~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 KEDATANGAN SANG PANGLIMA DI RUANG KERJA
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam makan malam pertama mereka. Waktu berjalan seperti aliran sungai musim semi yang pelan, tapi menyegarkan.
Hubungan Darian dan Iris pun perlahan berubah. Tak ada deklarasi cinta yang meledak-ledak, tak ada rayuan manis atau pujian kosong. Tapi dalam diam, dalam hal-hal kecil yang tak banyak bicara, keduanya belajar untuk hadir satu sama lain.
Darian tetaplah Darian. Dingin. Tenang. Penuh kendali.
Namun kini, ada perbedaan.
Ia tak lagi menghindar saat Iris menyentuh lengannya dengan santai. Tak lagi memasang wajah kelam saat harus meminum teh bersamanya di pagi hari. Bahkan, ia kini terbiasa dengan aroma lembut sabun lavender dan kehadiran wanita berambut perak itu yang kini memenuhi ruang pribadinya.
Iris pun perlahan berubah. Sang Grand Duchess yang dulu terkenal sering merajuk, kini memiliki sisi yang lembut dan bersinar tanpa kehilangan wibawa bangsawannya.
Malam itu, langit Ravengard dihiasi bintang-bintang musim dingin yang menggantung rendah.
Di dalam kamar utama Grand Duke, suasana tenang menyelimuti.
Iris bersandar di antara bantal empuk di atas ranjang besar dengan buku tebal di tangannya. Rambut panjang peraknya dikuncir longgar, dan gaun tidurnya jatuh anggun di tubuhnya yang mulai membulat. Tangannya sesekali mengusap perutnya sambil tersenyum membaca kisah romansa klasik.
Darian duduk di meja kerjanya, membalik halaman dokumen-dokumen militer dan laporan pasokan dari wilayah perbatasan. Jubah rumahnya berwarna gelap, dan rambutnya sedikit berantakan, membingkai wajah tegas yang kini tak sekeras biasanya.
Mereka saling diam. Tapi bukan karena canggung.
Melainkan karena... nyaman.
Iris melirik jam pasir di meja samping. “Sudah lewat tengah malam,” ujarnya lembut sambil menutup bukunya.
Darian tidak menjawab. Hanya membalik lembar lain dari laporan panjang itu.
Iris memiringkan tubuhnya, menatap punggung suaminya. “Darian,” panggilnya lagi. “Ini sudah larut. Bukankah kau biasanya selesai sebelum jam sepuluh sekarang?”
Darian berhenti menulis. Bahunya bergerak perlahan, lalu ia meletakkan pena di atas dokumen. Ia membalik badan, dan menatap Iris dari kejauhan.
“Kau sudah selesai membaca buku itu?” tanyanya datar, tapi suaranya lebih... lembut.
Iris mengangguk. “Anak kita juga sudah protes. Dia tadi menendang cukup keras. Mungkin dia ingin ayahnya istirahat.”
Darian menghela napas pendek dan bangkit. Ia berjalan ke sisi ranjang, lalu menarik selimut Iris sedikit lebih tinggi hingga menutupi bahunya.
“Baiklah. Aku istirahat.”
Iris tersenyum puas. “Lihat? Aku berhasil membuat Grand Duke Ravengard menutup laporan sebelum fajar.”
Darian duduk di sisi ranjang, mengangkat satu alis. “Aku tidak ingin kau sakit karena menungguku. Itu saja.”
“Alasan yang elegan,” balas Iris sambil terkikik. “Tapi aku akan terima itu sebagai bentuk perhatian.”
Darian hanya mendengus pelan, lalu merebahkan diri di sisi Iris.
Beberapa saat berlalu. Suara detik jam terdengar samar.
Iris mengubah posisinya, pelan, lalu membaringkan diri menghadap Darian yang sudah rebah di sisi ranjang. Rambut panjangnya yang perak berkilau lembut diterpa cahaya lampu redup di sisi tempat tidur.
“Darian,” bisiknya, hampir seperti embusan angin musim semi.
Darian membuka sedikit matanya. Mata kelabu itu menatapnya datar, namun tak mengusir. “Apa?”
Iris tersenyum kecil, seperti anak kecil yang ingin diajak bicara. “Aku senang... bisa di sini. Di kamar ini. Di sisimu.”
Darian mengangkat sedikit alis. “Kau tak suka kamarmu sendiri?”
Iris menggeleng pelan. “Kamarku... terlalu sunyi. Dan terlalu luas. Rasanya seperti tinggal di dalam museum.”
Darian bergumam rendah, “Kamar ini juga luas.”
“Tapi hangat,” sahut Iris cepat. “And ada bau kayu pinus, dan... kau.”
Darian mendengus kecil. “Itu tidak termasuk fasilitas kamar.”
Iris tertawa pelan. “Menurutku, itu bonus terbesarnya.”
Ia tak menunggu balasan. Malam ini, ia hanya ingin bicara. Hatinya ringan, dan tubuhnya terasa nyaman di bawah selimut tebal yang menghangatkan kaki hingga bahu.
Darian bergerak perlahan, tanpa berkata apa-apa. Lalu dengan gerakan tenang dan penuh perhitungan ia meraih Iris dan menarik tubuh istrinya itu mendekat ke dadanya.
Pelukan itu mendadak erat, dan... sangat rapat.
Saking rapatnya, perut buncit Iris yang membulat terjepit di antara mereka berdua.
“Darian!” protes Iris dengan nada setengah terkekeh. “Anak kita sedang mogok napas, tahu!”
Darian tetap tak banyak bicara. Tapi pelukannya mengendur sedikit. “Maaf.”
Namun ia tidak melepaskan. Sebaliknya, ia hanya memindahkan tangannya, meletakkannya lembut di atas perut Iris yang bergerak perlahan, seakan merespon hangatnya dekapan itu.
Iris diam sejenak.
“Dia... suka,” gumamnya lirih. “Dia menendang tadi. Tapi bukan protes... lebih seperti... merasa aman.”
Darian menunduk sedikit. Dagunya nyaris menyentuh ubun-ubun Iris. “Atau mungkin... dia tahu dia sedang dilindungi.”
Iris terdiam, lalu tersenyum. Hatinya hangat, matanya mulai berat. Dalam pelukan hangat itu, perlahan ia tenggelam dalam mimpi yang tenang.
Namun tidak demikian dengan Darian.
Beberapa jam kemudian, di tengah malam yang senyap, tubuh besar itu bergerak gelisah. Napasnya mulai berat. Keningnya berkerut.
Dalam mimpinya...
Ia berdiri sendiri di tengah medan perang yang sepi, sunyi... tapi penuh aroma kematian. Kabut menebal, angin kencang berputar seperti pisau. Tanah becek oleh darah dan hujan, tubuh-tubuh berserakan tak bernama, tak bergerak.
Bajunya compang-camping. Darah menetes dari pelipisnya. Pedangnya tergeletak jauh dari genggaman. Dan tak ada satu pun suara selain denting samar dari bendera Ravengard yang sobek tertiup badai.
Sendiri. Lagi-lagi sendiri.
Suara langkah menghampiri dari balik kabut. Tapi saat Darian memutar tubuhnya, yang datang hanyalah sosok tanpa wajah, tertawa menyeringai dengan darah menetes dari mulutnya. Tangannya membawa api abadi yang membakar segalanya.
Lalu semuanya terbakar.
Darian terbangun mendadak.
Tubuhnya terlonjak sedikit, peluh dingin membasahi pelipis dan dadanya. Napasnya terengah. Matanya liar, sebelum akhirnya menoleh ke sisi ranjang.
Dan di sana... masih ada Iris.
Tertidur damai dengan pipi menempel pada bantal. Napasnya tenang. Satu tangan kecilnya mengusap perutnya, seolah dalam mimpi pun masih menjaga sang bayi.
Darian menatapnya lama.
Tangannya yang besar perlahan meraih dan menyentuh ujung rambut Iris yang tergerai. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi menutupi bahu istrinya.
Malam masih panjang. Tapi kini... ia tahu.
Ia tidak sendiri lagi.
Musim semi menebar harum bunga liar dari taman-taman Kastil Ravengard. Di balkon luar, matahari memantulkan sinarnya pada jendela kaca besar ruang kerja Grand Duchess. Namun di dalam ruangan itu, suasana berbeda.
Tumpukan surat dari berbagai penjuru wilayah teratur di atas meja mahoni gelap. Cap lilin dengan lambang keluarga Ravengard masih mengilap merah, belum dibuka. Beberapa bahkan berisi undangan pesta teh, kunjungan sosial, atau laporan alokasi dana amal yang membutuhkan tanda tangan sang Duchess.
Iris duduk tegak, rambut peraknya disanggul anggun, tetapi ada helaian-helaian nakal yang jatuh menghiasi pelipisnya. Ia tampak fokus, pena bulu menari anggun di atas kertas perkamen.
“Yang ini dari Countess Belvoire. Lagi-lagi mengeluhkan dekorasi patung air mancurnya rusak karena burung bangau yang bersarang di situ,” gumam Iris dengan nada geli.
Lisa, yang duduk tak jauh dari meja, menahan tawa. “Tapi, Yang Mulia... tahun lalu, dia juga komplain karena danau tamannya terlalu... mengkilap.” Lisa menekankan kata terakhir sambil mengedip geli.
Iris tertawa pelan. “Bangsa bangsawan ini... drama dalam balutan renda dan permata.”
Keduanya tertawa kecil bersama. Aura ringan dan akrab memenuhi ruangan itu—sangat berbeda dari nuansa tegang di aula pengadilan atau rapat diplomatik yang biasanya Iris hadiri.
Lisa meletakkan secangkir teh mawar hangat di sisi Iris. “Hari ini Anda terlihat cerah, Nyonya. Apakah karena semalam tidur di... tempat tertentu?”
Iris menoleh cepat. “Lisa...”
“Maafkan saya!” seru Lisa cepat, pura-pura bersalah namun senyum geli tak bisa ia sembunyikan. “Tapi wajah Anda jauh lebih lembut akhir-akhir ini. Bahkan kusir kereta bilang, Anda tidak lagi menatap orang lain seperti ingin menusuk mereka dengan pisau dapur.”
Iris hanya tersenyum kecil, menyembunyikan rona merah di pipinya dengan berpura-pura membaca ulang surat dari Viscountess Everaine.
Namun tawa itu cepat menguap.
Karena tiba-tiba, angin dingin melintas sejenak di balik pintu.
Lisa menoleh ke arah pintu. Aura mencekam menyusup seperti kabut tipis. Bayangan tinggi besar jatuh di ambang pintu kayu besar yang terbuka diam-diam.
Dan di sanalah dia.
Grand Duke Darian von Ravengard.
Dengan jubah hitam legam yang kontras dengan siang cerah, mata kelabunya menyapu ruangan. Seketika hanya suara desiran angin yang terdengar. Lisa menelan ludah. Bahkan bunga dalam vas di pojok meja pun tampak membeku.
“Y-Yang Mulia...” sapa Lisa gugup.
Darian mengangguk pelan pada Lisa. Tapi tatapannya tertuju pada satu orang.
Iris.
Sang Grand Duchess yang tersenyum pelan menyambut kedatangan suaminya.
“Oh. Darian,” ucap Iris ramah, suaranya seperti cahaya lilin di tengah badai.
Darian tidak menjawab langsung.
Ia melangkah masuk dengan diam, pasti, dan penuh beban tak kasat mata. Matanya menyapu meja penuh kertas, lilin yang nyaris habis, dan... sisa-sisa tawa yang tadi masih mencuat di udara.
“Banyak pekerjaan?” tanyanya datar. Tapi Lisa bisa bersumpah, ia mendengar nada yang sedikit tajam di balik suara berat itu.
Iris mengangguk. “Cukup banyak. Musim semi selalu memicu para bangsawan untuk mengajukan keluhan-keluhan kreatif mereka.”
Lisa ingin tertawa lagi, tetapi melihat sorot mata sang Grand Duke yang menajam, ia tahu diri dan langsung berdiri.
“Kalau begitu... saya akan pamit dulu, Grand Duchess,” ucap Lisa cepat, sedikit menunduk hormat dan melangkah mundur perlahan. “Ada... eh... jamur di dapur yang harus disortir. Atau sesuatu.”