Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh
Malam itu, perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya bagi El. Lampu-lampu jalan yang biasanya ia nikmati sepanjang perjalanan kini terasa seperti hanya lewat begitu saja di depan matanya. Tangannya tetap menggenggam kemudi, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Kalimat Zoya terus berputar di kepalanya. "Chelsea adalah anak dari perempuan yang menghancurkan rumah tangga ibumu."
Tidak. El menggeleng pelan mencoba menepis pikirannya. Tidak mungkin Chelsea?
Gadis yang selama ini selalu ia lindungi. Gadis yang selalu memanggil Hana dengan sebutan Mom dengan penuh kasih. Gadis yang sejak kecil tumbuh di rumah mereka, tertawa bersama mereka, menangis bersama mereka.
Bagaimana mungkin ada cerita lain di balik semua itu? Tapi semakin ia mencoba menolak, semakin pertanyaan itu muncul.
Kenapa selama ini ia tidak pernah tahu tentang masa lalu Mommy? Kenapa tidak pernah ada yang menceritakan bagaimana sebenarnya Chelsea bisa masuk ke keluarga mereka? Dan kenapa Zoya bisa mengetahui sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu?
El menghela napas berat. Ia tahu satu hal. Malam ini ia tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah keluarga Arsaka. Rumah yang selalu menjadi tempat ternyaman baginya sejak kecil. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, rumah itu terasa sedikit berbeda.
El masuk perlahan. Suasana rumah sudah jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Lampu ruang keluarga masih menyala. Dari sana terdengar suara televisi yang pelan.
El melangkah menuju ruang keluarga dan melihat Arsaka serta Hana masih duduk bersama di sofa. Keduanya sedang menonton acara televisi sambil sesekali berbicara kecil. Pemandangan yang selalu membuat El merasa pulang. Tapi malam ini, ada beban besar yang ia bawa.
“Baru pulang?” tanya Hana ketika melihat putranya masuk.
El tersenyum tipis. “Iya, Mom.”
Arsaka menatap jam di tangannya. “Tumben pulang malam. Biasanya jam segini kamu sudah masuk kamar.”
El hanya mengangguk kecil. Ia lalu berjalan dan duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka. Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berbicara.
Hana mulai merasa aneh. Ia mengenal anaknya. Dan dari cara El duduk diam sambil menatap lantai, ia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“El.”
El langsung mengangkat wajah.
“Kamu ada masalah?”
Pertanyaan itu membuat El terdiam. Ia ingin menjawab tidak. Ingin mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi malam ini ia tidak bisa.
El menarik napas panjang. “Chelsea di mana, Mom?”
Hana dan Arsaka saling pandang sebentar.
“Chelsea?” ulang Hana.
“Iya.”
“Dia sudah tidur di kamar.”
El mengangguk kecil. “Al juga?”
“Masih di kamarnya,” jawab Arsaka.
El kembali diam. Jari-jarinya saling menggenggam di atas lutut.
Melihat sikap putranya, Arsaka langsung mematikan televisi. “Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan.”
El menatap kedua orang tuanya. “Dad, Mom .…” Suaranya terdengar serius. “Aku mau tanya sesuatu.”
Hana langsung memperhatikan wajah putranya. Tak biasanya sang putra bicara serius begini.
“Tapi aku harap kalian mau jujur sama aku.”
Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga berubah. Arsaka dan Hana kembali saling melihat. El bukan tipe anak yang mudah membicarakan sesuatu dengan nada seperti itu.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Arsaka akhirnya.
El menelan ludah. Tatapannya turun sesaat sebelum kembali melihat kedua orang tuanya.
“Aku ingin tahu asal usul Chelsea.”
Ruangan itu langsung terasa sunyi. Hana yang sedang duduk bersandar langsung terdiam. Arsaka pun tampak sedikit terkejut.
Pertanyaan itu bukan sesuatu yang mereka duga akan keluar dari mulut El malam ini.
“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Hana pelan.
El mengalihkan pandangan. “Aku cuma ingin tahu, Mom.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi Arsaka tahu ada alasan lain di baliknya.
“Daddy rasa tidak perlu kamu tahu hal itu, El.”
El langsung menatap ayahnya. “Kenapa, Dad?”
“Karena yang penting adalah Chelsea sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kita.” Arsaka berbicara dengan tenang. “Dia adalah anak kami juga. Dia dibesarkan di rumah ini. Dia dicintai di rumah ini. Itu yang harus kamu ingat.”
El diam. Tapi ia belum puas. “Dad .…”
“Apa?”
“Aku cuma takut .…”
Arsaka mengerutkan kening. “Takut apa?”
El menarik napas. “Aku takut kalau suatu hari tiba-tiba ada orang yang mengaku keluarga Chelsea.”
Ekspresi Arsaka langsung berubah. “Siapa yang berani mengaku seperti itu?” Nada suara Arsaka terdengar lebih tegas. “Chelsea diadopsi secara resmi. Semuanya jelas. Dia bagian dari keluarga kita.”
El terdiam sesaat. Ia tahu ayahnya mengatakan itu dengan penuh keyakinan. Tapi ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya. “Dad .…”
“Aku hanya ingin tahu ayah dan ibu kandung Chelsea.”
Hana langsung membeku. Tatapan matanya berubah. “El .…”
Suara Hana terdengar lebih pelan. “Daddy dan Mommy adalah ayah dan ibunya.”
El menatap ibunya. “Aku tahu, Mom.”
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Maksud aku … sebelum itu.”
Hana tidak menjawab. Dan diamnya Hana membuat dada El semakin terasa berat.
“El, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini?”
Pertanyaan Hana membuat El terdiam. Haruskah ia mengatakan semuanya, tentang apa yang dikatakan Zoya. Tentang tuduhan yang membuat pikirannya kacau.
El menunduk. Namun akhirnya, ia memilih bertanya dengan suara yang hampir berbisik, ia berkata, “Apakah benar .…”
Hana menatapnya. Menunggu ucapan sang putra selanjutnya.
“Apakah benar Chelsea adalah anak dari perempuan yang pernah menjadi orang ketiga dalam pernikahan Mommy sebelumnya?”
Kalimat itu mengudara begitu saja. Dan dalam satu detik, seluruh ruang keluarga terasa membeku. Hana tidak bergerak. Arsaka menatap El dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Sementara El sendiri langsung merasa ada sesuatu yang salah dari reaksi kedua orang tuanya. Karena mereka tidak langsung tertawa atau membantah. Dan tidak langsung mengatakan bahwa itu tidak masuk akal.
Mereka hanya diam. Dan diam itu jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
“Dad .…” Suara El terdengar pelan. “Mom .…”
Tidak ada yang menjawab. Arsaka menatap Hana. Dan wanita itu hanya bisa menatap balik dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Karena setelah bertahun-tahun menyimpan masa lalu itu, akhirnya pertanyaan yang mereka takutkan datang juga.
“El .…” Suara Arsaka terdengar berat. “Kamu dengar dari siapa?”
Jantung El berdegup lebih cepat. Pertanyaan itu berarti bukan penolakan dan bantahan. Tapi pertanyaan. El merasa ada bagian cerita tentang Chelsea yang selama ini sengaja disembunyikan darinya.
Ia menatap kedua orang tuanya. Lalu perlahan berkata, “Jawab dulu pertanyaanku, Dad.”
Tatapan El penuh dengan rasa penasaran, kecewa, sekaligus takut. “Apa itu benar?”
Hana menutup matanya sejenak. Sementara Arsaka hanya diam. Malam ini mungkin El baru menyadari bahwa gadis yang selama ini ia anggap hanya adik kecilnya ternyata menyimpan sebuah rahasia besar tentang masa lalunya. Rahasia yang mungkin akan mengubah cara pandangnya terhadap Chelsea selamanya.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka