NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Ratna akhirnya memberanikan diri keluar dari kamarnya ketika resepsi telah dimulai. Sejak pagi ia mengurung diri, berusaha menghindari setiap momen yang membuat hatinya semakin sesak. Namun, sekeras apa pun ia menghindar, kenyataan tetap berdiri di hadapannya.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok Tara dan Sarif yang berjalan berdampingan di bawah pedang pora. Mereka tampak begitu serasi. Senyum di wajah keduanya terlihat tulus. Sesekali Tara tertawa kecil karena celetukan para tamu, sementara Sarif hanya menatap istrinya dengan senyum tipis yang penuh kehangatan.

Pemandangan sederhana itu justru menjadi tusukan paling menyakitkan bagi Ratna. Tak lama kemudian, ia mendengar beberapa tamu sedang berbincang.

"Mas Sarif itu dokter militer, ya?"

"Iya. Perwira lagi."

"Pantas pembawaannya berwibawa."

Ratna sontak membeku. Dokter? Perwira? Dadanya terasa semakin sesak. Selama ini ia begitu yakin bahwa lelaki yang dijodohkan kepadanya hanyalah seorang prajurit biasa yang ia kira hanya lulusan SMA. Keyakinan itulah yang membuatnya menolak mentah-mentah bahkan sebelum bersedia mengenalnya.

Ternyata... Semua prasangkanya keliru. Sarif bukan hanya seorang prajurit TNI. Ia adalah seorang perwira sekaligus dokter militer yang memilih mengabdi kepada negara.

Ratna menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu malu kepada dirinya sendiri. Bukan karena kehilangan lelaki yang tampan, berpangkat, atau memiliki pendidikan tinggi. Melainkan karena ia pernah menilai seseorang hanya dari dugaannya sendiri, tanpa memberi kesempatan untuk mengenal siapa orang itu sebenarnya.

Matanya kembali mengarah ke pelaminan. Di sana, Tara dan Sarif sedang menerima ucapan selamat sebagai pasangan suami istri. Akad telah selesai. Ijab kabul telah terucap. Kini mereka telah halal satu sama lain.

Ratna mengembuskan napas panjang. Meski penyesalan masih memenuhi dadanya, ia akhirnya memahami satu kenyataan yang tidak mungkin diubah. Takdir telah memilih Tara. Dan kesempatan yang pernah datang kepadanya telah berlalu, bukan karena direbut siapa pun, melainkan karena ia sendiri yang memilih untuk melepaskannya.

"Aku sudah membuang rezeki yang amat besar, entah apakah nanti bisa mendapatkan ganti yang lebih dari Bang Sarif." Ratna berusaha tegar, tapi tetap saja hatinya remuk. Apalagi ketika para tamu yang masih kerabat jauh mempertanyakan, kenapa Tara yang nikah duluan?

"Rat, bukannya mas-mas tentara itu dijodohkan sama Tara ya? Kok bukan dijodohkan sama kamu?" tanya seorang yang dipanggil Tante oleh Ratna.

"Oh itu, aku kan masih kuliah Tan, sementara Tara kan nganggur. Entah dia mau lanjut kuliah atau nggak, jadi daripada nggak jelas gitu, ya lebih baik dinikahkan tho?" kata Ratna, mencoba bersikap bijak, tentu saja sambil menjatuhkan Tara.

"Oalah, iya ya. Tara itu harusnya kuliah. Kenapa nggak lanjut sih? Usianya juga masih muda." sambung si Tante.

"Ya namanya juga Tara, Tante. Anaknya maunya main-main saja, kalau disuruh serius apalagi belajar agak lemot otaknya. Makanya dari pada nanti aneh-aneh, lebih baik dinikahkan saja. Supaya nggak bikin malu nama keluarga Bani.

Kalau aku memang sengaja nggak cepat-cepat nikah, soalnya aku suka belajar. Mau menyelesaikan S1, setelah itu lanjut S2. Kalau sudah mapan baru aku akan menikah Tante." Tak lupa Ratna menaikkan harga dirinya

Orang-orang yang mendengar mengangguk-angguk. Meski tak semua orang setuju dengan apa yang dikatakan Ratna, karena yang dekat-dekat dan sering berinteraksi tau bagaimana kerasnya kehidupan Tara. Meski anaknya ceria, tetapi ia menyimpan banyak luka. Hidupnya penuh perjuangan. Pantas ada istilah, biasanya yang paling lebar ketawanya, ia yang menyimpan luka paling dalam. Itulah Tara.

Tetapi ada juga yang menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Ratna sebab tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

***

Setelah rangkaian akad dan resepsi selesai, Tara duduk berdampingan dengan ibu Sarif di ruang keluarga. Suasana rumah mulai lengang. Para tamu satu per satu berpamitan, menyisakan keluarga inti yang bercengkerama sambil menikmati teh hangat. Melihat Tara yang sejak pagi tak pernah berhenti tersenyum, ibu Sarif menggenggam lembut tangan menantunya itu. "Tara."

"Iya, Bu."

"Mulai hari ini, kamu bukan hanya menjadi istri Sarif. Kamu juga menjadi bagian dari keluarga besar prajurit."

Tara mengangguk pelan.

"Menjadi istri prajurit itu harus kuat. Bukan cuma kuat saat ditinggal bertugas. Tapi juga kuat menjaga hati."

Tara mendengarkan dengan saksama.

Ibu Sarif melanjutkan dengan suara tenang. "Sekarang zamannya media sosial. Hampir setiap hari kita melihat orang lain memamerkan rumahnya, mobilnya, liburannya, tasnya, perhiasannya, pesta ulang tahunnya, bahkan kehidupan rumah tangganya yang kelihatannya selalu bahagia." Beliau tersenyum tipis. "Kalau hati kita tidak dijaga, kita akan mulai membandingkan. Kenapa hidup mereka begini? Kenapa hidupku tidak? Dari situlah biasanya lahir iri hati, dengki, rasa kurang bersyukur, bahkan keinginan memaksa suami memenuhi gaya hidup yang sebenarnya tidak diperlukan."

Tara mengangguk pelan. Ia teringat bagaimana selama ini ia hidup sederhana bersama ibunya.

"Kamu tahu, Nak." Ibu Sarif menyeruput tehnya sebentar. "Di lingkungan kami, ada banyak istri prajurit yang suaminya berpangkat tinggi. Bahkan istri para jenderal. Tetapi mereka yang benar-benar memahami arti pengabdian justru hidup sederhana." Beliau tersenyum mengenang. "Kami yang suaminya sudah jenderal saja biasa-biasa saja. Tidak gampang gumunan melihat kemewahan orang lain. Berpakaian secukupnya. Berdandan sewajarnya. Karena yang paling indah dari seorang perempuan bukan merek tasnya. Tetapi kecerdasan, akhlak, dan cara ia membawa dirinya."

Tara menundukkan kepala penuh hormat.

"Percayalah. Aura itu jauh lebih mahal daripada perhiasan." Beliau terkekeh kecil. "Kami juga jarang membuat pesta ulang tahun yang heboh-heboh. Bukan karena tidak mampu. Tetapi karena memang tidak perlu. Sejak dulu kami bersepakat, jangan sampai menjadi istri 'Jenderal Bintang Toedjoeh'."

Tara yang semula serius langsung mengerjap bingung. "Hah?"

Ibu Sarif tertawa kecil. "Jenderal Bintang Toedjoeh. Obat sakit kepala itu lho."

Tara spontan menutup mulut sambil tertawa. "Oh... itu." Ia tak menyangka, ibu mertuanya yang terlihat calm dan penuh wibawa itu rupanya bisa bercanda juga. Saat itu juga Tara merasa hidupnya semakin penuh warna. Ia suka hidup yang seperti ini, enggak terlalu tegang-tegang banget. Apalagi kalau hidup sudah sulit, refreshingnya ya dengan candaan.

"Iya. Jangan sampai gara-gara tingkah istrinya, suami malah pusing, anak buah ikut pusing, lalu semua sibuk mengurus hal-hal yang sebenarnya tidak penting." Beliau menggeleng pelan. "Seragam itu adalah amanah. Pangkat juga amanah. Jangan dijadikan alat untuk mencari penghormatan. Kalau orang menghormatimu hanya karena jabatan suamimu, itu penghormatan yang semu. Tetapi kalau mereka menghormatimu karena akhlakmu, itu akan bertahan meskipun suatu hari suamimu pensiun."

Suasana kembali hening. Tara merasa setiap kalimat yang keluar dari bibir ibu mertuanya begitu menenangkan.

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!