Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Suap Gagal
Seminggu berlalu tenang setelah malam Salim mengaku di depan kami semua—terlalu tenang, jenis ketenangan yang, dari pengalaman panjangku hidup di Karang Wetan, biasanya jadi tanda sesuatu yang lebih buruk sedang disiapkan di balik layar.
Aku merasakannya pertama kali waktu pulang dari pertemuan dengan Pak Wisnu, larut malam seperti biasa, menyusuri jalan pintas yang selama ini kuanggap aman karena jarang dilalui orang. Malam itu, entah kenapa, instingku terus memberi sinyal waspada, sama seperti malam waktu aku merasa diikuti mobil hitam beberapa bulan lalu.
Aku memperlambat langkah, memperhatikan bayangan di sekitar gang yang biasanya kosong. Tepat waktu aku berbelok di pertigaan sempit dekat bekas pabrik yang sudah lama tidak beroperasi, dua sosok muncul tiba-tiba dari balik tembok, gerakan mereka cepat dan terlatih—jauh berbeda dari gaya bertarung kasar Dulmatin atau anak buah Broto lainnya yang pernah kuhadapi.
---
Aku hampir tidak sempat bereaksi waktu salah satu dari mereka melayangkan pukulan pertama, mengenai rahangku dengan keras hingga aku terhuyung ke dinding. Rasa sakit menjalar cepat, tapi insting bertahan yang sudah terasah bertahun-tahun hidup waspada di gang-gang ini membuat tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku sendiri—aku menghindar dari pukulan kedua, membalas dengan sikutan kasar yang cukup membuat salah satu penyerang itu terhuyung mundur.
Tapi mereka berdua, bukan satu, dan aku sendirian.
Pukulan demi pukulan datang bergantian, dan aku hanya bisa bertahan sebisa mungkin, mencoba mencari celah untuk lari sambil merasakan tubuhku semakin lemas oleh rasa sakit yang menumpuk. Salah satu dari mereka sempat berbisik, cukup jelas untuk kudengar di tengah kekacauan itu—"Ini titipan dari Pak Bupati, biar kamu belajar sopan"—kalimat yang, meski diucapkan singkat, cukup untuk memastikan siapa dalang sebenarnya di balik serangan ini.
Aku nyaris kehilangan kesadaran waktu terdengar suara motor mendekat dengan kecepatan tinggi, disusul teriakan yang sangat kukenali.
"RANGGA!"
Ujang, yang ternyata sejak beberapa hari terakhir diam-diam mengikutiku dari kejauhan setiap malam tanpa memberitahuku—kebiasaan yang belakangan aku tahu ia mulai lakukan sejak insiden mobil hitam dulu, karena instingnya sendiri juga merasa ada yang tidak beres—menerjang salah satu penyerang dengan motornya, membuat kekacauan yang cukup untuk membuat kedua orang itu akhirnya kabur, meninggalkan aku terkapar di tanah dengan tubuh penuh memar dan luka.
---
Aku terbangun di gudang cadangan dekat terminal lama, dengan Sari yang sedang membersihkan luka di keningku menggunakan kain basah, wajahnya tegang menahan air mata yang nyaris jatuh.
"Kamu untung banget Ujang nekat ngikutin kamu diam-diam," katanya, suaranya bergetar. "Kalau nggak..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu apa yang ingin ia katakan.
Yanto berdiri di sudut ruangan, wajahnya keras menahan amarah yang jarang kulihat sekeras itu. "Ini bukan lagi soal nakut-nakutin, Rangga. Ini percobaan pembunuhan. Mereka udah nggak peduli lagi sama opini publik."
Aku mencoba duduk meski tubuhku terasa remuk di banyak tempat, mengingat kembali kata-kata yang dibisikkan salah satu penyerang itu. "Mereka bilang ini titipan dari Bupati langsung. Bukan cuma Baskoro lagi."
Ruangan itu hening sesaat, semua orang mencerna beratnya informasi itu. Selama ini, meski kami tahu Hardian dan Baskoro saling melindungi, ada semacam jarak formal yang mereka jaga—Baskoro yang bergerak di lapangan, Hardian yang bermain di level kebijakan dan hukum. Tapi kalau Hardian sendiri sekarang memerintahkan kekerasan fisik langsung, itu berarti mereka sudah membuang topeng yang selama ini mereka pakai.
---
"Aku nolak tawaran dia," kataku pelan, lebih ke diriku sendiri. "Dan ini balasannya."
"Ini bukan salah kamu," kata Sari cepat, menatapku tegas. "Ini nunjukkin siapa mereka sebenarnya. Orang yang bisa nyuap sekaligus nyuruh orang buat mukul kamu setengah mati kalau nolak, itu bukan orang yang peduli sama hukum atau keadilan. Itu orang yang cuma peduli sama kekuasaan dia sendiri."
Aku menatap langit-langit gudang yang temaram, merasakan setiap bagian tubuhku yang sakit, tapi juga merasakan sesuatu yang lain—tekad yang, alih-alih melemah karena serangan ini, justru semakin mengeras.
"Kalau mereka pikir mukul aku setengah mati bakal bikin aku mundur," kataku, suaraku serak tapi mantap, "mereka salah besar. Ini cuma bikin aku makin yakin, kita harus buktiin semua yang mereka lakuin ini ke publik—bukan cuma soal proyek yang korup, tapi soal mereka yang siap pakai kekerasan buat bungkam siapa aja yang berani lawan."
Ujang, yang duduk di sampingku dengan wajah masih pucat dari kejadian tadi, menatapku serius. "Bang, kita harus lebih hati-hati sekarang. Mereka udah nunjukkin, mereka nggak akan berhenti di ancaman doang lagi."
Aku mengangguk pelan, menyadari bahwa malam itu menandai perubahan besar dalam pertarungan kami—dari perang opini dan strategi hukum yang selama ini kami jalani dengan hati-hati, menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan personal, di mana nyawaku sendiri sekarang jadi taruhan yang nyata, bukan lagi sekadar ancaman di atas kertas.
---
*(Bersambung ke Bab 26)*