NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Michelle berdiri di depan pintu ruang BK, kabar kalau Alvin dan Devis bertengkar di kelas sudah menyebar ke seluruh sekolah sampai Michelle pun tahu. Apalagi ada akun gosip sekolah terupdate yang selalu memuat berita-berita terbaru seputar kejadian di SMA Lentera Bangsa. Akun gosip seperti ini bisa menjadi teman sumber informasi sekaligus musuh pengusik privasi untuk semua pelajar di SMA Lentera Bangsa

Sekarang yang ada di pikiran Michelle hanya bagaimana keadaan Alvin saat ini, apa cowok itu luka, dan apa yang membuat Alvin berkelahi dengan si perusuh sekolah itu.

"Lo ngapain di sini?"

Michelle berbalik saat mendengar suara orang bertanya di belakangnya, tampak dua cowok dengan kemeja tidak dimasukan ke celana dan tidak rapi sedang menatapnya datar.

"Gu-gue ke sini karena Kak Alvin lah! Gara-gara temen lo berdua, Kak Alvin masuk BK!"

Azra berdecak mendengar jawaban Michelle. "Kebalik, yang ada karena lo mereka jadi masuk BK kayak gini!" balas cowok itu.

Michelle mendelik tidak suka. "Kenapa jadi gara-gara gue? Eh denger ya, temen kalian si Devis itu udah terkenal nakal dan pembuat onar. Kak Alvin itu nggak bakal marah kalau nggak diganggu, kadang diganggu aja dia masih diem. Pasti Devis ngomong macem-macem makanya Kak Alvin marah, kan?" cerocos cewek itu tanpa jeda, dan diakhiri dengan pertanyaan yang lebih terdengar seperti tuduhan.

"Kalau ngomong enteng banget ya," ujar Arga. "Mereka berdua emang berantem karena lo, gara-gara--" Kalimat Arga terhenti saat pintu ruangan terbuka, tiga remaja itu reflek menoleh ke arah pintu.

"Kak Alvin!"

Alvin berdiri di ambang pintu, tatapan dinginnya langsung tertuju pada Michelle yang membuat perasaan cewek itu sedikit kecewa.

"Kak Alvin nggak kenapa-napa?" tanya Michelle.

Alvin hanya menatapnya sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruang BK tanpa mengatakan apa pun.

"Lo bego apa gimana sih?"

Atensi Michelle teralih pada pintu ruang BK yang kini kembali tertutup, cowok dengan surai berantakan dan seragam tidak rapi sedang menatapnya seolah mengejek.

Michelle membalas tatapan itu dengan sorot kesal. "Lo kenapa sih bikin masalah mulu?!" tanyanya.

Devis memiringkan kepala. "Lo nggak lihat muka gue yang bonyok? Emang lo lihat ada luka di muka Alvin tadi?"

Michelle terdiam, ia tidak melihat luka apa pun di wajah Alvin. Bahkan cowok itu terlihat rapi dan baik-baik saja.

"Alvin yang mukul gue duluan," ujar Devis, berjalan menghadap Michelle.

Michelle menggeleng. "Nggak, nggak mungkin. Kak Alvin nggak sekurang kerjaan itu ya sampai nyelesaiin masalah pakek berantem!"

Devis malah tertawa. "Emang lo siapanya Alvin? Merasa kenal banget sama dia?" tanya cowok itu. "Gue yang sejak SMP sekelas sama dia aja nggak bisa nebak apa yang cowok itu pikirin dan apa yang bakal dia lakuin. Termasuk dia yang tadi tiba-tiba mukul gue. Apalagi lo yang baru mampir ke kehidupan dia?"

Perkataan Devis membuat Michelle terdiam, kata mampir yang cowok itu pakai seolah menjelaskan bahwa Michelle hanyalah orang asing yang kebetulan terlibat dengan seorang Alvin. Padahal yang sebenarnya terjadi, Michelle pernah bersama Alvin dan melewati masa kecil dengan cowok itu.

Tapi yang dikatakan Devis ada benarnya, banyak hal yang tidak Michelle tahu tentang Alvin sekarang. Termasuk fakta bahwa Alvin kini memakai kekerasan untuk mengatasi masalahnya.

Devis maju satu langkah semakin dekat dengan Michelle, membuat cewek itu reflek mundur. Cowok itu sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah cewek yang hanya setinggi dagunya itu.

"Banyak hal nggak terduga yang Alvin simpan, nggak semua yang terlihat adalah yang sebenarnya," ujar cowok itu. "Mungkin salah satu kebenarannya bakal bikin lo kecewa dan nyesel kenal dia suatu saat nanti."

Devis menegakkan posisi berdirinya, satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman miring. Sementara Michelle terdiam, membeku dengan perkataan Devis.

Kebenaran apa yang membuat Michelle bisa menyesal karena mengenal Alvin?

☆☆☆

"Emang ya makan es potong sore-sore begini enak banget," ujar Meyra sambil menikmati es potong rasa cokelat di tangannya.

Michelle menatap es potong miliknya tanpa minat, padahal beberapa sisi es itu mulai meleleh dan mengenai tangannya.

"Muka lo kenapa ditekuk begitu, Michel?" tanya Meyra.

Michelle tidak menjawab, cewek itu hanya menghela napas, lalu mengusap lelehan es potong di tangannya dengan tissue.

"Yang masalah tadi jangan dipikirin kali, lagian kan mereka pacaran, wajar aja mereka pulang bareng."

Perkataan Meyra membuat Michelle langsung menatap nyalang cewek itu, membuat Meyra terbatuk.

"Lihatnya biasa aja sih."

"Gue yang bikin mereka berantem."

Uhuk!

Meyra yang sedang menikmati es krim cokelatnya lantas tersedak karena perkataan Michelle, cewek itu menatap Michelle.

"Maksud lo?"

Michelle menghela napas. "Kabar heboh tadi di sekolah, Kak Alvin sama Kak Devis."

Kening Meyra berkerut, mengingat kehebohan apa yang tadi dibuat oleh dua Kakak kelas yang lumayan terkenal di kalangan Adik kelas itu.

"Oh, yang berantem tadi?"

Michelle mengangguk.

"Yakali gara-gara lo, mereka emang sering berantem kali Al. Tapi emang sih gue kaget waktu denger kabar kalau Kak Alvin yang mulai, biasanya juga Kak Devis yang cari masalah."

"Kan udah gue bilang kalau itu karena gue."

Meyra menyipitkan mata menatap Michelle. "Yakin banget lo, emang masalah apa?"

Michelle mengedikkan bahu. "Mungkin rebutan gue."

"NGIMPI LO!"

☆☆☆

"Baru aja yang kanan bekasnya ilang, udah dapet lagi, Lex?" tanya Bima saat Devis menghempaskan tubuh di atas sofa.

Devis langsung mendatangi markas Jaguar begitu pulang sekolah, padahal hari ini ada latihan futsal. Lagipula tidak ada gunanya dia datang, Devis sudah merasa dibuang karena namanya tidak dicantumkan di tim yang akan mewakili turnamen bulan depan.

"Dari muka-mukanya sih pasti abis berantem," komentar Juna, lalu duduk di sebelah Arya. Seperti biasa, di atas tumpukan ban bekas sambil menatap layar ponselnya.

"Lo kalau suka nge game jangan berlebihan begitu, Ar. Masa baru dateng langsung semedi di atas ban terus main game," ujar Bima pada cowok itu.

Arya melirik Bima. "Komentar aja lo, sini ikut main."

"Nggak lah, gue lebih baik ke belakang sama anak-anak, latihan."

"Sok banget lo biasanya cuma rebahan doang!" sahut Juna di samping Arya.

Bima mendesis. "Pinter dikit kek, mumpung ada Raka sama Reo nih gue mau pencitraan, siapa tau pangkat gue naik jadi panglima."

"Panglima pala lo lima!" damprat Reo. "Nggak ada panglima-panglimaan, sana lo kalau mau latihan-latihan aja!"

Juna tertawa melihat Reo mengusir Bima. "Emang paling bener lo rebahan aja deh Bim, nggak bakal ada yang ngomel. Kalau lagi bangun begini lo serba salah!"

"Iya emang, virus nista lo nular ke gue kayaknya," melas Bima.

"Kok gue, anjir" protes Juna.

"Soalnya lo yang biasa dinistain, tapi sejak lo nempel mulu sama Arya, jadi agak ringan beban lo," sahut Raka.

"Bukan ringan sih, tapi dilempar ke Bima, sekarang dia yang suka dipojokin anak-anak sejak ketahuan males-males waktu latihan sama Bang Arga," tambah Reo.

"Temen pada nggak ada akhlak lo pada! Dahlah capek banget gue."

"Akhirnya ngerasain jadi gue juga kan lo," ejek Juna.

Bima mengacungkan jari tengahnya, lalu keluar dari gedung ini ke lapangan belakang tempat teman-temannya sedang berkumpul.

Anggota jaguar memang lebih suka berkumpul di lapangan belakang karena ada pohon besar dan gazebo di tempat itu, cocok untuk berkumpul. Biasanya di tempat itu anak-anak Jaguar akan mengobrol santai dan merokok.

"Kebetulan banget ada Bima!" celetuk seorang cowok di gazebo.

Bima menghela napas. "Apa?" tanyanya malas.

"Beli gorengan dong, di warung biasa!"

"Wah sekate-kate lo! Lo pikir gue babu?!" protes Bima.

"Udah lupa lo kata bang Arga kemaren?"

"Ini si Bima harus dikasih kerjaan nih daripada rebahan doang," sahut cowok bersurai ikal sambil menirukan gaya bicara Arga kemarin, Arga adalah Kakak kelas mereka yang tergabung di Jaguar angkatan 10. Sementara Devis dan teman-temannya angkatan 11.

Bima mendesis. "Nggak ketua nggak wakil nggak anggota sama aja lo pada! Tega banget sama gue!"

"TAREK SESSSSS"

"MIE AYAM!"

Lalu suara tawa terdengar menggelegar dari lapangan belakang, suasananya sangat berbeda dengan suasana di dalam markas.

"Berantem sama siapa lo, Lex?" tanya Raka karena melihat lebam di pipi dan ujung bibir kanan Devis.

"Alvin lagi?" tanya Reo.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!