Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Bayang-Bayang dan Penyelidikan
Suasana restoran di lantai dasar hotel itu terasa hangat, penuh dengan aroma kopi panggang dan hidangan Italia yang menggoda. Helena, Dinda, Rangga, dan Andi sudah memesan meja di pojok dekat jendela besar. Cahaya matahari siang menerpa wajah mereka, tapi Helena rasanya masih belum bisa benar-benar menikmati kehangatan itu.
"Rasanya tadi negosiasinya lancar banget, ya?" Rangga membuka obrolan sambil menyendok sup krim jamurnya. "Aku lihat Pak Arthur itu tipikal orang yang susah ditebak, tapi tadi dia beberapa kali mengangguk. Itu pertanda bagus."
Andi mengangguk setuju. "Iya, bagian green concept kita sangat mereka apresiasi. Aku yakin kita bisa dapat deal ini."
Dinda memotong steak-nya dengan penuh semangat, tapi sesaat kemudian dia menatap Helena dengan tatapan menyelidik. "Eh, tapi balik lagi soal Pak Arthur itu. Dari tadi kamu diem aja, Hel. Kamu yakin nggak kenal dia? Karena gue lihat tatapan dia ke lo itu... aneh. Bukan tatapan klien ke rekan bisnis biasa."
Helena menyesap minuman jeruknya pelan. Dia tahu pertanyaan ini pasti akan muncul. Teman-temannya memang jeli. "Aku... nggak pernah bilang nggak kenal," jawabnya pelan. "Dia mantan suamiku."
Keheningan langsung menyelimuti meja makan. Dinda tercekat, hampir tersedak. Rangga meletakkan sendoknya dengan pelan, sementara Andi membelalakkan mata.
"Apa?!" Dinda berbisik, nyaris berteriak tapi tertahan oleh kesopanan restoran. "Mantan suami? Hel, kamu dulu pernah menikah sama raja properti itu? Kenapa nggak pernah cerita?!"
Helena menghela napas panjang, matanya menatap tumpukan pasta di depannya tanpa berselera. "Karena itu cerita yang sangat rumit, Din. Lima belas tahun lalu, kami menikah. Tapi perceraiannya terjadi dalam waktu kurang dari setahun. Banyak hal yang terjadi, salah paham, dan... aku memilih pergi dan menghilang."
"Tapi di mata dia tadi, Hel... dia masih kayak nggak rela gitu loh," Rangga menambahkan hati-hati. "Aku nggak mau menakut-nakuti, tapi tatapan dia ke kamu tadi tajam banget. Kayak ada urusan yang belum selesai."
Helena mengigit bibir bawahnya. Ketakutan yang dia rasakan di ruang meeting tadi kian membesar. "Aku tahu. Makanya aku sedikit khawatir. Aku sudah berusaha keras menghindari Jakarta dan semua yang berhubungan dengan Arthur, tapi pekerjaan ini... ini terlalu besar untuk ditolak."
"Anda yakin kerja sama ini bisa berjalan aman?" Andi bertanya, ragu. "Kalau ada konflik pribadi, bisa-bisa bisnis kita yang jadi korban."
Helena meremas serbet di pangkuannya. "Kita tetap jalankan profesional saja. Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu masa depan perusahaan. Kalian tenang aja, aku bisa mengendalikan diri."
Dinda mengulurkan tangan dan meraih jari Helena. "Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ya. Kami ada di sini. Tapi Hel... jangan dipikirin sendiri. Cerita sama kami dong. Emang kenapa sampe pergi? Bukannya kita udah sahabat dari jaman kuliah?"
Helena menggeleng pelan. "Maaf, Din. Belum waktunya aku cerita. Aku nggak mau kalian ikut terbebani dengan rahasia ini. Untuk sekarang, mari kita fokus bersenang-senang dulu sambil makan. Kita berhasil melewati meeting pertama dengan baik, kan?"
Helena memaksakan senyum lebar. Dinda melihat tatapan kawannya itu, tahu bahwa di balik senyuman itu, Helena menyembunyikan badai yang sangat besar. Tapi Dinda memutuskan untuk tidak memaksa. Dia hanya mengangguk dan kembali menyantap makanannya, meski pikirannya tetap dipenuhi tanda tanya.
---
Di sisi lain kota, di dalam ruang kerja eksekutif di lantai 27, Arthur Fernando belum juga bergerak dari kursinya. Dia menatap layar komputernya, tapi matanya kosong. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu mahoni, menciptakan irama yang tak beraturan.
Sejak Helena meninggalkan ruang meeting, seluruh pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wanita itu. Lima belas tahun. Lima belas tahun dia mencari, menelusuri jejak Helena, tapi seolah-olah wanita itu menghilang dari muka bumi. Tidak ada rekaman KTP baru, tidak ada riwayat perjalanan, tidak ada jejak di media sosial. Seolah-olah dia sengaja menutupi semua keberadaannya.
Dan sekarang, tiba-tiba dia muncul. Di hadapannya. Membawa proposal bisnis, dengan senyuman profesional yang menyakitkan hati Arthur.
Kenapa kamu menghilang sekian lama, Hel? batin Arthur, perasaannya berkecamuk antara amarah dan kerinduan yang bertahun-tahun tertahan.
Arthur mengangkat gagang telepon di mejanya. Menekan tombol speed dial ke nomor asisten pribadinya. "Aldi, ke ruanganku sekarang."
Tidak sampai tiga menit, Aldi—seorang pria muda berwajah tegas, dengan kacamata hitam tipis, dan selalu mengenakan jas rapi—masuk ke ruangan. Aldi adalah tangan kanan Arthur. Seorang mantan penyidik swasta yang diambil Arthur bekerja beberapa tahun lalu karena kemampuannya menggali informasi.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Arthur?" tanya Aldi, berdiri tegak di depan meja.
Arthur menatap Aldi dengan tatapan serius. "Aldi, tolong aku. Aku butuh data lengkap tentang seorang wanita. Namanya Helena. Helena Virgina. Mantan istriku."
Aldi sedikit terkejut, dia jarang melihat bosnya meminta data tentang seseorang dengan raut wajah yang begitu kompleks. "Apakah wanita ini ada kaitannya dengan proyek baru dari Bandung, Pak?"
Arthur mengangguk. "Dia baru saja keluar dari ruang meeting ini. Aku ingin tahu semua yang terjadi dalam hidupnya selama lima belas tahun terakhir. Mulai dari tanggal dia meninggalkan Jakarta, sampai dengan detik ini. Tempat tinggal, pekerjaan, apakah dia menikah lagi, apakah dia punya anak, siapa saja orang terdekatnya, dan... yang paling penting, kenapa dia bisa menghilang tanpa jejak selama itu."
Aldi menyimak dengan cermat. "Dimengerti, Pak. Untuk selengkap itu, butuh waktu beberapa hari. Tapi karena saya sudah punya akses ke beberapa database, mungkin saya bisa mendapatkan gambaran besar dalam waktu 24 jam. Apakah Bapak mau saya prioritaskan?"
"Prioritaskan. Berapapun biayanya, tidak masalah." Arthur berdiri, berjalan ke jendela kaca besar, menatap lanskap Jakarta yang luas di bawahnya. "Aku merasa ada yang tidak beres, Aldi. Aku tidak percaya dia hanya pergi begitu saja. Lima belas tahun lalu, ada banyak hal yang tidak masuk akal. Ada yang menutupi keberadaannya. Ada yang sengaja membuat dia pergi. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku tahu semuanya."
Aldi mengangguk, mencatat beberapa hal di tablet-nya. "Saya akan langsung bergerak, Pak. Kemungkinan malam ini, saya akan punya laporan awal. Tapi Pak Arthur..." Aldi menundukkan suaranya. "Apa kau yakin ingin membongkar semua ini? Terkadang masa lalu yang kita gali kembali bisa menyakitkan."
Arthur berbalik, menatap Aldi dengan mata yang penuh tekad. "Sudah lima belas tahun aku hidup dalam sakit, Aldi. Tidak tahu kenapa dia pergi, tidak tahu apakah dia masih hidup, atau apakah dia membenciku. Aku ingin jawaban. Apapun jawabannya, aku siap menerimanya."
Aldi mengangguk hormat. "Baik, Pak. Saya akan berikan hasilnya malam ini juga. Kalau memang ada yang sengaja menutupi jejak Helena selama ini, saya akan temukan celahnya. Titik terang akan segera terlihat."
"Terima kasih, Aldi." Arthur kembali menatap jendela. Di kejauhan, dia membayangkan wajah Helena. Wajah yang masih sama, tapi mata yang menyimpan luka yang tidak pernah dia ketahui.
Helena, aku tidak tahu apa yang terjadi lima belas tahun lalu, tapi aku bersumpah, kali ini aku tidak akan membiarkanmu lari dariku lagi. Jika aku harus membuatmu jadi tawanan dalam hidupku untuk mendapatkan jawaban, aku akan melakukannya.
Arthur mengepalkan tangannya di sisi tubuh, napasnya bergetar. Di dalam ruangan itu, dia memutuskan bahwa masa lalu yang mengantuk tidak akan dibiarkan tertidur lagi. Dia akan membangunkannya, membongkar rahasia itu, dan memenangkan kembali satu-satunya wanita yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati.
Malam nanti, saat Aldi membawa datanya, semua akan dimulai. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.