Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 19
Aldri pun terbangun ketika mendengar suara ibunya. "Tika, kamu sudah sadar?"
Antika hanya tersenyum kepada Aldri karena tubuhnya masih berada dalam pelukan Indira.
"Syukurlah Alhamdulillah." Aldri menghela nafas. Ada kelegaan dalam setiap ucapannya.
"Kalian tunggu di sini dulu. Ibu bikinkan susu hangat, ya." tanpa menunggu jawaban Indira terlalu pergi.
Aldri duduk di tepian ranjang. Kedua tangannya menggenggam tangan Antika. Kedua matanya beradu pandang dengan Antika.
"Hampir saja jantungku berhenti. Kamu tahu betapa khawatirnya diriku melihatmu jatuh pingsan. Maafkan aku, Sayang." Salah satu tangan Aldri membeli lembut pipi Antika. Gadis itu memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan tersebut.
"Aku yang harusnya minta maaf. Pasti Darling kerepotan kan? Seharusnya semalam jadi momen bahagia, tapi aku malah menghancurkan semuanya." Atika menatap sedih Aldri.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu baik-baik saja, sayang. Nanti bisa kita ulang kencan kita saat kondisimu benar-benar sudah pulih." Kini kedua tangan Aldri menangkup wajah Antika. Pria itu bergerak mendekat lalu mencium kening Antika.
"Eum, Darling."
"Hmm?"
"Bukan kamu kan yang gantiin baju aku?" wajah Antika bersemu merah.
Aldri menatap gadis itu dan tersenyum. Seringai nakal muncul di benak Aldri untuk menggoda istrinya.
"Memang nya kenapa kalau aku yang mengganti pakaianmu?" Aldri mendekat dan berbisik di telinga Antika. " Kamu seksi dan cantik sekali."
Jantung Antika berdendang sedetik kemudian ia tersadar. "Ih, Darling mesum. Ambil kesempatan itu nggak baik lho." tangan Atika memukul lengan suaminya membuat pria itu tertawa lebar.
"Mana bisa disebut mengambil kesempatan kan kamu istriku." Aldri masih tertawa. Namun, sesaat kemudian rautnya berubah saat mendengar tanya Antika.
"Kalau begitu tidurlah di sini bersamaku." Aldri seketika membisu.
Keheningan sesaat berlalu ketika Indira datang membawa susu hangat untuk Antika. Kesempatan itu Aldri gunakan untuk menghindari tatapan Antika. Ia pun pamit beralasan untuk menunaikan Shalat Shubuh.
Aldri dapat melihat sekilas raut kecewa yang tergambar jelas di wajah Antika. Aldri mencoba tak mengacuhkan nya. Ia berjalan keluar ruangan lalu menyadarkan tubuhnya ke dinding. Isi kepalanya kini dipenuhi keraguan.
Maaf, Tika aku memang pengecut. Belum memiliki keberanian sebesar itu. Aku takut saat dekat bersamamu akan membuat hatiku semakin jatuh lebih dalam. Saat ingatanmu kembali aku tidak tahu apakah akan sanggup melepasmu.
Aldri berjalan menuju kamarnya. Ia mencoba mendinginkan kepala dengan kucuran air dingin. Saat ini pikirannya hanya tertuju kepada Antika. Hatinya kembali bimbang menimbang keputusan nya.
Aldri berpikir bahwa semakin sering Atika mendapatkan serangan ketakutan seperti semalam kemungkinan ingatannya kembali seutuhnya akan sangat besar.
Apa aku mampu menghadapi ini semua untuk kedua kalinya? Bahkan dengan orang yang hampir sama.
Aldri mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kantor. Pria itu sedang melamun memikirkan rentetan peristiwa semalam. lagi dan lagi keraguan itu muncul dalam benaknya. Aldri bukanlah tipe orang yang meragukan keputusan diri sendiri, tetapi jika menyangkut masalah Antika ia seperti tak mengenali dirinya sendiri. Prinsip hidup yang ia pegang teguh. 'Pantang mengingkari keputusan yang sudah diambil.' sama sekali tak berlaku bagi kasus Antika. Gadis itu membawa banyak perubahan dalam diri Aldri.
"Al, Al!"
"Hah, Iya Gi kamu ada apa?"
"Justru aku yang seharusnya bertanya begitu padamu. Ada apa? Sejak pagi tubuhmu di sini, tapi pikiranmu melayang melalang buana. Padahal kemarin sudah senyam senyum seperti wong edan. Hari ini sudah berubah lagi. Kamu benar masih waraskan, Al?"
"Masih dong, Gi. Tenang saja. Otakku masih waras. Yang tidak waras hanya hatiku."
"Cih! Sejak kapan kamu pandai menggombal begitu?"
"Entah lah. Mungkin sejak aku mengenal bayi mungil itu." Aldri mengusap wajahnya dengan kedua tangan
Egi terdiam, wanita itu tahu dengan pasti penyebab anehnya tingkah sahabatnya karena gadis itu. Akan tetapi ia sama sekali tidak menyangka Aldri akan dengan gamblang mengatakan hal itu.
Sejak mengenal pria itu, Egi menjadi salah satu saksi kisah cinta sang sahabat dan kali ini untuk kedua kalinya pria itu jatuh cinta. Egi dapat merasakan bahwa rasa cinta sahabatnya saat ini benar-benar terlampau dalam sedalam rasa cintanya pada lelaki pujaan hatinya.
Egi menghilang nafas. "Ada apa lagi? Kamu tahu aku bisa diajak sharing."
Aldri menatap Egi dan tersenyum. "Aku tau itu. Tapi kali ini aku bahkan tidak yakin masalah apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku."
"Apa kamu masih bimbang dengan keputusanmu menikahi Antika?"
Aldri terdiam. Ia tahu sahabatnya itu tidak akan mungkin untuk dibodohi. 'Kamu bener.'"
"Al, sudah berapa kali aku mengatakan padamu. Tidak ada yang salah dengan keputusanmu. Aku juga dapat memastikan Antika sangat mencintaimu. Aku bisa melihatnya dari caranya menatapmu. Perasaan marah saat melihatmu bersama wanita lain. Apa lagi yang masih kamu ragukan? Perasaan kalian sudah sama, Al "
"Justru itu masalahnya, Gi. Perasaan yang dimiliki Andika saat ini, bagiku seperti tidak nyata. Karena sebagian dirinya masih terkurung dengan masa lalu. Bahkan kemarin dia kembali mendapat mimpi buruk tentang si brengsek itu." Aldri menyandarkan punggungnya kesadaran kursi. Ia berputar arah memandang keluar jendela kantor nya.
"Jadi dia mengalami mimpi buruk lagi?"
"Iya."
"Apa dia menyebutkan namanya lagi?"
"Tidak."
"Bukan kah itu artinya pemuda itu sudah tidak berarti lagi? Hanya rasa sakit yang tersisa. Seharusnya kamu yang menjadi pengobat lukanya. Bukan nya malah meragukan perasaannya saat ini."
"Al kembalilah jadi dirimu sendiri. Aku tahu kamu bukan pengecut yang mengingkari keputusanmu sendiri. Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu putuskan. Jangan menggantung Antika ku seperti pria brengsek lainnya."
Egi berdiri dari posisi duduknya. "Jangan pernah memberikan harapan. Jika memang kamu tidak cinta putuskan sekarang juga. Aku sangat membenci pria abu-abu." Egi berjalan keluar ruangan dengan ekspresi muak.
Aldri menatap kepergian Egi dalam diam. Pria itu sangat mengenal Egi. ia memahami bahwa saat ini rasa marah yang ditunjukkan padanya berakar dari kisah cinta yang dialami Egi. Namun, tetap saja Aldri terasa tertampar dengan semua ucapan sahabatnya kali ini.
Aldri sengaja menyelesaikan semua urusannya lebih awal. Sejak kemarahan Egi tadi pagi, wanita itu enggan menghampiri Aldri. Ia memutuskan memberi kabar melalui ponselnya.
[ Aku pulang. Tolong selesaikan sisanya.]
Tak ada balasan dari Egi hanya saja Aldri tahu pesannya telah terbaca.
[ Terima kasih Gi. Aku akan berhenti menjadi brengsek dan pengecut. Dukung aku ok.]
Egi membalas dengan emoticon kepalan tangan yang seperti sebuah pukulan untuk Aldri. Pria itu tersenyum dan bergegas pulang.
Di rumah Aldri
"Tika, Kamu sedang apa sayang?" Indira mendekati Antika yang sedang duduk termenung dalam kamarnya.