Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Di Balik Pintu yang Terkunci
Setelah sarapan yang terlambat itu selesai, suasana rumah kembali hening. Namun, bukan karena damai, melainkan karena masing-masing penghuni rumah memilih memikirkan dirinya sendiri.
Vera meletakkan piringnya di meja begitu saja. Tanpa melihat keadaan meja makan yang penuh piring kotor, gelas bekas minum, dan sisa makanan yang berserakan, gadis itu langsung berdiri.
"Aku ke kamar dulu, Bu." Tanpa menunggu jawaban, Vera melenggang pergi.
Mayang yang sedari tadi duduk dengan santai juga ikut berdiri. Ia merapikan sedikit bajunya lalu berjalan mengikuti Vera.
"Mayang mau istirahat dulu ya, Bu."
Bu Sumarni menoleh. "Lho, meja makannya belum diberesin."
Mayang tersenyum tipis. "Nanti aja, Bu."
Dan wanita itu pun pergi begitu saja. Bu Sumarni mematung beberapa saat. Tatapannya beralih pada meja makan yang berantakan. Piring kotor bertumpuk. Gelas-gelas belum dicuci. Wajan bekas memasak masih berada di dapur.
Biasanya, semua itu sudah bersih sejak pagi. Biasanya, ketika ia selesai makan, ia tinggal bangun lalu melakukan aktivitas lain.
Biasanya, ada Arini yang diam-diam membereskan semuanya. Namun sekarang, Arini sudah tidak ada.
Bu Sumarni menghela napas panjang. Dengan wajah kesal, ia mulai mengangkat piring satu per satu.
Belum sampai lima menit, emosinya mulai naik. Punggungnya terasa pegal. Tangannya mulai lelah.
Dan yang paling membuatnya kesal adalah suara tawa Vera yang terdengar dari dalam kamar. Anaknya itu malah asyik bermain ponsel.
"VERA!"
Teriakan Bu Sumarni menggema sampai ke seluruh rumah. Pintu kamar Vera terbuka.
"Apa sih, Bu?"
"Gak lihat ibu lagi beres-beres sendirian?"
Vera mengerucutkan bibir. "Terus kenapa?"
Bu Sumarni langsung naik pitam. "Terus kenapa katamu?! Kamu itu gak punya mata apa?!"
Vera terkejut melihat ibunya yang biasanya selalu membelanya kini benar-benar marah. "Ibu capek. Dari tadi ibu yang masak, ibu yang beres-beres, sekarang ibu juga yang harus nyuci piring."
"Lah, biasanya juga begitu kan? Ibu di kampung kan gak punya pembantu?"
Jawaban itu justru membuat darah Bu Sumarni semakin mendidih. "Di sini biasanya ibu gak gini, di sini ibu gak pernah kerja."
"Lalu?"
"Yang ngerjain semuanya itu Arini."
Vera terdiam sesaat. Namun bukannya merasa bersalah, ia malah mengangkat bahu.
"Kan Mbak Arin memang suka ngerjain pekerjaan rumah."
Bu Sumarni langsung membanting lap ke meja.
"Makanya kamu susulin dia, jangan sampai dia pergi sebelum semua pekerjaan rumah selesai."
Vera refleks mundur selangkah. Seumur hidupnya, jarang sekali ia melihat ibunya semarah ini.
"Lho, kata ibu biarkan Mbak Arin pergi, sekarang malah minta disusulin?"
"Iya sekarang ibu butuh dia, ternyata dia berguna juga."
"Ibu aja yang cari ah, aku malas." Vera malah balik kanan mau m tinggalkan ibunya yang sedang marah.
"Vera, kamu mau ke mana? Bantu ibu dulu!"
"Malas ah Bu." Vera mulai tidak nyaman. "Lagian Mbak Arin iyu gak pernah nyuruh-nyutuh kayak ibu."
"Karena Arini selalu keburu mengerjakannya!"
Bu Sumarni menunjuk tumpukan piring di wastafel.
"Selama ini kalian semua enak! Bangun tidur tinggal makan! Baju kotor tiba-tiba bersih! Rumah selalu rapi! Sekarang baru beberapa jam Arini pergi, rumah sudah kayak kapal pecah."
Ucapan itu membuat Vera kehilangan kata-kata.
Kini ia menyadari bahwa semua kenyamanan yang selama ini ia nikmati memang berasal dari Arini.
Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui.
"Udah nanti aja di kerjainnya, Bu. Aku capek."
Mendengar alasan itu, Bu Sumarni hampir meledak. "Capek?"
"Iya."
"Kamu capek karena apa? Main ponsel dari pagi sampai siang?"
Wajah Vera memerah. "Bu, jangan berlebihan deh."
"Berlebihan katamu?" Suara Bu Sumarni meninggi.
"Ibu yang sekarang beresin rumah sendirian. Ibu yang nyuci piring. Ibu yang capek. Sedangkan kalian semua cuma bisa makan lalu pergi."
Bu Sumarni benar-benar murka. Selama ini ia begitu mudah meremehkan Arini. Menganggap semua pekerjaan rumah itu hal biasa. Menganggap menantu itu memang sudah seharusnya melayani keluarga suami.
Tapi sekarang, ketika tidak ada lagi orang yang melakukan semuanya, ia baru merasakan betapa berat pekerjaan yang selama ini dipikul Arini seorang diri.
"Mulai hari ini jangan harap ibu yang ngeladenin kamu terus." bentaknya.
"Kalau mau makan, bantu beres-beres! Kalau pakai piring, cuci sendiri!"
Vera mendelik tidak percaya. "Serius, Bu?"
"Sangat serius!"
Setelah mengatakan itu, Bu Sumarni kembali ke dapur dengan napas memburu. Tangannya terus mencuci piring sambil mengomel. Di dalam hati, kemarahannya bukan hanya tertuju kepada Vera.
Melainkan juga kepada Mayang yang baru datang namun sudah bersikap seperti tamu kehormatan.
Dan entah kenapa, sejak Arini pergi, Bu Sumarni mulai merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Rumah itu terasa kosong. Tidak nyaman. Tidak terurus.
Dan yang paling membuatnya kesal, ia mulai menyadari bahwa sosok yang selama ini paling sering ia hina justru adalah orang yang diam-diam menopang seluruh rumah itu.
***
Setelah sarapan yang sederhana itu selesai, Mayang sama sekali tidak berniat membantu Bu Sumarni membereskan meja makan. Dia langsung berdiri, lalu berjalan santai menuju kamar tamu yang kini ditempatinya bersama Galang.
Sementara itu, Bu Sumarni hanya bisa menghela napas panjang melihat piring dan gelas kotor yang masih berserakan di atas meja. Mau bagaimana lagi? Kalau tidak dia yang membereskannya, tidak akan ada yang bergerak.
Mayang masuk ke kamar dengan langkah ringan. Entah mengapa suasana hatinya pagi itu sangat baik. Mungkin karena semalam berhasil menginjakkan kaki di rumah yang selama ini dia impikan. Atau mungkin karena hari ini dia akan jalan-jalan bersama Galang.
Dia membuka lemari kecil di kamar tamu, lalu memilih pakaian terbaik yang dibawanya.
Tak lama kemudian suara shower terdengar dari dalam kamar mandi.
Hampir satu jam kemudian, Mayang keluar dengan penampilan yang jauh berbeda. Dia mengenakan gaun ketat berwarna cerah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Riasan wajahnya cukup tebal, lengkap dengan lipstik merah menyala dan bulu mata yang lentik.
Dia berdiri di depan cermin sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. "Sempurna," gumamnya puas.
Galang yang sedang duduk memainkan ponselnya langsung menoleh.
"Mas, ayo jalan-jalan!" kata Mayang penuh semangat.
Galang mengangkat wajahnya. "Jalan-jalan?"
"Iya. Katanya mau ajak aku jalan-jalan."
Galang langsung terdiam. Semalam memang dia mengucapkan janji itu. Saat suasana masih menyenangkan dan belum ada masalah. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda.
Mobil tidak ada. Arini pergi membawa mobilnya sejak pagi. "Kan mobilnya nggak ada, May."
Mayang langsung cemberut. "Ya pakai angkutan online aja."
Galang tampak ragu. "Tapi...."
"Gak ada tapi-tapian." Mayang memotong cepat. "Semalam kamu janji. Masa baru sehari aja udah ingkar?"
Galang mengusap tengkuknya. "Ya bukan gitu."
"Kalau bukan gitu ya ayo. Aku sudah siap dari tadi."
Mayang bahkan sudah mengambil tas kecilnya dan berdiri di depan pintu.
Galang tahu kalau perempuan itu mulai ngambek.
"Ya sudah, ya sudah. Aku mandi dulu."
"Nah gitu dong." Mayang langsung tersenyum lagi.
"Tapi jangan lama-lama ya. Nanti keburu panas."
"Iya."
Galang lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tamu. Beberapa menit kemudian dia selesai mandi. Dengan handuk menggantung di leher, dia menaiki tangga menuju lantai atas. Tujuannya sederhana. Dia ingin mengambil beberapa pakaian yang masih berada di kamar utama.
Namun saat sampai di depan pintu, langkahnya mendadak berhenti. Keningnya langsung berkerut.
Pintu kamar itu tertutup rapat. Dia mencoba memutar gagang pintu.
Klik. Tidak bisa. Dia mencoba lagi Tetap tidak bisa.
Terkunci. "Apa-apaan ini?" gumamnya.
Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah kantong plastik besar yang diletakkan tepat di depan pintu. Galang membungkuk dan membuka sedikit isi kantong itu.
Matanya langsung melebar. Di dalamnya terdapat beberapa baju, celana, pakaian dalam, dan perlengkapan pribadinya. Semuanya dimasukkan begitu saja ke dalam plastik. Seolah-olah barang-barang itu tidak lagi pantas berada di dalam kamar tersebut.
Wajah Galang seketika memerah. "Brengsek banget si Arini!"
Suara bentakannya menggema di lantai atas.
"Kamarnya dikunci segala!"
Dia kembali memutar gagang pintu dengan kasar.
Tetap tidak terbuka. "Ini bajuku juga cuma ditaruh di kresek depan pintu!"
Tangannya mengepal kuat. Harga dirinya terasa diinjak-injak. Selama ini dia selalu menganggap Arini sebagai perempuan yang penurut. Tidak pernah membantah. Tidak pernah berani melawan.
Tapi tindakan pagi ini terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
Arini bukan hanya pergi. Dia sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi menganggap Galang sebagai suami yang berhak memasuki kamar itu.
Di bawah, Bu Sumarni yang baru saja selesai mencuci piring langsung menoleh kaget mendengar suara anaknya yang menggelegar dari lantai atas.
Keningnya berkerut. "Ada apa lagi itu?" gumamnya.
Tanpa membuang waktu, dia segera meletakkan lap piring lalu bergegas menaiki tangga. Semakin dekat, suara gerutuan Galang semakin terdengar jelas.
Dan saat tiba di depan kamar utama, Bu Sumarni langsung melihat anaknya berdiri dengan wajah merah padam di depan pintu yang terkunci rapat, sementara sebuah kantong plastik berisi pakaian teronggok di lantai.
"Ada apa, Lang?" tanyanya.
Galang menunjuk pintu itu dengan kesal. "Lihat sendiri, Bu!" katanya dengan rahang mengeras.
Bu Sumarni mengikuti arah telunjuk anaknya. Lalu wajahnya perlahan ikut berubah gelap.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.