NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: @Pipin

Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua bungkus Seblak

Setelah balik dari sidang, Shella langsung menghambur ke pelukan guling kecilnya.Saat sedang menikmati kesedihan, nama 'Bos Kapitalis (Pak Reygan)'tertera di layar.

Shella menarik napas panjang, mengusap hidungnya yang kemerahan, lalu menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Bagaimana hasilnya?" tanya suara berat Reygan langsung di seberang telepon, tanpa basa-basi.

"Bagaimana apanya, Pak? Sudah jelas semuanya usai! Usai, Pak...!" seru Shella dramatis, suaranya serak campur aduk."Hari ini saya resmi bertukar status jadi jandanya Bramantyo seutuhnya! Saya bebas! Sudah bisa menikah dengan pria manapun yang saya mau!"

"Bagus, bukan?" sahut Reygan singkat di ujung sana.

"Bagus dari mananya, Pak?!" tumpah Shella, tak sanggup lagi menahan rasa sengitnya. "Saya kira melepas pria brengsek itu bakal terasa gampang dan melegakan. Tapi ternyata tidak semudah itu, Pak! Melihat mereka berdua tersenyum bahagia di atas penderitaan dan kehancuran hidup saya... sesak tahu ngga?! "

Reygan hening sejenak di seberang sana, mendengarkan rengetan dan luapan emosi asistennya yang berapi-api."Jadi... kamu menelpon sambil menangis begitu karena ingin izin cuti kerja esok hari?" tanya Reygan sok tau.

Shella melotot kaget, nyaris tersedak air liurnya sendiri. "Cuti?! Ya ampun, Pak Reygan! Kalau Bapak memang se-tidak punya hati itu sama bawahan yang lagi berduka, sekalian saja pecat saya sekarang, Pak! Biar lengkap penderitaan saya!"

HA-HA-HA...

Tawa renyah dan terkekeh pelan meledak dari seberang saluran telepon. Reygan yang saat itu masih berada di dalam mobilnya tak sanggup lagi menahan tawa membayangkan wajah sewot dan hidung merah asistennya saat mengomel.

"Kalau kamu masih punya tenaga untuk marah-marah dan mengomeli bosmu sendiri seperti ini..." ujar Reygan santai setelah tawanya mereda, "...berarti kondisi jiwamu masih masuk kategori aman."

Shella mendengus kencang, menyedot ingusnya yang mau menetes dengan tisu. "Terserah! Punya bos dinginnya mirip es kutub memang tidak bisa diharapkan buat jadi tempat curhat."

"Lalu, sekarang kamu mau apa?" tanya Reygan lagi, nadanya mendadak melunak, sarat akan perhatian yang tak disadarinya sendiri.

Shella memeluk lututnya di atas kasur, mengusap perutnya yang terasa lapar karena sejak siang belum tersentuh makanan sama sekali.

"Pengen makan yang pedas-pedas..." gumam Shella pelan, ketus namun terdengar sangat manja."Pengen seblak pedas level maksimal, mie instan kuah cabai rawit, atau apa saja yang bisa bikin lidah dan mata saya terbakar, biar rasa sesak di dada ini kalah sama rasa pedas!"

Di dalam mobil mewahnya yang sedang menepi di bahu jalan, Reygan mengurut pelipisnya sambil menggelengkan kepala. "Makan makanan pedas saat perut kosong dan emosi tidak stabil itu tidak baik untuk lambungmu, paham?" Tegur Reygan.

"Ah, Bapak bawel! Sudah ya, saya mau lanjut meratapi nasib!" seret Shella tanpa takut, lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Shella melempar ponselnya ke kasur lalu menengamkan wajahnya di antara kedua lutut.

"Setidaknya, walau nyebelin, masih ada yang peduli." Gumam nya tanpa sadar.

**

Setelah sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Shella. Seharusnya, ia langsung menginjak pedal gas menuju penthouse-nya atau kembali memikirkan persiapan acara pertunangannya dengan Gladis minggu depan.

Tapi ucapan Shella yang terdengar begitu merana—"Pengen makan yang pedas-pedas biar rasa sesak di dada kalah sama rasa pedas"—seolah mengutak-atik fungsi logika di otaknya.Tanpa sadar, jemari Reygan memutar kemudi, menyusuri jalanan ibu kota yang mulai basah.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah sedan mewah seharga miliaran rupiah menepi anggun di pinggir jalan perkampungan, tepat di depan sebuah kedai makanan kecil bertuliskan spanduk mencolok:

-Seblak & Mie Pedas Mampus Level 1-10"-

Dengan setelan jas buatan penjahit Italia yang masih melekat sempurna di tubuh jangkungnya, Reygan mendorong pintu kaca kedai kecil itu. Kedatangan bos besar itu sontak membuat suasana kedai yang tadinya riuh mendadak hening. Pemilik kedai dan beberapa pengunjung remaja melotot tak percaya melihat sesosok pria berwajah bak model papan atas tersesat di kedai sederhana mereka.

Reygan tak mengindahkan pandangan aneh orang-orang. Pria itu melangkah tegap mendekati meja kasir.

"Pak, yang paling pedas di sini apa?" tanya Reygan tegas, menatap lurus penjual seblak yang kini mematung.

Penjual seblak itu mengedipkan matanya berkali-kali, kaget setengah mati. "E-eh... Seblak Komplit Level 10 Spesial Cabai Merah Mercon, Mas. Itu paling pedas, kuahnya merah pekat... bisa bikin bibir dower dan perut mules kalau tidak biasa."

"Bikin dua bungkus. Cabainya tolong ditambahkan lagi, buat seluar biasa pedas yang Bapak bisa," perintah Reygan mantap.

"Dua bungkus, Mas? Pakai porsi jumbo?" tanya si penjual memastikan.

"Iya, dua bungkus jumbo. Bungkus yang rapi," balas Reygan tanpa ragu.

Sambil menunggu makanannya dibuat, Reygan berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Entah keajaiban apa yang merasukinya hingga seorang CEO Aliansyah Group rela berdiri di tengah kepulan asap tumisan cabai rawit yang menusuk hidung hanya demi membelikan makanan yang dibutuhkan asistennya.

'Kenapa juga aku harus belikan dua bungkus?’ batin Reygan bertanya-tangan pada dirinya sendiri.

Akal sehatnya mencoba mencari pembenaran.

‘Wanita itu kalau lagi stres pasti porsi makannya seperti raksasa. Kalau cuma dibelikan satu bungkus, nanti dia mengomel lagi. Lagipula... kasihan kalau dia makan sendirian sambil menangis meraung-raung di kontrakannya.’

"Ini Mas, dua bungkus Seblak Mercon Level Max-nya sudah siap!" ujar si penjual sambil menyerahkan dua kantong plastik merah.

Reygan menerima dua kantong plastik berisi makanan beraroma pedas menyengat itu, lalu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu tanpa meminta kembalian.

"Terima kasih, Pak," ucap Reygan singkat, lalu berbalik pergi meninggalkan kedai itu dengan langkah lebar.

"Ya ampun, uang nya gede banget, mana ga diminta kembalian lagi." Ujar si penjual menaruh uang itu dikening.

Jalanan gang menuju rumah kontrakan Shella terlalu sempit untuk dilalui sedan miliknya. Alhasil, sang CEO terpaksa memarkirkan mobilnya di bahu jalan luar gang.

Reygan menatap kantong plastik berisi dua porsi seblak mercon di jok sampingnya. Pria itu menghela napas pelan, mengutak-atik ponselnya, lalu segera mendial nomor asistennya.

"Keluar, sekarang juga," perintah Reygan langsung saat sambungan terhubung.

"Apaan sih, Pak? Nyari gara-gara terus dari tadi!" cerocos Shella."Ngapain lagi telepon-telepon? Mau minta dicarikan menu makan malam lagi? Males ah! Orang saya lagi enak-enaknya meratapi nasib di atas kasur!"

"Saya lagi di luar gang kontrakan kamu. Cepat keluar!" tegas Reygan singkat.

Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Shella meledak kaget."Eh?! Kok bisa?! Memang Bapak tahu kediaman saya? Tahu alamat saya dari mana?!" tanya Shella bertubi-tubi, lalu tertawa geli."Bapak kok bisa nyasar sampai ke gang sempit begini? Nanti warga sekitar kira ada tuan tanah kaya yang mau menggusur lahan lagi!"

Terdengar suara kresek sandal jepit yang diseret terburu-buru dari dalam rumah Shella.

Beberapa saat kemudian, sesosok wanita bertubuh ramping dengan kaos kebesaran dan sandal jepit jepit hijau muncul dari balik mulut gang. Matanya masih sembab dan hidungnya merah bekas menangis.

Namun, saat pandangan Shella menangkap sosok Reygan yang berdiri tegap di sana, entah kenapa, sebuah senyuman tipis yang hangat mendadak terulas di wajah sembabnya.

Shella melangkah mendekat sambil bersedekap dada. "Ngapain ke sini, Pak? Mau sidak kontrakan bawahan?"

"Buat kamu,"ujar Reygan sambil menyodorkan kantong plastik merah yang mengeluarkan aroma cabai menyengat.

Shella menerima plastik itu dengan dahi berkerut. "Ini apa? Jangan-jangan Bapak bawain saya sisa makanan rapat kantor ya?"

"Buka saja sendiri," balas Reygan singkat, melipat kedua tangannya di depan dada.

Shella mengintip isi kantong plastik itu. Seketika matanya membelalak lebar melihat dua porsi besar seblak mercon dengan kuah merah pekat yang membara.

"Pfft... BUAHAHAHA!"

Tawa Shella seketika meledak kencang di ujung gang, melengking renyah hingga mirip kuntilanak kesurupan. Wanita itu tertawa sampai memegangi perutnya, tak percaya dengan pemandangan absurd di depannya.

"Jadi... Pak Reygan yang terhormat, CEO Aliansyah Group yang angkuh dan dingin bagai es kutub, repot-repot naik mobil mewah ke gang sempit cuma buat menyerahkan seblak mercon ini?!" goda Shella dengan mata berbinar jahil.

"Fix, Pak! Saya yakin seratus persen, pasti ada perasaan terpendam yang sangat dalam di hati Bapak buat saya!"

TAK!

"Aduh!" ringis Shella sambil mengelus kepalanya.

Reygan baru saja menyentil dan memukul pelan kepala asistennya itu dengan gulungan kertas brosur di tangannya, cukup keras untuk menghentikan tawa konyol Shella.

"Jangan ngelindur. Bicaramu makin tidak terkontrol," tegur Reygan. "Sekarang masuk, makan seblakmu itu. Atau... kamu mau saya yang suapi di tempat ini?"

"Ih! Ogah banget disuapi bos kapitalis kaku kayak Bapak! Nanti seblaknya malah rasa formalin!"

seloroh Shella sambil menjulurkan lidahnya.

Meskipun mulutnya terus mengomel dan menggodai bosnya, Shella memeluk kantong plastik merah itu erat-erat di dadanya. Kehadiran konyol Reygan malam ini secara ajaib telah berhasil mengusir seluruh bayangan kelam tentang persidangan cerainya siang tadi.

"Terima kasih bos Kutub " Ucap shella saat melihat mobil itu mulai melaju.

1
Adinda
lebih baik shella sama vian Kalau sama reygan gak menjamin shella bahagia apalagi punya mertua yang Sangat Benci sama dia,semoga reygan bisa bahagia sama gladys
Adinda
terima Nasib aja Dari awal Kamu sudah memilih Gladis Dan merendahkan shella
Pipin
rasain noh 🤣🤭
Adinda
Dari awal Kamu pilih gladys maka nikmatin aja pilihanmu reygan 🤣
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
emang reygan ini plin plan jd cowok, gk bisa tegas apa lg di depan ibu nya 🤦‍♀️ shella sebaiknya kamu terima lamaran vian dan menjauh dr keluarga mu yg toxic itu
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪: banget kak pengen getok kepala nya biar sadar 🤣🤣
total 3 replies
Adinda
shella sama vian aja,reygan aja gak Ada pendirian apalagi ibunya gk suka sama shella
Adinda
terima aja shella Daripada sama reygan yang Ada Kamu menderita karena orangtuanya gak suka sama kamu
Ratiabil Ibrahim
up datenya lama
Pipin: maaf kak, kdg sibuk di dunia nyata 😌
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
udah si shella mending kamu resign aja
Adinda
kamu resign aja shella kerja tempat Arsen aja,kamu sama Arsen aja biarin reygan menyesal
Pipin
siap kak😍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Pipin: siap kak😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
bagusss banget ceritanyaa kak😍
Anisa Nur Afifah
seruu kakk, sampai sini dulu tar ku mampir lagi
Lili Inggrid
lanjut..
Pipin: mksih udh mmpir kk, siap ☺
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
semoga shella dpt yg lebih² segalanya dari reygan
Pipin: Kedepan kita liat alur nya kak 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
shella shella bucin emang bikin orang bego sih
Pipin: Dmana aja sama kk 😂
total 1 replies
Adinda
semoga shella didekatin CEO ganteng biar Reagan cemburu
Pipin: kwkwkwk, apa msukin tokoh lain ya 😍
total 1 replies
Firmahadi
halo bos ku izin mampir
Pipin: hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!