Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Diborgol
Dua mobil polisi berhenti mendadak di depan gedung Larissa Couture.
Iptu Kirana turun dari mobil pertama. Empat anggota mengikutinya, dua berseragam dan dua berpakaian sipil. Wajah Kirana tampak lebih kaku daripada biasanya. Ia melihat kerumunan karyawan di balik kaca lobi, lalu menemukan Bima berdiri dekat meja keamanan.
"Bima Prawira?"
"Saya."
Kirana mendekat dan menunjukkan identitas serta selembar dokumen. "Kami membawa surat perintah penangkapan untuk pemeriksaan dalam perkara dugaan kekerasan yang berkaitan dengan kematian Yulia. Anda berhak membaca surat ini, menghubungi keluarga, dan didampingi penasihat hukum."
Nama Yulia membuat Vanya yang baru keluar dari lift berhenti. Anindya datang beberapa langkah di belakangnya bersama Gita.
"Kematian?" suara Anindya pecah. "Pagi itu dia hanya lecet di lengan. Dia pergi dengan berjalan sendiri."
Kirana memandangnya. "Bu Anindya, jangan menghalangi proses. Rekaman Anda sudah masuk dalam berkas. Anda dapat memberi keterangan tambahan secara resmi."
Bima membaca nama, nomor, alasan, dan pejabat yang menandatangani surat. Ia meminta satu salinan, lalu menyerahkan ponsel kerjanya kepada Vanya.
"Hubungi pengacara perusahaan hanya untuk menjaga prosedur awal," katanya. "Jangan keluarkan pernyataan publik sebelum kuasa hukum membaca berkas."
"Kami akan ikut ke Polsek," kata Vanya.
"Datang dengan tenang. Jangan jadikan lobi ruang sidang."
Anindya mendekat. Matanya sudah basah. "Aku ikut sekarang."
"Kak Anin, jemput Sasa sesuai jadwal dulu. Jangan membuat dia menunggu tanpa penjelasan. Setelah itu datang bersama pengacara."
"Tapi kamu..."
"Saya tidak akan melawan petugas," kata Bima, kembali memakai nada formal agar semua orang mendengar. "Rekaman pagi itu utuh. Kita pakai bukti."
Kirana memberi isyarat kepada seorang anggota. Borgol dipasang di pergelangan Bima. Tidak terlalu kencang, tetapi bunyi logamnya membuat bisik-bisik di lobi langsung berhenti.
Bima berjalan menuju mobil polisi tanpa menundukkan kepala.
Di Polsek, proses pertama bukan interogasi panjang. Petugas memeriksa identitas, mencatat barang pribadi, membuat tanda terima, dan memberi kesempatan menghubungi penasihat hukum. Bima menyatakan bersedia memberi keterangan awal mengenai fakta yang telah terekam, tetapi meminta pemeriksaan lanjutan dilakukan setelah pendamping hukum hadir.
Kirana duduk di seberang meja. Perekam resmi dinyalakan. Seorang penyidik lain menjadi saksi pemeriksaan.
"Yulia meninggal sekitar pukul tiga dini hari," kata Kirana. "Keluarga melaporkan bahwa sejak insiden di rumah Bu Anindya, dia mengeluh nyeri dan sesak. Keterangan awal dokter menyebut henti jantung. Pemeriksaan luar mencatat lecet serta memar pada lengan yang sesuai dengan laporan benturan."
"Henti jantung menjelaskan cara tubuh berhenti, bukan penyebabnya," jawab Bima. "Tendangan saya mengenai sisi betis dan pinggul untuk memutus keseimbangan setelah dia menampar Kak Anin. Lengannya lecet karena mengenai pot saat jatuh. Saya tidak menghantam dada, kepala, atau perutnya."
"Anda mengakui melakukan tendangan?"
"Saya mengakui gerakan yang terlihat dalam rekaman utuh. Saya menolak bahwa gerakan itu menyebabkan kematian beberapa hari kemudian."
Kirana mencatat jawabannya. "Keluarga menyerahkan laporan, rekaman menunjukkan kontak fisik, dan hasil pemeriksaan awal mencatat cedera. Penyidik wajib menindaklanjuti. Hubungan sebab akibat medis masih harus diuji."
"Jasadnya harus diperiksa forensik lebih lengkap sebelum keluarga melakukan kremasi atau pemakaman."
"Permintaan pengamanan pemeriksaan sudah dikirim."
Bima menatap salinan ringkasan medis di meja. Ia pernah melihat korban serangan tenaga dalam mati tanpa luka luar yang sebanding. Dorongan pendek pada titik tertentu dapat mengganggu organ, lalu gejalanya dibuat tampak seperti penyakit lama. Namun pengetahuan tempur bukan bukti forensik.
"Ada kemungkinan dia disentuh orang lain setelah meninggalkan rumah," katanya. "Seseorang yang menguasai tenaga dalam bisa menimbulkan gangguan berat dengan tanda luar minimal. Saya tidak mengatakan itu pasti terjadi. Saya meminta kemungkinan tersebut diperiksa."
Kirana menghentikan pena sesaat. "Nama orangnya?"
"Tidak tahu."
"Saksi?"
"Tidak ada."
"Bukti kontak?"
"Belum ada."
"Kalau begitu saya catat sebagai hipotesis dari Anda, bukan temuan penyidik." Kirana mencondongkan tubuh. "Saya tidak dapat menghentikan proses hanya karena dugaan yang terdengar masuk akal bagi dunia persilatan. Polisi bekerja dengan keterangan, rekaman, barang bukti, dan hasil ahli."
"Saya mengerti."
"Bagus. Berarti Anda juga mengerti mengapa kami tidak bisa melepas Anda sekarang."
Menjelang sore, penyidik menyampaikan dasar dan administrasi penahanan setelah statusnya sebagai tersangka serta ancaman pasal yang disangkakan dibacakan. Bima menerima salinan surat perintah penahanan. Tembusannya akan diberikan kepada keluarga atau pihak yang ia tunjuk. Ia tidak setuju dengan tuduhan, tetapi menandatangani penerimaan dokumen, bukan pengakuan bersalah.
Ruang tahan sementara berbau disinfektan dan tembok lembap. Bima duduk di bangku semen, mengatur napas seperti biasa. Kehilangan kebebasan bukan hal baru baginya. Perbedaannya, kali ini ia memilih mengikuti aturan karena satu gerakan kasar di kantor akan merusak Larissa, Vanya, serta semua bukti yang dapat membersihkan namanya.
Anindya mendapat izin bicara singkat di ruang kunjungan yang diawasi. Begitu melihat Bima di balik pembatas, air matanya jatuh.
"Ini karena aku," katanya. "Kalau pagi itu aku tidak membiarkan mereka masuk..."
"Ini karena seseorang masuk ke rumahmu, menamparmu, lalu sekarang ada kematian yang harus dijelaskan," jawab Bima. "Bukan karena kamu melindungi rumah sendiri. Jangan mengubah kesalahan orang lain menjadi utangmu."
"Sasa bertanya kamu pulang jam berapa."
"Bilang Om Bima sedang membantu polisi menjelaskan sesuatu. Jangan beri dia detail yang membuatnya takut."
Anindya mengangguk sambil menghapus air mata. "Aku akan datang lagi bersama pengacara."
Gita masuk setelahnya. Ia tidak menangis. Ia marah.
"Kalau perlu, aku telepon Eyang sekarang."
"Jangan minta Ki Wisesa mencampuri penyidikan."
"Dia bisa memastikan kamu tidak diperlakukan sembarangan."
"Itu berbeda. Minta beliau mengawasi kehormatan adat, bukan menekan polisi."
Gita menarik napas, lalu mengangguk. "Baik. Tapi aku tidak akan diam."
"Kumpulkan informasi. Diam dan tidak berguna itu dua hal berbeda."
Vanya menjadi pengunjung terakhir sore itu. Ia membawa kabar bahwa tim legal sedang mencari pengacara pidana yang tepat dan perusahaan menahan semua komentar media sampai ada fakta terverifikasi.
"Om Hartono menelepon," katanya. "Dia mendesak Larissa segera membuat pernyataan menjaga jarak darimu. Katanya citra perusahaan tidak boleh terikat pada satpam yang dituduh menyebabkan kematian."
"Bu Vanya menjawab apa?"
"Saya menolak. Lalu dia menyebut ada tawaran investasi serius dari pihak yang katanya lebih aman dan bisa menstabilkan perusahaan jika saya mau bersikap rasional."
Bima menatapnya. "Siapa pihak itu?"
"Dia tidak menyebut nama. Hanya bilang perantara bisnis lama. Waktunya terasa terlalu tepat."
"Catat panggilan dan minta semua tawaran dikirim tertulis. Tapi jangan menyimpulkan Om Hartono terhubung dengan kasus ini tanpa bukti. Bisa jadi dia hanya memanfaatkan keadaan."
"Dan bisa jadi seseorang menyiapkan semuanya."
"Benar. Karena itu kita pisahkan dugaan dari fakta."
Petugas memberi tanda waktu kunjungan habis. Vanya berdiri, tetapi sebelum pergi ia menempelkan telapak tangannya ke pembatas.
"Saya tidak akan mengeluarkan pernyataan yang membuangmu, Bang Bima."
Bima mengangguk pelan. "Jaga Larissa."
Pintu menutup setelah Vanya keluar. Bima kembali ke bangku semen.
Kematian Yulia, laporan yang bergerak cepat, dan tekanan investasi datang dalam hari yang sama. Mungkin satu tangan menyusun semuanya. Mungkin satu musuh menyerang sementara orang lain sekadar memanfaatkan luka yang terbuka.
Untuk pertama kalinya, Bima melihat pola yang cukup rapi untuk dicurigai, tetapi belum cukup kuat untuk dituduhkan kepada siapa pun.