NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Begitu mereka melangkah semakin dekat, daun pintu utama yang menjulang tinggi terbuka perlahan secara otomatis, seolah sudah menyambut kedatangan mereka. Di baliknya, dua pelayan wanita yang mengenakan seragam rapi segera membungkukkan badan dengan penuh hormat, menyapa tanpa sepatah kata, sementara sikap mereka mencerminkan kedisiplinan dan profesionalisme yang telah terlatih.

"Selamat datang, Tuan, Nyonya, Tuan Muda," ucap kedua pelayan itu serempak. Nada suara mereka lembut dan penuh hormat, diiringi dengan sedikit membungkukkan tubuh sebagai bentuk penghormatan kepada para penghuni rumah.

Alya terpaku di tempat. Sapaan itu membuatnya sejenak kehilangan kata-kata. Nyonya...? batinnya berulang kali. Mereka... baru saja memanggilnya Nyonya? Dadanya berdebar pelan. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa panggilan itu kini benar-benar ditujukan kepadanya.

Bagian dalam rumah itu memancarkan kemewahan yang langsung memikat mata. Lampu kristal berukuran besar menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang berkilau tanpa cela. Udara dipenuhi aroma khas bangunan yang baru selesai direnovasi, bersih dan menenangkan.

Mata Alya membulat. Tanpa sadar, telapak tangannya menutup bibir yang sedikit terbuka.

"Masyaallah..." gumamnya lirih, hampir tenggelam oleh keheningan. Tatapannya berkeliling ke setiap sudut ruangan, masih sulit mempercayai bahwa tempat semegah itu kini menjadi rumah yang akan ditinggalinya.

Rayan melirik sekilas ke arah Alya, menangkap jelas raut takjub yang masih menghiasi wajah istrinya. Namun, ia memilih tetap diam tanpa memberi komentar. Dengan langkah tenang, ia memasuki rumah lebih dulu, lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Fariz yang berada dalam gendongannya terus bergerak gelisah, menggeliat kecil sambil berusaha turun dan menginjak lantai sendiri.

Arka menghampiri mereka sambil membawa map berisi dokumen dan tas kecil milik Alya. Setelah menyerahkan semuanya, ia membungkukkan badan dengan hormat kepada Rayan sebelum berpamitan dan meninggalkan rumah.

Tak lama kemudian, beberapa pelayan berdatangan. Mereka menyapa dengan penuh sopan sambil sedikit menundukkan kepala. Seorang pelayan sigap menerima jas yang dikenakan Rayan, sementara yang lain datang menghampiri Alya dengan membawa segelas minuman dan senyum yang hangat.

Alya sontak merasa kikuk. Dengan senyum canggung, ia menolak tawaran itu secara halus. Ia benar-benar belum terbiasa menjadi seseorang yang dilayani sedemikian rupa.

Rayan bangkit dari duduknya. Dengan nada datar namun tetap berwibawa, ia berbicara singkat.

"Aku antar kamu lihat kamar Fariz dulu."

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu pintu kamar dibuka, sebuah ruangan bernuansa ceria langsung menyambut pandangan. Tempat tidur berukuran kecil dengan sprei bergambar tokoh kartun tertata rapi di salah satu sudut. Di sisi lain berdiri rak penuh mainan, beberapa boneka tersusun manis, serta lemari mungil yang serasi dengan keseluruhan dekorasi kamar.

Melihat semua itu, Fariz segera meronta ingin diturunkan. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, bocah kecil itu berlari masuk dengan langkah pendeknya. Tawa renyah bercampur celoteh cadelnya memenuhi ruangan, sementara matanya berbinar antusias menjelajahi setiap sudut kamar yang kini menjadi miliknya.

"Ma... Ma..." panggil Fariz riang sambil menunjuk boneka dinosaurus besar yang tergeletak di atas ranjang. Wajah kecilnya berseri-seri, seolah ingin mengajak Alya melihat benda yang paling menarik di dalam kamar itu.

Alya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan bibir, berusaha menahan luapan perasaan yang memenuhi dadanya. Namun, air mata tetap mengalir tanpa bisa dicegah.

"Nak..." desisnya lirih dengan suara yang bergetar. Tatapannya tak lepas dari Fariz, sementara rasa haru perlahan memenuhi setiap sudut hatinya.

Rayan hanya melirik sekilas ke sekeliling rumah sebelum mengalihkan fokusnya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju kamar utama. Begitu daun pintu didorong perlahan, sebuah ruangan lapang langsung tersaji di hadapannya. Sebuah ranjang berukuran king size berdiri kokoh di tengah kamar, sementara pintu kaca besar menghubungkan ruangan itu dengan balkon pribadi yang menghadap hamparan taman hijau. Cahaya matahari yang masuk dari luar membuat seluruh sudut kamar terasa hangat, tenang, dan berkelas.

Alya terpaku di depan pintu kamar. Langkahnya seolah enggan bergerak maju, sementara dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Pernikahan memang telah menyatukannya dengan Rayan dalam satu ikatan yang sah, tetapi ia sadar, kedekatan di antara mereka belum benar-benar tercipta. Masih ada dinding tak kasatmata yang memisahkan hati keduanya, membuat Alya memilih bersikap hati-hati di setiap langkah yang diambil.

Rayan memalingkan wajah ke arahnya. Tatapannya tetap datar, sementara saat berbicara, nada suaranya terdengar rendah dan terkendali.

"Kalau kamu masih merasa sungkan, tetaplah di kamar ini. Biar aku yang tidur di kamar sebelah sampai kamu benar-benar merasa nyaman."

Alya menurunkan pandangannya. Hatinya dipenuhi rasa hangat sekaligus kebingungan atas pengertian yang ditunjukkan Rayan. Bibirnya membentuk senyum tipis sebelum berucap dengan suara nyaris berbisik, "Makasih... aku benar-benar menghargainya."

Rayan membalas dengan anggukan tipis tanpa menambahkan sepatah kata pun. Tak lama kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu. Dua orang pelayan masuk dengan sikap sopan, masing-masing membawa sebuah nampan berisi minuman hangat yang masih mengepulkan uap serta sepiring kudapan manis yang ditata rapi.

Kedua pelayan itu meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.

"Minumannya sudah kami siapkan. Silakan dinikmati, Tuan dan Nyonya," ujar salah seorang pelayan dengan nada santun.

Pelayan yang lain mengangguk hormat sebelum keduanya berpamitan meninggalkan kamar dengan tenang.

Alya tetap berdiri mematung di tempatnya. Jemarinya saling menggenggam gelisah, sementara matanya menyusuri setiap sudut kamar yang begitu luas dan mewah. Semua yang ada di hadapannya terasa begitu asing, seolah bukan bagian dari dunia yang selama ini ia kenal. Tanpa sadar, sebuah pertanyaan lirih bergaung di dalam benaknya. Benarkah aku layak berada di tempat seperti ini?

*****

Menjelang malam, ruang makan utama telah dipersiapkan dengan sempurna. Cahaya dari lampu gantung kristal memantul lembut, menerangi meja makan panjang yang dipenuhi aneka sajian menggugah selera. Di sekelilingnya, beberapa pelayan bergerak cekatan namun tetap tenang, memastikan setiap piring, gelas, dan peralatan makan tersusun rapi hingga ke detail terkecil.

Alya menuruni anak tangga dengan langkah pelan, satu tangannya menggenggam jemari kecil Fariz yang berjalan di sampingnya. Gaun sederhana yang dikenakannya masih merupakan pakaian lama yang dibawa dari rumah terdahulu. Bahannya mulai memudar, tampak sedikit kusut, membuat penampilannya begitu kontras dengan megahnya rumah yang kini ia tempati.

Padahal, lemari di kamar sudah dipenuhi pakaian-pakaian baru dengan model yang anggun dan bahan berkualitas. Namun, sedikit pun Alya belum memiliki keberanian untuk mengenakannya. Ada rasa sungkan yang terus mengusik hatinya, seolah semua itu belum menjadi miliknya. Aku belum pantas memakainya... bisiknya dalam hati, menahan perasaan rendah diri yang masih sulit ia lepaskan.

Tatkala pandangannya menangkap beberapa pelayan yang sedang merapikan hidangan di meja makan, Alya spontan melangkah mendekat. Nalurinya mendorongnya untuk ikut membantu, seolah ia tak terbiasa hanya berdiri diam sementara orang lain bekerja di hadapannya.

Alya melangkah mendekati para pelayan yang sedang sibuk mengatur hidangan di atas meja makan. Wajahnya tampak kikuk, tetapi sorot matanya menunjukkan niat yang sungguh-sungguh.

"Astaga... kenapa dikerjakan sendiri? Seandainya bilang dari tadi, aku pasti ikut membantu," ujarnya pelan.

Tanpa ragu, tangannya terangkat hendak mengambil beberapa piring untuk disusun. Gerakannya begitu alami, seolah pekerjaan itu sudah menjadi kebiasaan yang melekat dalam dirinya sejak lama

Ucapan Alya membuat para pelayan saling bertukar pandang. Wajah mereka sama-sama menyiratkan kebingungan, seakan tak seorang pun berani memberikan respons yang keliru.

Keheningan itu belum sempat terpecahkan ketika bunyi langkah kaki yang mantap terdengar dari arah lantai atas. Suaranya berat dan berirama, langsung menarik perhatian semua orang di ruangan hingga kepala mereka serempak menoleh ke arah tangga.

Rayan menuruni anak tangga dengan langkah tenang dan terukur. Celana jeans hitam yang dipadukan dengan kemeja hitam berlengan tergulung hingga siku membuat penampilannya tampak sederhana, namun tetap berwibawa. Wajahnya terlihat tenang, sementara sorot matanya tegas dan penuh kendali, tanpa kesan dingin yang menciptakan jarak dengan orang-orang di sekitarnya.

"Biarkan mereka yang mengurusnya," ujar Rayan tenang dengan nada rendah yang tetap terdengar tegas.

Dengan langkah mantap, Rayan menghampiri Alya. Sesampainya di dekat wanita itu, ia memperlambat langkahnya sebelum akhirnya berdiri tepat di sisinya, menyisakan jarak yang nyaris tak ada di antara mereka.

Rayan menoleh ke arah Alya, sorot matanya melembut meski nada bicaranya tetap tenang.

"Mulai sekarang, posisimu berbeda sekarang udah jadi nyonya. Rumah ini memiliki orang-orang yang memang dibayar untuk mengurus semua pekerjaan. Kamu cukup beri arahan jika ada yang kamu inginkan. Tak perlu memaksakan diri mengerjakannya sendiri," ucapnya pelan namun penuh ketegasan.

Alya hanya mampu membisu. Semburat merah perlahan memenuhi kedua pipinya ketika sebutan nyonya kembali terdengar. Gelar itu terasa begitu baru, seolah belum benar-benar menjadi bagian dari dirinya.

Ada dorongan kuat untuk menolak, mengatakan bahwa dirinya belum layak menyandang posisi tersebut. Namun, semua kata yang telah tersusun di benaknya mendadak lenyap. Bibirnya tetap terkatup rapat, sementara suaranya tertahan di kerongkongan.

Saat hendak menarik kursinya, Rayan menghentikan gerakannya sejenak. Kepalanya berputar ke samping, dan pandangannya kembali jatuh pada Alya. Sorot matanya berubah lebih tegas, seolah tengah menilai sesuatu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Alya sontak kehilangan keberanian untuk menatap balik. Ia segera menurunkan pandangan dengan canggung, sementara jemarinya saling menggenggam gelisah. Entah mengapa, detak jantungnya mendadak berpacu begitu cepat hingga dadanya terasa sesak oleh rasa gugup.

"Apa kamu memang berniat tetap mengenakan pakaian itu?" tanya Rayan dengan nada tenang, tetapi terselip ketegasan yang sulit diabaikan.

Suaranya yang rendah membuat langkah Alya terhenti seketika. Tubuhnya menegang, sementara ia berbalik perlahan menatap pria itu dengan raut bingung dan sedikit gugup.

Alya membuka bibir, berniat memberikan penjelasan. Namun, sebelum satu kata pun sempat terucap, Rayan lebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah para pelayan yang sejak tadi berdiri rapi di sudut ruangan, menunggu instruksi dengan sikap penuh hormat.

Rayan mengarahkan pandangannya kepada para pelayan. Sorot matanya tegas hingga membuat suasana seketika menjadi sunyi.

"Sejak kapan kalian membiarkan nyonya rumah berdiri di sini dengan keadaan seperti itu? Apa tidak ada satu pun yang berpikir untuk memperhatikannya?" tanyanya dengan nada rendah, tetapi sarat tekanan.

Teguran itu membuat para pelayan serempak menundukkan kepala. Tak seorang pun berani menyela ataupun mencari alasan. Ruangan mendadak dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.

"Tolong antar nyonya ke kamarnya. Bantu dia memilihkan pakaian yang lebih nyaman," perintahnya tenang, tetapi tak menyisakan ruang untuk dibantah.

Mendengar instruksi itu, beberapa pelayan segera melangkah menghampiri Alya. Raut wajah mereka tampak tegang, khawatir telah melakukan kelalaian. Dengan sikap penuh hormat, mereka bersiap mengantarnya kembali ke kamar untuk membantu mengganti pakaiannya.

Alya sontak mengibaskan kepala dengan gugup.

"Jangan... tidak perlu," katanya lirih, nyaris seperti bisikan. "Aku sudah merasa cukup seperti ini."

Nada suaranya terdengar tipis dan bergetar. Tatapan beberapa pasang mata yang mengarah kepadanya membuat rasa canggung merambat hingga ke ujung jemarinya. Ia belum terbiasa menjadi pusat perhatian, terlebih di rumah semewah itu.

Tanpa sadar, genggamannya pada tangan kecil Fariz semakin erat. Bocah itu pun membalas dengan menggenggam jemari ibunya seolah ingin menenangkan kegelisahan yang sedang memenuhi hati Alya.

Rayan mengalihkan pandangannya ke arah Alya. Sorot matanya yang semula tegas kini berubah lebih teduh, seakan memahami kegelisahan wanita itu. Bibirnya terkatup tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya embusan napas pelan yang terdengar sebelum ia melangkah mendekat.

Dengan gerakan hati-hati, Rayan mengulurkan tangan lalu menggenggam jemari mungil Fariz, mengajak bocah itu berdiri di sisinya.

Rayan menatap Fariz dengan senyum tipis sebelum berkata lembut, "Ayo, Nak. Sudah waktunya kita makan. Jangan sampai makanannya keburu dingin."

Mendengar ajakan itu, wajah Fariz seketika berbinar. Bocah kecil itu bertepuk tangan pelan sambil tertawa riang.

"Hore... makan!" serunya dengan ucapan yang masih terdengar cadel.

Kepolosan Fariz sontak mencairkan suasana yang sejak tadi terasa kaku. Senyum tipis mulai menghiasi beberapa wajah di ruangan, sementara ketegangan yang sempat menggantung perlahan menghilang.

Alya kembali menundukkan kepala sebelum melangkah pelan mengikuti Fariz menuju meja makan. Dadanya dipenuhi beragam perasaan yang saling bertabrakan. Rasa canggung, malu, sekaligus haru bercampur menjadi satu, membuatnya tak tahu bagaimana seharusnya bersikap di tengah keluarga yang masih terasa asing baginya.

Rayan tidak lagi memperdebatkan keputusan Alya. Ia memilih mengalah, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari kecil Fariz. Dengan gerakan lembut, ia mengangkat tubuh bocah itu ke dalam pelukannya, sementara tatapannya dipenuhi kehangatan yang sulit disembunyikan.

Alya hanya membalas dengan senyum tipis. Meski berusaha terlihat tenang, rasa kikuk masih jelas membayangi wajahnya. Semua yang terjadi sejak ia menginjakkan kaki di rumah itu terasa begitu cepat hingga ia belum sempat menyesuaikan diri.

Begitu menerima instruksi dari Rayan, para pelayan segera bergerak menghampiri Alya dengan penuh hormat. Refleks, Alya menggeleng pelan sebagai tanda penolakan. Semburat merah perlahan memenuhi pipinya, menandakan rasa malu yang sulit ia sembunyikan karena kembali menjadi pusat perhatian.

Alya buru-buru menggeleng sambil mengangkat kedua tangannya pelan. "Jangan... tidak perlu seperti itu. Aku baik-baik saja," ucapnya lirih.

"Sungguh, kalian tidak usah bersusah payah karena aku."

"Ikuti saja mereka," katanya singkat. "Biarkan mereka menjalankan tugasnya."

Alya hanya mampu terdiam. Setelah beberapa saat menundukkan kepala, ia mengembuskan napas pelan dan akhirnya mengangguk pasrah. Dua orang pelayan segera mendampinginya, lalu mengantar Alya menuju kamar di lantai atas.

Fariz yang melihat ibunya pergi langsung bergerak hendak menyusul. Namun, sebelum bocah itu sempat melangkah lebih jauh, Rayan telah lebih dulu mengangkatnya ke dalam gendongan.

Sesampainya di kamar, Alya berdiri terpaku di depan lemari berukuran besar. Raut wajahnya masih menyimpan kecanggungan, sementara pandangannya menyapu deretan pakaian yang tersusun rapi di dalamnya. Hampir semuanya tampak baru, lengkap dengan berbagai model dan warna yang belum pernah ia miliki.

Salah seorang pelayan melangkah maju, lalu membuka pintu lemari lebih lebar. Dengan hati-hati, ia mengambil sebuah gaun bernuansa pastel yang lembut. Potongannya sederhana tanpa hiasan berlebihan, tetapi tetap memancarkan kesan anggun dan elegan.

Pelayan itu mengulurkan gaun tersebut dengan kedua tangan, lalu tersenyum hormat.

"Bagaimana kalau Nyonya mengenakan yang ini?" ujarnya lembut. "Warna lembutnya akan membuat penampilan Nyonya terlihat semakin anggun."

Alya menggigit pelan bibir bawahnya, berusaha meredam kegugupan yang memenuhi dada. Ada perasaan asing yang terus mengusiknya, seolah semua yang sedang dikenakannya bukanlah sesuatu yang pantas menjadi miliknya.

Meski begitu, para pelayan tetap mendampinginya dengan penuh kesabaran. Mereka merapikan rambut Alya dengan tatanan sederhana yang tetap terlihat manis, lalu membersihkan wajahnya menggunakan tisu basah sebelum mengusap tipis riasan bernuansa natural pada wajahnya. Setelah semuanya selesai, gaun berwarna pastel itu dikenakan dengan hati-hati, mengubah penampilannya menjadi jauh lebih anggun tanpa menghilangkan kesederhanaan yang menjadi ciri dirinya.

Beberapa menit kemudian, Alya berdiri mematung di depan cermin besar. Tatapannya terpaku pada pantulan dirinya sendiri, sementara kedua matanya membulat karena tak percaya. Benarkah itu aku? batinnya lirih.

Gaun sederhana dengan potongan yang anggun itu ternyata mengubah penampilannya secara drastis. Tanpa kesan berlebihan, pakaian tersebut justru membuat pesona alaminya semakin menonjol. Wajah yang selama ini tampak lelah akibat kerasnya kehidupan kini terlihat lebih bersih dan segar. Raut yang biasanya tertutup debu dan keletihan perlahan berganti dengan kelembutan yang selama ini seakan tersembunyi.

Pelayan itu tersenyum hangat sambil menatap Alya dengan penuh kekaguman.

"Nyonya tampak begitu anggun," ujarnya tulus. "Gaun ini benar-benar memperlihatkan kecantikan alami Nyonya."

Alya segera menggeleng pelan, wajahnya kembali memerah. "Jangan memanggilku seperti itu," ucapnya lirih sambil menundukkan pandangan. "Aku... masih belum terbiasa." Nada suaranya terdengar lembut, dipenuhi rasa kikuk yang belum juga menghilang.

Tidak berselang lama, salah seorang pelayan menghampiri Alya dan menyampaikan dengan sopan bahwa Tuan telah menunggunya di ruang makan. Mendengar itu, Alya menarik napas pelan sebelum melangkah keluar dari kamar.

Dengan perasaan yang masih dipenuhi kegugupan, ia menuruni anak tangga satu per satu. Gaun bernuansa pastel yang dikenakannya jatuh anggun mengikuti setiap langkahnya. Meski berjalan dengan gerakan yang sederhana dan sedikit kaku, kecantikan alaminya justru terpancar tanpa perlu dibuat-buat, menghadirkan pesona yang lembut dan menenangkan.

Rayan yang tengah berdiri di sisi meja makan spontan mengangkat kepala saat mendengar langkah kaki mendekat. Begitu pandangannya jatuh pada sosok Alya, ia seketika terdiam.

Untuk beberapa detik, tatapannya tak beralih sedikit pun. Perempuan yang selama ini selalu ia lihat dalam balutan pakaian sederhana kini tampil begitu berbeda. Gaun yang dikenakannya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menonjolkan kelembutan wajah dan keanggunan yang selama ini seolah tersembunyi. Baru saat itu Rayan benar-benar menyadari bahwa di balik penampilan Alya yang dahulu tampak lusuh, tersimpan pesona seorang wanita yang begitu anggun dan menawan.

Rayan membisu. Sorot matanya mengikuti setiap langkah Alya yang semakin mendekat, seolah enggan melewatkan satu detail pun dari penampilannya. Jadi, ini pesona yang selama ini tersembunyi... gumamnya dalam hati.

Tanpa polesan yang berlebihan, Alya telah terlihat begitu menawan. Kesederhanaannya justru memancarkan daya tarik yang sulit dijelaskan. Tanpa disadari, Rayan menarik napas panjang, sejenak kehilangan kata-kata saat menyadari perubahan yang begitu mencolok di hadapannya.

Merasakan tatapan Rayan yang belum juga beralih, Alya refleks menundukkan wajahnya. Semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya, membuat rasa canggungnya semakin menjadi.

Dengan langkah pelan, ia menghampiri meja makan. Seorang pelayan segera menarikkan kursi untuknya, dan Alya duduk dengan gerakan hati-hati sambil meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.

Di sisi lain, Fariz yang masih berada dalam gendongan Rayan tampak begitu bersemangat. Bocah kecil itu tersenyum lebar lalu berseru dengan suara cadelnya, "Mama... cantik!" Ucapan polos itu membuat suasana yang semula dipenuhi kecanggungan terasa sedikit lebih hangat.

Mendengar celoteh polos putranya, sudut bibir Rayan terangkat membentuk senyum tipis. Tatapannya kembali mengarah kepada Alya sejenak, seolah tanpa sadar ingin memastikan wanita itu benar-benar telah duduk dengan tenang.

Baru setelah itu ia mengalihkan pandangan, melangkah ke kursinya sendiri, lalu duduk dengan sikap tenang. Meski wajahnya kembali terlihat datar, bayangan penampilan Alya masih terlintas di benaknya.

Para pelayan bergerak cekatan menyiapkan kursi makan khusus untuk Fariz agar bocah itu bisa duduk dengan nyaman di dekat meja. Tak lama kemudian, satu per satu hidangan mulai disajikan dengan rapi.

Semangkuk sup hangat mengepulkan uap tipis, disusul ayam panggang yang tampak menggugah selera, aneka sayuran segar, serta roti lembut yang baru keluar dari oven. Perpaduan aroma gurih dan hangat perlahan memenuhi ruang makan, menciptakan suasana yang terasa akrab sekaligus mewah.

Alya duduk dengan tubuh yang masih kaku. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan untuk menyembunyikan kegelisahannya. Kepalanya terus tertunduk, seolah tak berani menatap kemewahan yang terbentang di hadapannya.

Pandangannya menyapu hidangan yang tersaji di atas meja, lalu tanpa sadar ia menelan ludah.

Aku bahkan belum pernah melihat makanan seperti ini dari jarak sedekat ini... apalagi menikmatinya, batinnya lirih. Perasaan asing kembali menyelimuti dadanya, membuatnya merasa begitu kecil di tengah segala kemewahan yang belum pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Rayan mengambil tempat di kursinya dengan gerakan tenang dan penuh kendali. Wajahnya tetap terlihat datar, namun wibawa yang terpancar darinya membuat suasana di meja makan seketika terasa lebih khidmat.

Setelah memastikan semua telah siap, ia mengalihkan pandangan kepada para pelayan dan memberikan sebuah isyarat singkat dengan anggukan kepala, menandakan mereka boleh mulai melayani hidangan.

Melihat isyarat dari Rayan, salah seorang pelayan segera melangkah mendekat sambil membawa panci sup hangat. Ia hendak menuangkannya ke dalam mangkuk yang berada di depan Alya.

Namun, Alya spontan mengangkat tangan dengan gerakan canggung untuk menghentikannya. Wajahnya kembali memerah, sementara jemarinya bergerak gelisah, seolah tidak enak hati menerima pelayanan sebesar itu.

Alya segera menggeleng pelan sebelum berkata tergesa-gesa, "Tidak perlu merepotkan. Biar aku yang melakukannya sendiri."

Mendengar penolakan Alya, pelayan itu segera menundukkan kepala sebagai bentuk hormat sebelum melangkah mundur tanpa membantah.

Rayan yang menyaksikan pemandangan itu mengalihkan pandangannya kepada Alya selama beberapa saat. Sorot matanya sulit diartikan, lalu ia mengembuskan napas pelan, seolah memahami bahwa wanita itu masih membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan kehidupan barunya.

Rayan menatap Alya sejenak sebelum berkata dengan suara rendah, "Tak perlu sungkan menerima bantuan. Mereka memang ada di sini untuk mengurus semua keperluan kita."

Alya menundukkan wajahnya lebih dalam. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan sebelum ia berkata lirih, "Maaf... aku masih belum terbiasa diperlakukan seperti ini. Rasanya sungguh asing bagiku." Nada suaranya begitu pelan, dipenuhi rasa sungkan dan kegelisahan yang belum juga mereda.

Rayan memilih tetap diam. Tatapannya singgah sejenak pada wajah Alya, seolah memahami kegelisahan yang belum mampu diungkapkan wanita itu. Setelah beberapa detik, ia mengalihkan pandangannya.

Perhatiannya kini tertuju pada Fariz yang sedang mengulurkan tangan kecilnya, berusaha meraih sendok di atas meja dengan wajah penuh semangat. Melihat tingkah putranya, Rayan segera membantu mengambilkan sendok itu agar lebih mudah dijangkau bocah tersebut.

Rayan mengambil sendok kecil yang berada di dekat Fariz, lalu mengaduk isi mangkuk sebentar agar tidak terlalu panas.

"Pelan saja, Nak. Ayah yang bantu, ya," ujarnya lembut.

Dengan penuh kesabaran, ia menyendok sedikit makanan lalu menyuapkannya kepada Fariz, menunggu hingga bocah itu mengunyah sebelum memberikan suapan berikutnya.

Fariz tertawa riang sambil menggeleng kecil ketika Rayan kembali menyodorkan sesendok sup. "Hehe... mau lagi!" serunya dengan ucapan yang masih terdengar cadel.

Sesaat kemudian, ia menepuk-nepuk permukaan meja dengan telapak tangan mungilnya karena terlalu bersemangat. Tingkah polosnya membuat suasana makan malam yang semula kaku perlahan berubah menjadi lebih hangat.

Senyum tipis menghiasi bibir Alya. Kelucuan tingkah Fariz perlahan mengikis rasa kikuk yang sejak tadi menyelimuti hatinya. Ia menarik napas pelan, lalu meraih sendok di hadapannya. Dengan gerakan yang masih sedikit ragu, Alya mulai menikmati hidangan yang tersaji, mencicipinya suap demi suap sambil sesekali melirik putranya yang tampak begitu ceria.

Sesekali pandangan Rayan beralih ke arah Alya. Ia mengamati perempuan itu menikmati makanannya dengan gerak yang tenang dan penuh tata krama, meski kecanggungan masih tampak jelas dari setiap sikapnya. Pemandangan itu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan di dalam dada Rayan kekaguman pada kesederhanaan Alya berpadu dengan rasa iba yang perlahan mengusik hatinya.

Rayan mengangkat pandangannya ke arah Alya sebelum berkata dengan nada tenang, "Kalau masih ada yang kamu butuhkan, langsung bilang saja. ini rumahmu sendiri, jadi tidak perlu merasa sungkan."

Alya mendongak, tampak sedikit terperanjat ketika menyadari ucapan itu ditujukan kepadanya. Tatapannya bertemu sejenak dengan Rayan sebelum ia mengangguk pelan. "Baik... terima kasih," balasnya lirih, nyaris tak lebih dari embusan napas.

Tak lama kemudian, Fariz kembali membuka suara sambil menoleh antusias ke arah Alya.

"Ma... makanannya enak," ucapnya dengan pelafalan yang masih cadel. Kepolosan bocah itu membuat suasana meja makan terasa lebih hangat. Beberapa pelayan yang berjaga di sudut ruangan saling bertukar pandang sebelum menyunggingkan senyum tipis, gemas melihat tingkah lucunya.

Wajah Alya dihiasi semburat merah malu. Dengan tatapan penuh kasih, ia mengelus pipi Fariz perlahan, membiarkan jemarinya menyampaikan rasa sayang yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Rayan memilih tetap diam, membiarkan pandangannya mengikuti setiap interaksi antara ibu dan anak itu. Kali ini, sorot matanya tak lagi menyimpan kesejukan yang berjarak seperti biasanya. Entah sejak kapan, ruang makan yang luas dan mewah itu terasa jauh lebih hidup. Bukan karena kemilau lampu gantung atau megahnya interior, melainkan oleh celoteh cadel dan tawa polos Fariz yang perlahan mencairkan jarak di antara mereka.

1
Nurgusnawati Nunung
Babnya panjang yaa.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
kasihan Alya.
Nurgusnawati Nunung
bagus thor ceritanya.
May Satibi Satibi
suka
elief
suka karya nya thor. ceritanya 👍👍
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!