Tiga tahun lalu, Citra Wijaya menikah dengan Rafael Gan di catatan sipil. Cincin murah, resepsi seadanya, dan — yang baru dia tahu belakangan — akta nikah palsu seharga sembilan ribu sembilan ratus rupiah.
Sekarang? Rafael pulang dari luar negeri. Bawa oleh-oleh: selingkuhannya, Lianna Halim, yang perutnya sudah membuncit tujuh bulan.
Citra tidak menangis. Tidak memohon. Tidak menampar.
Dia hanya pulang ke apartemennya, menyiapkan amplop berisi uang pesangon, dan menulis satu kalimat di secarik kertas untuk pria lain yang sudah tiga tahun dia *bayar* untuk tinggal di sisinya:
"Kita selesai. Terima kasih sudah menemaniku."
Pria itu — yang selama ini dia panggil *Si Ganteng* — tidak pernah protes, tidak pernah bertanya macam-macam, tidak pernah menunjukkan ambisi apa pun. Tampan, pendiam, penurut. Simpanan sempurna.
Tapi malam itu, Si Ganteng menolak amplop uangnya.
Dan Citra baru sadar: pria yang selama tiga tahun dia anggap *tidak punya apa-apa*... ternyata adalah **Reynard Hartono** — pewaris tunggal Hartono Group, konglomerat terbesar di Jakarta, yang seluruh elit kota ini panggil *Pangeran*.
Dia tidak butuh uang Citra. Dia tidak pernah butuh.
Yang dia butuhkan hanya *dia*.
Karena dua puluh tahun lalu, di masa kecil yang sudah Citra lupakan sepenuhnya, ada seorang anak laki-laki yang hampir mati — dan satu-satunya alasan dia bertahan hidup adalah satu kalimat dari gadis kecil bermata jernih:
"Kalau tidak ada yang mencintaimu, biar aku yang mencintaimu."
Citra tidak ingat. Reynard tidak pernah lupa. Satu hari pun tidak.
Sekarang, di kota yang sama, takdir mempertemukan mereka lagi. Tapi kali ini, bukan cuma masa lalu yang mengejar — ada rahasia kelahiran yang ditukar, keluarga konglomerat yang kehilangan putri mereka dua puluh tiga tahun lalu, dan seorang wanita yang akan membalas setiap orang yang pernah menginjak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Amplop Terakhir
"Rafael pulang malam ini, Ci. Dia tidak sendiri. Lianna ikut. Dia hamil."
Kalimat itu datang lewat telepon saat matahari Tangerang Selatan sedang turun pelan di balik deretan atap Villa 9. Cahaya jingga menempel di kaca tinggi ruang tengah, memantulkan wajah Citra Wijaya yang diam terlalu lama.
Di seberang sana, suara perempuan itu masih bicara, hati-hati seperti takut pecahan kabar itu melukai telinganya. "Aku cuma dengar dari orang bandara. Mereka naik penerbangan dari Sydney. Keluarga Gan sudah tahu."
Citra menurunkan pandangan ke lantai marmer. Kakinya telanjang. Dingin lantai merambat sampai betis, tapi ia tidak bergerak.
"Ci?"
"Terima kasih sudah kasih tahu," jawab Citra.
"Kamu baik-baik saja?"
Citra melihat pantulan dirinya di kaca. Rambutnya masih tergulung asal, blus kerjanya belum diganti, lipstik yang ia pakai sejak pagi tinggal garis tipis di bibir. Di belakang pantulan itu, rumah yang selama tiga tahun ia tempati bersama seorang laki-laki terasa mendadak terlalu rapi, terlalu sunyi.
"Aku baik," katanya.
Ia memutus panggilan sebelum kebohongan itu berubah bunyi.
Layar ponsel belum sempat gelap ketika tiga notifikasi masuk. Satu dari bank, pengingat cicilan dua hari lagi. Satu dari kantor pengacara yang menangani kasus Mama Ruyanti, meminta pelunasan biaya pendampingan. Satu lagi dari BPJS, konfirmasi jadwal kontrol Mama di rutan minggu depan.
Citra menatap semua itu tanpa berkedip.
Rafael pulang.
Lianna hamil.
Mama masih menunggu kabar baik dari balik dinding penjara.
Dan di lantai atas, seorang laki-laki yang selama tiga tahun ia sebut Si Ganteng mungkin masih mandi, tidak tahu bahwa hidupnya baru saja diputuskan dalam tiga menit.
Citra mengunci ponsel. Tangannya tidak gemetar. Itu yang paling menakutkan. Kadang tubuh lebih cepat mengerti daripada hati.
Ia berjalan menuju kamar.
Villa 9, Taman Hijau, selalu terlihat seperti rumah dalam majalah interior. Sofa krem, meja kaca, lampu gantung berwarna hangat, dapur bersih yang lebih sering dipakai memanaskan kopi daripada memasak. Semua barang punya tempat. Semua sudut punya jarak. Bahkan hubungan Citra dan Rey pun seperti itu, tertata, diam, dan tidak pernah benar-benar diberi nama.
Kontrak hubungan.
Begitu Citra menyebutnya sejak awal.
Tiga tahun lalu, setelah malam yang kacau di Black Horse Club, ia membawa pulang seorang laki-laki tampan yang terlalu tenang untuk dunia bising seperti itu. Ia menawarkan uang, tempat tinggal, batas-batas yang jelas, dan kebebasan untuk pergi kapan saja.
Rey tidak banyak bertanya waktu itu. Ia hanya menatapnya dengan mata gelap yang sulit dibaca, lalu berkata, "Kalau itu membuatmu tenang, aku ikut."
Sejak hari itu, ia tinggal.
Tidak pernah minta lebih.
Tidak pernah membawa perempuan lain.
Tidak pernah bertanya kenapa Citra masih terikat pada nama Rafael Gan, pada sebuah nikah siri yang dulu ia kira cukup untuk membuatnya punya rumah, punya masa depan, punya seseorang yang pulang.
Lucu, pikir Citra sambil membuka lemari. Laki-laki yang tidak pernah ia nikahi justru lebih mirip rumah daripada laki-laki yang dulu ia sebut suami.
Di bagian paling dalam lemari, di bawah tumpukan kotak sepatu, ada sebuah amplop cokelat tebal. Citra mengambilnya. Permukaan kertasnya sedikit kasar di ujung jari.
Ia sudah menyiapkan amplop itu sejak dua bulan lalu.
Bukan karena ia tahu Rafael akan pulang bersama Lianna. Bukan. Citra hanya selalu percaya bahwa hubungan tanpa nama harus punya pintu keluar yang jelas. Kalau suatu hari semuanya selesai, tidak boleh ada yang terlihat seperti dibuang.
Di dalam amplop itu ada uang dalam jumlah yang cukup untuk membuat orang biasa terdiam, tetapi terlalu kecil untuk membeli tiga tahun keheningan Rey. Ada juga selembar kertas yang ia tulis sendiri.
Terima kasih untuk tiga tahun. Jaga dirimu.
Citra membaca kalimat itu sekali lagi. Terlalu sopan. Terlalu bersih. Seperti nota belanja, bukan perpisahan.
Ia hampir menambahkan sesuatu. Maaf. Jangan membenciku. Aku tidak tahu harus jadi apa setelah ini.
Ujung pulpennya berhenti di atas kertas.
Tidak.
Kalimat seperti itu hanya akan membuatnya terlihat sedang meminta dipahami. Hari ini ia tidak punya tenaga untuk meminta apa pun.
Dari kamar mandi terdengar suara air berhenti.
Citra melipat kertas itu kembali, memasukkannya ke amplop, lalu turun ke ruang tengah.
Langkahnya pelan. Bukan karena ragu. Ia hanya sedang mengingat bagaimana rumah ini bernapas. Aroma sabun Rey yang samar dari lantai atas. Bekas cangkir kopi hitam di meja kecil dekat jendela. Selimut abu-abu yang selalu Rey lipat terlalu rapi setelah mereka tertidur di sofa menonton film setengah jalan.
Hal-hal kecil seperti itu tidak pernah masuk kontrak.
Mungkin karena itu yang paling mahal.
Citra meletakkan amplop cokelat di atas meja kaca.
Suara kertas menyentuh kaca terdengar terlalu keras.
Ketika ia mengangkat wajah, Rey sudah berdiri di ujung tangga.
Rambutnya masih basah. Beberapa tetes air jatuh dari ujung rambut ke leher, lalu hilang di balik kaus hitam polos yang menempel pada bahunya. Ia tidak memakai jam tangan. Tidak memakai apa pun yang membuatnya terlihat seperti laki-laki mahal. Hanya kaus, celana panjang santai, dan wajah yang terlalu tampan untuk disebut kebetulan.
Tiga tahun, dan Citra tetap belum bisa menebak dari mana laki-laki ini datang.
Rey melihat amplop itu.
Lalu melihat Citra.
"Apa itu?" tanyanya.
Suaranya rendah. Biasa saja. Seperti menanyakan kenapa lampu dapur belum dimatikan.
Citra menyilangkan tangan di depan tubuh. "Uang pesangon."
Rey tidak turun. "Untuk siapa?"
"Untuk kamu."
Tangga itu hanya berjarak beberapa meter, tetapi ruang di antara mereka tiba-tiba terasa seperti lorong panjang.
Rey akhirnya turun satu anak tangga. "Aku dipecat?"
Kata itu seharusnya terdengar lucu. Dulu, mungkin Citra akan tertawa. Ia akan bilang, jangan drama, Si Ganteng. Lalu Rey akan mengangkat alis sedikit, satu-satunya tanda bahwa ia mengerti candaan.
Hari ini, bibir Citra tidak bergerak.
"Kontrak kita selesai," ucapnya.
Rey berhenti di anak tangga terakhir.
Tidak ada kilat marah di wajahnya. Tidak ada pertanyaan terburu-buru. Ia hanya menatap Citra, begitu diam sampai suara pendingin ruangan terdengar jelas.
"Kenapa hari ini?"
Citra menarik napas. Pelan. "Karena Rafael pulang."
Nama itu jatuh di antara mereka seperti gelas pecah.
Untuk pertama kalinya, tatapan Rey berubah. Sangat sedikit, hampir tidak terlihat. Tetapi Citra yang hidup dengannya selama tiga tahun tahu kapan udara di sekitar laki-laki itu mengeras.
"Sendiri?" tanya Rey.
Citra menatap amplop di meja. "Dengan Lianna."
Rey tidak menjawab.
"Dia hamil."
Sunyi kembali turun.
Di luar, suara azan Magrib dari masjid kompleks sebelah terdengar jauh, tipis, menembus kaca yang tertutup rapat. Kota bergerak seperti biasa. Motor lewat. Seekor anjing di rumah tetangga menggonggong sekali. Hidup orang lain tetap berjalan, seolah berita tentang perempuan hamil yang dibawa pulang oleh laki-laki orang tidak punya kuasa merusak langit.
Citra justru merasa dadanya kosong.
"Rafa harus menghadapi keluarganya," katanya. "Aku juga harus menghadapi hidupku sendiri."
"Dengan mengusirku?"
"Aku tidak mengusir." Citra memaksa suaranya tetap rata. "Aku menyelesaikan sesuatu yang sejak awal memang sementara."
Rey turun sepenuhnya. Ia berdiri di sisi meja, tetapi tidak menyentuh amplop itu.
"Tiga tahun sementara?"
Pertanyaan itu pelan, tetapi membuat tenggorokan Citra mengering.
Ia ingin berkata, jangan buat ini sulit. Ia ingin berkata, kau tahu sendiri hubungan ini tidak punya masa depan. Ia ingin berkata, aku tidak bisa membayar biaya pengacara Mama sambil mempertahankan laki-laki yang dunia tidak boleh tahu ada di rumahku.
Tetapi semua kalimat itu terdengar seperti pembelaan.
Jadi ia hanya berkata, "Aku tidak bisa mempertahankan semuanya."
Mata Rey turun ke ponsel di tangan Citra. Mungkin ia melihat sisa notifikasi di layar yang belum benar-benar mati. Mungkin ia tidak melihat apa pun. Rey memang selalu bisa tahu hal-hal yang tidak Citra ucapkan.
"Berapa biaya pengacara Mama Ruyanti bulan ini?" tanyanya.
Citra langsung menegang. "Itu bukan urusanmu."
"Cicilan rumah?"
"Rey."
"BPJS?"
"Aku bilang, itu bukan urusanmu."
Kali ini suaranya sedikit naik. Tidak keras, tetapi cukup untuk memecahkan lapisan tenang yang ia susun sejak telepon tadi.
Rey menatapnya lama. "Selama tiga tahun, kamu selalu bilang begitu."
"Karena memang begitu."
"Tapi kamu tetap pulang ke rumah ini setiap kali terlalu lelah berdiri sendiri."
Citra menggigit bagian dalam pipinya.
Kalimat itu tidak kejam. Justru karena tidak kejam, ia terasa lebih berbahaya.
Ia memalingkan wajah ke jendela. Di kaca, ia melihat bayangan mereka berdiri berhadapan. Ia dengan blus kusut dan ponsel yang penuh tagihan. Rey dengan rambut basah dan mata yang tidak pernah meminta apa pun, kecuali izin untuk tetap tinggal.
Seandainya hari ini ia sedikit lebih lemah, mungkin ia akan menangis.
Tapi Citra sudah terlalu sering melihat perempuan menangis di depan laki-laki yang tidak memilihnya. Mama Ruyanti menangis diam-diam setelah vonis. Jessica menangis keras setiap kali ingin dipercaya. Lianna, entah menangis seperti apa ketika berdiri di samping Rafael dengan perut yang mulai berisi.
Citra tidak mau memberi Rafael air matanya.
Tidak juga memberi Rey alasan untuk kasihan.
"Besok aku akan keluar dari sini," katanya. "Beberapa barangku bisa kuambil nanti. Villa ini atas namamu, jadi tidak ada yang perlu dibagi."
"Kamu mau ke mana?"
"Puri Bojong Gede dulu."
"Rumah itu terlalu jauh dari kantor."
"Aku bisa naik KRL."
"Kamu pulang malam setiap hari."
"Aku sudah biasa."
"Tidak."
Citra menoleh. "Tidak?"
Rey mengulangi dengan suara yang sama datarnya. "Tidak."
Untuk sesaat, Citra hampir tertawa. "Kamu lupa posisi kita?"
"Aku ingat."
"Aku yang memulai kontrak ini."
"Aku tahu."
"Aku juga yang mengakhirinya."
"Kamu boleh mengakhiri apa pun yang kamu tulis di kertas." Tatapan Rey turun ke amplop. "Tapi tidak semua yang terjadi di rumah ini pernah kamu tulis di kontrak."
Jantung Citra berdetak sekali, terlalu kuat.
Ia tidak suka kalimat itu. Terlalu dekat. Terlalu tahu. Terlalu seperti tangan yang menyentuh luka tanpa izin.
"Jangan membuat ini terdengar romantis," kata Citra. "Ini bukan cerita cinta."
Rey menatapnya. "Bukan?"
Citra tidak menjawab.
Di luar, langit makin gelap. Lampu taman menyala otomatis, membuat bayangan pohon palem jatuh panjang di lantai teras. Citra tiba-tiba sadar ia belum makan sejak siang. Perutnya kosong, tetapi bukan itu yang membuatnya mual.
Ia mengambil tas dari sofa.
"Aku pergi sekarang."
Rey tidak bergerak.
Citra melewati meja. Jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa mencium aroma sabun dan mint dari tubuh Rey. Aroma yang selama ini menempel di bantal sebelahnya, di handuk bersih, di udara pagi ketika ia bangun dan menemukan kopi sudah dibuat.
Ia tidak menoleh.
Kalau menoleh, ia takut melihat sesuatu yang membuatnya tinggal.
Di ambang pintu, langkah Citra tertahan oleh kilatan kecil di sisi wajah Rey.
Anting safir itu.
Sebuah batu biru kecil di telinga kirinya menangkap cahaya lampu ruang tengah. Warnanya tidak mencolok, tetapi hidup, seperti pecahan laut yang disimpan diam-diam. Selama tiga tahun, Rey selalu memakainya. Saat tidur. Saat mandi pun kadang tetap ada. Saat mereka bertengkar kecil karena Citra pulang terlalu malam. Saat Citra demam dan Rey duduk semalaman mengganti kompres.
Citra tidak pernah bertanya dari mana anting itu berasal.
Mungkin karena ia takut jawabannya membuka pintu yang tidak sanggup ia masuki.
"Kamu tidak pernah melepas itu," ucapnya tanpa sadar.
Rey mengikuti arah pandangnya. Jari telunjuknya hampir menyentuh anting itu, tetapi berhenti sebelum sampai.
"Tidak bisa," katanya.
"Kenapa?"
Rey menatap Citra. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang lewat terlalu cepat untuk diberi nama.
"Karena seseorang pernah memberiku alasan untuk hidup."
Kalimat itu membuat udara di dada Citra berhenti setengah detik.
Ia ingin bertanya. Siapa? Kapan? Kenapa selama ini tidak pernah kau ceritakan?
Tetapi ponselnya bergetar lagi.
Nama Rafael muncul di layar.
Rafa.
Begitu singkat. Begitu akrab. Begitu terlambat.
Citra menatap nama itu sampai getarannya berhenti sendiri. Setelah panggilan itu mati, muncul satu pesan.
Ci, aku sudah mendarat. Kita perlu bicara.
Citra mematikan layar.
"Pergilah kalau kamu harus pergi," kata Rey.
Kalimat itu membuat Citra mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak turun dari lantai atas, Rey terlihat seperti seseorang yang menahan sesuatu dengan seluruh tubuhnya. Bahunya diam, rahangnya tenang, tetapi matanya tidak.
Citra mengangguk pelan. "Terima kasih untuk tiga tahun, Rey."
Ia membuka pintu.
Udara malam masuk, membawa bau rumput basah dan asap tipis dari jalan kompleks. Citra melangkah satu kaki keluar.
"Ci."
Suara Rey menghentikannya.
Citra tidak berbalik sepenuhnya. "Apa?"
Rey akhirnya menyentuh amplop cokelat di meja. Ia mengambilnya, tetapi bukan untuk membuka. Ia berjalan melewati Citra, masuk ke kamar utama, lalu muncul lagi beberapa detik kemudian tanpa amplop itu di tangan.
Seolah benda itu tidak pernah ada.
Seolah perpisahan bisa dikembalikan ke laci.
Rey berdiri di depan pintu kamar, rambutnya masih setengah basah, anting safirnya berkilat pelan dalam cahaya.
"Amplop-nya buat kamu saja," katanya. "Aku tidak akan pergi."
Citra berdiri di ambang pintu, dengan satu kaki di luar dan satu kaki masih di dalam rumah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berbuat apa.