Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang di curi
Demamnya naik lagi jam 1 pagi. Badanku panas kayak ketiban bara. Keringat dingin keluar semua, tapi gigiku gemetar kenceng.
Aku gigit bantal. Nahan. Ga mau manggil. Ga mau keliatan lemah di depan dia.
aku harus terlihat kuat, aku tak mau di remehkan apa lagi oleh axelino yang selalu meremehkan ku dan mempermalukan ku kapan pun dia mau. "Aira, kuat. Aira ingat kamu bukan perempuan lemah, kaku harus kuat terutama di hadapan laki-laki itu.
Tapi dunia muter. Jendela jadi dua. Suara langkah di lorong jadi jauh banget.
Klek. Pintu kebuka tanpa suara. Kayak tiap malam.
"Jaraknya 2 meter," bisikku. Suaraku serak. Pura-pura kuat. "Tuan janji jaga jarak."
Langkahnya berhenti beneran 2 meter. Disiplin kayak siksaan.
Aku merem. Ngigau. "Ma... Ma... Dingin..."
Bukan manggil dia. Manggil Mama.
Suara langkah maju 1 meter. Berhenti lagi. Tarik napas panjang.
"Aku di sini," katanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. Capek. "Tapi aku ga akan nyentuh kau kalau kau ga minta."
Aku ketawa kecil. Ketawa orang demam. "Minta? Tahanan minta ke naga? Lucu."
Ga ada jawaban. Cuma suara mangkok ditaruh ke meja. Suara kain diperas. "Tetes... tetes..."
Kain dingin nempel di dahiku lagi. Kali ini lebih lama. Tangannya gemetar pas nekenin kainnya.
"Kenapa ga bilang kalo demam?" bisiknya. Ada marah, tapi marahnya ke dirinya sendiri. "Bodoh. Keras kepala."
Aku dorong tangannya lemah. "Jangan... jangan panggil aku gitu. Kayak... kayak dia."
Tangannya berhenti di udara. Kain jatuh ke lantai. "Maaf."
Satu kata itu lagi. Tapi kali ini dia jongkok. Jarak kita jadi 30cm. Aku bisa ngerasain anget dari badannya. Dia ga demam. Aku yang kebakar.
"39.5C," katanya liat termometer digital. Suaranya pecah. "Tinggi banget, Aira."
Nama itu keluar lagi. Kali ini tanpa ragu. Tanpa jeda. Kayak dia udah latihan 1000x di kepalanya.
Aku ngigau. Dunia putih semua. Ada Mama di depan. Senyum. Bawa mangkok sup jamur.
"Ma... Mama... jangan pergi lagi..." tanganku nyari-nyari di udara. Nangkep lengan kemeja hitam.
Lengan itu kaku. Tapi ga dilepas. Malah narik tanganku, ditempel ke pipinya.
"Panas," gumamku. "Tangan Mama anget..."
"Ini bukan tangan Mama," jawabnya pelan. Sakit. "Ini tangan Axel. Tangan naga yang kau benci."
Aku geleng di bantal. Air mata netes ke pelipis. "Bukan... ini tangan Mama... Mama jangan tinggalin Aira lagi..."
Dia diem lama banget. Sampe aku kira dia pergi.
Lalu dia bisik ke telingaku. Napasnya anget kena kulit. "Aku ga akan tinggalin kau. Sumpah. Walau kau manggil aku nama orang lain."
Jari-jarinya nyisir rambutku. Kasar tapi hati-hati. Kayak takut aku pecah.
"Minum," katanya. Sendok dingin nempel di bibirku. Obat penurun panas. Pahit. "Telan. Buat aku."
Aku merem. Telan. Tersedak. Batuk kecil.
Punggung tangannya langsung neken dadaku pelan. Nenangin. "Pelan. Ga ada yang ngejar kau di sini. Ga ada Papa kau. Ga ada siapa-siapa. Cuma aku."
Aku nangkep ujung kemejanya. Kenceng. "Jangan bohong... semua orang bohong... Papa bohong... Mama bohong... pergi..."
"Kau bener," potongnya. Jujur. Brutal. "Dunia ini isinya pembohong. Termasuk aku. Aku bohong tiap hari bilang aku benci kau."
Tanganku yang megang kemejanya dia genggam. Telapak tangannya kasar. Ada kapalan dari pedang. Tapi anget.
"Aku benci Papa kau. Aku benci darah Pramesti. Tapi aku ga bisa benci kau," katanya ke keningku yang basah keringat. "Karena tiap kau demam... aku keinget dia bilang 'jagain dia, Axeliano'. Dan aku gagal 13 tahun."
Air mataku makin deras. "Lepasin... aku bukan dia..."
"Aku tau," potongnya cepat. Panik. "Kau Aira. Bukan Elena. Kau anaknya, tapi kau. Keras kepala. Suka gigit bibir pas bohong. Suka muter badan ke jendela pas sedih. Itu kau. Bukan dia."
Dia kecup keningku. Cepat. Kayak ketakutan. Bibirnya dingin, tapi angetnya nyampe ke tulang.
"Maaf kalo ini salah," bisiknya. "Tapi aku ga sanggup liat kau kebakar kayak gini tanpa ngasih tau... kau penting. Lebih penting dari dendam 13 tahunku."
Aku ngigau lagi. Kali ini lebih parah. "Ma... Ma... Aira takut... gelap..."
Lampu kamar langsung nyala semua. Terang benderang. Sakit di mata.
"Tidak gelap," katanya buru-buru. "Lihat. Aku nyalain semua. Aku di sini. Aku ga akan matiin lampu sebelum kau tidur."
Dia duduk di lantai. Punggung nempel kasurku. Posisi sama kayak tiap malam. Tapi kali ini tanganku masih ngegenggam ujung kemejanya. Dia ga ngelepas.
Jam 3 pagi. Demamku turun dikit jadi 38.7 C. Keringat dingin lunasin bajuku.
"Axeliano..." gumamku. Nama lengkapnya. Kelepasan.
Dia kaku. Seluruh badannya kayak disetrum.
"Aira Elena Pramesti," jawabnya. Lengkap. Nama panjangku. Pertama kalinya dia nyebut lengkap. Suaranya getar. "Nama kau panjang. Kayak doa."
Aku merem. Senyum tipis. "Panjang... susah..."
"Enggak susah buat aku," bisiknya. "Aku hafal 13 tahun. Aku hafal dari akta kelahiran kau yang aku curi dari rumah Papa kau."
Jantungku berhenti 1 detik. Dia curi akta kelahiranku? Gila.
"Kenapa..." suaraku habis.
"Karena aku mau tau nama lengkap musuhku," katanya jujur. "Aku mau tau nama anak yang harusnya aku benci. Tapi... tiap aku baca 'Aira Elena'... aku ga bisa."
Dia ngusap punggung tanganku pake jempolnya. Pelan. Berulang.
"Elena itu nama Mama kau. Aira itu nama yang dia pilih. Katanya artinya 'angin yang bawa kedamaian'. Dan kau beneran bawa damai, Aira. Walau kau ga mau."
Aku ketiduran. Kali ini beneran tidur. Bukan pingsan.
Sebelum hilang kesadaran terakhir, aku denger dia bilang:
"Bobok ya, angin kecilku. Naga jagain. Ga kemana-mana."
Pagi jam 6. Demamku 37.3°C. Aman.
Aku kebangun. Tangan masih megang ujung kemeja hitam. Tapi kemejanya udah dingin. Dia pergi.
Di meja ada mangkok kosong selembar kertas. Tulisan tangannya jelek. Buru-buru.
"Obat di laci. Minum tiap 6 jam. Kalau demam naik lagi, teriak. Aku di luar pintu. Ga tidur. A"
Ga ada Tuan. Ga ada kau. Cuma Aira dan Aku.
Aku megang kertas itu ke dada. Anget. Anget dari tangannya semaleman.
Jadi dia tau nama lengkapku sejak awal. Dia hafal. Dia curi. Dia pendam 13 tahun.
Dan semalem, pas aku paling lemah... dia kelepasan manggil lengkap. Kayak pengakuan.
Aku muter badan ke pintu. Bisik pelan sangat pelan."Axeliano... makasih udah jagain angin kecilmu."
Di luar pintu, ga ada jawaban. Tapi aku denger suara napas. Dia di situ. Ga tidur. Jagain.
Tahanan tanpa nama... sekarang punya nama lengkap. Dan naga yang benci... sekarang manggil nama itu kayak doa.
kalo berkenan mmpir juga thor😉