Pesona Majikan'ku adalah Sequel dari Novel sebelumnya ya itu "Pesona Pengasuh'ku"
Cerita ini mengisahkan tentang bagaimana Rehaan menjalani hidupnya setelah kematian pengasuhnya,
pengasuh sekaligus istri yang begitu ia cintai harus meninggal dengan tragis akibat dendam masa lalu.
"Bagaimana Rehaan bangkit dari keterpurukannya?"
ikuti terus "Pesona Majikan'Ku" untuk mengikuti kisah selengkapnya 🤗
📝 Author : Noor Hidayati 🕊️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis Mayura
Rehaan masih terdiam memikirkan kekeliruannya pada Mayura.
Ketakutannya kehilangan Pari membuat dirinya benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Daddy, apa Ibu' Bibi Mayura akan baik-baik saja?" tanya Pari.
Rehaan bingung menjawabnya.
"Daddy, Jangan biarkan Bibi Mayura kehilangan Ibunya sepertiku,"
Rehaan merasa sesak mendengar perkataan Pari.
"Ee... Semua akan baik-baik saja, sekarang kamu istirahatlah," ucap Rehaan membaringkan Pari dan menyelimutinya.
Setelah menunggu Pari memejamkan matanya, Rehaan keluar meninggalkannya.
Rehaan melihat Ravi yang masih duduk di ruang tunggu.
Terlihat Isyana yang sudah tertidur di pangkuan Ravi.
Dengan sedikit menundukkan kepalanya Rehaan berjalan mendekati Ravi.
"Rehaan, Bagaimana keadaan Pari?" tanya Ravi begitu Rehaan berdiri di depannya.
"Dia sudah baik-baik saja, Sekarang Dia sudah tidur," ucap Rehaan.
Keduanya kembali terdiam.
"Rehaan..."
"Bang..."
Ucap Mereka bebarengan.
"Katakan?" ucap Rehaan.
"Rehaan Aku benar-benar minta maaf atas semua yang telah terjadi,"
"Lupakan itu, Sekarang beri tau Aku, Kenapa gadis itu selalu meninggalkan Pari di jam pelajarannya?"
"Maksudmu Mayura?" tanya Ravi memastikan.
"Aku tidak perlu menyebutkan namanya kan?" tegas Rehaan yang hingga saat ini belum pernah sekalipun menyebut nama Mayura.
"Ee... Dia memiliki Ibu yang menderita kanker, Dia tidak memiliki siapapun untuk menjaga Ibunya yang diharuskan cuci darah seminggu sekali," ucap Ravi menjeda ucapannya.
"Rehaan, Dia masih sangat muda, Ayahnya meninggal dunia dua tahun lalu, Dia harus putus kuliah dan mencari Uang untuk pengobatan Ibunya, Maka dari itu Aku tidak melarangnya saat Ia meninggalkan Pari di jam pelajarannya, Lagi pula selama ini Dia juga selalu tepat waktu,"
Rehaan menarik nafas panjang mendengar penjelasan Ravi
"Jaga Pari, Aku akan segera kembali," ucap Rehaan yang langsung meninggalkan Rumah sakit.
Rehaan bergegas ke rumah Mayura, Setelah sebelumnya Ravi memberikan alamat rumah Mayura padanya.
Dalam perjalanan Rehaan terus memikirkan kemarahannya pada Mayura dan penjelasan Ravi. Kini Ia benar-benar merasa begitu berat beban pikirkan yang saat ini Ia rasa kan.
•••
Tidak lama kemudian Rehaan sampai di rumah Mayura.
Terlihat banyak orang keluar masuk rumah Mayura mengenakan pakaian hitam. Hati Rehaan serasa berhenti sejenak membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.
Dengan langkah gemetar perlahan Rehaan memasuki rumah Mayura, dan benar saja Ia melihat jenazah terbujur kaku di ruang tamu.
Rehaan yang begitu Shock hampir terjatuh saat melihat bingkai foto terletak di sisi atas kepala jenasah tersebut.
Kemudian Rehaan mengalihkan pandangannya mencari-cari seseorang yang Ia tuju.
Matanya berhenti di salah satu sudut ruangan itu.
Rehaan melihat Mayura yang terdiam dengan tatapan kosongnya.
Terlihat silih berganti orang menenangkan Mayura, Namun Mayura tidak meresponnya. Ia hanya duduk mematung tanpa ekspresi.
Perlahan Rehaan berjalan mendekati Mayura.
Ia duduk di depan Mayura dengan perasaan yang sangat bersalah,
Karena lamunannya, Mayura tidak menyadari Rehaan sudah duduk di depannya.
"Mayura..." lirih Rehaan.
Dan inilah pertama kalinya Rehaan menyebut nama Mayura hingga membuat Mayura tersadar dari lamunannya. Ia menatap Majikan yang selalu marah-marah padanya kini terlihat begitu lembut.
"Tuan Rehaan," ucap Mayura dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana keadaan Pari? Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya sedih.
"Bahkan disaat Ia kehilangan Ibunya, Hal pertama yang Ia tanyakan adalah keadaan Pari?" ucap Rehaan dalam hati.
"Kenapa Anda diam saja, Apa terjadi sesuatu pada Pari?" tangis Mayura pun pecah.
"Tidak, Tidak terjadi apapun, Pari baik-baik saja, Dia menanyakan mu," ucap Rehaan dengan perasaan bersalahnya.
"Syukurlah tidak terjadi apapun kepada Pari, Jika sampai terjadi sesuatu padanya Aku tidak akan memaafkan diriku," tangisnya lagi.
Rehaan menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Tuan Rehaan, Aku meninggalkan Pari karena..."
Rehaan menganggukan kepalanya dengan sedih.
"Karena... Karena..." Mayura ingin menjelaskan namun mulutnya tak mampu mengatakan karena tertahan rasa sedihnya.
"Tidak perlu menjelaskan lagi"
"Tidak Tuan, Aku harus menjelaskan biar Tuan tidak salah paham padaku,"
Rehaan terus menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Aku memang selalu meninggalkan Pari karena Ibuku sedang sakit keras, Tapi biasanya Aku selalu kembali tepat waktu, Tapi hari ini...
Hari ini.. Kesehatan Ibu ku memburuk dan Aku harus membawanya ke rumah sakit, Setelah Dokter menangani Ibu, Dengan sangat berat hati Aku meninggalkannya untuk menjemput Pari, tapi... tapi... Aku terlambat.. hingga Pari..." Mayura terus menangis tersedu-sedu.
"Cukup! Jangan di teruskan," ucap Rehaan yang seakan ingin memeluk Mayura.
"Aku begitu menyesal karena Aku, Pari hampir kehilangan nyawanya, Aku tidak menyalahkan sikap Anda kepadaku, Sikap Anda menunjukan kasih sayang Anda kepada Pari, ta,pi Aku sangat sedih saat Aku kembali... Ibuku... Ibuku...." Mayura menghentikan ucapannya.
Rehaan yang sudah tidak tahan lagi langsung mendekap Mayura ke pelukannya.
Rehaan menarik nafas dalam-dalam, dan menghapus air mata yang hampir terjatuh ke kepala Mayura.
"Ibuku sudah tiada... hiks hiks hiks," Mayura melanjutkan ucapannya dalam dekapan Rehaan.
Rehaan yang kehilangan kedua orang tuanya saat usianya belum genap tiga tahun, Dan harus melihat putrinya kehilangan Ibunya sekaligus Istrinya saat Pari baru di lahirkan, Tentu Dia lah orang yang paling mengerti betapa sakitnya kehilangan seseorang.
Bersambung...