Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Kehidupan yang Mulai Tertata
Tiga hari bekerja di toko Ibu Yustin membuat tubuh Kirana pegal dengan cara yang hampir menyenangkan.
Ia berdiri berjam-jam, melipat pakaian, mencatat stok, menyapa pelanggan, membantu memilih ukuran, dan belajar mengingat wajah orang-orang yang hanya datang untuk melihat-lihat. Kakinya sakit setiap pulang, tetapi rasa sakit itu berbeda dari lelah mencari kerja. Kali ini, lelahnya punya hasil.
Pada hari ketiga, ia berhasil menjual lima set pakaian kerja.
Ibu Yustin menepuk meja kasir dengan puas. "Kamu punya mata bagus. Pelanggan percaya kalau kamu yang pilihkan."
"Mungkin karena saya tidak memaksa mereka membeli yang mahal."
"Itu justru bikin mereka balik."
Ningsih, staf paruh waktu yang biasa membantu saat jam ramai, ikut mengacungkan jempol dari dekat rak diskon. "Kak Kira, tadi ibu-ibu yang beli blazer sampai bilang mau balik sama adiknya."
Kirana menoleh. "Jangan berlebihan."
"Aku serius. Di toko ini jarang ada pelanggan minta nama staf. Biasanya mereka cuma minta diskon."
Ibu Yustin tertawa. "Kalau begitu, mulai besok kamu pegang pelanggan kantor. Banyak yang butuh baju rapi tapi tidak tahu memilih ukuran."
Kepercayaan kecil itu membuat Kirana takut sekaligus ingin menjaganya. Ia menulis catatan ukuran pelanggan di buku kecil, menandai model yang paling sering dicari, bahkan menyusun ulang rak kemeja agar mudah diambil saat jam pulang kantor.
Saat toko sepi, Ningsih duduk di bangku kecil dekat ruang ganti dan mengeluh tentang keluarganya. Gajinya bulan lalu hampir habis untuk membayar cicilan motor adiknya, sementara orang tuanya masih berkata anak laki-laki harus diprioritaskan.
"Kalau aku menolak, mereka bilang aku anak durhaka," kata Ningsih.
Kirana melipat rok panjang dengan gerakan pelan. "Membantu keluarga bukan berarti menyerahkan seluruh hidupmu."
"Mudah diucapkan."
"Tidak mudah dilakukan. Tapi kalau kamu tidak mulai membuat batas, mereka akan mengira kamu tidak punya batas."
Ningsih menatapnya lama. "Kak Kira bicara seperti orang yang sudah capek dimanfaatkan."
Kirana tersenyum tipis. "Karena memang begitu."
Percakapan itu membuat hubungan mereka berubah. Bukan lagi sekadar rekan toko, tetapi dua perempuan yang sama-sama belajar tidak meminta maaf karena ingin hidup untuk diri sendiri.
Menjelang tutup, Ningsih membantu Kirana menghitung display baru. Ia bergerak cepat, cerewet, dan beberapa kali membuat Kirana tertawa kecil dengan komentar tentang pelanggan yang menawar seolah sedang membeli tanah. Kehadiran Ningsih membuat hari kerja terasa lebih ringan.
"Besok makan siang bareng, ya," kata Ningsih.
"Kalau tidak ramai."
"Kalau ramai, makan berdiri juga bisa. Yang penting jangan sendirian terus."
Kirana tidak menjawab, tetapi ia mengangguk. Ajakan sesederhana itu mengingatkannya bahwa hidup baru bukan hanya soal pekerjaan dan bukti. Kadang juga soal punya seseorang yang menyisakan kursi di meja makan.
Pujian sederhana itu Kirana bawa pulang seperti membawa barang pecah belah. Hati-hati, takut jatuh, tetapi tidak ingin melepaskannya.
Di Cambridge Bay Residence, Leon sudah pulang lebih dulu.
Hal itu jarang terjadi.
Ia berdiri di dapur dengan lengan kemeja digulung, memandang panci seperti sedang membaca laporan keuangan yang rumit.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Mencoba memasak nasi."
Kirana melihat rice cooker yang belum dinyalakan. "Kamu sudah cuci beras?"
Leon diam.
"Aku anggap belum."
"Aku sedang mencari tahu tombol mana yang benar."
Kirana tidak bisa menahan tawa. "Sopir keluarga kaya tidak pernah memasak nasi?"
"Sopir ini punya kelemahan."
"Banyak."
"Kamu baru tahu sebagian."
Percakapan ringan itu membuat ruangan terasa lebih hidup. Kirana mengganti baju, lalu kembali ke dapur. Mereka memasak bersama: ia mencuci beras dan memotong sayur, Leon mengupas bawang dengan serius berlebihan sampai matanya merah.
"Kalau tidak bisa, jangan dipaksa."
"Aku bisa."
"Matamu berair."
"Ini strategi bawang untuk melemahkan lawan."
Kirana tertawa lagi.
Leon menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk. Belakangan, ia mulai memahami bahwa tawa Kirana tidak datang mudah. Jika muncul, ia harus membiarkannya hidup tanpa disentuh komentar berlebihan.
Saat makan malam, Kirana bercerita tentang Ibu Yustin, pelanggan yang membeli blazer, dan komisi kecil yang mungkin ia dapat minggu depan. Ia tidak menyadari betapa banyak ia bicara sampai Leon berhenti makan dan hanya mendengarkan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Lanjutkan."
"Aku terlalu banyak bicara?"
"Rumah ini lebih baik kalau ada suaramu."
Kirana menunduk cepat, mengambil air minum. "Kamu mulai pandai bicara berbahaya."
"Aku hanya menjawab jujur."
"Lebih berbahaya lagi."
Di tengah kehangatan kecil itu, ponsel Leon bergetar.
Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah sangat halus. Namun Kirana kini mulai mengenal perubahan kecil itu: rahang mengeras, tatapan turun sebentar, suara menjadi lebih tenang.
"Pekerjaan?" tanya Kirana.
"Iya."
"Dari Pak Nathaniel?"
"Berkaitan dengannya."
Leon berjalan ke balkon untuk menerima panggilan. Kirana tidak menguping, tetapi beberapa kata terbawa angin: lokasi, perempuan tua, belum stabil, kantor polisi.
Jantung Kirana langsung bergerak cepat.
Ketika Leon kembali, ia tidak langsung duduk.
"Ada kabar?" tanya Kirana.
Leon menatapnya. Kali ini, ia tidak memberi jawaban setengah.
"Mungkin tentang Nio."
Sendok Kirana jatuh ke piring.
"Apa maksudmu mungkin?"
"Orang yang membantuku menemukan petunjuk. Belum pasti, jadi aku tidak mau membuatmu berharap terlalu tinggi."
"Di mana?"
"Besok kita ke kantor polisi. Ada perempuan lansia yang ditemukan di sekitar permukiman padat. Namanya belum jelas, ingatannya kacau, tapi ciri-cirinya mirip."
Kirana berdiri begitu cepat kursinya terdorong ke belakang.
"Besok? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena petugas baru bisa mempertemukan keluarga besok pagi. Malam ini dia sudah ditempatkan sementara dan diperiksa dasar."
Kirana mondar-mandir di ruang makan. Tangannya menutup mulut, bukan untuk menahan tangis, melainkan untuk menahan jeritan harapan yang terlalu dini.
"Kalau itu bukan dia?"
"Maka kita cari lagi."
"Kalau itu dia?"
Leon mendekat, tetapi berhenti sebelum terlalu dekat. "Maka kita bawa dia pulang dengan cara yang aman."
Kirana menatapnya. Semua pertanyaan tentang rahasianya, tentang siapa sebenarnya dia, tentang bagaimana ia bisa mendapatkan informasi secepat itu, menumpuk di ujung lidah. Namun malam ini, hanya satu hal yang penting.
"Terima kasih," katanya pelan.
Leon mengangguk. "Tidur lebih awal. Besok kamu butuh tenaga."
Kirana tahu ia tidak akan bisa tidur.
Malam itu, ia duduk di tepi ranjang sambil memegang foto lama Nio. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, harapan tidak terasa seperti pisau.
Ia tidak berani memeluk harapan itu terlalu erat, tetapi ia juga tidak sanggup melepaskannya begitu saja malam ini.
Di ruang tamu, Leon mengirim pesan singkat kepada Leo.
Pastikan petugas siap. Jangan biarkan nama Nathaniel muncul di depan Kirana.
Belum.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔