dan biarkan aku tidur siang selama dua jam penuh tanpa ada gangguan dari siapa pun di dunia ini."
Aulia tersenyum manis, membiarkan tangannya tetap berada di dalam genggaman hangat Khatyr. "Dua jam disetujui, Pak CEO. Selamat beristirahat."
Ancaman dari Valkyrie Capital mungkin baru saja berhasil mereka patahkan pada ronde pertama, namun aliansi rahasia nan manis di antara sang sekretaris galak dan sang CEO pemalas terbukti kian tak tergoyahkan.
Di bawah naungan langit siang Jakarta yang cerah, mereka berdua siap menghadapi babak-babak pertempuran berikutnya yang jauh lebih menantang, bersama-sama, selamanya.