Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Dunia Terang dan Kembalinya Sang Iblis
"Kau... kau sudah tahu?"
Suara Inspektur Arya terdengar lebih mirip rintihan daripada sebuah bentakan. Pistol *revolver* di tangannya kini bergetar hebat. Pria paruh baya yang telah memakan asam garam dunia kriminal itu menatap putrinya dengan tatapan kosong, seolah seluruh tulang di tubuhnya baru saja diloloskan.
"Sejak kapan, Aluna? Sejak kau disandera di ruang sidang itu?!" bentak Inspektur Arya, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Kau membohongi hukum! Kau membohongi negaramu! Kau membohongi... ayahmu sendiri?!"
Air mata Aluna mengalir deras membasahi gaun pengantin putihnya. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah moncong senjata ayahnya, tidak gentar sedikit pun.
"Aku minta maaf, Ayah," isak Aluna, suaranya bergetar namun sarat akan keteguhan. "Aku membuang semuanya sejak malam di markas bawah tanah itu. Hukum dan keadilan tidak bisa menolongku dari rasa sakit kehilangan dia. Tembak aku, Ayah. Kalau Ayah ingin menghukum iblis ini, Ayah harus menembus jantungku lebih dulu!"
"Jangan gila, Aluna!" jerit Inspektur Arya.
Tiba-tiba, sepasang tangan besar dan kokoh mencengkeram bahu Aluna dari belakang, lalu menarik wanita itu dengan tenaga yang tak bisa dilawan. Arjuna melangkah maju, memosisikan tubuh besarnya tepat di depan Aluna, menutupi istrinya sepenuhnya dari jangkauan laras pistol sang Inspektur.
Wajah "Arkanza Dirgantara" yang ramah dan hangat itu telah lenyap tanpa sisa. Di bawah temaram lampu paviliun, yang berdiri di sana kini adalah Baskara murni—sang monster bawah tanah yang dingin, kejam, dan tak tersentuh.
"Jangan pernah menggunakan tubuhmu sebagai tameng hidupku, Na," desis Arjuna rendah kepada Aluna tanpa menoleh ke belakang.
Arjuna lalu menatap lurus ke dalam mata Inspektur Arya. Pria itu melebarkan kedua lengannya, memberikan dada bidangnya sebagai target terbuka.
"Tarik pelatuknya, Inspektur," tantang Arjuna, suaranya sedingin es. "Kau sudah memburuku bertahun-tahun. Kini buronan nomor satumu berdiri tanpa senjata di hadapanmu. Akhiri tugasmu malam ini."
Tangan Inspektur Arya semakin bergetar. Ia menatap pria yang satu jam lalu ia beri restu, pria yang ia percayai untuk menjaga putri tunggalnya. "Kau menjebaknya, Baskara... kau mencuci otak putriku!"
"Aku tidak pernah memaksanya," jawab Arjuna tajam. "Tapi kau benar, aku adalah monster yang merusak hidupnya. Dan sekarang, ayahku—Raja Mafia yang sesungguhnya—telah memotong satu-satunya jalan keluarku untuk hidup bersih. Dia membocorkan identitasku padamu agar aku kembali ke dunia gelapnya."
Arjuna melangkah satu tindak mendekati moncong pistol.
"Tembak aku, Arya Larasati. Tembak!" bentak Arjuna menggelegar, memancing amarah mertuanya. "Tapi ketahuilah, jika aku mati malam ini, putri yang sangat kau cintai itu akan hidup dalam neraka penyesalan, dan ia akan membencimu seumur hidupnya!"
Inspektur Arya memejamkan mata. Jeritan batinnya bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia adalah seorang perwira yang bersumpah pada negara. Namun, di hadapannya adalah pria yang baru saja menikahi putrinya—pria yang menjadi satu-satunya alasan putrinya bisa tersenyum lepas.
Belum sempat Inspektur Arya mengambil keputusan, suara tepuk tangan pelan bergema dari arah pintu masuk paviliun.
**Prok... prok... prok.**
Ketiga orang itu menoleh secara serentak.
Dari balik bayangan, muncullah Sang Raja Mafia, berjalan santai dengan tongkat berukir naga di tangan kanannya. Di belakang pria tua itu, belasan pria berpakaian hitam taktis telah mengepung paviliun kaca, puluhan titik laser merah dari *sniper* menyapu dada Inspektur Arya dari arah luar jendela.
"Pertunjukan yang sangat menyentuh," kekeh Sang Raja dengan suara beratnya yang menggema. "Keluarga yang hancur di malam pernikahan. Benar-benar opera yang indah."
"Kau..." Inspektur Arya mengarahkan senjatanya pada pria tua itu, namun sadar ia kalah jumlah dengan telak.
"Turunkan senjatamu yang menyedihkan itu, Polisi," titah Sang Raja dengan nada meremehkan. Pria tua itu menatap Arjuna, menyeringai penuh kemenangan. "Sudah kubilang, Arjuna. Dunia terang ini bukan tempatmu. Keadilan itu palsu. Cinta yang bersih itu ilusi. Pada akhirnya, darah Baskara akan selalu membawamu pulang ke lubang hitam."
Arjuna mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Rahangnya mengeras. Ia telah kalah dalam permainan catur ayahnya.
Sang Raja beralih menatap Aluna yang bersembunyi di balik punggung lebar Arjuna.
"Dan kau, Hakim Ketua," seringai Sang Raja semakin lebar. "Selamat datang secara resmi di keluargaku. Kau pikir kau bisa mengeluarkannya dari kerajaanku? Tidak. Akulah yang menarik kalian berdua kembali. Sekarang, kau bukan lagi penegak hukum. Kau adalah istri dari buronan paling dicari di negara ini."
"Jangan sentuh dia!" geram Arjuna, bersiap menerjang ke depan.
"Tenang, Putraku. Aku tidak akan membunuhnya... selama kalian berdua patuh," Sang Raja menjentikkan jarinya. Para pengawalnya mulai bergerak maju. "Waktu bermain-main menjadi pengusaha legal sudah habis. Bisnis kita di Eropa sedang kacau. Malam ini juga, kalian akan berangkat ke pelabuhan. Jet pribadi sudah menunggu."
Arjuna menatap mertuanya yang kini dikunci bidikan *sniper*. Jika Arjuna melawan, Inspektur Arya akan mati berkalang tanah malam ini juga.
Arjuna menoleh ke belakang, menatap Aluna. Tatapan pria itu menyiratkan keputusasaan dan permintaan maaf yang paling dalam. Utopia yang mereka bangun dengan susah payah telah hancur dalam hitungan jam.
Aluna mengangguk pelan, air matanya telah mengering. Matanya yang sembab kini kembali menyorotkan aura dingin Sang "Palu Es" yang mematikan. Ia tahu, inilah takdir yang tak bisa ia hindari.
Aluna melangkah keluar dari balik punggung Arjuna. Ia menatap ayahnya yang masih mematung dengan pistol yang mulai turun.
"Selamat tinggal, Ayah," ucap Aluna pelan, suaranya sedingin angin malam. "Maafkan putri palsumu ini karena tidak bisa menjadi kebanggaanmu lagi."
Tanpa menoleh ke belakang, Aluna menggenggam tangan Arjuna erat-erat. Dengan gaun pengantin putih yang menyapu lantai, ratu itu menuntun rajanya berjalan melewati barisan pembunuh bayaran, melangkah meninggalkan dunia yang terang, untuk masuk kembali ke dalam sangkar iblis tempat mereka seharusnya berada.