NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Cerai!

"Bos," katanya kepada Raka, salah sasaran dengan sangat percaya diri. "Adik ipar Bapak hutang sama kita Rp 50 juta. Bayar sekarang atau kita bawa dia."

Raka menatap pria itu, lalu menatap Budi.

Budi langsung menunduk.

Bu Sumini membuka mulut hendak berteriak, tetapi suara itu mati ketika dua pria lain berdiri di belakang penagih. Mereka bukan preman besar, hanya orang-orang kecil yang terbiasa membuat orang takut dengan jumlah dan nada suara.

Raka pernah takut pada tipe seperti ini.

Dulu.

"Namanya Budi," kata Raka. "Hutangnya Budi. Urus dengan Budi."

Pria itu tertawa. "Tapi dia keluarga Bapak, kan?"

"Bukan tanggung jawab hukum saya."

"Bos punya mobil bagus. Jangan pelit. Lima puluh juta kecil buat Bos."

"Kalau kecil, kenapa kalian mengejar Budi sampai sini?"

Senyum pria itu menipis.

Beberapa penghuni apartemen semakin banyak menonton dari jarak aman. Ratna memegang lengan Bu Sumini, wajahnya pucat karena malu. Budi bergerak setengah langkah ke belakang, berusaha menjadikan tubuh Raka sebagai perisai.

Raka bergeser satu langkah.

Budi terbuka.

"Mas..."

"Jangan sembunyi di belakangku."

Pria penagih mengamati Raka lagi. Mungkin baru sadar orang di depannya tidak menunjukkan bahasa tubuh korban. Tidak mundur. Tidak berteriak. Tidak sibuk menjelaskan kepada tetangga.

"Kalau begitu, kami bawa dia," kata pria itu.

"Silakan menagih sesuai hukum. Tapi kalau kalian melakukan kekerasan, ancaman, atau menyebarkan data pribadi, saya kirim rekaman CCTV apartemen dan bukti chat kalian ke polisi."

Pria itu melirik kamera lobi.

Raka mengangkat ponselnya. Layarnya sudah menunjukkan nomor darurat lokal dan aplikasi perekam catatan.

"Mau saya mulai dari sekarang?"

Udara di depan lobi berubah.

Ancaman yang biasa bekerja pada orang panik kehilangan giginya saat bertemu orang yang punya uang, bukti, dan ketenangan.

Pria itu meludah ke samping.

"Budi, tiga hari. Kalau nggak bayar, kita cari lo lagi."

Budi hampir jatuh. "Bang, tiga hari mana cukup?"

"Masalah lo."

Mereka naik motor dan pergi, meninggalkan asap knalpot serta wajah Hartono yang tercecer.

Bu Sumini langsung menemukan suaranya.

"Kamu tega sekali! Kamu lihat sendiri anak Ibu hampir dibawa orang!"

"Saya juga melihat anak Ibu membuat utang judi."

"Kamu bisa bayar!"

"Saya bisa. Saya tidak mau."

Ratna menatap Raka dengan mata merah. "Kamu sengaja mempermalukan kami."

"Tidak perlu sengaja. Kalian melakukannya sendiri."

Raka mengambil map hitam dari mobil, lalu berjalan menuju lift.

"Ratna, ikut. Kita perlu bicara."

"Sekarang baru mau bicara?" Ratna mendesis. "Setelah semua tetangga lihat?"

"Justru sebelum lebih banyak orang melihat."

Di apartemen, udara terasa lebih sempit daripada biasanya. Bu Sumini ingin masuk, tetapi Raka berhenti di ambang pintu.

"Pembicaraan ini antara saya dan Ratna."

"Aku ibunya!"

"Dan saya suaminya. Untuk saat ini."

Kata terakhir membuat Ratna membeku.

Bu Sumini menatap anaknya. "Ratna?"

"Ibu tunggu di luar dulu," kata Ratna pelan, jelas tidak nyaman.

Bu Sumini mendengus, tetapi akhirnya mundur. Pintu tertutup.

Ruang tengah menjadi sunyi.

Ratna menyilangkan tangan. "Kalau kamu mau minta maaf, cepat. Aku capek."

Raka meletakkan map hitam di meja.

"Aku tidak minta maaf."

"Lalu?"

"Aku sudah meminta Hendra menyiapkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama Surabaya."

Ratna menatapnya seolah tidak mengerti bahasa yang baru saja ia dengar.

"Apa?"

"Aku menceraikanmu."

Wajah Ratna berubah. Marah datang dulu, seperti biasa. Lalu bingung. Lalu takut yang ia coba tutupi dengan tawa pendek.

"Kamu bercanda."

"Tidak."

"Kamu tidak bisa ceraikan aku."

"Bisa. Prosesnya tidak selesai hari ini, tetapi sudah dimulai."

Ratna melangkah ke meja dan menunjuk map itu. "Karena apa? Karena Budi? Karena Ibu? Semua keluarga punya masalah."

"Karena hubungan ini sudah selesai."

"Selesai menurut kamu saja?"

"Menurut bukti juga."

Raka membuka map, tetapi tidak menyerahkan semua isinya. Ia hanya mengeluarkan halaman sampul laporan DNA, cukup untuk memperlihatkan logo laboratorium, nomor laporan, dan nama sampel yang disamarkan.

Ratna melihatnya.

Warna di wajahnya hilang.

Reaksi itu lebih jujur daripada seribu bantahan.

"Itu apa?" suaranya mengecil.

"Kamu tahu itu apa."

"Raka, kamu..."

"Aku tidak akan membahas Nila di depan orang. Aku tidak akan meneriaki anak kecil. Tapi jangan pernah lagi memakai kata anak untuk memeras uang dariku."

Ratna mundur setengah langkah. "Kamu tes diam-diam?"

"Kamu berbohong bertahun-tahun."

"Itu tidak sesederhana itu."

"Untuk pengadilan, cukup sederhana. Ada laporan. Ada bukti pendukung. Ada alur dana. Ada saksi profesional."

Ratna menatap halaman itu seperti menatap api. Tangannya bergerak cepat, hendak merebut.

Raka menarik kertas itu sebelum jarinya menyentuh.

"Jangan."

"Itu milikku!"

"Ini bukti."

"Aku ibunya!"

"Dan aku orang yang kamu tipu."

Ratna membuka mulut, tetapi tidak ada kalimat yang keluar. Mata yang biasanya tajam itu berlari ke kanan dan kiri, mencari jalan keluar. Raka bisa melihat pikirannya bekerja: menyangkal, menangis, menyalahkan Bu Sumini, menyalahkan keadaan, menyebut Nila, menyebut tetangga.

Semua jalan itu sudah ia tutup sebelum pembicaraan dimulai.

Ia mengeluarkan satu lembar lain dari map: daftar dokumen yang disiapkan kantor Hendra.

"Ini bukan ancaman kosong. Surat permohonan sedang disusun. Setelah aku setujui, Hendra akan mendaftarkannya. Pengadilan Agama akan memanggilmu. Akan ada mediasi. Kamu boleh datang dengan pengacara."

Ratna tertawa lirih, pecah dan jelek. "Kamu sekarang bicara seperti pejabat."

"Aku bicara seperti orang yang akhirnya belajar prosedur."

"Prosedur tidak bisa menghapus fakta aku istrimu."

"Prosedur justru cara mengakhiri fakta itu."

Wajah Ratna memerah lagi, tetapi merah itu tidak sekuat sebelumnya. Kemarahannya sudah berlubang oleh ketakutan.

"Kamu tidak akan berani membuka ini. Kamu juga akan malu. Semua orang akan tahu kamu membesarkan anak orang lain."

Raka menatapnya lama.

Kalimat itu seharusnya menyakitkan.

Memang sakit.

Tetapi rasa sakit tidak lagi menguasainya.

"Aku sudah mati karena malu di kehidupan yang salah," katanya pelan. "Sekarang aku hidup untuk selesai."

Ratna tidak memahami kalimat itu. Bagus. Ia memang tidak perlu memahami semuanya.

Ratna mencengkeram ujung meja. "Aku istrimu."

"Itu status yang sedang aku akhiri."

"Kamu pikir aku akan diam? Aku bisa minta harta gono-gini. Mobil itu, uangmu, semua yang kamu punya selama nikah..."

"Silakan."

Jawaban itu membuat Ratna berhenti.

Raka menutup map hitam perlahan.

"Hendra sudah menyiapkan semuanya. Kalau kamu ingin perang di pengadilan, kita perang dengan dokumen. Kalau kamu ingin menyeret Nila ke depan orang, aku akan pastikan semua orang tahu siapa yang mulai."

Ratna menggigit bibir.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kalimat cepat dari mulutnya. Tidak ada tuduhan miskin, tidak ada hinaan bukan laki-laki, tidak ada ancaman Ibu akan marah.

Karena meja di depan mereka tidak lagi berisi permintaan uang.

Meja itu berisi akhir.

Pintu apartemen diketuk keras dari luar.

"Ratna! Buka!" suara Bu Sumini menembus pintu. "Apa yang dia bilang?"

Ratna tidak menjawab.

Ponselnya bergetar di tangan. Ia menatap layar, lalu mengangkat dengan tangan gemetar.

"Bu..."

Dari luar pintu, suara Bu Sumini naik.

"Dia berani cerai?! Besok Ibu datang ke sana!"

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!