Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kepergok
Bik Sari yang mendengar teriakan istri majikannya tersebut seketika terbangun dan buru-buru menuju kamar utama.
Tok...tok...tok...
"Ndan, maaf. Neng Alea kenapa teriak? Apa Neng Alea sakit?" tanya Bik Sari dengan sopan namun tersirat penuh kecemasan di depan pintu kamar utama.
"Enggak apa-apa, Bik. Tolong buatkan segelas teh hangat," jawab Prabu setengah berteriak.
"Baik, Ndan. Segera..." sahut Bik Sari.
Detik selanjutnya, Prabu mendengar langkah Bik Sari pergi.
Prabu berusaha sekuat tenaga membantu untuk menenangkan Alea. Bahkan Prabu terpaksa menutup mulut Alea dengan telapak tangannya agar tidak terjadi kegaduhan di luar yang mampu berujung salah paham dengan tetangga sekitar komplek rumah dinas.
"Ini aku, Prabu-suamimu. Kamu aman, Sayang..." bisik Prabu tanpa sadar bibirnya mengeluarkan panggilan 'sayang' pada Alea.
"Mas Pra_bu," cicit Alea seraya meraba wajah sang suami dalam gelap.
"Iya, ini aku. Jangan takut lagi. Aku akan selalu melindungimu," ucap Prabu seraya telapak tangannya menangkap tangan Alea dengan penuh kelembutan yang berada di pipinya.
"Jangan tinggalin aku, Mas. Hiks..." cicit Alea seraya menangis.
Lalu, seketika Alea memeluk tubuh Prabu.
Beruntung Prabu sudah terlatih untuk memiliki pertahanan yang kuat. Alhasil saat Alea dengan cepat memeluk tubuhnya begitu erat dan sedikit dorongan, tubuh Prabu tidak ikut terhuyung ke belakang.
"Tenanglah," bisik lembut Prabu di telinga Alea seraya telapak tangannya tanpa dikomando seketika mengelus lembut punggung sang istri yang masih sedu-sedan menangis ketakutan.
Prabu merapatkan telapak tangannya di tubuh Alea. Lalu, ia berdiri dengan menggendong Alea.
Tring...
Listrik akhirnya menyala juga setelah padam selama hampir empat jam.
Tiba-tiba...
Ceklek...
Derit pintu kamar utama dibuka dan didorong dari luar. Pandangan Prabu seketika menatap ke arah pintu dan ternyata Bik Sari yang masuk membawa nampan berisi teh hangat pesanannya tadi.
Tubuh Prabu sontak mematung. Bik Sari yang melihat posisi dan kondisi yang terpampang nyata adanya adegan Prabu menggendong Alea, mendadak ikut terkejut. Namun detik selanjutnya, Bik Sari hanya mampu tersipu malu.
Sedangkan Alea yang masih ketakutan dalam gelap, hanya mampu memeluk erat tubuh Prabu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.
"Aduh, maaf Ndan. Bibik gak ada maksud tak sopan. Tadi bibik udah ketuk pintu cuma gak ada sahutan dari komandan. Bibik takut terjadi sesuatu sama Neng Alea. Mungkin komandan butuh bantuan bibik. Tapi ternyata..." ucap Bik Sari yang tak melanjutkan kalimatnya sendiri. Justru berakhir tersenyum tipis.
Tak dapat dipungkiri Prabu juga malu dan hampir saja salting di depan Bik Sari. Mirip kucing yang keperg0k mau kawin.
Namun, Prabu akhirnya berhasil mengendalikan dirinya sendiri atas situasi yang penuh kecanggungan tersebut.
"Ini teh hangat untuk Neng Alea bibik taruh di sini, Ndan." Bik Sari meletakkan minuman untuk Alea tersebut di sebuah meja kecil dekat ranjang.
"Makasih, Bik."
"Kalau butuh sesuatu lagi komandan panggil saja bibik,"
"Hem,"
Bik Sari pun segera berpamitan pergi dari kamar pengantin baru yang panas sekaligus canggung tersebut.
Derit pintu kamar utama sudah tertutup rapat.
Prabu sempat merutuki atas kebodohannya sendiri. Setelah Prabu selesai mandi, ia sempat keluar mengambil air minum di dapur. Saat kembali ke kamar, Prabu lupa mengunci kembali pintu kamar utama.
Komandan yang terkenal akan disiplin dan jarang melakukan kesalahan selama bertugas sebagai tentara itu, justru melakukan kesalahan kecil di rumahnya sendiri sehingga membuat ia malu di depan Bik Sari.
Semua konsentrasi dan fokusnya mendadak berkurang gara-gara sebelumnya ia melihat pemandangan indah tubuh polos Alea di depan lemari. Sungguh berbahaya.
Sedangkan di luar pintu kamar utama, Bik Sari yang sejak tadi menahan tawanya, seketika cekikikan.
"Oh, ternyata tadi neng Alea jerit-jerit lagi main pacul-pacul an toh sama komandan," gumam Bik Sari menduganya.
"Pasti Neng Alea kaget lihat bentukan senjata laras panjang milik komandan yang segede gaban. Hihi..." sambungnya.
Bik Sari bergegas masuk ke dalam kamarnya sendiri sembari membayangkan tingkah lucu sepasang pengantin baru tersebut.
☘️☘️
Prabu merebahkan tubuh Alea secara perlahan di atas ranjang bak porselen mahal yang khawatir terjatuh dan pecah.
Setelah itu, Prabu mengunci pintu kamarnya. Ia takut kepergok lagi. Lalu, Prabu mengambil teh hangat untuk diberikan ke Alea.
"Minum dulu," titah Prabu.
Alea pun bangun dan menerima segelas teh hangat tersebut dari Prabu. Tanpa banyak drama, Alea meminumnya.
Prabu mampu melihat jelas jari-jemari tangan Alea tampak bergetar. Hal ini menandakan sang istri masih tak baik-baik saja.
Setengah isinya telah masuk ke tubuh Alea. Prabu meletakkan kembali gelas tersebut di meja dekat sisi ranjang Alea.
"Sekarang tidurlah,"
"Mas Prabu jangan pergi," ucap Alea refleks saat melihat Prabu berdiri.
Padahal Prabu hendak berdiri menuju ke sisi ranjang tempat dirinya tidur.
"Enggak. Aku juga mau tidur di kasur ini,"
Prabu segera berjalan ke tempatnya tidur dan masuk satu selimut yang sama dengan Alea.
Tanpa diduga, Alea langsung memeluk tubuh Prabu. Ia seakan merasa terlindungi jika berada dekat dengan Prabu.
Udara kamar yang awalnya dingin karena listrik sudah menyala karena otomatis AC juga telah mode on, tetapi justru Prabu merasa gerah. Pelukan erat Alea membangkitkan sesuatu yang tadi sudah sempat ia tidurkan di dalam kamar mandi.
"Ya ampun, kenapa sekarang dia mudah baperan? Dipeluk Alea begini, reaksinya kenapa secepat ini? Apa benar aku udah sembuh?" batin Prabu yang masih meragukan keperka_saan nya sendiri sebagai pria tulen.
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Sabar ya yang nunggu mereka main ular tangga.