NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.Pagi yang berubah.

Matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kaca besar, menerangi ruang makan yang luas dan megah dengan cahaya keemasan. Ivy melangkah masuk dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Di atas kepalanya, angka 29 hari masih terlihat jelas, terus berdetak perlahan mengingatkannya akan waktu yang tersisa. Namun kali ini, pandangannya tidak lagi dipenuhi rasa cemas atau beban, melainkan ketenangan yang baru saja ia temukan semalam.

Hanya ada satu orang yang sudah duduk manis di ujung meja—Oliv. Gadis itu mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang terlihat mahal, sedang menyantap sarapannya dengan gerakan yang sangat terlatih dan anggun, seolah ingin menunjukkan betapa sempurnanya ia di hadapan siapa pun. Begitu mendengar langkah kaki Ivy, Oliv mengangkat wajah dan tersenyum tipis, senyum yang menyembunyikan rasa kemenangan yang meluap-luap.

“Selamat pagi, Ivy,” sapanya dengan nada lembut namun penuh sindiran halus. “Kau terlihat sangat lemas dan pucat hari ini. Sepertinya kau benar-benar tidak enak badan sampai lupa pada janji penting kemarin. Tapi tak apa, justru karena ketidakhadiranmu itulah aku bisa bertemu dengan Tuan Brian. Siapa sangka kami bisa begitu cocok, seolah kami jodoh dari langit.”

Oliv meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Ivy dengan tatapan yang penuh kesombongan. “Jadi, terima kasih ya. Kalau saja kau datang tepat waktu, mungkin kesempatan ini tidak akan jatuh ke tanganku. Rasanya aneh memang, tapi kadang jodoh itu tidak bisa dipaksakan, bukan? Aku dan dia memang terasa saling melengkapi, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kau rasakan.”

Kata-kata itu sengaja diucapkan untuk menusuk hati Ivy, berharap melihat gadis itu marah, kecewa, atau setidaknya terlihat cemburu seperti biasanya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat Oliv tertegun dan merasa seolah kata-katanya melayang di udara tanpa sasaran.

Ivy duduk dengan santai di kursinya, mengambil sepotong roti bakar tanpa terburu-buru, lalu menatap Oliv dengan pandangan datar dan kosong, seolah mendengarkan cerita yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Setelah selesai mengunyah sedikit, ia mengangkat cangkir teh dan meneguknya perlahan, baru kemudian menjawab dengan nada sangat tenang.

“Kalau begitu, selamat ya, Oliv. Aku turut berbahagia mendengarnya,” ucap Ivy pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang membuat jantung Oliv berdebar tak nyaman. “Ambil saja semuanya. Calon tunanganku itu, kasih sayang Ayah dan Mama, bahkan seluruh kekuasaan dan harta keluarga Dermawan. Semuanya bisa kau miliki. Aku sama sekali tidak peduli lagi.”

Oliv tertegun, matanya terbelalak tidak percaya. “Apa maksudmu? Kau tidak marah? Tidak merasa tersaingi? Selama ini kau selalu berusaha merebut semuanya dariku, kenapa tiba-tiba bicara seperti ini?”

Ivy hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu berdiri dari kursinya tanpa menghabiskan sarapannya. “Kenapa harus marah? Barang yang tidak aku inginkan, buat apa aku mempertahankan? Nikmati saja semuanya, jangan sampai kau kecewa nanti setelah memilikinya.”

Ia berjalan menuju pelayan yang berdiri di sudut ruangan, lalu bertanya dengan suara tenang, “Di mana Ayah sekarang?”

“Tuan sedang berada di ruang kerjanya, Nona Ivy. Beliau meminta untuk tidak diganggu kecuali ada hal yang sangat penting,” jawab pelayan itu dengan sopan.

“Baiklah, terima kasih,” jawab Ivy, lalu melangkah pergi menuju pintu keluar ruang makan dengan langkah santai dan tegas.

Perasaan diabaikan membuat kesombongan Oliv berubah menjadi amarah yang meluap. Ia tidak terima jika provokasinya tidak membuahkan hasil. Dengan suara yang meninggi dan tidak lagi menjaga kesopanannya, Oliv berteriak, “Hentikan sikap sok tenangmu itu, Ivy! Kau hanya berpura-pura tidak peduli, padahal di dalam hatimu pasti membara cemburu melihat keberhasilanku! Kau ini hanya gadis yang tidak tahu diri, datang dari desa terpencil dan berani menganggap dirimu setara denganku!”

Kata-kata makian itu melantang memenuhi ruangan. Selama ini Ivy selalu menahan diri, menjaga emosi agar tidak terlihat buruk di mata orang tua mereka. Namun hari ini, semuanya sudah berbeda. Ivy berhenti melangkah, memutar badannya perlahan, dan menatap Oliv dengan tatapan yang sedingin es dan setajam pisau. Udara di ruangan itu seketika terasa menegangkan.

Sebelum Oliv sempat melanjutkan makiannya, Ivy melangkah cepat mendekat. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengayunkan tangannya dan pr..ak!—satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Oliv, membuat kepala gadis itu terhempas ke samping.

“Sudah cukup,atau kamu mau lagi?” tanya Ivy dengan suara rendah namun tegas, matanya tetap menatap tajam ke arah Oliv yang terkejut luar biasa. “Selama ini aku mengalah dan menahan diri bukan karena takut padamu, tapi karena aku masih ingin menjaga kedamaian rumah ini. Tapi kau terus melampaui batas. Ingat, jangan pernah mengira kelembutan orang lain berarti dia lemah.”

Oliv terhuyung mundur beberapa langkah, memegang pipinya yang terasa panas dan perih, matanya berkaca-kaca karena marah dan terkejut. Ia tidak menyangka Ivy yang selama ini sabar bisa berubah secepat ini.

Dari ambang pintu, Nyonya Dermawan berdiri tertegun bersama Bibi Nora yang baru saja datang membawa berkas. Nyonya Dermawan mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan rasa heran sekaligus tidak setuju. “Ivy! Apa yang kau lakukan? Sejak kapan gadis keluarga Dermawan bertindak dengan kasar seperti ini? Kau harus bisa mengendalikan emosimu, tidak boleh bertindak sembarangan!”

Namun, sebelum Nyonya Dermawan melanjutkan omelannya, Bibi Nora segera membela Ivy dengan nada lembut namun tegas. “Maafkan saya, Nyonya. Menurut pendapat saya, sepertinya Nona Ivy sudah sangat lama menahan perasaannya. Mungkin kali ini dia sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata kasar dan hinaan yang terus-menerus dilontarkan oleh Nona Oliv. Bahkan hari ini pun dia memamerkan kebahagiaannya setelah merebut tunangan Nona Ivy, itu jelas sangat menyakitkan bagi siapa pun.”

Mendengar penjelasan itu, Nyonya Dermawan terdiam. Matanya melirik ke arah Oliv yang masih memegang pipinya, lalu kembali ke arah Ivy yang berdiri tegak tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia sadar, meski tindakan Ivy terlihat kasar, namun apa yang dilakukan Oliv juga sudah sangat keterlaluan. Merebut tunangan orang lain saja sudah salah, apalagi memamerkannya dengan sengaja untuk menyakiti hati orang lain.

Setelah berpikir sejenak, Nyonya Dermawan menarik napas panjang, lalu memerintahkan dengan nada tegas, “Baiklah, aku mengerti situasinya. Tapi begini caranya bukan solusi yang baik. Namun untuk mengingatkan Oliv agar menjaga sikapnya, mulai bulan ini dan seterusnya, potonglah setengah dari jatah bulanan yang biasa diberikan kepadanya. Biar dia belajar bersikap lebih pantas.”

Mendengar perintah itu, wajah Oliv memucat, namun ia tidak berani membantah. Ia hanya menatap Ivy dengan tatapan penuh kebencian yang terpendam.

Sementara itu, Ivy hanya mengangguk singkat, lalu melangkah pergi melewati ibunya tanpa menoleh lagi. Ia tidak peduli dengan hukuman atau pujian apa pun yang akan diberikan. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah melakukan apa yang benar menurut hatinya, dan menghabiskan sisa waktunya tanpa membuang tenaga untuk hal-hal yang tidak berarti.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!