Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi yang Menggebu
Malam telah larut membungkus ibu kota, meninggalkan kesunyian yang di dalam ruang kerja pribadi Elvano.
Ruangan itu luas, dilingkupi oleh rak-rak buku kayu setinggi langit-langit yang dipenuhi oleh literatur hukum, sejarah klan, dan papan rencana perang bisnis.
Di tengah ruangan, sebuah meja kerja mahoni besar berdiri dengan kokoh.
Di atasnya, tumpukan berkas laporan keuangan kasino, rute logistik pelabuhan, dan pemetaan wilayah klan saingan berjejer rapi, diterangi oleh temaram lampu meja kuningan yang temaram.
Namun, sang pemilik ruangan tidak sedang memeriksa angka-angka miliaran rupiah tersebut.
Elvano berdiri tegak di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang.
Tangan kanannya memegang segelas wiski kristal berisi cairan amber yang bergoyang pelan, sementara tangan kirinya terbenam di saku celana kain hitamnya.
Tatapannya lurus menembus kegelapan malam, menyapu siluet air mancur yang beberapa hari lalu menjadi saksi bisu amarahnya.
Pikiran Elvano sedang mengembara jauh, mengabaikan fakta dinding es di dalam hatinya telah mencair sepenuhnya.
Hari ini tepat satu bulan sejak Alice dibawa ke mansion ini dalam kondisi basah kuyup, gemetar ketakutan, dan menatapnya seolah-olah ia adalah jelmaan iblis yang paling mengerikan.
Pada malam pertama itu, Elvano meyakinkan dirinya sendiri dengan sangat logis bahwa gadis bermata hazel itu hanyalah "barang jaminan".
Sebuah jaminan berharga yang diserahkan oleh paman yang serakah untuk melunasi utang judi sebesar empat puluh miliar rupiah.
Bagi seorang Bos mafia yang dididik dengan kekejaman tanpa batas di Sisilia, manusia memiliki label harga, dan Alice tidak ada bedanya.
Namun malam ini, di dalam keheningan ruang kerjanya, Elvano terpaksa mengakui sebuah kebenaran yang mengusik perasaannya.
Ia telah kalah. Ia telah jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam pesona tawanannya sendiri.
Elvano menyesap wiskinya perlahan, membiarkan rasa hangat dan getir minuman itu membakar tenggorokannya, menyamai rasa getir dari pengakuan batinnya sendiri.
Angka empat puluh miliar rupiah yang semalam suntuk ia permasalahkan dengan paman Alice... kini terasa seperti remah-remah kertas yang tidak berarti di matanya.
Bagi klan Salvatore, utang keluarga Gracellyn sudah lama ia anggap lunas sejak malam pertama ia menyentuh lembut kulit Alice.
Bahkan jika nilai utang itu dikalikan sepuluh kali lipat, itu sama sekali tidak sebanding dengan kepuasan yang ia rasakan setiap kali melihat Alice bernapas di dalam rumahnya.
Secara aturan dunia bawah, Elvano seharusnya sudah melepaskan Alice.
Gadis itu sudah membayar harga yang dituntut dengan tubuhnya dalam semalam.
Namun, kenyataan bahwa ia terus mengunci pintu kamar utama, memperketat penjagaan di halaman, dan melarang Alice menatap dunia luar... bukan lagi karena urusan utang piutang.
Itu adalah ketakutan.
Ketakutan alami seorang Bos Mafia yang tak ingin kehilangan tahanan yang dicintainya.
Elvano sangat sadar bahwa jika ia membuka gerbang besi mansion itu dan berkata, "Kau bebas, Alice," gadis itu akan langsung berlari secepat mungkin meninggalkannya.
Alice akan kembali ke dunianya normal, menjauh dari kegelapan berdarah klan Salvatore, dan yang paling mengerikan, Alice mungkin akan melupakannya, atau menyerahkan hatinya pada pria normal lain di luar sana.
Membayangkan pria lain menyentuh helaian rambut ikal cokelat mudanya, atau mendengar tawa kecilnya yang berderai seperti saat bersama Kaiven pagi itu... membuat rahang Elvano seketika mengeras hingga gelas kristal di tangannya berderit retak.
"Kau tidak akan pernah pergi dari sini, Alice," bisik Elvano pada kegelapan malam, suaranya baritonnya yang rendah, dan dipenuhi oleh getaran obsesi yang teramat besar.
"Bahkan jika seluruh dunia menyebutku monster yang rakus, aku akan tetap mengurungmu di dalam sangkar ini seumur hidupku."
Perubahan drastis pada perasaan Elvano segera berubah wujud kedalam tindakan nyata yang membuat seisi mansion tercengang, terutama Kaiven yang terus-menerus menggelengkan kepala melihat kegilaan bosnya.
Elvano mulai menghujani Alice dengan segala kemewahan materi, sebuah upaya terselubung dan mungkin sedikit naif dari seorang pria kaku yang tidak tahu bagaimana cara merayu wanita dengan kata-kata manis.
Keesokan paginya, ruang tengah mansion Salvatore berubah menjadi area bongkar muat barang mewah.
Atas perintah langsung dari Elvano, kurir-kurir khusus dari berbagai butik dan toko buku ternama di ibu kota berdatangan, membawa kotak-kotak besar yang ditumpuk di atas karpet beludru.
Alice berdiri di dekat pilar, menatap tumpukan barang itu dengan dahi berkerut bingung.
"Tuan Besar meminta saya untuk menyerahkan ini semua kepada Nona Alice," ucap Mbok Nem dengan senyum lebar, membuka salah satu kotak kayu besar yang ternyata berisi ratusan jilid buku novel sastra klasik, buku seni, dan buku-buku arsitektur yang sangat langka, buku-buku yang sempat Alice sebutkan dalam gumamannya saat melamun di perpustakaan kecil minggu lalu.
Tidak hanya itu, di kotak lain, terdapat jajaran pakaian kasual berbahan katun organik terbaik, mantel wol lembut, hingga beberapa pasang sepatu flat yang nyaman untuk digunakan berjalan-jalan di taman, menggantikan sepatu hak tinggi menyakitkan yang sempat ia kenakan.
Di atas meja kaca, sebuah kotak putih ramping berisi gadget terbaru, sebuah tablet grafik dan ponsel pintar berspesifikasi tertinggi tergelak rapi.
"Semua ini... untuk saya, Mbok?" tanya Alice, suaranya bergetar tidak percaya.
"Tapi saya tidak meminta semua barang mahal ini."
"Tuan Besar tahu Nona sering bosan di dalam kamar. Beliau bilang, jika Nona ingin membaca, menggambar, atau mendengarkan musik, Nona boleh menggunakan semua ini," jelas Mbok Nem.
"Beliau juga sudah menginstruksikan orang IT untuk membuka akses internet khusus pada gadget ini, sehingga Nona bisa menonton film atau membaca artikel apa pun, asal... Nona tidak mencoba menghubungi nomor luar."
Alice menyentuh permukaan jilid buku novel Pride and Prejudice yang bersampul kulit mewah.
Ada rasa hangat yang aneh menyusup ke dalam dadanya, bergolak bersama dengan rasa ngeri yang samar.
Elvano memperhatikan setiap detail kecil tentang dirinya. Pria itu tahu ia menyukai buku sastra, tahu kakinya lecet karena sepatu lama, dan tahu ia kesepian tanpa hiburan.
Sisi protektif dan pemenuh kebutuhan ini terasa sangat manis, namun di saat yang sama, menegaskan betapa kuatnya tali tak kasat mata yang sedang dililitkan Elvano di lehernya.
Sore harinya, Elvano pulang lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak lagi memakai setelan jas lengkap, kemeja biru dongker yang longgar dan celana santai membuatnya tampak seperti pria biasa yang menawan.
Ia menemukan Alice sedang duduk di gazebo taman belakang, tenggelam dalam bukunya sembari sesekali menyesap teh melati hangat.
Elvano melangkah mendekat, langkah kakinya sengaja dibuat terdengar agar tidak mengejutkan gadis itu.
Alice mendongak, dan untuk pertama kalinya, tidak ada rasa panik dan ketakutan di matanya, melainkan seulas tatapan pasrah yang mulai terbiasa dengan kehadiran sang penguasa.
"Kau menyukai buku-bukunya?" tanya Elvano, duduk di kursi rotan di seberang Alice.
"Iya. Terima kasih, Tuan Elvano," jawab Alice pelan, menaruh pembatas buku di halamannya.
Ia menatap pria itu sejenak, lalu mengumpulkan keberanian yang cukup besar untuk menyampaikan satu keinginan kecil yang sudah lama dipendamnya.
"Tuan... jika boleh... bolehkah saya meminta satu hal lagi?"
Alis tegap Elvano terangkat sebelah.
Rasa ingin tahu sekaligus kepuasan muncul di dadanya karena akhirnya Alice mau meminta sesuatu darinya.
"Katakan. Apa pun yang kau inginkan, aku akan membelikannya untukmu sebelum matahari terbenam."
Alice menggeleng kecil. "Ini bukan barang mahal. Saya... saya hanya merindukan tanaman hias. Dulu di rumah... saya suka menanam bunga mawar potong dan beberapa herba di pot kecil. Bolehkan saya meminta beberapa bibit tanaman dan pot untuk diletakkan di sudut balkon kamar? Saya ingin merawat mereka."
Elvano terdiam sejenak, menatap sepasang mata hazel Alice yang berkilat penuh harap.
Permintaan itu begitu sederhana, sangat jauh dari daftar permintaan wanita-wanita lain yang biasanya meminta tas bermerek atau mobil mewah berlogo kuda jingga.
Sifat posesif Elvano yang semakin menjadi-jadi mendikte pikirannya, merawat tanaman berarti Alice akan memiliki kesibukan yang membuatnya betah berlama-lama di dalam mansion.
Tanaman itu akan mengikat fokusnya agar tidak memikirkan dunia luar.
"Besok pagi, perajin taman terbaik akan membawa semua bibit dan pot yang kau inginkan ke balkonmu," ucap Elvano, suaranya merendah, penuh akan kepemilikan yang kian menggebu.
Ia memajukan tubuhnya, meraih tangan kanan Alice yang mungil, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut namun lama.
"Aku akan menuruti setiap keinginan kecilmu, Alice. Pakaian, perhiasan, tanaman... apa pun. Berikan aku daftar apa saja yang bisa membuatmu tersenyum di dalam rumah ini."
Elvano menatap langsung ke dalam manik hazel Alice, tatapannya berkilat tajam oleh obsesi yang gelap.
"Asalkan kau tetap berada di sisiku. Di dalam Mansion ini, bersamaku. Selamanya."
Alice terpaku, merasakan kehangatan bibir Elvano di kulitnya yang mengirimkan getaran emosional yang kian membingungkan hatinya.
Di dalam jebakan yang kian mencengkeram erat ego kewarasannya, Alice perlahan menyadari bahwa sangkar emas ini tidak akan pernah terbuka lagi, karena sang penjaga telah menjelma menjadi pecandu yang tak akan pernah rela melepaskan candu terbaiknya.