Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam—Desah Peristirahatan Samping
Gu Mingyue kembali duduk di kursinya, menikmati sisa uap dari teh krisan dan kue manis khas musim semi. Kegelapan masih belum sepenuhnya jatuh di halaman paviliun pribadinya saat bayangan seorang pria tampak berjalan mendekat ke arah Fan Li'er.
Salah seorang prajurit Ayah, pikir Gu Mingyue tenang.
Fan Li'er segera berbalik dan berjalan tergesa menghampirinya. "Nona, Jenderal Besar Gu meminta Anda untuk segera datang ke Paviliun Utama."
Gu Mingyue hanya menyunggingkan senyum samar. "Terlalu cepat. Sungguh tidak sabaran."
Tangan Gu Mingyue bergerak menuangkan kembali sisa teh yang mulai mendingin, lalu menenggaknya perlahan. Ia kemudian bangkit berdiri dengan kibasan kain hanfu-nya yang tegas. Dengan langkah anggun, ia meninggalkan paviliun pribadinya menuju Kediaman Utama Jenderal Gu. Di bawah temaram rembulan, ketukan langkah kakinya terdengar ritmis.
Saat menyusuri jalan setapak, ia melewati area peristirahatan samping—paviliun tempat para tamu biasanya menginap. Namun, cahaya lentera di sana menyala terlalu terang. Untuk ukuran jamuan formal seperti tadi, cukup jarang ada tamu penting yang memutuskan untuk menginap.
"Li'er," panggil Mingyue pelan sembari melambaikan tangan agar pelayannya mendekat.
"Iya, Nona?"
"Aku penasaran akan sesuatu. Bisakah kau mencari tahu siapa tamu yang menginap di sana?"
"Baik, Nona."
Gu Mingyue melirik sekilas paviliun tersebut sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi menuju Kediaman Utama. Ia langsung diarahkan menuju ruang kerja, tempat ayahnya yang telah berganti pakaian rumah tengah duduk tegap di kursi sembari membaca surat.
"Salam, Ayahanda. Mingyue memberi salam."
Jenderal Besar Gu mengangkat pandangannya. "Kau tahu apa kesalahanmu, Mingyue-er?"
Mingyue tersenyum samar. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan sinis ayahnya. Kilasan ingatan dari kehidupan lalu membuatnya kian paham dengan watak asli pria paruh baya di hadapannya ini.
"Apa maksud Ayahanda?"
"Membuat skandal, menyeret nama Shen Mufeng, hingga menjatuhkan harga diri Zhao Yuchen dan Gu Lian!"
Mingyue hampir saja meledakkan tawanya mendengar tuduhan itu. "Mingyue tidak membuat skandal. Faktanya, Jenderal Agung Shen yang menyelamatkan saya tadi. Lalu..." Ia mengangkat satu sudut bibirnya, "...mengenai Lian-er dan Kakak Zhao, apakah Ayahanda tidak melihat sendiri bagaimana tatapan penuh kasih di antara keduanya?"
"Jangan mengada-ada! Tuan Besar Zhao dan aku sudah meresmikan perjodohan kalian!"
"Ayahanda, Mingyue bukan gadis bodoh yang akan tunduk begitu saja pada perkara cinta."
Jenderal Besar Gu tertawa sarkas. "Mingyue-er, ini adalah keputusan telak dari para tetua klan!"
Mingyue menutup matanya dengan lembut, menjaga riak emosinya agar tetap tenang. "Tidak akan ada kesepakatan yang baik, Ayah. Mingyue akan mempertimbangkannya kembali."
"Itu jauh lebih baik. Lupakan Shen Mufeng, dia bukan sekutu kita."
"Baiklah, Ayahanda. Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, Mingyue pamit undur diri."
Ayahnya tidak membalas, melainkan hanya sibuk memberi gestur tangan yang mengusirnya keluar.
Gadis itu melangkah keluar dengan ritme kaki yang santai menyusuri lorong panjang. Namun, alih-alih langsung kembali ke kamarnya, ia sengaja membelokkan arah langkah menuju paviliun samping tempat peristirahatan tamu.
Ia harus memastikan sesuatu.
Di sana, Fan Li'er sudah menunggu di batas jarak aman. "Bagaimana, Li'er?"
"Tamu yang menginap adalah Tuan Muda Zhao, Nona."
Senyum Mingyue seketika terangkat tipis. Suasana sekitar kian sepi, dan beberapa prajurit yang berjaga pun berdiri agak jauh dari paviliun tersebut.
Langkah kaki gadis itu kian menipis, nyaris tak terdengar saat ia mendekat ke salah satu sisi dinding paviliun kayu tersebut. Ia sempat mengira akan mendengar sebuah konfrontasi atau konspirasi politik yang rumit, namun nyatanya, apa yang tertangkap oleh indranya jauh lebih menjijikkan.
Suara desahan napas yang memburu dan derit kayu terdengar samar. Suara intim mereka saling bersahutan, saling memanggil nama dengan penuh gairah.
"Lian-er..." desah Zhao Yuchen.
"Kakak Zhao... ah..."
Gu Mingyue melirik sekilas ke arah jendela yang tertutup, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari sisi paviliun. Suara mereka terlalu keras, berpadu dengan derit ranjang kayu yang berhentak hebat.
Gadis itu melangkah mundur menjauh dengan senyum keji yang terukir di bibirnya. Otak cerdasnya langsung bergerak cepat, menyusun skenario terbaik untuk menjebak dan menyeret Gu Lian agar dinikahkan dengan Zhao Yuchen, sekaligus melepaskan dirinya dari jerat perjodohan ini tanpa perlu bersusah payah memohon pada ayahnya.
Jika di kehidupan sebelumnya mungkin ia akan menangis, memukul, atau menjambak rambut mereka, maka kali ini, ia justru akan menyerahkan pria menjijikkan itu secara sukarela. Langkah Mingyue melambat, ritmis menjauh dari peristirahatan samping menuju arah Fan Li'er yang berjaga di dekat pintu gerbang bulat.
"Nona baik-baik saja?"
"Tentu."
Angin berembus pelan, menggugurkan beberapa dedaunan. Suara dari dalam paviliun malah kian terdengar mengalun tak puas, ditimpali gebrakan kayu yang keras seolah mereka sedang memindahkan tubuh ke lantai kayu yang benderang. Suara Lian-er kian terdengar samar meminta ampun, berpadu dengan desah napas Zhao Yuchen yang terdengar tak beraturan. Mingyue menggelengkan kepalanya.
Jika mereka sangat bergairah, maka aku akan menambah sedikit api panas pada gairah mereka, pikirnya.
"Nona, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Li'er polos, mencoba menangkap suara dari dalam yang kini terdengar semakin jelas.
Gu Mingyue mendekat ke arah pelayan setianya, lalu berbisik pelan di telinganya. "Li'er, lakukan sesuatu. Buatlah keadaan hingga orang-orang berkumpul."
Ia kembali menegakkan tubuhnya, menepuk pundak Li'er sambil tersenyum tenang. "Paham?"
"Paham, Nona."
Fan Li'er segera bergerak tangkas menuju area depan peristirahatan samping. Sementara itu, Gu Mingyue memilih bersembunyi di balik batang kokoh pohon persik tua yang meranggas rimbun di dekat kolam. Dahan-dahannya yang lebat dan rendah menjatuhkan bayangan pekat, menyembunyikan siluet tubuhnya dengan sempurna dari jangkauan pandangan orang luar.
Dari posisinya, Fan Li'er mulai menggoreskan beberapa lentera minyak menggunakan tusuk konde perak miliknya hingga terjatuh ke tanah. Setelah itu, ia mendekat ke arah pot besar dan...
Praaanggg!!!
"Tolong! Ada penyusup!" Teriakan itu melengking keras, memecah keheningan malam yang kian sunyi.
Derap langkah kaki yang tergesa-gesa langsung terdengar bersahutan, berlarian mendekat dari segala penjuru. Di balik naungan pohon persik, Gu Mingyue kian merapatkan tubuhnya, menyatu dengan kegelapan sembari menanti pertunjukan besar dimulai.
Obor-obor kian mendekat ke arah paviliun samping. Jenderal Besar Gu datang tergesa-gesa disusul oleh Selir Lin di belakangnya. Beberapa prajurit tampak menyebar begitu melihat beberapa lentera minyak yang jatuh berserakan. Di sudut halaman, Fan Li'er pun mulai bersandiwara dengan tubuhnya yang dibuat gemetar hebat.
"Pelayan, apa yang terjadi?!" tanya Selir Lin tergesa ke arah Li'er.
"Saya melihat bayangan seseorang membawa pedang! Dia lari masuk ke belakang paviliun samping, sebelum... sebelum akhirnya saya benar-benar kehilangan dia dalam kegelapan," jawab Li'er dengan suara terbata-bata yang meyakinkan.
Namun, alih-alih suara kepanikan akibat kedatangan penyusup, suara dari dalam paviliun justru kian terdengar berbeda. Suara rintihan seorang perempuan yang meminta ampun beradu dengan desah napas memburu dari seorang pria. Derit ranjang kayu bahkan kian terdengar kencang berhentak, seolah mereka sengaja menulikan telinga dari kebisingan di luar.
Jenderal Besar Gu seketika mengernyitkan dahi dalam-dalam, sementara wajah Selir Lin di sampingnya kian pucat pasi. Tanpa membuang waktu lebih lama, Jenderal Besar Gu segera melangkah maju dan membuka pintu utama paviliun samping tanpa ragu.
Di balik bayangan pohon, senyum Gu Mingyue samar terangkat. Ia sengaja mengacak rambutnya sendiri dengan jemarinya hingga berantakan. Begitu melihat keadaan sekitar paviliun sudah agak sepi karena fokus para prajurit sepenuhnya teralih pada area pintu, ia berlari kecil mendekat dengan napas yang sengaja dibuat memburu.
Di kehidupan sebelumnya, aku merebutmu dari Gu Lian karena kebodohanku sendiri. Kali ini... aku akan mengembalikanmu kepada pemilik yang sebenarnya.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya