NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:244.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Keributan di Pagi Hari

.

Almira bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas, mengunci pintu rapat-rapat, menyandarkan punggung pada pintu, mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak. Rasa jijik menyelimuti dirinya. Ia benci harus berpura-pura baik di depan Gilang, benci ketika pria itu menyentuhnya, meski sekadar mengecup keningnya.

"Sebentar lagi, sebentar lagi semua ini akan berakhir," bisik Almira pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan diri. Berjalan ke arah ranjang dan duduk bersandar. Tangannya meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya saat membaca kembali pesan yang tadi dikirim oleh Mbak Rini.

"Mbak Rini memang bisa diandalkan," gumamnya, meletakkan kembali ponselnya kemudian berbaring menyelimuti tubuhnya lalu memejamkan mata. Waktunya istirahat.

Sementara itu, Gilang dengan langkah malas menuju kamar tamu. Ia merasa kesal dengan sikap Lila yang berlebihan. Kenapa istrinya itu tidak bisa pengertian seperti Almira? Hanya karena masalah jaket saja, Lila membuat keributan yang tidak perlu. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak. Ada anak yang dikandung Lila, dan ia tidak ingin perdebatan mereka mempengaruhi kandungan wanita itu.

Dengan pelan, Gilang membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Lila sudah berbaring di ranjang, memunggunginya. Gilang menghela napas, menghampiri dan duduk di tepi ranjang.

"Sayang," panggil Gilang yang sebenarnya malas, mengelus rambut Lila sekilas. "Kamu sudah tidur?"

Lila tidak menjawab, tetap memunggunginya. Gilang memutar bola matanya, merasa semakin kesal.

"Ya sudah, aku minta maaf deh," ucap Gilang dengan nada datar. "Aku tahu aku salah. Udah kan?"

Lila tetap diam. Gilang mendengus kesal, namun ia menahan emosinya. Ia mencoba memeluk Lila dari belakang, namun wanita itu menepis tangannya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku!" bentak Lila dengan nada ketus.

Gilang menghela napas panjang. "Ya ampun, Lila, lebay banget sih," gumam Gilang pelan, namun masih bisa didengar oleh Lila.

"Apa kamu bilang?" tanya Lila berbalik cepat menghadap Gilang. Matanya melotot.

"Enggak," jawab Gilang cepat. "Aku cuma bilang maaf. Udah kan? Mau apa lagi?"

Lila menatap Gilang dengan tatapan tajam. "Kamu tahu apa yang membuatku marah, Mas?" tanya Lila dengan nada sinis. "Bukan karena jaket itu. Tapi karena kamu perhatian sama wanita lain!"

Gilang memutar bola matanya lagi, merasa jengah dengan sikap Lila yang belakangan terlalu posesif. "Ya ampun, Lila, aku cuma kasihan sama dia," ucap Gilang dengan nada malas. "Gak ada maksud apa-apa."

"Alah, alasan!" balas Lila dengan sinis. "Aku gak percaya sama kamu!"

"Ya sudahlah terserah. Mau percaya atau enggak, terserah kamu," ucap Gilang kesal. "Yang penting aku sudah minta maaf. Sekarang aku mau tidur. Aku capek. Besok masih harus kerja."

Gilang berbaring memunggungi Lila, Dalam hati, ia menggerutu. “Kenapa sih dia gak bisa bijaksana kaya Mira?"

Lila menatap punggung Gilang dengan tatapan kesal. Bukannya merayunya atau membujuknya, pria itu malah langsung tidur memunggunginya. Bahkan, tidak ada sedikit pun usaha untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Ini semua gara-gara pembantu sialan itu," gumam Lila dalam hati. "Lihat saja besok, aku pasti akan memberikan pelajaran."

Arah mata angin berputar. Yang ada di otaknya kini bukan lagi bagaimana membuat Almira buruk di mata Gilang. Tapi bagaimana membuat Rini tak bisa mendekati Gilang.

*

Keesokan harinya, mentari belum lagi menyapa bumi saat Almira membuka matanya. Kamarnya masih remang-remang, hanya diterangi sedikit cahaya yang menyusup dari celah gorden.

Tangan Almira terulur menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas. Kalender kecil yang terlihat menunjukkan tiga minggu sudah sejak Gilang pulang membawa racun mematikan itu. Sejak hari itu pula jadwal hariannya berubah.

Tidak lagi turun dengan buru-buru, menyiapkan sarapan untuk Gilang, menyetrika baju kerja Gilang, membersihkan rumah agar dipuji oleh Gilang, seolah hidupnya hanya berputar di sekitar kebutuhan Gilang.

Namun, kini semua itu telah berakhir. Almira tidak lagi mau menjadi budak cinta, budak rumah tangga. Ia ingin menikmati hidupnya sendiri, mewujudkan impian-impiannya yang telah lama terkubur.

Perlahan, Almira bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Ia memanjakan dirinya dengan mandi air hangat, membiarkan air itu membasahi dan membersihkan tubuhnya, sekaligus jiwa dan pikirannya.

Setelah selesai mandi sekaligus berwudhu, Almira mengenakan gamis berwarna lembut dengan hijab instan yang serasi. Kemudian, ia duduk di atas sajadah dan mulai membaca Al-Qur'an, menunggu adzan subuh tiba.

Ayat-ayat suci itu mengalun merdu, menenangkan hatinya dan mengisi jiwanya dengan kedamaian. Melepaskan beban yang menghimpit jiwanya.

Adzan subuh berkumandang, Almira menutup Al’Quran nya.

*

*

*

Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Almira yang sebenarnya masih sibuk memeriksa bisnis yang selama ini ia kelola diam-diam, terpaksa bangkit dari ranjang keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah karena mendengar suara berisik.

Keributan sedang terjadi. Lila berkacak pinggang, tangan menunjuk, berteriak.

“Kamu, ya. Dasar pembantu gak bener! Pasti kamu sengaja ingin menggoda suamiku, kan?"

"Saya… saya tidak seperti itu. Mbak Lila salah paham.” Suara Rini terdengar bergetar.

Lila maju, tangan ingin menggapai. Namun …

“Tolong saya, Pak. Saya takut…”

Mata Almira menyipit melihat pemandangan yang terlihat. Mbak Rini yang selama ini terkenal pemberani, dan tak kenal takut pada siapapun, sama sekali tidak melawan, malah bersembunyi di balik punggung Gilang. Mencari perlindungan.

“Ini sebenarnya ada apa, sih?" Bu Rosidah yang tidak paham situasi bertanya keras.

"Iya nih, Mbak Lila. Ada apa sih, Mbak? Baru bangun juga dah ribut-ribut.” Riana ikut ngedumel.

Di pertengahan anak tangga, Almira berdiri tenang, menyilangkan dada mengamati situasi.

“Lila!" bentak Gilang. “Aku bilang cukup! Kamu itu salah paham!" Sebelah tangan pria itu melingkar ke belakang.

Almira tersenyum pada akhirnya. Setelah mengetahui situasi yang terjadi. “Mbak Rini benar-benar bisa diandalkan," gumamnya, tersenyum puas.

"Aku tidak salah paham, Mas,” teriak Lila tidak terima. "Lihat saja buktinya dia nempel terus sama kamu, kan?” Lila kembali merangsek namun Gilang menghadang dengan memeluknya.

“Lepas, Mas! Biar aku kasih pelajaran sama dia!" Lila meronta, namun Gilang tak melepaskan. Pria itu malah menarik Lila dibawa ke kamar. Tak peduli wanita itu yang terus berteriak.

Almira menatap penuh cemooh pada adik madu yang tampak begitu terguncang. "Padahal iiu baru permulaan," gumamnya menghela nafas. "Kenapa orang ketiga disebut madu? Padahal jelas-jelas itu racun!"

“Apa yang sudah kamu lakukan?!" Bu Rosidah menatap tajam ke arah Mbak Rini setelah Lila dibawa pergi oleh Gilang.

“Saya juga tidak tahu, Bu," Rini menunduk mengusap air mata yang sejatinya sama sekali tidak keluar. “Tiba-tiba saja Mbak Lila seperti orang kalap menyerang saya." Suara Isak tangis yang begitu pilu menyayat hati terdengar.

"Ya sudah, sana! Langsung kerja! Saya sudah lapar,” perintah Bu Rosidah.

"Saya permisi, Bu.” Mbak Rini berlalu sambil lagi-lagi sesenggukan mengusap mata yang sebenarnya kering.

Almira tersenyum tanpa terlihat. “Seharusnya piala Oscar diberikan buat Mbak Rini," gumamnya. Tangan yang kemudian mengusap perutnya. Sebelumnya masih rata, sekarang tangannya mulai merasakan ada sesuatu yg menonjol.

"Aku harus segera menyelesaikan semuanya."

1
neny
kadang aq kasihan jg sm lila,,karma nya begitu berat,,tp ya itulah hidup,,apa yg kita taman,,itulah yg kita tuai,,
neny: tanam,,kok taman sih🤣🤣 typo😂😂
total 1 replies
vj'z tri
Alhamdulillah 🤲🤲🤲
vj'z tri
dah tahu kan sekarang kenapa /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ummee
agak pendek episode nya atau krn ceritanya yg bagus+menegangkan jadinya gk berasa kalo bersambung😁
Ummee: ohh iya kak ,hehehe 🙏
total 2 replies
v_cupid
😔
Nie
si Edwin udh tau penjahat tapi dgn pede nya malah berurusan ma hukum


🤭🤭
Nie: iya mam,akibat terlalu pede akhirnya masuk hotel prodeo deh wkwkwk
total 2 replies
Riskiya ahmad
alhamdulilah aisyah jatuh dtangan yg tepat,💪💪💪💪💪
Amy
naaah,, cari perkara siiih,, masih mendingan hidup aman2 sja, krna kedok tidak terbongkar, kau cari gara2 dgn mengusik singa yg diam...rasakaan 🤭🤭🤭
Amy: naaah betul itu kaka othor, itu namanya pandang enteng 🤣🤣🤣
total 2 replies
dewi rofiqoh
Syukurlah hak asuh aisyah jatuh pada gilang dan riana
Patrick Khan
legaaaaaaaaa😌😌.Lila sm ed terserah dah
Nar Sih
ahir nya gilang riana menang ,berkat bantuan tuan laksamana 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
aku
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: iyo loh. kibor sak iki eror terus. gone apri ning gc yo mesti ngono
total 3 replies
tse
semoga Lila bisa bebas dari edwin...
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: semoga
total 1 replies
stela aza
ko blm up lagi thor
stela aza: padahal udh menunggu dr subuh di cek terus sampai MLM malah blm up 😭
total 2 replies
v_cupid
lhaa
Ummee
bantuan datang...
Patrick Khan
km pasti menang Gilang..km punya dekengan pusat😌😌🔪🔪
Nar Sih
sabar dan tenang gilang ,kmu pasti menang hak asuh aisyah ,ada mantan papa mertua mu yg baik pasti bantu kmu
tse
tenang Gilang kalo km berlaku baik smaa keluarga Almira kamu akan selalu dalam perlindungan mereka...
semoga kalian bahagia semuanya...
semoga Lila bisa bebas dari cengkraman edwin yang gila itu...
stela aza
good job gilang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!