NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Dewi Mengambil Alih

Pagi setelah penyerbuan villa, Galang Suryanegara datang ke Gedung Takdir dengan wajah kurang tidur.

Ia baru saja menerima laporan bahwa tim Balai Bayangan gagal. Bukan laporan resmi, tentu saja. Tidak ada keluarga besar yang mengakui operasi semalam. Tetapi kabar tentang delapan orang yang tidak pulang tepat waktu cukup untuk membuat ruangan Prabu menjadi dingin.

Galang mencoba menutup ketakutannya dengan kemarahan.

"Kumpulkan semua direktur," katanya pada sekretaris. "Saya akan memimpin rapat operasional."

Sekretaris itu menunduk. "Maaf, Pak Galang. Rapat operasional sudah dimulai."

"Tanpa saya?"

"Dipimpin Bu Dewi."

Wajah Galang memerah.

Di ruang rapat, Dewi berdiri di depan layar besar. Para direktur inti duduk lengkap. Grafik cash flow, proyek aktif, risiko vendor, dan daftar kontrak prioritas tersusun rapi. Tidak ada kursi kosong untuk drama.

Galang mendorong pintu. "Apa-apaan ini?"

Dewi tidak berhenti menjelaskan. "Proyek infrastruktur tahap dua tetap jalan. Audit Permata dipisahkan dari vendor kecil. Semua kontrak yang berhubungan dengan Hadinata masuk daftar pemantauan."

"Saya Komisaris Utama!"

Baru kali itu Dewi menoleh. "Komisaris mengawasi. Direksi menjalankan. Kalau kamu ingin memimpin operasional, belajar dulu struktur PT."

Beberapa direktur menunduk terlalu cepat.

Galang menunjuk layar. "Saya memerintahkan semua keputusan strategis ditahan sampai arahan Prabu keluar."

Dewi menatapnya seperti menatap anak kecil yang membawa korek api ke gudang bensin. "Kalau semua keputusan ditahan, pembayaran vendor macet, proyek berhenti, bank bertanya, media mencium darah, dan nilai perusahaan turun. Kamu mau menjelaskan itu pada Dewan Tetua?"

Galang membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.

Dewi melanjutkan rapat. "Pak Hendra, update vendor."

Direktur operasional langsung menjawab, seolah Galang tidak berdiri di sana. "Tiga vendor besar sudah setuju pembaruan termin. Dua vendor kecil perlu pembayaran dipercepat."

"Bayar yang kecil lebih dulu," kata Dewi. "Jangan ulangi kesalahan Sugiono."

"Siap, Bu."

Dewi mengetuk layar berikutnya. "Mulai hari ini, semua kontrak di atas lima miliar butuh dua tanda tangan: direksi terkait dan legal independen. Kalau Pak Galang ingin mengawasi, silakan baca laporan harian. Tapi tidak ada proyek berhenti hanya karena seseorang ingin terlihat berkuasa."

Direktur keuangan mengangguk cepat. "Kami bisa jalankan hari ini."

Galang merasa setiap kalimat Dewi seperti menutup satu pintu di depannya. Ia masih Komisaris Utama, tetapi setiap pintu operasional dikunci dengan prosedur yang sah.

Ia mencoba menyerang dari sisi lain. "Saya minta akses penuh ke rekening utama."

Dewi langsung menjawab, "Akses komisaris adalah akses pengawasan, bukan otorisasi transaksi. Kalau kamu memaksa, legal akan mencatatnya sebagai upaya intervensi operasional."

Direktur hukum menambahkan pelan, "Benar, Bu."

Kali ini beberapa orang tidak lagi menunduk. Mereka melihat Galang langsung, dan tatapan itu membuatnya sadar bahwa Dewi bukan hanya lebih galak. Ia lebih mengerti medan.

Galang merasa panas merambat ke wajahnya. Ia keluar dari ruang rapat dan menelepon Prabu.

Panggilan tersambung setelah nada ketiga.

"Kakek, Dewi mempermalukan saya di depan direksi. Mereka semua masih mendengarkan dia."

Suara Prabu terdengar dingin. "Jika kamu bahkan tidak bisa mengendalikan satu perempuan, kamu tidak pantas duduk di kursi itu."

"Tapi mereka tidak menghormati keputusan keluarga!"

"Maka buat mereka menghormatinya. Jangan menangis padaku."

Panggilan terputus.

Galang berdiri di koridor dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, ia merasa kursi yang ia rebut bukan hadiah, melainkan perangkap.

Di sisi lain kota, Arya menerima laporan dari Dewi melalui jalur aman.

Ia duduk di ruang kerja villa, lengan kirinya sedikit memar akibat pertarungan semalam. Tiga Belas dan timnya sudah diserahkan ke pengamanan tertutup yang dikelola Pak Waskito dan jaringan Pradipta, bukan polisi umum. Belum waktunya membuat Prabu tahu semua kartu terbuka.

Pesan Dewi masuk:

Galang mudah dipancing. Operasional aman. Aku pegang direksi.

Arya membalas:

Jangan biarkan dia merusak cash flow. Biarkan dia merasa punya jabatan.

Dewi mengirim emoji pisau kecil.

Pak Satria yang berdiri di samping meja pura-pura tidak melihat.

"Tuan Muda, Pak Waskito menunggu di luar."

Pak Waskito masuk beberapa menit kemudian. Ia tidak banyak basa-basi.

"Mbah Pradipta sudah mendapat laporan. Beliau meminta saya menyampaikan bahwa keluarga kami tidak ikut campur dalam perang internal Suryanegara. Tetapi jika ada pihak yang mengancam keselamatan Andini atau menggunakan wilayah kami untuk operasi kotor, kami tidak akan diam."

"Pesan yang jelas."

"Beliau juga bertanya apakah Anda membutuhkan jalur medis atau forensik untuk memeriksa peralatan yang dibawa Tiga Belas."

Arya menatapnya. "Kenapa sejauh ini?"

Pak Waskito menjawab tenang, "Karena Nona Andini pulang dengan wajah berbeda setelah bertemu Anda. Dan karena Mbah Pradipta tidak suka Prabu bergerak di Kota Awan tanpa sopan santun."

Arya menerima alasan itu, meski tahu masih ada perhitungan politik di baliknya.

"Sampaikan terima kasih saya pada Mbah Pradipta," kata Arya. "Dan sampaikan juga, saya tidak akan menyeret Keluarga Pradipta ke perang saya tanpa izin."

Pak Waskito mengangguk. "Kalimat itu akan membuat beliau lebih tertarik pada Anda."

"Itu kabar baik atau buruk?"

"Tergantung seberapa siap Anda menghadapi keluarga besar."

Pak Satria yang mendengar itu menahan senyum.

Sore harinya, Andini pulang ke Jakarta untuk bertemu kakeknya.

Di beranda rumah besar Pradipta, Mbah Pradipta duduk dengan sarung batik dan kemeja putih. Usianya lanjut, tetapi matanya tajam.

"Jadi," katanya, "bagaimana menurutmu Arya Suryanegara?"

Andini hampir tersedak teh. "Mbah..."

"Aku tidak bertanya laporan bisnis. Aku bertanya padamu."

Andini menatap cangkir. "Dia berbahaya."

"Itu jelas."

"Tapi bukan berbahaya dengan cara murahan. Dia... menahan diri. Bahkan saat punya kekuatan untuk membuat orang lain hancur."

Mbah Pradipta tersenyum. "Kau menyukainya?"

Wajah Andini memerah. "Saya hanya menghormatinya."

"Jawaban yang sangat panjang untuk tidak menjawab."

Di villa, Arya membuka kembali folder Holding Documents. Salah satu file geologi yang semalam ia tandai kini ia proyeksikan ke layar besar. Peta tambang, jalur mineral, dan catatan asal batu mulia tersusun rapi.

Pak Satria membaca judulnya. "Lelang Batu Mulia Kota Awan?"

"Tiga hari lagi."

"Anda ingin masuk ke bisnis perhiasan?"

"Aku ingin menguji seberapa akurat laporan Ayah." Arya memperbesar foto sampel batu. "Dan kalau benar, kita mendapat modal publik baru tanpa menyentuh Takdir."

Pak Satria tersenyum. "Medan perang baru."

"Lebih kecil, tapi berguna."

Arya menatap satu batu mentah yang tampak kusam di katalog digital.

Di catatan Bagaskara, asal batu itu ditandai merah.

Pak Satria segera membuka formulir peserta. "Jika memakai nama pribadi, perhatian media akan datang terlalu cepat."

"Pakai kendaraan investasi kecil di bawah Prima," kata Arya. "Bukan untuk bersembunyi. Untuk memastikan orang lain tetap meremehkan pembelinya sampai palu jatuh."

"Siapkan pendaftaran lelang," kata Arya. "Aku ingin melihat berapa banyak orang yang masih menilai sesuatu hanya dari permukaan."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!