Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"Ini apa lagi Dil? Kenapa jaringan internet di rumah ini tiba - tiba mati?" Tanya Irfan lagi.
"Ya jelas mati dong mas kalau kamu gak bayar, siapa juga yang mau ngasih jaringan wifi gratis!" Jawab Nadila.
"Dil, kita ini suami istri, apa salah nya kalau kamu bantu dengan membayar tagihan di rumah ini?" Irfan menjambak rambut nya sendiri.
"Sebelum kamu bicara seperti itu, harus nya kamu tanya sama diri kamu sendiri mas. Selama bertahun - tahun kita menikah, siapa yang membayar semua nya?. Aku mas, hanya aku. Dan kau tidak tahu dari mana uang yang aku pakai buat bayar semua itu, tapi apa balasan nya? Kau malah mengkhianati aku dengan wanita ini. Jadi mulai sekarang silahkan minta pada wanita ini untuk membayar smeua tagihan di rumah ini, termasuk cicilan rumah ini!" Ujar Nadila dengan geram.
"Sudah lah Dil, ayo kita pergi. Tidak ada guna nya bicara sama orang tidak tahu seperti mereka!" Mama Nilam menarik tangan anak nya agar pergi dari sana.
"Semua kewajiban ku di rumah sudah aku serahkan pada Rani, jadi siapkan layani dan siapkan semua kebutuhan suami mu dengan baik!" Sebelum pergi, Nadila menyempatkan diri untuk bicara pada madu nya itu.
Nadila dan Mama Nilam segera pergi dari rumah itu, mereka meninggal kan semua permasalahan yang tengah di hadapi oleh Irfan saat ini. Irfan sangat kesal sekarang, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Uang tabungan nya tinggal sedikit lagi, karena tadi malam sebagian dia sudah kirim kan pada Rani. Irfan tidak bisa membiarkan istri dan anak nya kelaparan, ketika dia sedang tidak berada di rumah.
"Mas, bagai mana ini?" Tanya Rani menyentuh pundak Irfan.
"Aku harus kerja Rani, kamu tolong siapkan pakaian kerja ku!" Irfan berkata dengan suara lirih.
"Mas, aku tidak bisa, aku kan lagi hamil!" Rani menolak perintah Irfan.
"Rani, jika bukan kau yang menyiapkan nya lalu siapa lagi? Nadila sudah tidak mau mengurus nya lagi, kau adalah istri ku, penuhi tugas mu!" Irfan berkata dengan nada tinggi.
Rani terkejut mendengar nya, dia tidak menyangka Irfan akan membentak nya. Selama ini tidak pernah sekalipun Irfan berbicara dengan nada kasar pada nya, tapi pagi ini gara - gara Nadila Irfan jadi membentak nya.
"Jangan cuma bengong Rani, cepat siapkan. Aku bisa telat ke kantor!" Kembali Irfan membentak Rani.
Rani tidak ingin membuat Irfan semakin marah, dia langsung menyetrika kemeja dan celana bahan milik Irfan. Irfan memakai nya dengan cepat, dia lalu bergegas berangkat ke kantor.
"Mas, kamu tidak sarapan dulu?" Tanya Rani.
"Tidak, aku bisa terlambat jika sarapan di rumah!" Jawab Irfan cepat.
Irfan bergegas melajukan motor nya menuju ke kantor, dia tidak ingin terlambat lagi. Karena kemarin di baru saja mendapat surat peringatan sebab datang terlambat.
Sementara Rani saat ini sedang kesal pada Nadila, karena tidak ada jaringan internet di rumah ini. Nadila sengaja tidak membayar nya, dia ingin agar Irfan sendiri yang mengurus semua pengeluaran di rumah ini.
******
Setelah makan siang, Nadila mengistirahatkan tubuh nya sejenak. Pinggang nya terasa pegal, karena sejak tadi dia mengerjakan sendiri baju - baju pesanan pelanggan nya.
Dreettt, dreettt, dreettt.
Ponsel Nadila berdering, Nadila melihat siapa yang menelepon nya. Setelah di lihat, ternyata yang menelepon nya adalah Anisa, teman semasa kuliah nya.
"Hallo Nis,,,!" Sapa Nadila melalui sambungan telepon.
"Hallo Dil, gimana kabar mu?" Tanya Anisa dari seberang sana.
"Baik Nis, gimana kabar kamu?" Nadila balik bertanya.
"Alhamdulillah, aku baik - baik saja. Oh ya Dil, aku lagi di jalan ni mau ke butik mu!" Ujar Anisa dari seberang sana.
"Oh ya, kebetulan banget saat ini aku ada di butik!" Jawab Nadila.
"Ya udah, kita ketemuan di sana saja ya, tungguin aku ya!" Ucap Anisa lagi.
"Ok deh!" Ucap Nadila.
Klik, sambungan telepon pun terputus. Anisa adalah teman dari SMA nya Nadila hingga di bangku kuliah, hanya saja saat ini Anisa memilih menjadi ibu rumah tangga seutuh nya, karena sang suami tidak mengizin kan dia bekerja lagi.
Nadila bergegas turun ke bawah, sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan perempuan itu. Dia ingin menyambut kedatangan sahabat nya itu.
"Hai Dil,,,,!" Sapa Anisa saat baru saja membuka pintu butik nya Nadila.
"Nisa, aku kangen banget sama kamu!" Nadila pun memeluk erat tubuh sahabat nya itu.
"Kamu tambah cantik saja!" Ujar Anisa.
"Bumil ini juga semakin cantik kok!" Puji Nadila sambil mengelus perut sang sahabat.
Anisa hamil anak pertama nya di usia ke 5 tahun pernikahan nya setelah mengikuti program kehamilan, itu lah sebab nya sekarang suami nya meminta nya untuk berhenti bekerja.
"Kita ke atas saja yuk, ngobrol di ruangan ku!" Ajak Nadila.
"Ayuk, aku juga pengen cerita banyak hal sama kamu!" Anisa setuju dengan usul Nadila.
Kedua sahabat itu segera naik ke lantai 2, Nadila sangat senang bisa bertemu dengan Anisa lagi.
"Mau minum apa Nis?" Tanya Nadila.
"Apa aja boleh!" Jawab Anisa.
Nadila langsung menelepon karyawan nya, pantry memang ada di bawa. Nadila memang sengaja menyiapkan dapur di bagian bawah agar karyawan nya bisa membuat minum sesuai selera mereka masing - masing.
"Dil, tuk ikutan program kehamilan. Biar anak kita nanti bisa tumbuh bareng!" Ajak Anisa.
"Tidak Nis,,!" Nadila mengelengkan kepala nya.
"Loh kenapa Dil?" Tanya Anisa heran.
Belum sempat Nadila menjawab, pintu ruangan nya di ketuk. Karyawan nya yang datang mengantarkan minuman dingin untuk mereka, setelah itu dia langsung pergi.
"Dil, kamu kenapa? Kok kamu jadi sedih gitu?" Tanya Anisa sambil menggenggam tangan sahabat nya.
"Mas Irfan tidak bisa punya anak, Nis!" Jawab Nadila lirih.
"Ya Ampun Nadila, benarkah itu?" Tanya Anisa.
"Betul Nis, tapi bukan itu yang membuat aku sedih!" Ucap Nadila lagi.
"Nadila, apa yang terjadi? Ceritakan semua nya sama aku!" Pinta Anisa dengan lembut.
Nadila menghela nafas berat, lalu dia menceritakan semua hal yang terjadi di dalam rumah tangganya. Hasil tes kesehatan Irfan yang mandul, di tambah lagi dengan perselingkuhan suami nya dengan Rani.
"Jika saja mas Irfan tidak selingkuh, mungkin aku masih bisa menerima nya. Mengenai masalah anak, kita bisa adopsi saja. Tapi sekarang aku tak berniat untuk meneruskan biduk rumah tangga ini!" Ujar Nadila kemudian.
"Astaga Dil, Irfan benar - benar keterlaluan. Lalu anak siapa yang ada di kandungan Rani, jika Irfan tidak bisa punya anak?" Tanya Anisa penasaran.
"Aku tidak tahu Nis, bahkan Rani sendiri tidak tahu siapa ayah dari bayi nya!" Nadila berkata lagi.
Nadila lalu mengeluarkan rekaman suara Rani sendiri, yang dia dapat kan tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu. Anisa sangat geram mendengar nya, dia tidak menyangka sahabat nya akan mengalami nasib seperti ini.
mungkin arsen gk megang perusahaan jd gk tau apapun ttg bpk nya 🤣.
berarti Arsen gk punya kuasa. bpk nya sampe beli rumah buat gundik dia gk tau. berarti perusahaan seratus persen yg nangani bpk nya.
Arsen berarti gk punya kedudukan 🤣 Dan kuasa sama sekali.