Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Kusut yang Tersibak
Malam semakin larut, tapi di dalam ruang kerjanya yang bernuansa kayu jati tua, Bapak Melanie masih terjaga. Beliau duduk di kursi kebesarannya, menatap nanar selembar surat perjanjian usang yang tintanya sudah mulai memudar dimakan usia dua belas tahun. Pengakuan Melanie di meja makan tempo hari, tentang rasa cintanya pada Glen dan tuduhan berat yang dilemparkan pemuda itu, membuat dada pria tua ini terus bergemuruh.
Ingatan beliau mendadak terlempar ke masa dua belas tahun yang lalu, sebuah masa kelam yang penuh dengan intrik bisnis berdarah. Air mata pria tua itu nyaris menetes saat memori itu berputar kembali bagai kaset rusak.
Selama ini, Glen mengira keluarga Melanie-lah yang dengan kejam merampas takhta dan membangkrutkan perusahaan tekstil ayahnya. Namun malam ini, di bawah temaram lampu meja, kebenaran yang sesungguhnya terkunci rapat di dalam laci ingatan sang bapak. Bukan beliau yang menghancurkan ayah Glen. Dalang sesungguhnya di balik tragedi dua belas tahun lalu adalah Hermawan, ayah dari Diandra, sahabat Melanie sendiri di kampus.
Kala itu, Hermawan menjabat sebagai direktur keuangan di perusahaan keluarga Glen. Keserakahan membuat pria itu menggelapkan seluruh dana operasional perusahaan dalam jumlah yang sangat masif, lalu dengan cerdik memalsukan seluruh dokumen transaksi dan mengatasnamakan perusahaan milik bapak Melanie sebagai penadah dana haram tersebut. Hermawan melarikan diri, meninggalkan nama keluarga Melanie yang terseret lumpur hitam, sekaligus memicu serangan jantung dan goncangan jiwa hebat pada ayah Glen hingga jatuh miskin. Namun, roda berputar dengan sangat kejam. Uang haram hasil jarahan itu tidak membawa berkah bagi keluarga Hermawan. Hanya dalam waktu singkat, mereka terkena tipu muslihat bisnis lain hingga jatuh miskin sedalam-dalamnya.
Kini, Diandra gadis periang yang selalu setia menemani Melanie di kelas teater sama sekali tidak tahu-menahu tentang dosa besar yang pernah dilakukan ayahnya di masa lalu. Yang ia tahu hanyalah cerita samar dari ibunya bahwa keluarga mereka dulu pernah hidup jaya dan makmur setara dengan keluarga Melanie. Realitas hidup Diandra sekarang sudah berubah total menjadi potret kesederhanaan yang kontras.
Ibunya setiap subuh harus berkutat dengan minyak panas untuk menjual gorengan di pasar rakyat, sementara ayahnya, Hermawan, kini menghabiskan masa tuanya sebagai buruh tani yang mencangkul di sawah milik orang lain demi sesuap nasi. Kakak laki-laki Diandra pun harus menyambung hidup dengan menjadi montir panggilan keliling yang menembus panas dan hujan dengan motornya. Sangat berbeda jauh dengan Melanie yang hingga detik ini masih bisa menikmati tidur nyenyak di balik selimut sutra dan pilar-pilar rumah mewah berlapis kekayaan.
Di sisi lain kota Jogja, Glen melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit jiwa di kawasan Pakem. Pakaiannya berantakan, dan gurat kelelahan tercetak jelas di bawah pelupuk matanya yang menghitam. Meskipun dari luar Glen masih tampak mengendarai motor ninjanya yang bagus dan mengenakan jaket bermerek sisa-sisa kejayaan masa lalu yang mati-matian ia pertahankan demi harga diri, nyatanya hidup Glen saat ini berada di ambang batas kehancuran finansial.
Tabungannya terkuras habis. Ayahnya yang sering kali mendadak histeris dan berteriak ketakutan setiap kali mendengar kata "mawar" atau "surat", harus keluar masuk rumah sakit jiwa selama beberapa bulan terakhir ini. Biaya perawatan medis yang melambung tinggi membuat Glen kerap kali harus memutar otak, menahan lapar, dan mengabaikan egonya sendiri demi menebus obat-obatan sang ayah.
"Bagaimana kondisi ayah saya, Dok?" tanya Glen parau saat pintu ruang pemeriksaan terbuka, menampilkan sosok dokter spesialis yang menghela napas pendek.
"Kondisinya masih belum stabil, Mas Glen. Ada kecemasan akut yang mendadak terpicu malam ini. Tampaknya beliau mengingat kembali trauma besar dari masa lalunya," ujar dokter tersebut sembari menepuk bahu tegap Glen dengan prihatin. "Untuk sementara, beliau harus kami rawat inap lagi di sini sampai gejalanya mereda."
Glen hanya bisa mengangguk pasrah, bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang dingin dan berbau karbol tajam. Di dalam kesunyian malam itu, Glen meraba ponsel di saku celananya, teringat akan kelanjutan novel Thornless Red Rose yang belum sempat ia sentuh lagi. Tanpa ia sadari, jaring dendam yang ia rajut dengan begitu rapi kini tak hanya mengikat leher Melanie, melainkan juga menyembunyikan sebuah kebenaran fatal yang siap menjungkirbalikkan seluruh alasan di balik kebenciannya selama ini.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...