NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Malam Terakhir di Pulau Raja

Renard membawa Momo ke atap pada malam hari ketiga puluh delapan.

Momo baru tahu bangunan utama Pulau Raja punya atap terbuka sebesar taman kecil. Tidak ada kamera terlihat. Tidak ada pengawal di dekat mereka. Hanya lantai batu, kursi panjang, beberapa pot tanaman, dan langit yang begitu luas sampai laut di sekeliling pulau tampak lebih tenang.

"Aku kira semua tempat di pulau ini dibuat untuk mengawasiku," kata Momo.

Renard berdiri di dekat pagar kaca. Angin malam menggerakkan rambutnya. Bekas luka ular belum sembuh sepenuhnya, tetapi ia sudah berdiri seperti tidak ada racun yang pernah masuk ke tubuhnya.

"Tempat ini tidak."

"Kenapa?"

"Ini satu-satunya tempat di pulau ini yang tidak aku desain sebagai penjara."

Momo menatapnya.

Renard menatap bintang, bukan Momo. "Ibu dulu suka melihat langit dari sini."

Lucia.

Nama yang belum pernah ia ucapkan langsung, tetapi Momo sudah mengenalnya dari foto dan buku catatan. Momo duduk di kursi panjang. Untuk beberapa menit, mereka tidak berbicara. Anehnya, diam kali ini tidak menekan.

"Apa Rola juga suka ke sini?"

Rahang Renard bergerak sedikit.

Momo segera berkata, "Kau tidak perlu jawab."

"Dia takut gelap," kata Renard akhirnya. "Tapi kalau Ibu ada, dia berani."

Momo membayangkan gadis kecil di foto, senyum lebar, boneka di pelukan. Lalu membayangkan Renard kecil berdiri kaku di sampingnya. Sesuatu terasa nyeri.

"Ama juga suka langit," kata Momo pelan. "Dulu kalau listrik mati di Pecinan, dia duduk di depan toko. Katanya lampu kota boleh mati, tapi langit tidak pernah lupa menyala."

Renard menoleh.

"Kau rindu dia."

"Setiap hari."

"Aku tahu."

Momo tertawa pendek. "Tentu. Kau tahu segalanya tentangku, kan?"

"Hampir."

"Kalau kau tahu segalanya, kau tahu aku hanya gadis miskin dari Pecinan Semarang." Momo menatap laut gelap di bawah. "Anak luar nikah, tabungan kecil, kerja serabutan, mimpi jadi desainer yang mungkin terlalu jauh. Apa yang kau lihat di diriku?"

Renard diam lama.

Momo mengira ia tidak akan menjawab.

"Sesuatu yang tidak patah," katanya akhirnya.

Momo menoleh.

Renard menatapnya dengan mata yang tidak setajam biasanya. "Orang mengira yang kuat adalah yang bisa menguasai. Mereka salah. Yang kuat adalah yang tetap ingin pulang setelah semua pintu ditutup."

Dada Momo terasa sesak.

"Kau yang menutup pintu-pintu itu."

"Aku tahu."

"Lalu kau memujiku karena bertahan?"

"Aku tidak pernah bilang aku baik."

"Tidak. Kau hanya membuatku sulit membencimu dengan bersih."

Sesuatu lewat di mata Renard. Hampir lembut.

Momo memalingkan wajah. Angin malam dingin. Tubuhnya lelah tanpa alasan. Setelah beberapa saat, ia bersandar di kursi dan memeluk lengan sendiri. Bintang-bintang di atasnya bergerak lambat, atau mungkin matanya yang berat.

"Jangan tidur di sini," kata Renard.

"Aku tidak tidur."

Satu menit kemudian, ia tertidur.

Renard melepas jasnya dan menyelimuti tubuh Momo. Ia duduk di sampingnya sampai malam menua. Sesekali Momo bergerak gelisah, dan Renard menahan ujung jas agar tidak jatuh dari bahunya.

Menjelang subuh, langit mulai memucat.

Momo masih tidur.

Renard menatap wajahnya. Tanpa kemarahan, tanpa perintah, tanpa kata milikku yang selama ini menjadi pagar dan rantai.

"Aku melihat segalanya yang orang lain gagal lihat," bisiknya.

Momo tidak mendengar.

Dari kejauhan, suara helikopter mendekat.

Renard mengangkat kepala.

Di atap, langit Pulau Raja terlihat terlalu luas untuk tempat yang dipenuhi kunci.

Momo duduk di kursi panjang dengan selimut di bahu. Renard berdiri di pagar batu, tidak terlalu dekat, seolah memberi jarak yang diminta Momo tanpa benar-benar pergi. Angin malam menggerakkan rambutnya. Untuk pertama kalinya sejak ia bangun di pulau itu, Momo melihat pria itu tanpa dinding, tanpa penjaga, tanpa meja besar, tanpa senjata.

Hanya pria yang terlalu lelah untuk tidur.

"Lucia suka bintang?" tanya Momo.

Renard tidak tampak terkejut. "Ya."

"Rola juga?"

"Rola suka apa pun yang disukai Lucia."

Ada kelembutan di suaranya yang membuat Momo menoleh. Kelembutan itu cepat hilang, tetapi ia sudah melihatnya.

"Kenapa membawaku ke sini?"

"Kau tidak bisa tidur."

"Kamu biasanya mengirim teh, dokter, atau perintah."

"Malam ini aku memilih atap."

"Kemajuan."

Renard menatap langit. "Ini satu-satunya tempat di pulau ini yang tidak dirancang sebagai penjara."

Momo mengikuti pandangannya. Bintang tersebar samar di atas laut. "Tapi tetap bagian dari penjara."

"Ya."

Jawaban jujur itu membuatnya lebih sulit marah.

Untuk beberapa menit, mereka diam. Diam yang biasanya membuat Momo waspada kini terasa anehnya bisa ditempati. Tidak nyaman, tetapi tidak menusuk. Ia sadar bahunya mulai rileks.

"Kenapa aku?" tanyanya.

Renard menoleh.

"Jangan bilang karena pertunangan. Jangan bilang karena Gunawan. Jangan bilang karena aku aman jika bersamamu. Aku tanya kenapa aku."

Renard berjalan mendekat, lalu berhenti di jarak yang masih sopan. "Karena kau sesuatu yang tidak patah."

"Itu bukan alasan untuk mengambilku."

"Aku tahu."

"Tapi tetap kamu lakukan."

"Ya."

Momo menatapnya. "Kamu selalu mengakui dosa seolah itu membuatnya lebih indah."

"Tidak. Aku hanya tidak ingin berbohong padamu."

"Terlambat. Seluruh hidupku di pulau ini dibangun dari hal yang kamu sembunyikan."

Renard menerima kalimat itu tanpa membela diri.

Angin makin dingin. Momo menggigil kecil. Sebelum ia sempat menarik selimut, Renard sudah bergerak. Ia berhenti lagi, menunggu.

Momo melihat tangan itu, lalu wajahnya. "Kamu menunggu izin?"

"Aku mencoba."

Dua kata itu, lebih dari semua deklarasi gila, membuat dada Momo sakit.

Ia tidak menjawab. Renard menganggap diamnya sebagai izin paling kecil, lalu menarik selimut menutupi bahunya lebih rapat. Jari-jarinya tidak menyentuh kulit. Hanya kain. Namun tubuh Momo tetap sadar pada jarak satu sentimeter itu.

"Aku melihat segalanya yang orang lain gagal lihat," katanya pelan.

Momo ingin bertanya apakah itu cinta atau obsesi.

Tetapi matanya berat. Untuk sekali saja, malam tidak meminta keputusan. Ia tertidur di kursi panjang dengan bintang di atas dan Renard di dekatnya.

Momo terbangun sebentar sebelum fajar, sadar kepalanya bersandar pada sandaran kursi dan selimutnya masih rapi. Renard duduk tidak jauh darinya, tidak tidur, memandang garis laut yang mulai memucat.

"Kamu menjaga semalaman?" tanyanya, suara serak.

"Tidak."

"Pembohong."

"Aku duduk."

"Sama saja."

Renard tidak membantah.

Momo seharusnya meminta masuk ke kamar. Sebaliknya, ia menutup mata lagi, terlalu lelah untuk melawan kenyamanan yang tidak diminta. Di antara tidur dan sadar, ia mendengar Renard berkata sangat pelan, "Aku melihat segalanya yang orang lain gagal lihat."

Untuk beberapa menit sebelum suara helikopter datang, Momo membiarkan dirinya tetap diam.

Diam itu tidak berarti menyerah.

Setidaknya ia ingin percaya begitu.

Kedamaian di atap itu retak sebelum matahari benar-benar terbit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!