"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Batasan yang Kian Samar
Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam itu akhirnya mati setelah terparkir sempurna di area basement privat penthouse. Sepanjang perjalanan dari tempat pertemuan rahasia, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Ketegangan konstan yang tercipta di dalam kabin mobil tadi kini terbawa hingga mereka melangkah masuk ke dalam sangkar emas di lantai teratas gedung superblok ini.
Viona Adeline berjalan selangkah di belakang Arkan Mahendra. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi terasa berat, menahan lelah fisik dan beban mental yang kian menumpuk akibat status kehidupan gandanya. Begitu pintu utama penthouse tertutup rapat, Arkan langsung melepas jas hitamnya dan melemparkannya ke atas sofa tanpa menoleh sedikit pun pada Viona.
"Masuk ke kamarku," perintah Arkan mutlak, suara baritonnya yang rendah bergema di ruangan yang sepi.
Viona menghentikan langkahnya di ruang tengah. Ia menatap punggung tegap pria setinggi 187 cm itu dengan tatapan sendu. Gelang berlian di pergelangan tangannya terasa begitu dingin, seolah terus mengingatkan posisinya sebagai wanita kontrak yang harus selalu patuh.
"Apakah tidak ada hal lain yang bisa kita bicarakan selain pemenuhan kontrak, Tuan Mahendra?" tanya Viona dengan keberanian yang tersisa. Suaranya bergetar, namun ia menolak untuk terlihat rapuh di depan pria yang selalu mendominasi hidupnya ini.
Arkan membalikkan badannya perlahan. Rahang tegasnya mengeras, dan sepasang mata hitam kelamnya menatap Viona dengan pandangan mengintimidasi yang begitu pekat. Pria berusia 29 tahun itu melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka dengan ritme yang konstan hingga aroma maskulinnya kembali mengepung indra penciuman Viona.
"Bicara?" Arkan mendengus dingin, sebuah senyuman miring yang meremehkan terukir di bibir kokohnya. "Hubungan kita dibangun di atas transaksi bisnis, Viona. Ratusan juta yang kukeluarkan untuk membiayai pengobatan ibumu dan melunasi utang keluargamu bukan untuk menjadikanku teman mengobrolmu. Jangan pernah mencoba melewati batasan kontrak yang sudah kita sepakati bersama."
Kata-kata tajam itu menghunjam tepat di ulu hati Viona, memicu rasa sakit yang luar biasa. Drama penuh air mata atau angst dalam hidupnya seolah tidak pernah berakhir semenjak ia memutuskan membuang harga dirinya demi menyelamatkan ibunya dari kejaran rentenir. Namun, di balik rasa terhina itu, ada denyut nyeri lain yang jauh lebih menyiksa: rasa cemburu yang membakar hatinya setelah melihat Arkan bersama Clarissa siang tadi di kantor.
Viona tersenyum getir, mencoba menyembunyikan kerapuhan hatinya di balik keteguhan palsu. "Saya paham. Anda tidak perlu terus-menerus mengingatkan saya tentang harga diri saya yang sudah terjual ini, Tuan."
Melihat tatapan mata bulat besar Viona yang tampak sendu namun tetap memancarkan pembangkangan, sesuatu di dalam dada Arkan bergejolak panas. Ego dan sifat posesif sang CEO langsung terbakar. Ia tidak suka melihat Viona menarik jarak yang begitu tegas, seolah wanita itu sama sekali tidak memiliki keterikatan emosional dengannya. Arkan mencengkeram dagu Viona dengan jari-jarinya yang kokoh, memaksanya menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es.
"Jika kau sudah tahu posisimu, maka bertingkahlah selayaknya milikku sepenuhnya, Viona," bisik Arkan posesif tepat di depan bibir wanita itu, menuntut kepatuhan mutlak.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Viona untuk membantah, Arkan langsung menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukan dominannya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sarat akan tuntutan, kecemburuan, dan gairah yang membara. Viona sempat mencoba mendorong dada bidang Arkan, namun kekuatan fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan proporsi tubuh atletis sang CEO yang mengurungnya tanpa celah. Perlahan, pertahanan diri Viona runtuh, tenggelam dalam kehangatan terlarang yang kian mengaburkan batasan di antara benci dan cinta.
Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan seperti biasa. Di siang hari yang terik, Viona kembali menjadi staf administrasi junior biasa di Divisi Manufaktur Mahendra Group yang tidak kasat mata. Ia duduk di kubikelnya, menatap tumpukan laporan inventaris dengan pandangan yang sesekali kosong. Tanda kemerahan di lehernya kembali tersembunyi rapat di balik kerah kemeja kerjanya yang dikancing tinggi.
"Viona, kau sudah lihat berita di portal media internal siang ini?" tanya seorang rekan kerja dari kubikel sebelah, membuyarkan lamunan getir Viona.
Viona menoleh pelan. "Berita apa?"
"Foto-foto kunjungan Nona Clarissa ke kantor kemarin sudah resmi dirilis oleh divisi humas. Lihat ini, mereka berdua terlihat sangat serasi saat makan siang bersama keluarga besar Mahendra. Banyak yang berspekulasi kalau pertunangan resmi mereka akan segera diumumkan ke publik bulan depan." Rekan kerjanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan foto Arkan yang sedang berjalan berdampingan dengan Clarissa—pemandangan yang sama persis dengan yang Viona saksikan langsung kemarin.
Dada Viona mendadak terasa dihantam oleh godam besar. Rasa sesak dan penderitaan emosional kembali merayap naik, mencengkeram hatinya tanpa ampun. Ia dipaksa menelan pil pahit melihat pria yang diam-diam telah mencuri hatinya itu bersanding dengan wanita lain yang berderajat sama di mata publik. Viona buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer, mencoba menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
"Mereka memang sangat cocok," ucap Viona dengan suara sepelan bisikan, memaksakan senyuman manis yang terasa sangat hambar di bibirnya.
Sisa hari itu berjalan dengan sangat lambat bagi Viona. Begitu jam pulang kantor tiba, ia segera mengemasi barang-barangnya, ingin cepat-cepat keluar dari gedung yang terus-menerus mengingatkannya pada posisinya yang terhina. Namun, saat ia melangkah keluar dari lobi utama Mahendra Group menuju area halte, sebuah mobil sedan perak tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil diturunkan, menampilkan sosok Reno yang menatapnya dengan pandangan penuh kecemasan dan luka. "Viona! Tolong, ikut aku sebentar. Kita perlu bicara tanpa ada gangguan dari CEO-mu itu," ucap Reno setengah memohon.
Jantung Viona bertalu kencang. Ketakutan besar seketika menyergapnya saat mengingat ancaman kejam Arkan di malam perjamuan bisnis lalu. Arkan tidak pernah main-main dengan ucapannya untuk menghancurkan hidup siapa saja yang berani mendekatinya.
"Reno, aku mohon pergilah. Jangan pernah menemuiku lagi di sini atau di mana pun," ucap Viona panik, matanya melirik cemas ke sekeliling area kantor. "Hubungan kita sudah selesai, dan aku baik-baik saja dengan kehidupanku yang sekarang."
"Kau tidak baik-baik saja, Vio! Aku melihat bagaimana cara pria itu memperlakukanmu malam itu. Dia mengendalikanmu bagai barang pajangan! Jika kau butuh uang, aku bisa membantu—"
"Kau tidak tahu apa-apa, Reno!" potong Viona dengan suara tertahan, air mata mulai menggenang di matanya. "Tolong pergilah sebelum semuanya terlambat."
Tanpa menunggu jawaban Reno, Viona berbalik dan berjalan cepat membaur di antara kerumunan karyawan lain yang hendak pulang, meninggalkan mantan kekasihnya yang terpaku di dalam mobil dengan kekecewaan mendalam.
Malam harinya, suasana di dalam penthouse terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Arkan rupanya sudah kembali lebih awal dan sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memegang tabletnya. Begitu Viona melangkah masuk, aura dingin dan mengintimidasi langsung menyelimuti ruangan.
Arkan meletakkan tabletnya ke atas meja dengan benturan yang cukup keras. Mata hitam kelamnya menatap Viona dengan kilat kemarahan yang membara.
"Seseorang mengirimkan foto ini padaku sore tadi," ucap Arkan dengan nada suara rendah yang sangat berbahaya. Ia membalikkan layar tabletnya, menampilkan foto Viona yang sedang berdiri di dekat mobil sedan perak milik Reno di depan lobi kantor beberapa jam yang lalu.
Viona memucat sempurna, tubuhnya membeku di tempat. Seseorang memotretnya secara diam-diam, memicu risiko rahasia hubungan kontrak mereka terancam terbongkar.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk tidak berinteraksi dengan pria itu lagi, Viona?" Arkan berdiri, langkah kakinya yang tegap mendekati Viona dengan kecepatan yang mengintimidasi. Sifat posesif dan cemburunya yang tinggi membuat pria itu kehilangan kontrol isunya. Ia mencengkeram kedua bahu Viona dengan kuat, menuntut penjelasan. "Kau mencoba bermain api di belakangku dengan memanfaatkan masa lalumu?"
"Saya tidak menemuinya, Tuan! Dia yang tiba-tiba datang dan saya sudah memintanya pergi!" bantah Viona sekuat tenaga, air matanya akhirnya luruh melewati pipinya yang putih bersih. "Kenapa Anda selalu menuduh saya tanpa mau mendengar penjelasan saya?"
"Karena kau adalah milikku, Viona! Di dalam sangkar emas ini, kau tidak punya hak untuk memikirkan atau melihat pria lain!" bentak Arkan, egonya yang angkuh menolak mengakui bahwa kemarahannya didasari oleh ketakutan mendalam akan kehilangan wanita di depannya.
Arkan menarik Viona kasar ke dalam dekapan dadanya, mengabaikan tangisan wanita itu. Di sudut tergelap penthouse, di tengah badai kecemburuan dan ego masing-masing, batasan hubungan kontrak mereka kian samar, menyisakan gairah membara yang mengikat mereka semakin erat dalam jerat yang tak kasat mata.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.