NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam menyelimuti rumah sederhana itu dengan keheningan yang pekat. Cahaya temaram dari lampu minyak menjadi satu-satunya penerang di ruangan sempit tersebut. Alya memeluk kedua lututnya sambil bersandar lemah pada dinding kayu yang mulai lapuk. Tak jauh darinya, Fariz terlelap di atas tikar dengan kasur tipis sebagai alas. Wajah mungilnya tampak begitu tenang, napasnya berembus pelan dan teratur, seakan belum mengenal kerasnya hidup yang setiap hari harus dipikul oleh sang ibu.

Bu Ami menggeser duduknya hingga berada tepat di sisi Alya. Dengan gerakan penuh kasih, ia merapikan selimut tipis yang menutupi tubuh kecil Fariz agar anak itu tetap hangat dalam tidurnya. Setelah memastikan semuanya rapi, wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya kepada Alya. Sorot matanya begitu teduh, seolah menyimpan perhatian dan kepedulian yang tak perlu diucapkan dengan banyak kata.

"Alya... menurutmu sebaiknya bagaimana?" tanya Bu Ami lirih, seolah takut pertanyaannya justru menambah beban di hati wanita itu.

"Al... apa hatimu sudah mulai luluh untuk laki-laki itu?" tanya Bu Ami perlahan.

Alya memilih diam. Bibirnya tetap terkatup, sementara pandangannya terpaku pada dinding kusam di hadapannya. Namun, pikirannya telah melayang jauh, kembali pada malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kenangan pahit itu datang silih berganti, disusul bayangan tiga tahun yang ia lalui seorang diri, memendam luka dan menahan segala perih tanpa tempat bersandar.

"Kalau dia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya... apa kamu bersedia memberinya kesempatan?" lanjut Bu Ami dengan suara pelan.

Dengan pelan, Alya menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian, ia mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan gejolak perasaan yang kembali menyeruak.

"Aku benar-benar belum punya jawaban, Bu," lirih Alya. "Aku masih dihantui rasa takut. Takut semua ini hanya karena dia merasa iba... atau datang semata-mata untuk menebus rasa bersalahnya."

Ia merangkul kedua lututnya erat, lalu menundukkan kepala, seolah ingin menyembunyikan segala beban yang memenuhi dadanya.

"Kalau memang dia datang dengan kesungguhan, kamu pasti akan melihatnya sendiri, Alya," ucap Bu Ami lembut. "Naluri seorang perempuan jarang keliru. Beri dirimu waktu, jangan buru-buru menutup pintu hatimu. Biarkan dia membuktikan lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata."

Alya mengalihkan pandangannya ke wajah putranya yang terlelap di sampingnya. Jemarinya kemudian menyapu pipinya yang telah dibasahi air mata yang mengalir tanpa ia sadari.

Bu Ami mengembuskan napas panjang, kemudian menatap Alya dengan sorot mata yang penuh makna.

"Fariz juga pantas dipertimbangkan, Al. Tidakkah kamu ingin dia tumbuh dengan sosok ayah dan ibu yang mendampinginya?"

Ucapan itu menghunjam tepat ke relung hati Alya, membuat dadanya terasa sesak seketika.

Alya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Jemarinya tanpa sadar menggenggam erat ujung selimut tipis yang menyelimuti Fariz di sampingnya. Keheningan memenuhi ruangan. Yang terdengar hanya dengungan nyamuk yang sesekali melintas serta bunyi detak jam tua di dinding yang memecah sunyi.

"Aku juga menginginkannya, Bu," bisik Alya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.

"Aku ingin Fariz menjalani masa kecil yang utuh, Bu. Aku ingin dia merasakan kasih sayang seorang ayah, punya seseorang yang bisa menjadi pelindungnya selain aku."

Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Jejak air mata masih membasahi pipinya, membuat sorot matanya tampak begitu rapuh.

"Yang membuatku takut bukan diriku, Bu," ucap Alya dengan suara bergetar. "Aku takut kalau semua ini hanya karena rasa bersalah atau ingin menebus kesalahan. Bagaimana kalau nanti dia pergi lagi? Aku tidak sanggup melihat Fariz terluka karena kehilangan sosok ayah yang baru saja dikenalnya."

Bu Ami mengusap lembut punggung Alya, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sentuhan penuh kasih sayang.

"Tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, Alya. Tapi kalau rasa takut terus kamu jadikan alasan untuk menutup hati, bagaimana kamu bisa tahu kalau kebahagiaan sedang menunggumu?"

Tatapan Alya jatuh pada wajah mungil putranya yang terlelap, begitu tenang tanpa sedikit pun menyimpan beban dunia.

Fariz terlelap begitu nyenyak, jemari kecilnya masih mencengkeram ujung baju ibunya, seolah merasa paling aman saat berada di dekatnya.

"Aku ingin mencoba membuka lembaran baru, Bu. Hanya saja... aku belum bisa melakukannya sekaligus. Biarkan semuanya berjalan pelan-pelan."

Bu Ami menganggukkan kepala pelan, senyum hangat mengembang di wajahnya seolah memahami setiap keraguan yang dirasakan Alya.

"Itu sudah lebih dari cukup, Nak. Jalani semuanya sesuai kemampuanmu. Jangan terburu-buru, tetapi jangan pula mengunci hatimu bagi seseorang yang mungkin memang datang untuk melengkapi hidupmu."

*****

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menghangatkan langit ketika Rayan keluar dari apartemennya. Ia mengenakan pakaian kasual yang rapi dan berkelas, dipadukan dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Dari luar, langkahnya terlihat mantap dan penuh percaya diri. Namun, jauh di dalam dadanya, gelombang kegelisahan terus bergejolak. Hari itu, ia kembali mengarahkan perjalanan menuju desa kecil di pinggiran kota, tempat Alya dan Fariz menjalani kehidupan sederhana mereka.

Di area parkir, Arka telah berdiri menunggu di samping sedan hitam yang mengilap. Saat sosok Rayan mulai mendekat, ia segera melangkah menyambut dengan sikap sigap, lalu membukakan pintu mobil untuk atasannya.

Namun, sebelum tangannya sempat meraih gagang pintu, suara rendah Rayan terdengar, memecah keheningan pagi yang masih begitu tenang.

"Bagaimana persiapannya? Sudah tidak ada yang terlewat, kan?" ucapnya datar, tetap berdiri menghadap ke depan.

"Sudah, Tuan," jawab Arka sigap. "Semuanya telah saya siapkan sesuai instruksi Anda."

Rayan menganggukkan kepala pelan. "Bagus. Pastikan hari ini mereka tidak diganggu oleh siapa pun, Arka. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang merusak ketenangan mereka."

"Baik, Tuan. Akan saya pastikan semuanya berjalan sesuai perintah Anda."

Dengan langkah mantap, Rayan masuk ke dalam mobil tanpa ragu. Begitu mesin menyala, kendaraan itu meluncur meninggalkan riuhnya jalan-jalan kota. Setiap kilometer yang terlewati membawanya semakin dekat ke tempat yang selama ini terus menghantui pikirannya tempat di mana rasa bersalah yang belum sirna dan begitu banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban menunggunya.

Hanya ada satu tujuan yang memenuhi pikirannya menemui Alya dan memastikan

bahwa anak itu benar-benar darah dagingnya.

*****

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua setengah jam, mobil hitam berkelas yang membawa Rayan dan Arka akhirnya memasuki kawasan desa di pinggiran kota. Aspal yang perlahan berganti menjadi jalan berbatu dan dipenuhi kerikil memaksa kendaraan itu melaju lebih pelan. Di kanan dan kiri, pepohonan rindang menaungi deretan rumah-rumah sederhana yang berdiri berdekatan, menghadirkan suasana teduh sekaligus bersahaja. Kehadiran mobil mewah itu tampak begitu mencolok, menciptakan kontras yang sulit diabaikan di tengah kehidupan desa yang tenang dan sederhana.

Begitu mobil berhenti di tepi jalan dan deru mesinnya menghilang, suasana kampung yang semula tenang seketika terusik. Beberapa warga mulai menoleh, penasaran dengan tamu yang baru datang.

"Lho, mobil siapa itu? Kok baru kali ini lewat sini?"

"Jangan-jangan itu mobil orang penting."

"Eh, lihat deh! Sepertinya ada tamu penting yang masuk ke desa kita."

Gumaman penasaran mulai mengalir dari berbagai sudut rumah. Dari balik jendela yang sedikit terbuka hingga teras sederhana, warga saling bertukar pandang. Anak-anak berlarian mengikuti mobil Rayan sambil menunjuk penuh rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, para ibu keluar dari rumah, sebagian masih menggendong bayi, berusaha melihat dengan jelas sosok tamu yang baru saja menginjakkan kaki di kampung mereka.

Pintu mobil terbuka perlahan. Dari balik kabin, Rayan muncul dengan langkah tenang. Tubuhnya yang tinggi dibalut pakaian kasual berkelas, membuat auranya tampak begitu berwibawa. Wajahnya terlihat datar, tetapi sorot matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Sesaat kemudian, Arka ikut turun dari sisi lain mobil sambil mengangkat sebuah tas besar yang telah dipersiapkan, berisi berbagai perlengkapan yang mereka bawa untuk keperluan hari itu.

Suasana di sekitar semakin riuh. Bisik-bisik warga terdengar semakin ramai, masing-masing melontarkan dugaan tentang identitas pria itu. Ada yang mengira ia seorang pejabat, sebagian lagi menebak artis terkenal, bahkan ada pula yang berspekulasi bahwa ia adalah calon bupati yang sedang melakukan kunjungan.

Rayan sama sekali tidak menghiraukan perhatian warga yang tertuju kepadanya. Fokusnya hanya pada satu tujuan yang membawanya datang ke desa itu.

Tatapan Rayan berkeliling menyisir setiap sudut, berharap menemukan wajah yang selama ini tak pernah benar-benar hilang dari benaknya Alya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rayan melangkah maju dengan tenang. Langkah demi langkahnya menarik perhatian setiap pasang mata yang memandang. Desa kecil itu belum pernah menyaksikan kedatangan seseorang dengan wibawa seperti dirinya. Tak seorang pun menyadari bahwa kehadiran Rayan pada hari itu akan menjadi awal dari perubahan besar yang kembali mengguncang kehidupan Alya.

*****

Langkah Rayan akhirnya terhenti di depan sebuah rumah tua beratap seng. Meski bangunannya sederhana, halaman yang rapi dan suasananya yang hangat membuat rumah itu terasa nyaman. Di teras, Pak Kades, istrinya, dan Bu Ami telah menunggu kedatangannya. Ketiganya menyambut Rayan dengan senyum ramah dan sikap yang penuh kesopanan.

"Selamat datang, Pak Rayan. Kami senang Bapak akhirnya bisa datang," ucap Pak Kades sambil tersenyum ramah, meski nada suaranya masih terdengar sedikit kaku.

Rayan hanya membalas dengan anggukan pelan. Bibirnya tetap terkatup tanpa seulas senyum, sementara tatapannya memancarkan penyesalan yang tak mampu ia sembunyikan.

Tanpa berbasa-basi, Rayan membungkuk melepas sepatunya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Aroma khas kayu yang telah dimakan usia berpadu dengan wangi sabun sederhana memenuhi indera penciumannya, menghadirkan suasana yang hangat dan bersih. Dengan langkah perlahan, ia menuju ruang tengah. Begitu pandangannya terangkat, napasnya seakan tertahan. Di sanalah sosok yang selama ini terus memenuhi pikiran dan hatinya akhirnya berada tepat di hadapannya.

Alya duduk bersila di atas tikar yang mulai memudar warnanya. Senyum lembut menghiasi wajahnya ketika ia menyerahkan beberapa mainan lama ke tangan mungil Fariz. Meski sudah tampak usang dan sebagian memiliki bekas kerusakan, benda-benda itu tetap mampu menghadirkan kebahagiaan bagi si kecil. Tawa Fariz pecah memenuhi ruangan, sementara matanya berbinar penuh kepolosan. Di usianya yang masih belia, ia belum memahami betapa keras dan rumitnya kehidupan yang dijalani ibunya.

Seketika itu juga, dada Rayan terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeramnya erat.

Anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Namun, di hadapannya, Fariz tampak begitu gembira memainkan mainan bekas yang telah usang, sementara selama bertahun-tahun Rayan menikmati hidup dalam kemewahan tanpa pernah kekurangan apa pun. Kontras itu menghantam hatinya dengan telak.

Rayan membeku di tempatnya. Bibirnya terasa kelu, sementara tenggorokannya mendadak kering hingga sulit menelan ludah. Setelah mengumpulkan keberanian yang tersisa, ia akhirnya membuka mulut. Dengan suara lirih yang bergetar, ia memanggil pelan.

"Fariz... kemarilah, Nak," panggil Rayan dengan suara lirih.

Suara itu membuat Alya refleks menoleh. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya seketika memudar, berganti raut terkejut. Tubuhnya menegang, sementara detak jantungnya berpacu begitu cepat hingga napasnya terasa tercekat. Di sisi lain, Fariz yang sedang asyik mendorong mobil-mobilan usangnya menghentikan permainannya. Bocah kecil itu mengangkat kepala dan memandang pria yang baru saja memanggil namanya dengan tatapan polos penuh rasa ingin tahu.

Fariz bangkit perlahan dari tempatnya. Kedua tangannya masih memeluk erat mobil-mobilan kesayangannya saat ia melangkah dengan langkah-langkah kecil menghampiri pria di hadapannya. Mata beningnya menatap Rayan tanpa berkedip, dipenuhi rasa ingin tahu yang begitu tulus. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik, hingga akhirnya suara mungil Fariz memecah kesunyian, menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.

"Ayah...?" gumamnya lirih, seolah sedang memastikan kata yang baru pertama kali begitu berarti baginya.

Suara lirih itu menghantam Rayan seperti sambaran petir di tengah langit yang cerah. Ia terpaku, matanya membelalak tak percaya, sementara napasnya tertahan di kerongkongan. Dengan langkah tergesa namun hati-hati, Rayan segera berjongkok di hadapan Fariz, seolah ingin memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya bukan sekadar khayalan.

"Nak... tadi kamu memanggil apa?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.

Fariz menganggukkan kepala pelan. Tatapan beningnya tetap tertuju pada Rayan, tanpa sedikit pun rasa takut, hanya kepolosan dan kehangatan yang terpancar dari wajah mungilnya. Bibir kecilnya kembali bergerak, lalu dengan suara cadel khas anak seusianya, ia

berbisik,

"Ayah..."

Alya refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan. Napasnya memburu, sementara tubuhnya bergetar hebat menahan luapan emosi yang datang tanpa peringatan. Ia benar-benar tak mengerti bagaimana Fariz bisa mengucapkan kata itu. Selama ini, ia tak pernah sekali pun menceritakan siapa ayah kandung bocah itu, bahkan nama Rayan pun tak pernah keluar dari bibirnya.

Namun, tanpa ada yang mampu menjelaskan, Fariz seolah sudah mengetahui semuanya.

Seakan ada ikatan yang tak kasatmata, menghubungkan hati ayah dan anak tanpa perlu sepatah kata.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!