NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 35 Sasumi Janda Kembang

Begitu besarnya harapan Demang Bungi Pitam dan keluarganya seketika menjadikan Malaikat Serba Tahu raja dadakan.

Berita kedatangan orang sakti yang sangat tahu tentang Purwasaga yang hilang, membuat warga Kademangan Kerangilo ramai-ramai datang ke rumah sang demang, terkhusus para perangkat kademangan yang memiliki hubungan dekat dengan pemimpinnya.

Warga hanya sebatas berkumpul di sekitar halaman. Mereka sangat penasaran ingin melihat pendekar sakti yang katanya serba tahu. Bahkan sudah ada yang berangan-angan ingin menanyakan jodoh anak bujangnya yang hingga usia empat puluh tahun belum mendapat jodoh gadis cantik. Karena itu, sebagian warga sudah membawa berbagai macam hasil bumi dan laut, juga hasil usaha untuk diberikan kepada sang pendekar sebagai bayaran jika nantinya diberi kabar gaib.

Ternyata layanan yang diminta oleh Malaikat Serba Tahu kepada Demang Bungi Pitam adalah makan ikan bakar mandi madu.

“Aku ingin makan ikan bakar besar mandi madu yang dibuat oleh seorang janda cantik bernama Sasumi,” kata Malaikat Serba Tahu lantang yang tidak hanya didengar oleh Demang sekeluarga, tetapi juga semua warga yang berkumpul di halaman.

Hebohlah warga mendengar permintaan Malaikat Serba Tahu yang kini duduk di sebuah kursi, sementara Demang dan keluarga duduk bersila dan bersimpuh di lantai papan di teras yang terbuka. Mereka heboh bukan karena jenis makanan yang diminta, tetapi karena sang pendekar menyebut satu nama yang sudah populer sebagai janda kembang.

“Sasumi, Sasumi, Sasumi! Mana Sasumi?” sebut warga beramai-ramai tapi tidak seirama seketukan, sehingga ramai seperti pasar lelang ikan.

Janda muda yang bernama Sasumi, yang saat itu juga ikut berada di antara warga, jadi terkejut bukan main, bahkan nyaris syok. Kenapa bisa orang cebol sakti itu mengenal dirinya? Padahal dia tidak pernah tebar pesona kepada kalangan katai.

“Ini Sasumi, Gusti Demang!” teriak satu warga sambil mengangkat tinggi-tinggi tangan kanan wanita cantik yang bernama Sasumi.

Sasumi sendiri tampak kebingungan dengan dahi yang tiba-tiba berkeringat dan wajah tampak pias. Tidak hanya itu, dia terlihat jelas gemetar. Dia pun cepat menarik turun tangannya karena dia sadar dirinya bau keringat. Orang yang cantik bukan berarti anti bau keringat.

“Bibir merah Sasumi bergetar!” teriak seorang warga lelaki lainnya.

“Hahahak…!” tawa warga ramai-ramai mendengar hal itu.

Sasumi berusaha mencairkan diri dengan tersenyum, tetapi canggung karena pada faktanya dia bukanlah batu es yang bisa mencair.

Seorang prajurit kademangan mendatangi Sasumi. Prajurit yang kaya inisiatif itu adalah Gudek alias Guguk Budek.

“Ayo!” ajak Gudek sambil meraih pergelangan tangan Sasumi.

“Cia cie ciuuu!” sorak sebagian besar warga melihat Gudek menarik gandeng tangan sang janda kembang.

“Pertanda jodoh tidak bisa ditolak!” sahut seorang warga.

“Hahahak!”

Yang lain pun tidak mau ketinggalan menyahut demi membuat orang banyak tertawa.

“Gudek bisa ganti nama dari Gudek menjadi Mandek, Macan Budek!”

“Kalau memang jodoh, pasti ke mana-mana!”

“Dua hari lagi Gudek pasti mulai menabung!”

“Pilihan Sasumi tepat sasaran!”

“Gudek yang terdepan!”

“Sasumi yang ke depan!”

“Hahahak…!”

Semua sahutan disambut oleh ledakan tawa, meski tidak semua sahutan itu memenuhi kriteria lucu.

Sasumi sendiri tidak bisa menolak tarikan dan ajakan Gudek yang tidak jelek-jelek amat, hanya lumayan tua jika dibandingkan dengan angka umurnya.

“Ini yang namanya Sasumi, Gusti Pendekar,” kata Gudek saat dia dan Sasumi tiba di depan teras yang tanpa pagar pembatas.

“Gudek, kau punya hubungan apa dengan Sasumi?” tanya Malaikat Serba Tahu.

“Belum, Gusti Pendekar. Aku belum punya tabungan untuk melamar Sasumi. Hehehe!”

“Hahahak…!” Meledak tawa semua orang mendengar jawaban Gudek yang seperti emak-emak naik motor listrik, sen kiri tapi balik kanan.

Malaikat Serba Tahu yang hanya tersenyum lalu memberi kode jari berulang kepada Gudek. Dia menyuruh Gudek mundur agar Sasumi tidak mendapat gangguan.

“Demang, jangan biarkan Gudek jatuh hati kepada Sasumi. Sebab, dia akan menjadi jodoh Purwasaga,” kata Malaikat Serba Tahu kepada Demang Bungi Pitam.

Terkejutlah Demang sekeluarga dan gemparlah warga kademangan. Terkhusus bagi Sasumi yang di masa jandanya sudah berdamai dengan berbagai macam kriteria lelaki. Dia yang dulu menolak cinta Purwasaga, sekarang tidak masalah asalkan pemuda tampan itu mau kepada seorang janda.

“Maksudnya bagaimana, Tuan Pendekar?” tanya Lekar Asih yang seketika menolak wacana Purwasaga dan Sasumi berjodoh.

“Kata-kataku tidak sulit untuk dipahami, Nyai Demang,” kata Malaikat Serba Tahu.

Terdiamlah Lekar Asih dengan ekspresi yang kurang nyaman.

“Sasumi!” panggil Malaikat Serba Tahu.

“Hamba, Gusti Pendekar,” ucap Sasumi dengan suara yang bergetar jelas.

“Apakah kau bisa membakar ikan mandi madu?”

“Bisa, Gusti Pendekar,” jawab Sasumi.

“Tapi kau jangan gemetar saat membuatnya, nanti rasa nikmatnya bisa membuatku ikut gemetar,” kata Malaikat Serba Tahu.

“Hahahak…!” tawa para warga yang mendadak gampang tertawa setiap kali sang pendekar berkata. Mereka tertawa bukan semata-mata karena lucu, tetapi karena ada maunya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, para warga datang dengan masing-masing membawa sesuatu untuk dihadiahkan kepada sang pendekar sakti, berharap pertanyaan mereka memiliki jawaban yang jelas.

“Baik, Gusti Pendekar,” ucap Sasumi.

“Oh ya, Demang. Cantik juga minta minum susu sapi langsung dari kandangnya,” ujar Malaikat Serba Tahu.

“Baik, Tuan Pendekar,” ucap Demang Bungi Pitam patuh.

“Kerjakanlah. Nanti setelah aku makan, aku akan memberi tahu di mana putramu sekarang berada,” kata Malaikat Serba Tahu.

“Iya, iya,” ucap Demang Bungi Pitam kian antusias. Lalu katanya kepada para prajuritnya, “Cepat ambilkan ikan besar dan susu sapi segar untuk Pendekar Malaikat Serba Tahu dan Cantik!”

“Baik, Gusti!” ucap para prajurit kademangan patuh.

“Mbaaak!” embik Cantik mendengar perintah Demang Bungi Pitam.

“Hahahak…!” tawa warga ramai-ramai mendengar embikan versi Cantik.

Malaikat Serba Tahu lalu berkata lantang kepada warga di halaman.

“Aku tahu mau kalian apa. Siapa yang ingin bertanya, berbarislah kalian dalam satu garis benang. Datang kepadaku satu demi satu sambil menunggu makananku tersedia!” perintah Malaikat Serba Tahu.

Mendengar hal itu, gaduhlah warga, tetapi mereka senang karena Malaikat Serba Tahu mau bermurah hati menerima dan melayani mereka.

Warga lelaki dan wanita, tua dan muda berebut membentuk barisan. Yang mereka perebutkan adalah posisi depan di dalam satu barisan yang mereka bentuk.

Di saat Demang Bungi Pitam dan keluarga sibuk mempersiapkan permintaan tamunya, satu per satu warga datang beringsut ke depan Malaikat Serba Tahu yang duduk bersila di atas kursinya.

“Ini setandan pisang matang untuk Gusti Pendekar. Jujur dari kebun sendiri,” ujar warga lelaki pertama yang maju menghadap kepada Malaikat Serba Tahu. Dia meletakkan setandan pisang warna kuning yang sejak tadi dipanggulnya.

“Apa yang ingin kau tanyakan, Sugiono?” tanya Malaikat Serba Tahu dengan menyebut nama warga yang menghadap kepadanya.

Terkejut Sugiono dengan cara tertawa cengengesan. Dia pun semakin beriman kepada kesaktian sang pendekar cebol, padahal dia tidak memperkenalkan namanya atau menunjukkan ktp-nya.

“Anu, Gusti Pendekar. Itu. Eee… kalau boleh, aku ingin menikah lagi, tetapi sepertinya tidak ada yang tertarik kepadaku yang sudah berusia lima puluh tahun,” ujar si bapak seraya tersenyum malu-malu kambing.

“Kau akan menikah, tapi bukan pada tahun ini. Rajinlah menabung dari hasil menjual pisang. Kau akan butuh kepeng banyak karena kau akan bertemu dengan calon istri ketigamu yang nanti menanyakan tabunganmu,” kata Malaikat Serba Tahu.

Sumringah Sugiono. Hatinya gembira karena ada harapan. Lalu ia bertanya lagi.

“Jika bukan tahun ini, apakah aku akan menikah tahun depan, Gusti Pendekar?” tanyanya.

“Tidak ada pertanyaan kedua. Sekarang pergilah, biarkan warga yang lain mendapat kesempatan yang sama!” perintah Malaikat Serba Tahu.

“Ba-baik, Gusti Pendekar,” ucap Sugiono patuh. Meski agak kecewa, tetapi ramalan sang pendekar cukup membuatnya bersemangat dan seketika itu juga dia bertekad untuk rajin menabung dari hasil panen kebun pisangnya.

“Berikutnya!” teriak prajurit yang bernama Tumpeng. Dia memilih menjadi juru tertib dalam acara “Warga Bertanya, Malaikat Menjawab”. (RH)

1
rajes salam lubis
lanjut om jangan Malu malu
rajes salam lubis
nenek buyut sandaria mungkin om
rajes salam lubis
aseeekkk....
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi
rajes salam lubis
terbayang bayang hingga terbang
rajes salam lubis
berarti seperti telur ceplok la y
rajes salam lubis
alaamaak parah bener,,, tapi lebih parah si om,sampai cawatnya aja tau kebalik di dalam
rajes salam lubis
adeknya Dadung kulo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sampai bingung mau komen apaan Om kenapa kagak ada kodok emas 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wahhh pada penasaran sama cerita Purwasaga yang pernah berada di negeri Elindra jangan sampai dicurigai nanti mau memberontak 🤔
👣Sandaria🦋
nanti saat bulan madu kita, aku mau istilahnya meteor madu ya, Om😉🤧
👣Sandaria🦋
apakah ini artinya Om lebih ganteng dibanding Sukrowo, Om?🤔
rajes salam lubis
khawatir boleh,cemas jangan
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
hahaha
rajes salam lubis
durian goreng???
Om Rudi: hahahahaha bisa dicoba🤣🤣
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
atu aja sayangnya gak abis2 ya om 😍🤩
Om Rudi: betuuuul
total 1 replies
👣Sandaria🦋
kalau pegangan cinta Om "nyawa tidak berharga. selingkuhan harus bahagia"🤧
Om Rudi: setuju sih, tapi....
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ada hubungan dengan Sanggana, Om? cerita di sebelah kemarin ya?🤔
Om Rudi: heheheheh iya
total 1 replies
👣Sandaria🦋
valid infonya nih, Om? bukannya menguasai pasukan yg sedang mati di Elindra?🤔
Om Rudi: meragukan, habis yg cerita dia
total 1 replies
👣Sandaria🦋
akrab dengan Om juga perkara membanggakan bagi aku yg hanya perempuan paling cantik nomor 3 sesumatera ini, Om🙄
Om Rudi: Om lupa yg paling cantik pertama sama yg kedua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!