NovelToon NovelToon
Kita, "Bukan."

Kita, "Bukan."

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:27k
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Kau pernah begitu mencintai namun pada akhirnya kau bukan pilihannya?
Kau pernah amat sangat ingin bersanding dengannya tapi harus berpisah. Sudah lupakan, lihat cerita kita saat ini. Akan segera kuceritakan prihal hal baik dan buruknya kita saat mencintai.

Yang menjadi Kita, "Bukan."
-ReviieAufiar

Cerita ini hanyalah keresahan yang terjadi di kalangan anak muda. Maraknya Ghosting, Benching, Overthingkin dll

Cover Pinterest or Royal Blood

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Konflik

Segala sesuatu itu tetap bakal bisa terlewati, jika kamu bisa dan mau. Apakah kita seperti pribahasa yang tak dapat dibahasakan; atau takkan pernah tau apa artinya?

Beberapa tahun lalu.

Seorang lelaki melempar beberapa barang yang menyebabkan kegaduhan yang menghancurkan seisi rumah. Semuanya bergetar, tertampar dan tangis ketakutan itu bersemayam sampai saat ini. 

Bayangan amarah dan kehilangan seseorang yang kusayangi itu memecahkan tangisku di malam itu. Malam yang panjang yang penuh dengan kepedihan; sungguh menyakitkan.

Di sekolah yang tak tau apakah tempat ini bisa merubahku atau malah mengekang aku. Tarikan dari asap rokok itu sambil bersandar dan mendengarkan bel berbunyi kerasnya, semuanya tak ku pedulikan, yang ada hanyalah ketentraman sementara tanpa ingin ada gangguan tapi disaat itulah aku mengenal seorang sosok gadis yang banyak mengubah hidupku. 

Suara gebrakan tas jatuh dari atas tembok. Lompatan seorang gadis yang saling menatap dengan anak lelaki itu namun tak dipedulikan dan mengalihkan pandangannya.

"Eh, tolong donk ketinggian soalnya." Ucap seorang gadis dari atas tembok.

Lelaki itu hanya menatap.

"Ayo donk. Kamu taukan aku murid baru masa udah di strap aja gara-gara telat. Ucapnya sedikit memelas namun tak di hiraukan. Huft. Menghela nafas panjang. Yaudah deh." Melompat dengan cepat.

Saat melompat hampir terjatuh di tangkap oleh anak lelaki itu.

"Astaga makasih. Yah baju lu jadi kotor." Membantu membersihkan bagian yang kotor namun ditepis oleh anak tersebut.

"Urus urusanmu sendiri." Menatapnya datar dan pergi begitu saja.

"Yaelah jutek amat jadi cowok. Menggerutu dan membuka celana olahraganya. Untung aja gue pake training ini tadi kalo kagak mampus gue rok gue berterbangan." Melipat celananya dan memasukkannya ke tas berjalan cepat ke kelasnya.

Lelaki itu menyadari bahwa gadis itu mengikutinya dan melirik kebelakang.

"Jangan ikutin gue." Berhenti dan menoleh dengan tatapan tidak suka lalu berjalan kembali.

Gadis itu keheranan.

"Siapa sih yang ngikutin dianya." Gerutu dan tetap berjalan menuju kelas.

Sesampai di pintu kelas lelaki itu menjadi palang pintunya dari gadis itu.

"Aduh. Kepala gadis itu menabrak dada bidang lelaki tersebut. Apaan sih, menghalangi jalan gue aja." Nada kesal.

"Ini kelas gue dan yang disana bangku gue. Puas lo,"menunjuk ke kursinya di dalam ruangan.

"Lah! Nada gadis itu bingung. Lah ini kelas gue juga dan gue duduk di bangku yang ditunjuk tu." Membuat heran.

"Haa." Kaget.

Ketua kelas datang dari belakang Rere.

"Yo geser gak. Bu guru dah mau datang tu. Relin ayo masuk." Ucapnya mendorong tubuh Yo dan lelaki itu dengan spontan mundur.

Gadis itu memasuki ruangan kelas dan mengejek. "Gua bilang juga apa." Gumamnya.

Lelaki itu hanya langsung duduk melipat tangannya dan tertidur kearah kiri.

Gadis di sampingnya mengeluarkan buku-buku pelajaran dan memperhatikan guru yang masuk.

"Selamat pagi anak-anak kita buka halaman 37 ya." Ucapnya sambil menjelaskan materi.

"Baiklah bu." Serentak suara menjawab dan para murid membuka halaman yang telah disuruh.

"Hei kamu, kamu." Tunjuk bu guru.

"Ha. Saya bu." Menunjuk.

"Iya kamu. Bangunkan anak lelaki yang di sampingmu." Perintah bu guru.

"Hei. Hei. Memegangi tangannya dan menggoyangnya agar terbangun. Dipanggil tu." Masih membangunkan lelaki yang disampingnya tersebut.

Lelaki itu bangun.

"Maaf bu, saya sakit. Boleh diantar sama dia ke UKS." Menunjuk gadis itu.

"Ha gue." Menunjuk dirinya sendiri.

Anak lelaki itu langsung merangkul gadis itu dan berbisik. "Udah buruan."

"Iya, iya bawel." Berjalan melewati siswa/siswi lain termasuk gurunya.

"Baiklah kita mulai lagi pelajaran kita ya." Ucapnya setelah kedua murid itu keluar ruangan.

"Eh lo sakit ya. Memegang kepalanya. Lah kagak panasnya lemes banget lu. Hei?" Tanyanya khawatir.

Di ujung lorong.

"Lu bisa diem aka hal anterin gua ke UKS. Kalo gak mau balik lagi sono." Menarik tangannya dan berdiri tegak lalu berjalan ke UKS dengan lemas.

Gadis itu masih diam namun mengikuti dari belakang.

"Apaan sih, sana balik." Pungkasnya.

Di UKS lelaki itu langsung merebahkan badannya miring di kasur tanpa sengaja Rere melihat darah di pundak lelaki itu.

"Astaga lo kenapa? Histeris. Gue panggilin penjaga UKS dulu." Berjalan keluar dengan spontan anak lelaki itu menariknya dan membuat gadis itu duduk di tempat tidurnya.

"Lo bisa gak, kagak berisik. Di lemari ada perban sama betadin inisiatif kek buat ngobatin gak heboh gitu." Pungkasnya melanjutkan tidurnya yang tertunda karena dibangunkan saat di ruangan kelas tersebut.

Gadis itu membuka lemari dan mengambil alkohol, betadin, rivanol, plester dan perban di tampa alumunium tak lupa mengambil gunting.

"Buka baju lu. Perintah gadis itu tapi tak ada jawaban tiba-tiba saja badan anak itu menggigil dan keringat dingin. Astaga badannya panas." Memegang kepalanya lalu memeriksa lehernya. 

Gadis itu mengambil handuk setengah basa dan mengelap di bagian wajah dan leher lelaki itu. Tangannya berhenti ketika lelaki itu terbangun.

"Kau sedang apa." Tanyanya setengah sadar.

"Buka bajumu, biarkan aku melihat lukamu." Pungkasnya.

Lelaki itu tanpa tenaga membuka kancing bajunya dan melepaskannya. Dengan spontan gadis itu membantu membuka bajunya. Terlihat darah menembus dari kaos singlet dalaman baju sekolah lelaki itu.

"Astagfirullah, lukamu kapan ini terjadi." Darah yang dibiarkan kering dari luka itu terbuka. Terlihat ada bongkahan kecil beling kaca melukai kulit belakangnya. Dengan hati-hati gadis itu membersihkan lukanya dan sampingnya dengan alkohol dan mengambil beling yang menancap di balik kulitnya tersebut. Syukurlah tidak terlalu dalam. Dengan hati-hati gadis itu mengompres dengan rivanol lalu menghembus luka tersebut membuat lelaki itu sedikit nyeri.

"Aww." Keringatnya masih bercucuran.

Dengan cepat gadis itu meneteskan betadin dan menutup lukanya dengan perban dan plester dan memakaikan kembali bajunya dengan rapi.

"Aku akan panggil orang, atau kau mau izin pulang?" Tanya gadis itu. 

Gadis itu pergi dan kembali tangannya ditahan lelaki tersebut.

"Jangan pergi, jangan." Ngigaunya.

"Astaga, sudah besar masih doyan ngigau. Ucapnya menaiki kasur sebelah tertidur menatap lelaki itu. Tampan sih tapi agak kasar. Tanpa sadar tangan gadis itu mengarah ke arah wajah lelaki itu namun tak sampai. Yah gak sampai." Menghela nafas.

"Kalian sedang apa? Tanya seorang guru kesehatan penjaga UKS.

Dengan cepat gadis itu duduk di kasur dari posisi awal merebahkan diri.

"Ah iya bu. Tadi saya cari ibu gak ada jadi saya bantuin dia perban lukanya sekali nungguin demamnya turun. Tapi lemari bagian obatnya terkunci." Menatap wanita tersebut.

"Oh begitu. Dengan cepat wanita itu mengambil termometer mengukur suhu panasnya dan melihat luka perban yang dibuat gadis tersebut. 38 derajat. Ucapnya lalu mengambilkan obat di lemari dengan kunci yang dia pegang. Dia sudah makan belum?" Tanya guru tersebut.

"Saya gak tau bu." Menggeleng.

"Setelah bangun, ajak dia makan di kantin lalu berikan obat ini ya." Memberikan obat pereda sakit dan demam.

"Baik bu. Terimakasih." 

"Saya pergi dulu ya, masih ada kelas." Ucapnya.

"Baik bu." Mengangguk.

Gadis kembali merebahkan badannya dan tertidur menatap lelaki itu.

3 jam berlalu, anak lelaki itu terbangun dan menatap gadis yang ada di hadapannya lalu memegang pundaknya.

"Astaga, kenapa kau selalu ikut campur dengan urusan orang lain. Memangnya kau siapa?" Menatap ke wajah gadis tersebut.

1
Rev
😻
WinnyLiam
👍🏻
WinnyLiam
🧚🏼
Xerxe Andraxx
🤭
Xerxe Andraxx
🙏
Rev
Kevandra
🌸
Rev
👍🏻
Xerxe Andraxx
😍
Xerxe Andraxx
🤭
WinnyLiam
🧚🏼
deinandra
😍
Kevandra
🌻
WinnyLiam
😻
Xerxe Andraxx
hi
deinandra
😍
Kevandra
🙏
Rev
Rev
👍🏻
deinandra
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!