Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006: Borong Dunia
Pada hari ketiga, Rudi akhirnya menyadari satu hal aneh.
Gudang yang ia isi sampai sesak pada malam hari selalu punya ruang kosong lagi keesokan paginya.
Tidak banyak.
Tidak mencolok.
Cukup untuk membuat truk berikutnya masuk tanpa membuat para kuli mengeluh bahwa barang tidak bisa diturunkan.
Rudi berdiri di pintu gudang dengan buku catatan di tangan, menatap tumpukan beras yang kemarin ia ingat sudah menutup setengah lorong.
Hari ini lorong itu terbuka lagi.
"Bang Hendra," katanya hati-hati, "barang yang di sisi tengah sudah dipindah ke gudang lain?"
Hendra sedang memeriksa daftar pemasok di ponselnya.
Ia mengangkat mata. "Ya."
"Gudang lain itu di mana, Bang? Supaya saya bisa catat lokasi stok."
"Belum perlu kau catat."
Rudi langsung menutup mulut.
Ia bukan orang bodoh. Ia tahu jawaban itu berarti batas. Selama barang tidak hilang dari pembukuan, selama pembayaran jelas, selama pekerjaan tidak melanggar hukum yang terlihat oleh matanya, ia memilih bekerja.
Kepercayaan kadang dimulai dari tahu kapan harus diam.
"Baik, Bang," katanya. "Truk dari pemasok beras sampai dua puluh menit lagi. Setelah itu ada minyak goreng, air mineral, dan mi instan."
"Berapa total hari ini?"
Rudi membalik halaman catatan. "Beras dua puluh ton. Mi instan seribu dua ratus dus. Air mineral delapan ratus galon dan dua ribu karton botol. Minyak goreng lima ratus karton. Gula, garam, tepung, makanan kaleng, kopi sachet, susu bubuk, bumbu dasar, dan obat warung masuk siang."
"Tambah dua kali lipat untuk besok."
Pulpen Rudi berhenti.
"Dua kali lipat?"
"Ya."
"Bang, pemasok bisa curiga kalau tiba-tiba sebanyak itu."
Hendra menatapnya.
Rudi cepat menambahkan, "Bukan tidak bisa. Maksud saya, lebih aman kalau dibuat alasan. Misalnya kita bilang mau ekspansi cabang dan jadi stokis untuk beberapa wilayah. Saya bisa pecah pesanan ke tiga pemasok, nota berbeda, jadwal kirim beda. Kalau semua datang dari satu tempat, orang pasti tanya."
Hendra tersenyum tipis.
Pilihan yang benar.
Ia tidak salah memilih orang.
"Lakukan begitu."
Wajah Rudi langsung serius. "Baik, Bang. Saya atur."
Selama satu minggu berikutnya, toko grosir kecil itu berubah menjadi mesin yang tidak pernah tidur.
Pagi hari, truk beras datang dari pemasok lama.
Siang hari, truk mi instan, gula, garam, air mineral, dan minyak goreng mengisi halaman.
Sore hari, kurir obat bebas membawa kardus parasetamol, vitamin, antiseptik, perban, obat flu, salep luka, oralit, masker, sarung tangan, dan termometer digital.
Malam hari, pemasok alat listrik mengirim genset kecil, genset diesel ukuran gudang, kabel rol, baterai litium, aki, lampu LED, panel surya portabel, kompor portable, gas kaleng, pompa air, filter air, terpal tebal, selimut termal, jas hujan, dan sepatu bot.
Rudi bergerak seperti roda gigi yang baru diberi oli.
Ia membagi jadwal kuli. Ia memeriksa nota. Ia menandai barang rusak. Ia menolak sopir yang mencoba menurunkan karton basah. Ia menawar ongkos kirim tanpa membuat pemasok tersinggung.
Setiap kali ada yang bertanya kenapa toko kecil itu membeli sebanyak ini, Rudi menjawab sesuai naskah yang disiapkan Hendra.
"Bos mau buka jaringan distribusi baru."
"Stok untuk gudang cabang."
"Harga bahan pokok mau naik, jadi kami amankan stok dulu."
Alasan-alasan itu masuk akal.
Tidak sempurna.
Tapi cukup.
Dunia bisnis selalu penuh orang yang membeli sebelum harga naik. Tidak ada yang akan langsung berpikir tentang salju, kelaparan, dan kota mati.
Pada malam pertama, Hendra menunggu semua karyawan pulang.
Ia mematikan lampu depan, menutup rolling door, lalu berdiri sendirian di tengah gudang.
Di depannya, tumpukan beras, mi instan, minyak, air, obat, dan baterai memenuhi hampir seluruh lantai.
Cincin tembaga di jarinya terasa dingin.
Hendra mengangkat tangan.
Niatnya turun.
Cahaya emas tipis merayap keluar dari ukiran cincin.
Benang-benang emas semitransparan menyentuh tumpukan paling dekat.
Satu palet air mineral lenyap.
Lalu satu rak mi instan.
Lalu karung beras.
Lalu kardus obat.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada panel.
Tidak ada angka melayang.
Hanya gudang yang perlahan kosong, seolah dunia membuka mulut dan menelan semua benda mati di dalamnya.
Di ruang gelap yang hanya bisa ia rasakan dengan kesadaran, barang-barang itu tersusun diam. Waktu berhenti. Bau basi, tikus, panas, dan lembap tidak menyentuhnya.
Sempurna.
Hendra mengambil satu botol air mineral dari meja, memasukkannya ke Ruang Penyimpanan, lalu mengeluarkannya beberapa menit kemudian.
Dinginnya sama.
Segelnya sama.
Tetes air di permukaan plastik tidak bergerak seolah baru saja dipindahkan dari satu detik ke detik berikutnya tanpa melewati waktu di antaranya.
"Bagus," gumam Hendra.
Di kehidupan lalu, ia pernah melihat orang dewasa berkelahi untuk setengah bungkus biskuit yang sudah melempem. Ia pernah melihat seorang ibu menukar cincin kawin dengan dua butir antibiotik palsu. Ia pernah melihat laki-laki yang dulu berbicara soal martabat menjilat kaleng sarden kosong di bawah tangga.
Mereka semua mati karena dunia lama mengajarkan satu kebohongan.
Bahwa uang adalah puncak keamanan.
Tidak.
Keamanan adalah barang yang ada di tangan ketika semua toko tutup selamanya.
Hari kedua, Hendra mulai membeli solar.
Tidak dalam bentuk tanker besar. Belum.
Terlalu cepat akan menarik mata yang tidak perlu.
Ia memakai alasan armada distribusi dan kebutuhan genset gudang pendingin. Pembelian dipecah melalui beberapa agen bahan bakar industri, dikirim dalam drum-drum resmi, sebagian disimpan di area belakang yang sudah diberi pagar seng.
Rudi tidak suka bagian ini.
"Bang, BBM harus jauh dari bahan makanan," katanya sambil menunjuk denah sederhana. "Kalau ada percikan, habis semua. Saya pisahkan di sisi luar, kasih alas, dan minta APAR tambahan."
"Pesan APAR."
"Sudah saya masukkan daftar."
"Tambah dua kali."
Rudi menulis tanpa membantah.
Malam itu, drum-drum solar ikut lenyap ke Ruang Penyimpanan. Bau tajam bahan bakar yang memenuhi udara gudang menghilang bersama logam-logam bundar itu.
Hari ketiga dan keempat, genset datang.
Kecil.
Sedang.
Besar.
Beberapa pekerja mengeluh karena mesin-mesin itu berat. Rudi turun langsung membantu mengatur jalur forklift. Hendra membayar uang lembur dua kali lipat.
Tidak ada yang protes lagi.
Hari kelima, obat-obatan dan alat medis dasar masuk.
Hari keenam, pakaian termal, jaket tebal impor, kaus kaki wol, sarung tangan, selimut aluminium, tenda lipat, tali, pisau serbaguna, senter, korek, powerbank, radio kecil, dan baterai cadangan memenuhi rak.
Hari ketujuh, Hendra berdiri di gudang yang kembali setengah kosong.
Rudi di sampingnya terlihat kurang tidur, tetapi matanya terang.
"Bang, kalau terus begini, minggu depan kita butuh cabang atau gudang baru."
"Kau bisa mengurusnya?"
"Bisa. Tapi saya perlu sistem stok yang lebih rapi. Saya buat file terpisah untuk barang toko biasa dan barang proyek distribusi."
"Buat."
"Dan... Bang, maaf kalau lancang. Ini proyek besar sekali. Bapak yakin mau jalan sendiri?"
Hendra memandang tumpukan kardus yang tersisa.
Di Ruang Penyimpanan, persediaan awal sudah membentuk barisan panjang yang tidak akan busuk, tidak akan dicuri, dan tidak akan disentuh siapa pun selain dirinya.
Namun itu masih jauh dari cukup.
Beras untuk beberapa bulan belum berarti apa-apa jika bunker belum ada.
BBM tidak berarti apa-apa tanpa ruang aman untuk menyalakan genset.
Makanan tidak berarti apa-apa jika pintu pertama bisa didobrak orang yang kelaparan.
Ia membutuhkan tempat tinggi.
Tempat jauh dari rob, banjir, dan kekacauan kota.
Tempat yang pada kehidupan lalu ia dengar bertahan lebih lama daripada Jakarta.
Bandung.
"Tidak sendiri," kata Hendra akhirnya. "Kau urus Jakarta. Saya akan pergi mencari tempat."
"Tempat untuk cabang?"
"Untuk gudang utama."
Rudi mengangguk, meski jelas belum memahami ukuran kata "utama" di kepala Hendra.
Hendra menatap daftar di ponselnya.
Besok pagi, ia berangkat ke Bandung.
Gudang ini adalah mulut pertama.
Sekarang ia membutuhkan perut yang cukup besar untuk menyimpan musim dingin.