NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 28

​Malam merayap turun perlahan.

​Langit di luar sudah berubah gulita ketika dokter yang dipanggil akhirnya tiba di rumah Rina. Rumah kecil itu terasa semakin senyap. Hanya derik jangkrik dari pekarangan dan sesekali deru kendaraan yang melintas di ujung gang yang memecah keheningan.

​Anindiya bergegas menyambut sang dokter di ambang pintu. "Silakan masuk, Dok."

​Dokter paruh baya itu mengangguk singkat lalu langsung melangkah menuju kamar Rina.

​Di atas ranjang, Rina masih terbaring lemah. Wajahnya tetap sepucat kertas. Napasnya terdengar jauh lebih berat dibanding sore tadi, disertai tubuhnya yang sesekali bergetar kedinginan meskipun dahinya membakar panas.

​Pemeriksaan pun dimulai dengan teliti.

​Suhu tubuh Rina diukur. Denyut nadinya diperiksa. Tekanan darahnya dicek satu per satu.

​Selama proses itu, Rina sama sekali tidak membuka mata. Bibirnya hanya bergerak-gerak samar, merancau dalam igauan yang tak beraturan. Anindiya berdiri di sisi ranjang, memperhatikan dengan dada yang bergemuruh cemas.

​Beberapa menit berlalu hingga dokter merapikan stetoskopnya.

​Menurut sang dokter, demam Rina memang tergolong sangat tinggi dan fisiknya telanjur kelelahan. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi psikologisnya yang tampak terguncang hebat akibat rentetan peristiwa berat belakangan ini.

​"Kalau mentalnya memang sedang terpukul berat, itu bisa sangat memperburuk kondisi fisiknya," ujar dokter dengan nada tenang namun tegas.

​Anindiya mengangguk pelan, langsung teringat pada teror di rumah Lestari.

​Dokter lantas menuliskan resep obat penurun panas serta obat penenang agar Rina bisa beristirahat lebih pulas. Ia juga berpesan agar kompres terus dilanjutkan dan asupan cairan Rina dijaga begitu ia sadar nanti.

​"Kalau besok panasnya belum juga turun, sebaiknya langsung bawa ke rumah sakit."

​Setelah mengantar dokter berpamitan di depan, keheningan kembali merayap di dalam rumah.

​Anindiya menatap secarik resep di tangannya, lalu melangkah ke ruang depan tempat ibu tetangga masih berjaga.

​"Bu, boleh saya minta tolong sebentar?"

​"Tentu, Mbak. Ada apa?"

​"Saya ingin tetap di sini menemani Rina. Kalau Ibu tidak keberatan, bisa tolong belikan obat ini ke apotek terdekat?"

​Ibu paruh baya itu langsung mengangguk ramah. "Oh, tentu saja bisa, Mbak. Biar saya yang jalan sekarang."

​"Terima kasih banyak ya, Bu."

​"Sama-sama. Kasihan Rina, dia anak yang baik."

​Tak lama berselang, ibu tetangga itu pergi menuju apotek.

​Kini, rumah kembali jatuh dalam kesunyian mutlak. Hanya ada Anindiya dan Rina di sana.

​Anindiya kembali masuk ke kamar, lalu menarik sebuah kursi kecil untuk duduk tepat di samping tempat tidur. Tatapannya tak lepas dari wajah asistennya yang tampak begitu rapuh. Baru kali ini ia melihat Rina tak berdaya seperti ini; gadis yang biasanya selalu ceria dan sigap membantu di sanggar, kini seolah kehilangan seluruh cahayanya.

​Anindiya mengambil baskom berisi air hangat. Ia membasahi handuk kecil, memerasnya perlahan, lalu meletakannya di dahi Rina.

​Ia mengulang proses itu berkali-kali. Namun, panas di tubuh Rina seolah enggan surut.

​Sesekali Rina menggelengkan kepala gelisah dalam lelapnya. Bibirnya kembali berkomat-kamit. Anindiya lantas mendekatkan telinganya, mencoba menangkap bisikan lirih itu.

​“...jangan...”

“...gaun...”

“...dia datang...”

​Anindiya menghela napas panjang, mengira itu hanyalah sisa-sisa mimpi buruk yang terus mencekam pikiran Rina sejak kematian Lestari.

​"Yang sabar ya, Rin..." bisiknya iba. "Cepat sembuh..."

​Ia merapikan selimut yang sedikit melorot, lalu kembali duduk bersandar.

​Waktu merayap lambat. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Meski rasa lelah mulai meremukkan tubuhnya, Anindiya bergeming. Ia bertekad menjaga Rina semalaman.

​Sesekali ia melirik ke arah jendela kaca. Di luar, angin malam menerpa pelan, membuat dedaunan di halaman bergesek. Tidak ada yang aneh. Semuanya tampak normal.

​Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu depan. Ibu tetangga telah kembali membawa bungkusan obat dari apotek.

​"Ini obatnya, Mbak," ujar sang ibu menyerahkan kantong kecil.

​"Terima kasih banyak, Bu."

​"Sama-sama. Kalau butuh apa-apa lagi, panggil saya saja ya."

​"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih."

​Begitu tetangganya pamit pulang, rumah kembali senyap. Anindiya meletakkan obat di atas meja, berniat menunggu Rina sadar agar bisa meminumnya.

​Namun, hingga satu jam berlalu, kondisi Rina sama sekali tidak berubah. Demamnya masih membara, napasnya berat, dan tubuhnya kerap menggigil.

​Anindiya mulai menyandarkan punggungnya di kursi. Rasa lelah membuat kelopak matanya terasa amat berat. Meski begitu, ia terus melawan kantuk, menjaga kewaspadaannya sambil bergantian menatap wajah Rina dan jendela kamar.

​Tanpa ia sadari...

​Aroma bunga melati yang lembut tiba-tiba menyelusup masuk ke dalam kamar.

​Wanginya begitu tipis. Begitu samar hingga Anindiya mengira aroma itu terbawa angin dari tanaman di luar rumah. Ia sama sekali tidak curiga.

​Namun, detik berikutnya, suhu udara di dalam kamar mendadak merosot drastis. Menjadi jauh lebih dingin.

​Nyala kecil pada lilin aromaterapi di sudut ruangan berkedip goyah, seolah ada embusan napas tak kasat mata yang melintas—padahal seluruh jendela tertutup rapat.

​Dan di sudut kamar yang paling gelap...

​Bayangan hitam di lantai mulai merayap pelan. Memanjang, menggeliat, lalu perlahan membentuk siluet seorang perempuan berambut panjang.

​Sosok itu berdiri kaku tanpa suara. Sepasang matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah Anindiya yang tengah duduk menjaga Rina.

​Lalu, perlahan-lahan...

​Sebuah senyuman tipis terukir di wajah pucat pasi itu.

​Malam masih sangat panjang.

​Dan tanpa Anindiya sadari... teror yang selama ini meremukkan jiwa Rina, kini mulai melangkah mendekatinya.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!