Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tak Sengaja Disebut
Minggu pagi, Doni pulang kampung lagi kali ini bukan buat urusan koperasi, melainkan buat mulai "misi" yang dia sepakatin bareng Sinta nyari tau pelan-pelan soal keluarga dari pihak ibunya.
Dia udah nyiapin strategi sesuai saran Sinta nggak nanya langsung, tapi lewat obrolan santai yang keliatan nggak sengaja.
Kesempatan itu dateng waktu makan siang bareng keluarga. Ibunya lagi masak di dapur, Doni duduk di meja makan sambil pura-pura sibuk main HP, nunggu momen yang pas.
"Bu, kemarin Doni nemu album foto lama di lemari kayu depan, boleh diliat nggak?" tanya Doni, mancing obrolan.
Ibunya berhenti sebentar dari kegiatannya, menoleh dari dapur. "Album yang mana, Nak?"
"Yang sampulnya coklat, ada tulisan tahunnya, sekitar dua ribu awal-awal gitu."jawab doni
"Oh, itu punya Bapak sama Ibu waktu masih muda. Boleh, tapi hati-hati, udah lama banget itu, kertasnya gampang robek."
Doni ngambil album itu, buka pelan-pelan di meja makan. Kebanyakan foto pernikahan orang tuanya, sederhana, di halaman rumah kecil dengan tenda seadanya, jauh dari kesan mewah.
"Foto pernikahan Bapak sama Ibu ya ini? Kok sederhana banget, Bu?" tanya Doni, sengaja mancing lebih jauh.
Ibunya keluar dari dapur, duduk di sebelah Doni, ikut ngeliatin foto-foto itu, raut mukanya berubah sedikit, kayak lagi mengenang sesuatu yang campur aduk antara senang dan pahit.
"Iya, sederhana. Waktu itu... kondisinya emang lagi susah, Nak."
"Susah gimana, Bu? Emang dulu keluarga kita gimana?"
Ibunya diam sebentar, jarinya menyentuh salah satu foto lama, gerakannya pelan kayak nyentuh sesuatu yang rapuh. "Keluarga Bapak emang dari dulu sederhana. Tapi keluarga Ibu..." dia berhenti, menghela napas panjang, "...keluarga Ibu dulu lumayan berada, Nak."
Doni pura-pura kaget, meski dalam hati dia udah nunggu momen ini dari tadi. "Serius, Bu? Kok Doni nggak pernah denger cerita itu?"
"Karena itu bagian yang nggak enak diceritain, Nak," jawab ibunya, suaranya mulai bergetar tipis. "Bapak dari Ibu, kakek kamu, nggak setuju sama pernikahan Ibu sama Bapak kamu. Katanya, Bapak kamu bukan orang yang pantas buat Ibu."
Doni menahan napas, ngerasa akhirnya dapet konfirmasi langsung dari apa yang selama ini cuma jadi dugaan. "Terus, gimana, Bu? Kalian tetep nikah?"
"Tetep, Nak. Ibu waktu itu keluar dari rumah, kabur sama Bapak kamu, nekat nikah tanpa restu. Sejak itu, hubungan Ibu sama keluarga besar putus total. Kakek kamu sampai sekarang nggak pernah mau ketemu kita."
Doni ngerasa dadanya sesak denger cerita itu, campuran antara sedih buat ibunya, dan rasa penasaran yang makin besar soal siapa sebenarnya kakek yang selama ini jadi sosok misterius di keluarganya.
"Kakek sekarang di mana, Bu? Masih hidup kan?"
Ibunya mengangguk pelan. "Masih, setau Ibu. Tinggal di kota kabupaten, masih punya usaha perkebunan yang besar. Tapi udah dua puluh tahun lebih Ibu nggak pernah denger kabar langsung dari beliau."
"Ibu nggak kepikiran buat... coba hubungin lagi?"
Ibunya menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Sudah lama Ibu coba ikhlasin, Nak. Nggak enak juga kalau harus balik nyariin orang yang dulu jelas-jelas nolak Ibu."
Doni ngangguk, milih nggak nekan lebih jauh, ngerasa udah cukup banyak informasi yang dia dapet hari itu. Dia meluk ibunya sebentar, ngerasain badan ibunya yang sedikit gemetar, mungkin karena cerita lama yang jarang dia buka kembali.
"Makasih ya, Bu, udah mau cerita."
"Kamu nanya-nanya soal ini kenapa emang, Nak?" tanya ibunya, curiga tapi lembut.
"Cuma penasaran aja, Bu. Kebetulan lagi liat album foto lama." Doni tersenyum, berusaha kedengeran senormal mungkin, meski di dalam hati pikirannya udah melayang jauh, menyusun potongan-potongan info yang baru aja dia dapet.
Sore harinya, Doni jalan-jalan sebentar keliling desa, sengaja mampir ke toko Koh Aliong buat ngecek perkembangan kerja sama mereka soal distribusi gula aren, sekalian nyari udara buat mikirin semua yang baru aja dia denger dari ibunya.
"Eh, Doni. Kebetulan, ada yang mau saya omongin soal distribusi bulan depan," sambut Koh Aliong, lebih ramah dari pertemuan pertama mereka dulu.
Mereka ngobrol soal urusan bisnis sebentar, sampai akhirnya obrolan melebar ke topik lain, waktu Koh Aliong nyeletuk sambil ngitung stok di gudangnya.
"Ngomong-ngomong, kamu she Wijaya ya, dari pihak ibu?"
Doni kaget denger itu. "Lho, Koh tau marga keluarga Ibu saya?"
"Ya taulah, dulu keluarga Wijaya itu terkenal banget di kabupaten, punya perkebunan kopi sama karet paling luas. Bapak saya dulu suka cerita soal Pak Wijaya senior, katanya orangnya tegas banget, disiplin, tapi juga keras kepala kalau soal aturan keluarga."
Jantung Doni berdegup kencang. "Koh kenal langsung sama beliau?"
"Nggak kenal deket, cuma denger cerita aja dari orang tua. Katanya dulu ada anaknya yang kabur nikah sama orang biasa, bikin geger seantero kabupaten. Sampe sekarang katanya keluarga besar Wijaya masih suka ngungkit cerita itu kalau lagi kumpul."
Doni menelan ludah, berusaha kedengeran santai meski dalemnya udah campur aduk. "Oh gitu ya, Koh. Kebetulan aja denger nama itu."
"Kenapa emang, Don? Kayak kenal gitu mukanya," Koh Aliong menatap Doni dengan tatapan curiga khasnya.
"Enggak, Koh. Cuma kebetulan denger nama itu doang." Doni buru-buru ganti topik, nanya soal jadwal pengiriman gula aren bulan depan, berusaha ngalihin obrolan sebelum Koh Aliong nyambungin titik-titik yang sebenarnya udah mulai kelihatan jelas.
Malam itu, di rumah, Doni duduk sendirian di kamar, mikirin semua yang baru aja dia dapet hari ini pengakuan ibunya, sama cerita singkat Koh Aliong soal keluarga Wijaya yang "terkenal" dan "keras kepala soal aturan keluarga."
Dia buka HP, ngetik pesan ke Sinta.
"Sin, gue dapet info baru. Nama keluarga ibu gue Wijaya, dulu pengusaha kebun kopi sama karet gede di kabupaten. Kakek gue masih hidup, tinggal di kota kabupaten."
Balasan Sinta dateng nggak lama kemudian, penuh tanda seru khasnya.
"WIJAYA?? Don, itu kan salah satu nama yang lumayan sering disebut kalau soal usaha perkebunan daerah kita! Gue coba cari info lebih lanjut deh besok, siapa tau ada yang gue kenal yang bisa bantu."
Doni tersenyum tipis baca pesan itu, ngerasa nggak lagi sendirian ngurusin misteri keluarga ini. Dia rebahan, menatap langit-langit kamar masa kecilnya yang penuh bekas tempelan poster lama yang udah pudar warnanya.
"Wijaya," gumamnya pelan, mencoba membiasakan diri dengan nama itu, nama yang selama ini cuma jadi bagian kosong dari identitasnya, dan sekarang mulai terisi pelan-pelan, satu potongan cerita demi satu potongan cerita.