"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Rahasia Rumah Tua
Roda pedati usang itu kembali berputar dengan pelan, membelah keheningan malam Solmara yang dingin. Di kursi kusir, ketegangan di bahu Paul perlahan mengendur, berganti dengan helaan napas lega yang amat berat. Di dalam kabin, Annaline masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan cepat. Surat dokumen sementara yang diberikan kapten penjaga tadi tersimpan rapat, ia titipkan pada Marry agar tidak lecek kalau dia pegang sendiri.
"Kita sudah aman, Nona," bisik Marry seraya mengusap punggung tangan Annaline yang sedingin es. "Kita sudah berada di dalam wilayah Solmara."
Solmara di malam hari terasa begitu asing namun memukau. Berbeda dengan Volcalia yang dipenuhi kastil-kastil batu yang angkuh, pusat kota kekaisaran ini dikelilingi oleh lanskap yang sangat asri. Di bawah temaram lampu-lampu kristal sihir yang terpasang di sepanjang jalan, Annaline bisa melihat bayangan bukit-bukit hijau yang berselimut kabit tipis. Bangunan berdiri kokoh, bergaya arsitektur militer yang tegas namun tetap elegan dengan taman-taman kota yang tertata rapi.
Pedati terus melaju menjauh dari jalan utama yang masih ramai, berbelok ke arah distrik pinggiran yang lebih sunyi di lereng bukit. Setelah hampir satu jam berjalan, pedati itu akhirnya berhenti di depan sebuah halaman luas yang tertutup semak-semak liar.
Di sana, berdiri sebuah rumah tua dua lantai yang terbengkalai. Dinding batunya sebagian besar sudah dirambati tanaman liar, dan jendelanya yang besar tertutup debu tebal. Suasananya tampak sepi dan agak suram di bawah sinaran rembulan.
"Kita sudah sampai. Ini tempat tinggal kita untuk sementara waktu," ujar Paul seraya turun dari kursi kusir dan membantu Marry serta Annaline turun.
Annaline memandang berkeliling dengan kening mengernyit bingung. "Paman Paul, Bibi Marry ... ini rumah siapa? Mengapa kita bisa tinggal di tempat seperti ini tanpa menyewa?"
Marry dan Paul sempat saling melempar pandang selama satu detik, seolah sedang menyelaraskan pikiran, sebelum akhirnya Marry tersenyum menenangkan untuk memberi jawaban. "Ini rumah rekomendasi dari kapten penjaga gerbang yang tadi kita temui, Nona. Katanya, ini rumah tua yang sudah lama dikosongkan. Harganya sangat murah karena terbengkalai, jadi Paul langsung menebusnya dengan beberapa koin saja."
Annaline mengangguk percaya begitu saja, tidak menyadari bahwa kedua pelayan setianya itu sedang berkomplot menyembunyikan sebuah rahasia besar yang mana rumah ini sama sekali bukan rekomendasi penjaga gerbang.
"Nah, malam ini kita istirahat seadanya dulu. Besok pagi, kita punya banyak pekerjaan untuk membersihkan tempat ini," ucap Paul seraya mulai menurunkan barang-barang mereka, termasuk dua peti kayu kuno yang berisi kain-kain warisan.
Seminggu pertama di Solmara dihabiskan dengan kerja keras yang menguras fisik. Annaline tidak mengeluh sedikit pun walau dia keturunan bangsawan. Dia ikut membantu Marry menyapu, mengelap kaca, dan mencabuti semak liar di halaman belakang yang ternyata sangat luas untuk pertama kalinya dalam hidup.
"Aw ... Ssshhh," serunya kaget. Tenyata jarinya tertusuk duri tajam salah satu tanaman yang merambat.
"Nona, sini biar bibi saja yang melanjutkan. Nona istirahat saja dulu."
"Tidak apa-apa, Bi. Aku hanya kaget, aku akan berhati-hati mulai sekarang, hehehe," ringisnya lanjut bekerja.
Peluh Annaline mulai membanjiri dirinya. Rasanya baru kali ini dia bekerja sekeras ini dan juga merasa sangat bebas. Iya, bebas.
"Bibi ... Lihat!" tunjuk Annaline pada salah satu tangannya yang asik memegang belalang.
"Astaga, Nona. Lepas ... lepaskan," Marry jauh lebih heboh dan ketakutan melihat Annaline dengan santai memegang serangga itu. Marry bergerak mundur dan berlari menjauh.
"Bibi ... Mau kemana. Ini hanya belalang, Bi. Hahaha"
Paul memandang semuanya dari sudutnya ia berada, kecerian pagi ini membuatnya terharu, baru kali ini dia bisa melihat senyum dan tawa Annaline, "Nyonya ... Anda bisa melihat dari atas bukan? Cucu anda bisa tertawa riang disini. Di ru—"
"Paman, awas!" teriak Annaline saat melihat Marry berjalan mundur akan menabraknya.
BRUKKK
"Ahahaha, maafkan aku tapi kalian jadi jatuh dan ini sangan lucu. Hahaha"
"Nona!" seru Marry dan Paul bersamaan. Keduanya saling pandang dan menatap haru Annaline yang berjalan menjauh.
Perlahan, rumah tua yang tadinya menyeramkan itu mulai terasa hangat dan layak huni.
Suasana Solmara yang bebas juga membuat mental Annaline perlahan pulih. Di sekitar distrik ini, dia sering melihat ras campuran seperti manusia bertato sihir dan kaum elf yang berjalan bebas tanpa ada diskriminasi fisik yang kejam. Semua hidup berdampingan dengan baik. Hal itu membuat Anna merasa aman, meski dia tetap harus berhati-hati menyembunyikan rambut merah anggur dan mata peraknya di balik tudung jubah jika keluar rumah.
Seminggu sudah mereka menempati rumah ini dan terus mereka bersihkan secara perlahan, hari ini giliran gudang bawah tanah yang harus dibersihkan. Ruangannya sangat lembap, gelap, dan dipenuhi sarang laba-laba.
Paul sedang sibuk membetulkan pagar depan, sementara Marry sedang memasak makan siang mereka di lantai atas, jadi Annaline berinisiatif turun sendirian membawa sebatang lilin.
Saat kakinya melangkah, ujung matanya menangkap sesuatu yang ganjil di sudut ruangan. Sebuah benda setinggi manusia berdiri tegap, ditutupi oleh selembar kain hitam tebal yang berdebu. Rasa penasaran mendorong langkah Annaline untuk mendekat. Jemarinya meraih ujung kain hitam itu, lalu menariknya dengan satu sentakan kuat.
WUSH!
Di balik kain itu, ternyata terdapat sebuah cermin besar kuno dengan bingkai perak berukir motif bunga mawar dan sulur-sulur yang rumit. Permukaan cerminnya begitu jernih, seolah tidak terpengaruh oleh waktu di dalam sana.
Annaline terpaku sejenak, kemudian melangkah maju, menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin tua itu. Di bawah temaram cahaya lilin dan cahaya matahari yang mengintip dari celah ventilasi atas, Annaline menatap lekat cermin. Rambut merah anggurnya yang seindah ombak jatuh terurai. Namun, saat matanya beradu dengan pantulan matanya sendiri di cermin.
Riakkk ....
Permukaan cermin itu tiba-tiba beriak halus seperti permukaan air yang dijatuhi batu kecil. Bayangan mata storm silver-nya di dalam cermin tidak lagi memantulkan warna abu-abu yang redup, melainkan berkilat memancarkan cahaya perak murni yang sangat terang dan sakral. Kilatan magis itu berpendar indah, memancarkan aura yang terasa begitu familier sekaligus asing di saat yang bersamaan.
"Argh!"
Annaline berteriak dan tersentak mundur hingga lilin di tangannya hampir saja jatuh. Dia mencengkeram dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri dan berdetak tidak beraturan.
'Tempat apa ini sebenarnya ... dan sihir apa yang ada di dalam cermin itu?' batinnya dengan tangan gemetar. Belum sempat dia mencerna rasa kagetnya, suara langkah kaki Marry terdengar mendekat dari arah tangga.
lanjut yaaaaa