NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kafe Cendana

Keesokan harinya, waktu berjalan seperti biasa. Ainun bangun pagi, bersiap, lalu berangkat mengajar tanpa sarapan terlebih dahulu.

 Jam demi jam berlalu hingga matahari tepat berada di atas kepala, menandakan waktu yang dijanjikan akhirnya tiba.

Masih mengenakan seragam guru berwarna krem dengan rok panjang hitam, Ainun mengendarai motornya menuju Kafe Cendana. Lokasi itu dikirim langsung oleh Liona melalui pesan singkat beberapa saat setelah jam pelajaran terakhir usai.

Begitu memasuki kafe, aroma kopi yang pekat langsung menyambut indra penciumannya. Suasana siang itu tidak terlalu ramai. Ainun menyapu ruangan dengan pandangan tenang hingga matanya berhenti pada sosok yang duduk di sudut dekat jendela.

Liona.

Ainun menarik napas pelan, lalu melangkah menghampiri meja itu.

Baru saja ia tiba, Liona mengangkat dagunya sedikit.

“Duduklah,” ucapnya singkat.

“Iya, Mbak.” Ainun mengangguk kecil sebelum menarik kursi dan duduk di hadapan kakaknya.

Sejenak, hanya ada keheningan yang menggantung di antara mereka.

Ainun menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, sementara pandangannya sesekali beralih ke permukaan meja.

Liona akhirnya membuka suara.

“Gimana hubungan kalian?”

Ainun mengangkat wajahnya. “Seperti biasa, Mbak,” jawabnya lirih.

Liona tidak langsung menanggapi. Tatapannya justru semakin lekat meneliti wajah Ainun, seolah mencari sesuatu yang sengaja disembunyikan.

“Kamu nggak punya perasaan sama Mas Sagara, kan?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih pelan, tetapi terdengar tegas.

Pertanyaan itu membuat jemari Ainun tanpa sadar saling menggenggam semakin erat di balik meja.

‘Perasaan? Bagaimana bisa sebuah perasaan tumbuh? Sementara Mas Sagara sangat menekan mentalku.’

Ia menundukkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap Liona.

“Nggak, Mbak,” jawabnya mantap. “Aku tahu diri. Pernikahan itu cuma sementara.”

‘Aku nggak boleh lupa posisi. Sejak awal, aku hanya menggantikan Mbak. Saat Mbak kembali, aku yang harus pergi.’

Mengingat kenyataan itu membuat ujung bibir Ainun membentuk senyum tipis yang terasa pahit.

“Aku nggak akan melanggar janjiku,” lanjutnya pelan. “Mas Sagara tetap calon suami Mbak. Justru aku sangat ingin lepas dari Mas Sagara.”

Ucapan itu terasa berat di lidahnya, tetapi Ainun memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar kakaknya tidak melihat gejolak kecil yang berusaha ia pendam rapat-rapat.

“Terus, Mas Sagara nggak menyentuhmu, kan?” tanya Liona, menatapnya lekat.

Senyum di wajah Ainun memudar. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.

“E-enggak kok, Mbak,” jawabnya pelan. “Mas Sagara menjaga jarak denganku. Lagian, Mas Sagara cinta sekali sama Mbak Liona.”

“Baguslah. Oh ya.”

Liona membuka tas yang dibawanya, lalu merogoh sesuatu dari dalam. Tak lama kemudian, ia menyodorkan selembar cek ke hadapan Ainun.

“Tulis nominalnya di sini sebagai kompensasi karena sudah menyita waktumu.” Liona kembali mengeluarkan selembar kertas lain. “Dan ini tiket. Kamu pergi sejauh mungkin.”

Pandangan Ainun bergantian menatap cek dan tiket yang tergeletak di atas meja.

‘Lima puluh juta mungkin cukup. Buat nyewa kontrakan sama buka usaha, dan keperluan anakku.’

Tanpa berkata apa-apa, ia meraih cek itu, kemudian mengambil pena yang memang sudah tersedia di atas meja. Tangannya bergerak perlahan menuliskan nominal yang diinginkannya.

“Aku ambil lima puluh juta saja, Mbak.”

“Yakin?” tanya Liona.

Ainun mengangguk. “Yakin, Mbak.”

“Baguslah. Kalau bisa, secepatnya kamu pergi jauh.”

“Besok aku akan mengajukan pengunduran diri, Mbak.”

“Terserah.” Liona memasukkan cek itu kembali ke dalam tas, lalu menatap Ainun. “Oh ya, nanti malam ajak Mas Sagara ke rumah. Aku ingin memberinya kejutan. Tapi jangan bilang kalau aku ada di sana.”

Ainun mengangguk pelan. “Iya, Mbak.”

Liona bangkit dari duduknya, meraih tas yang terletak di atas meja, lalu melangkah pergi.

Ainun hanya bisa memandang punggung kakaknya yang semakin menjauh.

‘Ini memang yang seharusnya terjadi.’

Ia menundukkan kepala sesaat.

‘Setelah semuanya selesai, aku akan pergi. Mas Sagara akhirnya bisa kembali bersama wanita yang selama ini dia tunggu.’

Ainun masih duduk diam di kursinya.

Aroma parfum Liona masih samar tertinggal di udara, lalu perlahan lenyap dibawa embusan angin yang masuk dari celah jendela.

Tatapannya jatuh pada dua lembar kertas yang kini berada di tangannya. Satu lembar cek bernilai lima puluh juta rupiah. Satu lagi tiket yang akan membawanya pergi meninggalkan kota ini.

‘Memulai hidup baru, menjauh dari keluarga yang telah membesarkanku, sekaligus menjauh dari keluarga yang selama ini merendahkanku.’

Dadanya mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, membayangkan hari itu benar-benar tiba justru membuat hatinya terasa sesak.

“Ainun...?”

Suara yang memanggil namanya membuat Ainun tersentak. Ia buru-buru menoleh.

“Ibu?”

Refleks, ia menyelipkan kedua lembar kertas itu ke belakang tubuhnya, lalu berdiri. Senyum tipis terukir di bibirnya saat meraih tangan wanita paruh baya itu dan mencium punggung tangannya dengan hormat.

“Ibu kok ada di sini?”

“Kamu di sini sama siapa?” tanya Bu Lina sambil menarik kursi.

“Oh, Ainun sendiri, Bu.” Ainun tersenyum setenang mungkin. “Tadi sempat ketemu teman, tapi dia sudah pergi karena ada urusan.”

Bu Lina mengangguk pelan seolah memercayai penjelasan itu.

“Eh, ayo duduk, Bu.”

Keduanya kembali duduk saling berhadapan.

“Lalu, Sagara di mana? Nggak sama kamu?” tanya Bu Lina.

“Mas Sagara lagi sibuk di perusahaan, Bu. Jadi nggak sempat ke sini.”

Bu Lina menganggukkan kepala pelan. Tatapannya kemudian menetap di wajah Ainun beberapa saat.

“Selama hampir tiga bulan ini, bagaimana hubungan rumah tanggamu dengan Sagara, Ainun?”

Ainun menegakkan punggungnya.

“Lancar, Bu,” jawabnya singkat.

“Yakin?”

Tatapan Bu Lina yang menyipit membuat Ainun menelan ludah. Meski begitu, ia tetap mengangguk pelan.

“Iya, Bu.”

Bu Lina menghela napas pelan, lalu menggenggam tangan Ainun di atas meja.

“Ibu harap kamu sama Sagara bisa bersama selamanya, Ainun.” Suaranya terdengar lembut. “Ibu bisa melihat ketulusanmu dari mata kamu.”

Jemari Ainun menegang dalam genggaman wanita itu.

‘Maaf, Bu... semua ini sebentar lagi akan berakhir.’

Belum sempat ia menjawab, gejolak aneh kembali menyerang perutnya.

Wajah Ainun seketika memucat.

“Sepertinya Ainun...”

Kalimatnya terputus.

Ia buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. Rasa mual itu datang semakin kuat hingga membuat tenggorokannya terasa panas.

“Maaf, Bu...”

Tanpa sempat menjelaskan, Ainun berdiri tergesa-gesa menuju toilet, berusaha menahan isi perutnya yang terasa ingin keluar.

Sementara itu…

Lina terdiam menatap ke arah Ainun menghilang.

Kerutan tipis muncul di dahinya. Wajah menantunya tampak pucat sejak tadi. Entah mengapa, ada firasat yang sulit ia jelaskan.

Bruk!

Suara benda jatuh membuat Lina refleks menoleh.

Tas Ainun tergeletak di lantai. Ritsletingnya yang belum tertutup rapat membuat beberapa barang di dalamnya berserakan.

“Aduh...”

Lina segera membungkuk dan memunguti satu per satu barang yang tercecer. Namun, gerakannya terhenti ketika pandangannya menangkap dua benda pipih berwarna putih yang tidak asing di matanya.

Ia mengambil keduanya, lalu meraih selembar kertas yang ikut terjatuh.

Perlahan, Lina membuka lipatan kertas itu.

Matanya membelalak.

“Positif...?”

Tatapannya bergantian menatap hasil pemeriksaan kehamilan dan dua test pack yang masing-masing menunjukkan dua garis merah.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Ainun hamil?”

Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Akhirnya...”

‘Sebentar lagi aku akan punya cucu.’

Perasaan bahagia memenuhi dadanya hingga membuatnya mengembuskan napas panjang.

Tanpa ingin membuat Ainun malu, Lina segera melipat kembali hasil pemeriksaan itu, memasukkannya bersama kedua test pack ke dalam tas, lalu merapikan seluruh barang yang berserakan seperti semula.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.

“Maaf, Bu. Ainun nggak sopan karena pergi begitu saja.”

Lina mengangkat wajahnya. Senyum hangat langsung mengembang saat melihat Ainun kembali ke meja.

“Nggak apa-apa,” jawabnya lembut. “Apa kamu sakit, Ainun?”

“Itu... cuma masuk angin saja, Bu. Paling juga sebentar sembuh.”

Lina hanya mengangguk pelan. Ia tidak berniat membahas apa yang baru saja ditemukannya.

“Ya sudah. Sekarang kita pesan makanan.” Senyumnya semakin lebar. “Ibu yang traktir.”

Ainun tampak ragu.

“Tapi...”

“Soalnya Ibu lagi senang banget.”

“Kalau begitu... boleh, Bu. Asal Ibu nggak keberatan.”

Lina terkekeh pelan.

“Keberatan apanya? Mumpung kita lagi ketemu.”

Ia mengangkat tangan setinggi dada untuk memanggil pelayan.

“Permisi.”

Seorang pelayan segera menghampiri meja mereka.

“Iya, Tante. Mau pesan apa?”

“Yang paling best seller di sini, dua porsi.”

“Baik, Tante. Mohon ditunggu, ya.”

“Iya, terima kasih.”

Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja mereka.

Sementara itu, senyum di bibir Lina tak kunjung pudar. Pandangannya sesekali jatuh ke wajah Ainun yang tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!